Lamora

Lamora
Tidak Mau Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Lisa mengendarai mobilnya dengan kencang ke arah Kebun Teh Kemuning sambil memantau kaca spion. Takut pria itu mengikutinya. Dia hanya butuh sendiri saat ini.


Sampai di kebun teh Lisa memarkirkan mobil di area yang cukup terang. Sejam menyetir ia hanya ingin menumpang tidur saja. Udara dingin dan suara hewan malam membuatnya tenang. Benar kata Mas Ray, tidak perlu ke kamar mandi tiap kali ada masalah. Lereng gunung lawu ini bisa ia jadikan alternatif menenangkan diri.


Lisa terbangun tepat matahari terbit. Indah. Pantulan sinar menerangi perkebunan teh. Perasaannya semakin tenang. Hanya perutnya yang tidak tenang. Dia melupakan makan malam. Bahkan, makanan pesanannya yang dibungkus, sama sekali tidak ia sentuh isinya.


Mengisi perutnya yang kelaparan, Lisa menuju ke warung soto langganannya yang terletak di dekat alun-alun Karanganyar. Kondisinya sangat penuh karena ini weekend. Dia memesan dua soto saking perutnya lapar. Tak lupa, sate paru dan perkedel kentang ia lahap juga.


Asupan nutrisinya telah terpenuhi. Tidak ada tujuan lagi mau ke mana. Lisa memutuskan untuk pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 9 pagi Lisa sudah sampai rumah. Dia membuka pintu rumah. Bunda memberikan kunci cadangan semenjak ia mempunyai bisnis kafe. Efek jam pulangnya tidak teratur.


"Udah pulang nak," sapa bunda yang duduk di ruang tamu


Sial, Mas Ray dengan wajah kusutnya ada di rumahnya. Pasti sengaja memarkir mobilnya tidak di depan rumah, biar Lisa tidak menghindarinya. Lisa menyesal telah pulang. Terlebih ayah paling dia patuhi ada di ruangan itu juga.


Duduk dulu," tanya ayah.


Lisa hanya diam dan melakukan perintah ayahnya. Dia memilih duduk berdempetan dengan ayah dan bundanya. Padahal, sofa panjang yang diduduki Mas Ray masih longgar.


"Lisa kemana aja tadi malam?" tanya ayah. Dia yakin Mas Ray pasti cerita kejadian semalam dengan ayah dan bunda. Mengadu ke orang paling Lisa takuti.


"Terpenting Lisa pulang, yah, bun," ucap Lisa singkat.

__ADS_1


"Lisa pengin membatalkan lamaran kenapa?" tanya bunda.


"Pokoknya ayah nggak akan setuju. Lamaran bukan lagi hubungan main-main yang segampang itu putus kayak pacaran, nak. Ada masalah diselesaikan bukan main batalin lamaran."


Benar dugaannya, pria itu mencari banteng untuk masalah ini. Lisa memilih diam. Keputusannya sudah bulat.


"Cincin lamaran aja masih dipakek kok yah. Pasti masih ada rasa cinta. Kita dengerin alasan Lisa dulu, kalau emang baik untuk dia dan Mas Ray setuju ya udah kita jangan ikut campur. Jadi kenapa nak?" ucap bunda menenangkan ayah.


Lisa melepas cincinnya. "Ini Lisa kembalikan," ucapnya kepada Mas Ray sembari menaruh cincin di meja. "Soal membatalkan lamaran pasti ayah dan bunda sudah dengar dari dia, jadi tidak perlu Lisa cerita lagi," sambungnya.


"Nak semua masalah pasti ada solusinya. Jangan emosi menghadapi apapun. Bunda tahu, Lisa marah sama Mas Ray. Tapi, Mas Ray kan memang jatuh cinta sama Lisa jadi wajar dia memperjuangkan Lisa," ucap bunda.


"Mengadu biar dapat pembelaan. Seneng pasti nih dia," batin Lisa.


Akhirnya Lisa menimpali ayah dan bundanya, "Hubungan persahabatan Maya dan Lisa hancur bun, yah. Gimana Lisa bisa menjalankan sebuah hubungan yang bahagia kalau Lisa udah menyakiti sahabat Lisa sendiri?"


Mas yang sejak tadi diam menjawab, "kalo kamu ngomong gitu, apa kamu nggak egois juga yang? Kamu putus lamaran otomatis kamu nyakitin aku juga yang? Bahkan keluargaku dan Arumi pun bisa tersakiti juga," ucapnya mengusap air matanya yang menetes.


Kalimat Mas Ray dalam hingga menusuk hati Lisa. Ya, dia serba salah. Walaupun Mas Ray salah menjodohkan temannya dengan Maya tapi memutus lamaran akan menyakiti keluarganya dan Arumi. Tetap menjalankan hubungannya dengan Mas Ray, dia terus menyakiti sahabatnya.


