
Lisa berdiam diri di shower selama 30 menit. Dia sudah puas menangis. Akhirnya keluar, mengganti pakaiannya yang basah. Lalu, mengelap lantai kamarjya yang ikutan basah.
"Tidur aja deh," gumamnya setelah membereskan semau kekacauan di kamarnya.
Merebahkan tubuhnya di kasur. Guling kesayangannya ia peluk erat. Matanya mulai terpejam.
Dia terbangun mendengar ketukan pintu berkali-kali serta teriakan ayah dan bunda dari luar kamar. Jam di kamarnya menunjukan pukul 17.00 WIB. Sudah tiga jam dia tertidur. Menangis ampuh membuatnya tertidur pulas.
Tok... Tok... Tok....
"Lisaaaa," teriak ayah dan bunda bersamaan.
"Iya?" Lisa menjawab tanpa mengeluarkan banyak tenaga.
"Buka pintunya, nak. Kamu dari tadi kami ketuk nggak jawab kenapa?" tanya ayah.
"Lisa tidur. Nanti Lisa keluar yah."
"Lisa, ini mas. Keluar yuk sayang," suara Mas Ray terdengar. Ternyata pria yang dicintainya itu ada di luar bersama ayah dan bunda.
Lisa terdiam.
"Keluar yuk Lisa. Jangan bikin semua orang khawatir nak. Jangan ada lagi kejadian waktu kamu umur 9 tahun nak," ucap bunda dengan suara menangis.
Lisa masih terdiam. Dia masih lelah dan mengantuk. Hanya mendengarkan ucapan semua orang yang mengkhawatirkannya di luar.
Umur 9 tahun, Lisa sempat dilarikan ke rumah sakit. Dia mengurung diri di kamar mandi selama 5 jam. Ayah mendobrak pintu kamar dan kamar mandinya. Bunda hanya bisa menangis melihat anaknya yang terbaring lemas. Setelah kejadian itu, Lisa hanya berani mengurung diri selama 30 menit. Namun kembali terulang mengurung diri lama di kamar mandi saat dia patah hati di Jogja. Untungnya cuma berujung sakit sehari saja.
"Sayang, mas kangen. Keluar yuk, sayang."
"Calon suamimu lagi sibuk persiapan klinik tapi pulang ngajar langsung ke sini buat ketemu kamu lho nak," ucap ayah.
Lisa luluh. Dia keluar dengan mata sembabnya. Tiga orang yang menunggu di depan kamarnya tersenyum. Ayah dan bunda yang berada di depan pintu persis, memeluk Lisa.
"Bunda kira Lisa tadi kuliah tapi pas baca chat dari Alika sekitar jam 3 sore, baru sadar ada masalah. Langsung pergi ke kamar Lisa ternyata di kunci. Bunda udah kayak orang kehilangan arah, nak. Ayah yang lagi kerja ikutan panik karena bunda telfon terus. Jangan bikin ayah dan bunda kayak gini ya, nak. Jangan sampe kejadian waktu itu terulang lagi," ucap bunda menangis.
"Ayah, nggak mau Lisa mengurung diri berjam-jam tiap kali ada masalah. Jangan lagi kayak gini ya, nak."
__ADS_1
Lisa hanya diam.
"Om, tante, maaf udah bikin khawatir gara-gara berita ini sampe Lisa bertindak seperti ini. Kalo om dan tante izinkan, Ray pengin ngobrol berdua dengan Lisa untuk menyelesaikan masalah ini," ucap Mas Ray.
Bunda dan ayah melepas pelukan.
Bunda menghapus air matanya lalu tersenyum, "boleh Ray. Kalian sama-sama sudah dewasa pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Kalo perlu bantuan atau sadar dari kami bilang aja ya?"
"Iya bener. Kalo kalian perlu saran, kami selalu ada buat kalian," ucap ayah.
"Makasih om dan tante. Kami izin ngobrol berdua ya," ucap Mas Ray tersenyum.
"Iya. Tante dan om di atas sampai kalian selesai ngobrol. Biar lebih nyaman," ucap ayah.
"Oke om. Ayo Lisa kita ke bawah," sambungnya sembari menggandeng tangan Lisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mas Ray memilih duduk di sofa ruang keluarga untuk menyelesaikan masalah ini.
"Yang, habis nangis ya?" tanya Mas Ray tersenyum ke arah Lisa sambil menggenggam kedua tangannya.
Mas Ray mengusap air mata Lisa, "Kita bisa ngomong jujur. Liburan sama pasangan di luar aktivitas kampus kan bukan masalah," Mas Ray tersenyum.
"Mas nggak baca kolom komentar ya?"
"Nggak. Kenapa emang? Mas aja tau dari Alika. Dia menelfon mas karena khawatir sama kondisimu. Pas mas hubungin kamu eh udah nggak aktif."
"Komentarnya negatif semua mas di akun itu."
