Lamora

Lamora
Kejutan


__ADS_3

Lisa menyewa dekorasi pesta untuk menghias taman belakang rumahnya. Dia ingin bagian kolam renang terdapat tulisan "Congrats Ray" menggunakan floating candle. Dia meminta dua jenis meja. Meja pertama tingginya sekitar 75 cm untuk tumpeng, makanan ringan, dan minuman. Meja kedua berupa meja lesehan untuk makan bersama. Dekorasi meja dia pasrahkan kepada pihak pendekor.


Dekorasi selesai tepat saat matahari tenggelam. Makanan dan minuman yang dia pesan sudah tertara rapi di meja.


"Nak, nggak dandan kamu?" tanya bunda yang menghampiri Lisa di halaman belakang.


"Ini mau dandan. Bun, tolong chat Tante Ratih dan Om Bobby ya dekorasi sudah siap. Kalo bisa jam 7 malam mereka sudah sampai sini."


"Iya."


"Oh ya bun, ponsel sengaja aku matiin dari tadi siang waktu pulang dari klinik. Mas Ray chat bunda nggak? Tanya kenapa nomor Lisa nggak aktif?"


"Barusan chat bunda. Tapi bunda bales nggak tau karena bunda di luar. Katamu kan Mas Ray tau kalo kamu main sama Alika malam ini. Nah Alika udah kamu kasih tau belum, semisal Mas Ray menghubungi, dia harus bohong?"


"Udah bun, tadi siang Lisa udah kasih tau kok. Dia mau bantu Lisa."


"Oke. Sana ke atas siap-siap. Bunda mau di bawah nunggu Kak Ratih dan Mas Bobby."


Lisa pun segera pergi ke kamarnya. Malam ini dia akan bersiap-siap super cepat karena waktunya mepet. Dia memilih dress selutut berwarna navy dengan lengan pendek. Style rambutnya sama dengan tadi siang. Terurai dan bagian bawah ia curly. Lisa memilih make up natural.


Selesai siap-siap, Lisa turun ke bawah. Semuanya sudah kumpul di ruang keluarga. Arumi langsung berlari memeluk Lisa.


"Bunda selalu cantik deh."


"Arumi juga selalu cantik. Yuk duduk nak," ucap Lisa melepas pelukan Arumi dan menggandengnya ke ruang keluarga.


"Bunda, harus gimana Lis ini?" tanya bunda saat Lisa duduk.


"Bunda nanti telfon Mas Ray dengan kondisi panik. Bilang aja bunda baru pulang terus cari Lisa di sekeliling rumah ternyata Lisa terkapar di pinggir kolam renang. Nggak sadar dan wajahnya pucat. Nanti bunda ngomong, 'Tante harus gimana Ray? Ayahnya belum pulang dan nggak bisa dihubungi. Tante nggak kuat angkat sendiri soalnya Alika juga udah nggak ada.' Kalo perlu bunda nangis. Oke?"


"Siap."


"Oh ya, bunda juga bilang ke Mas Ray, 'kalo sampe langsung ke kolam renang Ray. Pintu depan nggak dikunci, tinggal dorong. Bunda nggak berani tinggalin Lisa."


"Oke. Brarti kita langsung di kolam renang ya habis telfon?"


"Iya bun. Semuanya nanti kalo Mas Ray buka pintu belakang kita teriak 'surprise' ya?" ucap Lisa.


"Oke," ucap ayah, bunda, Tante Ratih, dan Om Bobby bersamaan.


"Arumi sayang, nanti diam dulu ya nak. Jangan bersuara kalo Nenek Lala telfon ayah, oke?" ujar Lisa.


"Oke bunda."

__ADS_1


"Makasih sayang. Yuk bun telfon. Panik kalo bisa sampe nangis juga. Takut Mas Ray nggak percaya kalo bunda nggak sampe nangis."


"Oke bunda telfon sekarang. Bunda loudspeaker ya."


"Iya bun," ucap Lisa.


Bunda menelfon Mas Ray. Tidak butuh waktu lama Mas Ray mengangkat telfon bunda.


"Ray tolongin tante Ray. Tante baru pulang terus cari Lisa di sekelilingi rumah. Tante nemuin dia tergeletak di pinggir kolam renang. Wajahnya nggak sadar dan pucat Ray. Tante takut. Ayahnya belum pulang dan nggak bisa dihubungi. Alika yang katanya main dengan dia di rumah juga udah nggak ada. Bantu tante Ray. Tante takut. Tante nggak kuat angkat Lisa. Tante nggak bisa bawa dia ke rumah sakit sendiri," bunda menangis.


"Tante, tenang ya. Ray langsung ke sana. Tante jangan panik. Ray bakal ngebut. Ray matiin telfonnya ya tan," terdengar suara Mas Ray panik tetapi meminta bunda tidak panik. Sangat lucu.


"Ray nanti kamu langsung ke kolam renang ya. Pintu depan tinggal dorong. Nggak tante kunci. Tante nggak berani ninggalin Lisa," bunda menangis kembali.


"Iya tan. Ray tutup ya."


Mas Ray menutup telfonnya. Semua langsung tertawa melihat kepanikan Mas Ray.


"Ayo kita ke belakang. Katanya ngebut kemungkinan 10 menit sampai," ajak Tante Ratih.


"Sandal tante, om, Arumi di depan Lisa ambilin ya. Om dan ayah parkir mobil di mana? Nggak di depan kan?"


