
Sore ini jadwal Lisa mengunggah videonya bersama Mas Ray di youtube. Dia takut teman-teman akan cerabih padanya. Perkataan mereka sudah berputar-putar di kepala Lisa. Mengendap-endap saat pulang bersama Mas Ray tak ada gunanya. Sekali Lisa memencet klik mengunggah, lebih banyak orang yang tau bahwa mereka saling kenal.
"Upload nggak ya?" batin Lisa.
"Nggak usah deh," batinnya lagi.
Tak lama kemudian batinnya bergejolak, "Ya udah deh, upload. Ujungnya pasti bakal pada tau."
Video kencan pertamanya bersama Mas Ray terpampang di akun youtube-nya. Eh bukan kencan, lebih tepatnya pemaksaan. Beberapa detik lagi, teman-teman Lisa yang menyalakan tombol lonceng akan menyerbunya.
Mas Ray
Wah, ada yang upload video nih. Go Public ceritanya?
Alika
SEJAK KAPAN LU DEKET SAMA PAK RAY?
Susi
Wah ada couple baru. Kalo jadi pembimbing bukan perang dunia kedua tapi perang dalam rumah tangga.
Tika
Lisa, dosen paling lu benci udah jadi dosen paling lu cintai yak? Haha.
Membaca notifikasi whatsapp, Lisa memilih tidak membalas satu pun pesan mereka. Dugaannya tidak salah, video ini akan menjadi pertanyaan atau ledekan teman-temannya.
Daripada memikirkan kegaduhan video yang telah ditonton banyak orang, Lisa memutuskan pergi. Mumpung kerjaan dan kuliahnya sudah beres. Menimang-nimang cukup lama, dia memilih pergi ke The Park Mall yang terletak di Solo Baru. Sekalian mengecek kondisi Star Cafe yang ada di sana.
"Lisaaa," panggil bunda dari luar kamar
"Iya bundaaa? Lisa baru ganti baju," teriak Lisa.
"Kalo udah selesai segera turun ya, nak."
"Iya bunda."
Lisa masih asyik memadu pakaian. Tiga kali mengotak-atik, Lisa mantap memilih blus lengan balon berwarna putih dan celana biru muda. Setelah itu dia mengenakan make up dan mengucir rambutnya dengan gaya messy bun. Selesai dandan, Lisa langsung turun ke bawah.
"Lisa," panggil Mas Ray yang sedang mengobrol dengan bunda di ruang tamu.
"Lama banget dandannya, nak. Udah 1 jam Ray nungguin."
"Mas, Lisa mau pergi. Mas Ray nggak ngomong dulu kalo mau ke sini."
"Lho bunda kira kalian mau pergi berdua," ucap Bunda.
"Enggak, te. Ray nggak bilang ke Lisa kalo mau ke sini."
"Lisa mau pergi ke mana?" tanya bunda.
"Mall, bun."
"Sendiri?"
"Sama Alika," ucap Lisa berbohong karena kalau tau sendiri pasti akan berujung Mas Ray ikut.
"Bunda lihat story whatsapp Alika berangkat ke Jogja naik KRL sama masnya. Yakin sama Alika?"
Lisa membuka ponselnya dan berakting lagi, "Oh iya,Alika chat Lisa ternyata. Katanya nggak jadi ikut. Lisa janjiannya sama Maya juga kok, bun. Cuma Alika mau nebeng Lisa tadi," ujarnya.
__ADS_1
"Alika kan nggak jadi kamu jemput. Mas antar aja ya ke mallnya?" ujar Mas Ray.
"Bener. Biar diantar Ray aja Lis," ucap bunda.
Lisa belum kehabisan ide, "pulangnya gimana dong kalo dianter Mas Ray? Maya ada nyanyi di cafe daerah situ. Ayah dinas luar kota. Bunda mau jemput Lisa malem-malem? Udah, Lisa berangkat sendiri aja."
"Mas jemput Lisa juga pulangnya," ucap Mas Ray.
"Udah Lisa berangkat sendiri aja. Kasihan Mas Ray harus antar jemput Lisa."
"Nggak boleh nolak kebaikan orang. Sana bareng Ray. Mana kunci mobilmu," minta bunda sambil mengambil kunci mobil di tas Lisa.
Mas Ray tersenyum puas. Lisa yakin bunda juga bahagia. Selama ini, ayah dan bunda takut dengan sikapnya yang menolak dekat dengan pria. Kehadiran Mas Ray yang berani bertindak menbuat mereka yakin Lisa akan berubah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lisa, mau pergi ke mana?"
"The park, mas."
"Bersyukur mas bisa anter Lisa. Mainnya kamu jauh juga."
"Makanya Lisa nggak enak. Dosenku jadi supirku dong kalo kaya gini judulnya," ucap Lisa tertawa.
"Kalo buat Lisa, mas sih lebih suka judul mahasiswaku calon istriku," ucap Mas Ray tertawa.
Lisa mencubit tangan Mas Ray. Pria itu membalas dengan mencubit pipinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di parkiran, Lisa memutuskan untuk mengakui kebohongannya. Dia tidak tega kalau Mas Ray menepati janji akan menjemputnya nanti dengan jarak mall ke rumah yang lumayan jauh.
"Mas, Lisa sebenernya mau ke mall sendiri tadi."
"Terserah mas. Kalo mau ikut Lisa keluar masuk toko ya ayo," Lisa mengizinkan Mas Ray menemaninya.
"Siappp," ucap Mas Ray sambil menggandeng tangan Lisa.
Sejujurnya, Lisa selalu dag-dig-dug tiap kali Mas Ray memperlakukan dia layaknya kekasih. Lisa tidak ingin buru-buru menyimpulkan ini adalah rasa cinta. Dia masih trauma atas apa yang menimpa hidupnya.