Akhirnya Lisa membuat keputusan, "maaf ya. Lebih baik aku mengakhiri hubungan percintaanku sekarang daripada akan ada orang lain yang aku sakiti lagi ke depannya. Lisa nggak akan pernah jatuh cinta lagi setelah ini, jadi keputusan Lisa udah bulat ingin menyelesaikan hubungan ini."


"Jangan ngomong gitu Lisa!" ucap ayah membentak.


Lisa tersentak kaget, ayah yang tidak pernah memarahinya hari ini membentaknya. Bunda mencoba menengkan. Air mata Mas Ray kembali menetes. Lisa hanya diam ketakutan.

__ADS_1


"Lisa sayang, kalo bunda dan ayah nggak ada. Lisa mau hidup sendiri terus sampai tua?" tanya bunda yang masih menenangkan ayahnya.


Lisa mengangguk dan tersenyum. Dia tau, hidup sendiri tak akan mudah tapi itu lebih baik daripada dia menyakiti orang lain gara-gara kehidupan percintaannya. Dia tidak mau punya kepribadian seperti papa yang tega menyakiti mamanya berulang kali. Toh soal anak, Lisa bisa adopsi anak-anak yang kehilangan orang tuaya seperti dia atau anak-anak yang dibuang orang tuanya.


"Yaudah om, tante. Kalo keputusan final Lisa ingin membatalkan lamaran ini, Ray terima. Cuma mas pengin ngomong satu hal ke Lisa, mas nggak akan pernah berhenti menyakinkan Lisa kalau dengan mas Lisa bisa bahagia dan nyaman. Mas cuma pengin Lisa jadi mas selalu berdoa Lisa akan kembali ke pelukan mas. Kapan pun itu mas siap menunggu," ucap Mas Ray menghapus air matanya sembari tersenyum.


Lisa hanya diam. Enggan menanggapi. Banyak wanita yang lebih pantas buat pria itu, lama-kelamaan juga dia akan menemukan jodohnya dan melupaka Lisa.


"Ray, maafkan anak kami ya. Jangan bilang ke orang tuamu dulu. Biar ayah, bunda, dan Lisa ke rumahmu untuk membicarakan ini. Soalnya, om masih berharap Lisa berubah pikiran," ucap ayah.


"Iya om. Ray terima keputusan Lisa. Jangan memaksa Lisa untuk melanjutkan kalo memang Lisa ingin mengakhir hubungan kami ya om. Ray cuma pengin Lisa bahagia dengan pilihannya."


"Kamu pulang aja Ray. Kamu pasti capek. Makasih semalem udah jagain Lisa di hotel dan mencari Lisa sampe pagi," ujar bunda.


"Oke tan. Lisa pamit ya om te," ucap Mas Ray mencium tangan kedua orang tua Lisa.


Lalu Mas Ray mengambil cincin, "Lisa cincinnya kamu simpan aja. Mas tetep akan pakai cincin punya mas. Kalau kamu berubah pikiran bisa pakai cincinnya di depan mas ya? Mas selalu menunggu momen Lisa mau kembali menjalani kisah cinta dengan mas," ucap Mas Ray tersenyum seraya menaruh cincin ke tangan Lisa.


"Om, Tante, Ray pamit," ucapnya sekali lagi.


Cincin itu kembali ke tangannya. Setelah Mas Ray izin pulang, Lisa masuk ke kamarnya. Biasanya dia ikut mengantar kepulangan Mas Ray sampai teras rumah. Kali ini hanya Ayah dan bunda yang mengantarnya.


Lisa ingin masuk ke kamar mandi tapi teringat perkataan pria itu untuk menenangkan diri dengan hal yang positif. Sejujurnya dia sayang sekali dengan Mas Ray, tapi keputusan membatalkan lamaran sudah bulat. Akhirnya, Lisa memutuskan untuk tidur. Ya, tidur adalah hal yang positif untuknya. Selain bisa berhenti memikirkan masalah ini sejenak, tadi malam jam tidurnya berantakan dan kurang nyenyak.


Lisa, keputusanmu mengakhiri lamaran, aku tidak setuju denganmu. Orang setulus Mas Ray kamu sia-siakan begitu saja. Kamu tidak ingin jatuh cinta lagi dengan alasan tidak mau menyakiti perasaan orang lain lagi? Apakah kamu lupa momen pertama kali bertemu dengan Mas Ray di kampus? Kamu menyuguhkan sikap kasar ke dia tanpa jatuh cinta. Bukankah itu juga menyakiti orang lain? Manusia bukan makhluk sempurna, tanpa sengaja atau disengaja pasti pernah menyakiti orang lain Lisa.

__ADS_1


__ADS_2