Mas Ray memeluk Lisa, "jangan dengerin apa kata orang, yang. Ini hidup kita. Hubungan kita. Kita nggak ngerugiin mereka lho. Kita pergi emang hari libur dan nggak ada kewajiban di kampus. Kita juga jarang kan berduaan di kampus."
"Terus kalo temen Lisa dan dosen-dosen pada benci sampe ngaruh ke nilai gimana mas?"
Mas Ray melepas pelukan dan menghapus air mata Lisa yang masih menetes, "saat kayak gini Lisa bakal tau mana yang beneran temen Lisa dan mana yang nggak. Mas percaya Alika jadi urutan terdepan yang masih mau temenan sama Lisa. Soal dosen nggak usah dipikirin. Mereka seniornya mas yang baik-baik dan selalu menganggap mas seperti adik sendiri. Maaf ya, tadi mas jelasin ke dosen-dosen tentang hubungan kita. Mereka jadi tau gara-gara dapet informasi dari mahasiswa. Mas ngomong jujur kalo kamu calonnya mas dan kita emang liburan bareng. Semuanya tidak masalah kok sama kita bahkan kepo gimana sampe bisa lamaran. Akhirnya mas malah dapet nasehat deh. Oh ya, kamu nggak masuk tapi titip absen ya? Soalnya kolom tanda tangan semua mahasiswa masuk kata Bu Vika."
Lisa yang mulai tenang tersenyum, "Iya, titip absen. Ketauan brarti?"
__ADS_1
"Iya. Tapi gak masalah. Beliau paham mungkin kamu takut jadi perhatian semua orang. Tadi titip salam yang, katanya kamu hebat. Udah sibuk kerja, kuliah nilainya selalu bagus, eh udah ada calon suami yang luar biasa lagi," Mas Ray tertawa.
Lisa tersenyum, "bukan aku yang seneng sama salam Bu Vika tapi kamu."
"Luar biasa kan emang aku? Nggak mau ngaku nih? Bu Vika aja ngakuin."
"Luar biasa ngeselinnya," ujar Lisa mencium pipi Mas Ray.
"Yang, udah kayak gini. Dosen-dosen juga udah pada tau. Kamu gapapa kan kita go public?"
"Hal aku takutan udah terjadi. Bisa apa? Mau nggak mau klarifikasi karena kita udah jadi bahan pembicaraan semua orang di kampus."
"Tadi aku dipanggil Bu Yayuk (Kaprodi). Beliau minta, kita menjelaskan ke publik lewat sosial media kita apa adanya. Kalo perlu tunjukan bukti lamaran kita. Tapi gak usah aja deh. Malu. Jangan minta admin akun tersebut hapus atau tanya siapa dalangnya. Minta dihapus, orang bisa berpersepsi kita ngehindari masalah ini. Soal dalangnya, bisa aja motifnya baik karena suka melihat kita ternyata sepasang kekasih. Tapi kalo buruk ya biarin aja, nanti bakal capek sendiri ngusik kisah kita. "
"Oke. Gitu aja yang."
"Sepakat?"
Lisa menganggukan kepala lalu memeluk Mas Ray, "Lisa bersyukur Tuhan mengirimkan mas sebagai pasanganku. Selalu bisa bikin aku tenang."
"Mas yang lebih bersyukur sayang, punya calon istri seperti Lisa. Kita kuat sama-sama ya. Nanti biar mas yang jelasin dulu. Kamu tambahi aja kalo ada yang kurang."
"Oke. Mau bikin video sekarang?"
"Bentar. Kalungmu aku bantu copot ya?"
"Oh iya, tolong lepasin mas. Mas pasti seneng ya kita bisa go public?" Lisa tersenyum.
Mas Ray melepaskan kalung Lisa. "Seneng iya karena kita mau kepergok jalan sama temen-temen di manapun nggak masalah. Tapi sedih juga iya. Mas gak bisa liat kamu sedih karena dihujat. Apalagi sampe ngurung diri di kamar. Sini jarimu, aku pasangin cincinnya," ucap Mas Ray tersenyum.
Lisa menyerahkan jarinya ke Mas Ray, "makasih ya, mas banyak kesibukan tapi bela-belain ke sini."
Mas Ray selesai memasang cincin Lisa lalu mencium keningnya, "sama-sama. Yuk kita buat videonya."
"Aku ke atas ambil kamera, tripod, sama lighting dulu ya? Sekalian bilang ayah dan bunda kita mau bikin video klarifikasi di sini jadi turunnya nanti dulu."
"Iya, yang."
__ADS_1
Lisa pun meninggalkan Mas Ray di ruang keluarga sendiri. Dia segera mengambil alat-alat untuk merekam video. Mas Ray selalu bisa meyakinkan Lisa. Keputusan klarifikasi memang tepat. Menyangkal tidak lagi bisa mereka lakukan. Sudah terpampang jelas wajah mereka dalam foto tersebut.