Lisa menggeret tangan Mas Ray masuk ke dalam toko baju merek favoritnya. Dia mulai menggeser baju demi baju di gantungan.
"Bagus nggak mas?" tanya Lisa.
"Bagus. Tapi aku lebih suka kamu pakai warna ini," jawab Mas Ray menunjuk warna pink.
Lisa mengambil baju berwarna pink tersebut lalu mencari baju yang sama persis di bagian anak.
"Arumi, umur berapa mas?" tanya Lisa saat menemukan baju tersebut.
"3 tahun."
"Ini cukup kan ya?" tanya Lisa memperlihatkan baju untuk anak 3 tahun.
"Cukup Lisa. Mau beli buat Arumi?"
"Iya. Lucu kalo pakek baju kembaran pas ketemu nanti."
"Sekalian Mas kalo gitu," ucap Mas Ray menuju ke area pakaian pria.
"Masak mau pake pink. Abu-abu aja," ujar Lisa saat melihat Mas Ray mengambil baju warna pink.
__ADS_1
"Udah ini aja. Cocok kok buat mas."
Mereka langsung membayar. Mas Ray cepat-cepat mengeluarkan kartu dan memberikan kepada kasir karena nggak mau kalau sampe Lisa yang membayarnya. Lisa yang tadinya berniat membelikan baju untuk Arumi, berujung ayahnya yang membayar.
Mengelilingi mall dari satu toko ke toko lainnya, satu lantai ke lantai lainnya merupakan hobi bagi Lisa. Memanjakan diri baginya adalah memutari satu mall sekalipun tanpa berbelanja.
"Mas, mau masuk ke situ ya. Beli kado buat mama," ucap Mas Ray menunjuk toko perhiasan.
Mereka masuk ke toko perhiasan. Mas Ray melihat-lihat etalase yang berisi cicin dan kalung.
"Lisa, bagus yang ini atau itu?" tanya Mas Ray menunjuk dua cincin.
"Menurut Lisa bagus yang itu," ucap Lisa menunjuk cincin yang ada di bagian tengah.
"Kalo rantai kalung bagus yang mana?"
Lisa melihat-lihat kemudian menunjuk sebuah rantai kalung figaro dengan ketebalan kecil.
"Mbak, mau yang ini sama itu ya," ucap Mas Ray ke penjaga toko sambil menunjuk kalung dan cicin yang Lisa pilih.
"Cincinnya ukuran berapa, mas?" tanya pelayan.
"Size 16 ya mbak. Kalo kebesaran bisa dikecilkan mbak?"
"Bisa mas."
Setelah keluar dari toko perhiasan, mereka memutuskan pergi ke Star Cafe sesuai rencana awal Lisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Chat mas nggak kamu bales kenapa?" tanya Mas Ray membuka obrolan sembari menunggu makanan datang.
"Lisa emang belum bales semua chat yang masuk."
"Banyak yang chat kamu gara-gara video itu ya?"
"Iya. Lisa pikir, sekalian mereka tau kalo Lisa udah nggak sebel sama mas bahkan bisa berteman.
"Lisa nggak mau balas chat gara-gara males jelasinnya?"
"Iya. Berjalannya waktu pasti nggak heboh lagi."
"Padahal mas berharap Lisa bakal bilang, dosennya berhasil menaklukan hati Lisa yang awalnya kesel jadi cinta sampe minta ditemenin bikin konten," ucap Mas Ray sambil tertawa.
"Cubit nih ya," Lisa berhasil menangkap tangan Mas Ray yang mencoba menghindar, lalu mencubitnya. "Lisa cek cafe dulu," sambungnya sambil meninggalkan Mas Ray sendiri.
Setelah Lisa selesai mengecek semuanya, Mas Ray bilang Arumi sudah menelfonnya karena pengin tidur tapi ayahnya tak kunjung pulang. Ternyata, anak kecil itu selalu tidur bersama Mas Ray kecuali kalau Mas Ray tidak bisa pulang seperti kejadian di Tawangmangu. Mereka buru-buru menghabiskan makanan dan bergegas pulang. Sesampainya di rumah, Mas Ray tiba-tiba mengacungkan tangannya ke depan wajah Lisa.
"Apa?" tanya Lisa.
"Cium tangan sama dosennya yang udah mau jadi supir."
"Gak mauuu," teriak Lisa langsung keluar dari mobil.
"Salam buat bunda. Maaf mas buru-buru nggak bisa pamitan."
"Iya. Hati-hati ya mas."
Malam itu, Lisa mencari tahu lewat internet tentang tanda jatuh cinta dan ciri-ciri orang jatuh cinta. Semua jawaban itu ada di Lisa. Benarkah ini jatuh cinta? Rasanya, dia masih ingin menyangkalnya. Luka berkepanjangan itu, terlintas sangat jelas dalam ingatannya.
"Lisa, nggak akan berakhir seperti mama kan?" ucapnya sembari mengusap foto mamanya dengan linangan air mata.
__ADS_1
"Ma, ada pria yang bisa menaklukan anak mama ini. Dia tau Lisa takut jatuh cinta. Katanya, akan ada yang menyakitkan saat jatuh cinta tapi dua orang yang bekerja sama untuk saling mempertahankan akan menjadi pemenangnya. Mama masih punya Lisa, tapi kenapa mama nggak mempertahakan cinta mama buat Lisa? Kenapa mama meninggalkan Lisa dan membuat Lisa menjalani trauma ini sendiri?" tanyanya kembali.
Semua yang dialami gadis itu menggores luka mendalam. Dunia pasti adil Lisa. Kamu akan mendapatkan kebahagiaan atas kepedihan yang selama ini menggerotimu.