"Aman. Di lapangan pojok mobil kita berdua," ucap ayah.


"Oke buntu. Aman brarti. Lisa ambilin sandal om, tante, Arumi dulu."


"Jangan lupa bicara 'surprise' ya? Arumi juga ya nak," ucap Lisa sambil mengusap rambut Arumi yang berdiri di depannya.


"oke," ucap Tante Ratih, Om Bobby, ayah, dan bunda bersamaan.


Sedangkan Arumi membalas dengan anggukan.


Pintu depan rumah terbuka lalu terdengar Mas Ray menutup dengan keras pintu tersebut. Langkah kakinya berlari menuju halaman belakang. Pintu halaman belakang pun terbuka.


"Surprise," ucap semuanya.


Ekspresi panik dan sembab berubah menjadi kaget. Wajah sembabnya kemungkinan dia habis menangis saat perjalanan.


"Tanteee, serius Ray panik banget. Berdoa terus sepanjang jalan buat Lisa," ucapnya menangis.


Lisa memeluk Mas Ray sambil mengusap punggungnya, "Kan nggak beneran, mas."


"Tetep aja panik. Apalagi nomor kamu aku chat dan telfon dari sore nggak aktif. Alika jawab chat mas sejam yang lalu, kalian lagi main. Setidaknya tenang gitu tau kamu baik-baik aja. Eh pas bunda telfon langsung buyar," ucap Mas Ray menangis meluapkan kekhawatirannya.

__ADS_1


Lisa melepas pelukan dan menghapus air mata Mas Ray, "maaf ya udah bikin mas sebel dan khawatir. Ini semua ide Lisa jadi marahin aja Lisa."


"Mas nggak sebel kok. Cuma panik aja, yang. Nggak mau kehilangan kamu juga."


"Senyum dong. Kan bercanda. Acara ini juga Lisa buat biar mas happy."


Mas Ray tersenyum sembari mencium kening Lisa.


"Udah lebih tenang kan Ray?" tanya Tante Ratih.


"Yuk berdoa lalu potong tumpeng," ajak Om Bobby.


"Iya, udah laper nih," ucap ayah.


"Yuk," ajak Lisa menggandeng Mas Ray ke meja yang berisi makanan.


Om Bobby memimpin doa untuk kesuksesan klinik dan semua pekerjaan anaknya. Setelah itu, Mas Ray memotong tumpeng dengan si kecil Arumi yang ingin ikut ayahnya memotong. Suapan pertama pria itu berikan kepada Tante Ratih. Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya hingga sesukses ini. Suapan selanjutnya kepada Om Bobby, diikuti dengan ayah, bunda, Lisa, dan Arumi. Setelah itu, sesi foto-foto dan dilanjutkan dengan makan bersama. Sudah tidak ada lagi panik di raut wajahnya. Semua tersenyum bahagia.


Mas Ray duduk di samping kiri Lisa. Arumi yang minta disuapi Lisa duduk di samping kanannya. Ayah, bunda, dan Tante Ratih duduk di depan Lisa. Om Bobby duduk di samping kanan Arumi.


"Lisa nyiapin ini semua sendiri? Mas, suka banget deh sama candle yang di kolam itu," ucap Mas Ray menunjuk kolam renang.


"Ide Lisa tapi minta tolong jasa dekorasi mas," Lisa tertawa sembari menyuapi Arumi yang sedang menonton film kartun.


"Makasih ya sayang untuk hari ini."


"Iya. Sama-sama."


"Ray, kamu udah jadi dosen dan punya klinik, rencanamu ke depan apa nak?" tanya Om Bobby.


"Nikah sama Lisa pa. Punya keluarga bahagia dan utuh selamanya," Mas Ray merangkul Lisa.


Lisa memandang wajah kekasihnya itu penuh haru. Pria ini melewati hari buruk dengan berhasil bahkan terlihat sudah memaafkan semua yang terjadi di masa lalu. Sedangkan Lisa, masih berusaha melawan semua ketakutan dan mencoba memaafkan semua yang terjadi di masa lalunya.


"Kalau itu, semua yang di sini juga udah tahu Ray. Kamu nggak pengin nerusin impianmu waktu SMA yang sering kamu omongin ke mama dan papa?" tanya Tante Ratih.


"Tergantung situasi nanti ma. Paling penting kehidupan keluarga kecil Ray nantinya harmonis," ucap Mas Ray tersenyum.


"Jangan kecewain om dan tante ya Ray. Jaga kepercayaan kami. Sekalinya hilang kepercayaan, habis kamu Ray," ucap ayah dengan wajah galak.


"Lisa anak mama dan papa juga, awas aja kamu sakiti dia," ucap Om Bobby ikutan memasang wajah galak.


Bunda dan Tante Ratih tertawa melihat suami mereka yang mengancam Ray. Lisa yang sedang menghabiskan makanan, tersipu malu.

__ADS_1


"Tim Lisa semua ya. Nggak ada yang mau jadi tim Ray," Mas Ray tertawa. "Semua tau lah, wanita ini sangat spesial bagi Ray. Jadi, Ray akan berusaha menjaga kepercayaan om, tante, papa, dan mama," sambungnya sembari mengusap rambut Lisa.


Lisa mengarahkan pandangannya ke wajah pria yang dicintainya itu sambil tersenyum. Mas Ray selalu bisa membuatnya merasakan getaran cinta begitu kuat. Dia harap seumur hidup jalinan cinta mereka terus kuat.


__ADS_2