Lamora

Lamora
Mimpi Arumi Terwujud


__ADS_3

Setelah lima hari dirawat Arumi sudah boleh pulang. Selama dirawat Lisa dan Mas Ray mendapat giliran jaga mulai sore sampai pagi. Kuliah, kerjaan, dan seminar proposal Maya tidak ia lewatkan sama sekali. Begitupun Mas Ray tetap ngajar. Pagi sampai sore jatah Tante Ratih dan Om Bobby yang menajga Arumi. Kadang bunda juga ikut menemani setelah ayah berangkat kerja.


Hubungan Lisa dan Mas Ray pun semakin membaik. Walaupun Lisa enggan membahas kelanjutan hubungan mereka tiap kali Mas Ray memohon agar Lisa kembali. Dia menolak menjalin hubungan lagi sekalipun Maya menjauh dari pria itu.


"Arumi mau tidur sama bunda kapan?" tanya Lisa saat perjalanan pulang kepada Arumi yang duduk di pangkuannya.


"Nanti malem bunda."


"Ayah nggak boleh ikut tidur bareng ya?" tanya Mas Ray.


"Arumi penginnya kita tidur bareng. Kata bunda nggak mau diganggu sama ayah," ucap Arumi.


"Kita tidur di rumah Arumi apa rumah bunda? Kalo rumah Arumi brarti ayah harus pindah kamar."


"Rumahku aja, Lis. Banyak mainannya dia. Aku bisa pindah kamar."


"Yaudah. Nanti sore habis bunda kuliah ke rumah Arumi ya sayang."


"Oke bunda."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lisa diizinkan ayah dan bunda menginap di rumah Mas Ray. Apapun yang berhubungan dengan Mas Ray, Lisa memang orang tua sambungnya itu selalu mengizinkan. Sepulang kuliah Lisa langsung menuju ke rumah Mas Ray.


Tok... Tok... Tok....


Lisa mengetuk pintu rumah Mas Ray. Tak lama kemudian, Tante Ratih membukakan pintu.


"Langsung ke atas aja Lis. Arumi ada di kamar lagi nonton TV sama kakeknya. Tau kan kamar Ray yang mana?"


"Deket tangga kan tan?"


"Iya. Dulu sering videocall pasti hafal seisi rumah ini ya," ujar Tante Ratih tertawa.


"Iya tan," ucap Lisa tertawa.


"Tante lanjut masak dulu. Kamu naik aja."


"Oke tan."


Lisa naik ke atas. Ada ruang keluarga dan tiga kamar di ruang atas. Lisa masuk ke kamar Mas Ray yang terletak di samping tangga.


Tok... Tok... Tok....


"Om Bobby, Lisa izin masuk ya?"


"Masuk aja bundaaa," teriak Arumi.


"Iya nak, masuk aja," jawab Om Bobby.

__ADS_1


Lisa membuka pintu kamar. Dia mencium tangan Om Bobby dan memeluk Arumi.


"Arumi sama bunda ya? Kakek tinggal ke bawah. nemenin nenek masak," ucap Om Bobby.


Arumi melepas pelukan, "iya kek."


Om Bobby meninggalkan Lisa dan Arumi di kamar. Lisa menaruh barang bawaannya di kursi.


"Arumi, seneng kan bunda nepatin janji tidur bareng?"


"Iya bunda. Tapi, Arumi masih pengin tidur sekasur sama ayah dan bunda."


Pintu kamar terbuka, "turuti aja Lis. Arumi pasti juga di tengah-tengah kita kan tidurnya," ucap Mas Ray.


Lisa berpikir kasihan anak kecil ini yang selalu ingin tidur bersama ayah dan bundanya. "Iya udah. Bunda mau."


"Horeeeeee," teriak Arumi, "ini beneran kan bunda?"


Lisa mengangguk sambil tersenyum, "iya. Arumi tidur di samping ayah dan bunda nanti malam."


Mas Ray tersenyum Lisa mengabulkan permintaannya demi Arumi, "makasih ya Lisa," ucapnya.


Belum ada sehari di rumah Mas Ray Lisa sudah dimanja oleh Tante Ratih dan Om Bobby. Mulai dari cemilan tape goreng dan pisang goreng sampai dengan menu makan malam sop buntut. Beruntung sekali bisa dekat dengan keluarga harmonis ini. Mereka benar-benar menganggap Lisa sebagai anak.


Ritual sebelum tidur menggosok gigi Arumi selama di klinik, Lisa jalankan juga malam ini. Sebenarnya, Arumi sudah bisa menggosok gigi sendiri namun Lisa bantu membersihkan bagian belakang gigi yang tidak bisa Arumi lakukan.


"Yuk tidur," ucap Mas Ray yang sedang menata kasur saat Arumi dan Lisa keluar dari kamar mandi.


"Arumi mau dikeloni bunda," ucap Arumi sembari meminum susunya.


Lisa memeluk Arumi sembari mengusap rambutnya.


"Nggak pengin dikeloni ayah nih?"


Arumi melepas botol minumnya, "sama ayah dan bunda."


Mas Ray kegirangan. Dia langsung memeluk Lisa dan Arumi.


"Seharusnya aku nggak setuju kamu tidur di sini," ucap Lisa kesal.


"Sampe Arumi tidur ya," ucap Mas Ray tersenyum sembari mengusap rambut Lisa.


Susu di botol habis, Arumi pun tidur. Mas Ray melepas pelukan. Lisa pun mengubah posisinya membelakangi Arumi dan Mas Ray.


"Lisa, udah ngantuk belum? Ngobrol di balkon yuk."


"Belum ngantuk tapi males ngobrol."


"Tentang penelitianmu lho. Kali ini kamu jangan ngarang cerita tanpa tau fakta lapangan ya Lis," ucap Mas Ray.

__ADS_1


Lisa memang mengarang jawaban atas pertanyaan Bu Vika saat seminar proposal. Dia sama sekali tidak pernah tahu klinik Mas Ray ramai atau tidak karena tidak pernah berkunjung untuk survei pendahuluan.


"Ya udah. Ayo," ucap Lisa turun dari kasur dan menuju balkon. Mas Ray mengikutinya sambil tersenyum.


Balkon Mas Ray cukup luas. Ada dua kursi dan satu meja. Tanaman besar yang terletak di pot menghiasi sudut balkon.


"Apa?"


"Kamu udah bisa mulai penelitian. Mas Kan nyebar kuesionermu ke pasien yang trimester III sebanyak 60 orang nah udah nemu nih ada 35 responden yang mengalami stres menjelang persalinan. Menurut mas kamu usahakan minggu ini mulai penelitian. Takutnya respondemu keburu melahirkan."


"Mas nggak milih responden dengan umur kehamilan di bawah 38 minggu?"


"Udah Lisa. Kita kan manusia biasa. Walaupun bisa diprediksi, nggak tau tiba-tiba ketuban pecah, eklampsia, dan lain-lain."


"Oh iya. Oke deh. Klinik mas ada ruangan yang bisa Lisa pakai?"


"Ada. Lantai atas ada aula kok. Mas udah minta tolong dua bidan yang punya sertifikat pelatihan senam hamil. Tiap hari selama dua minggu kan ya?"


"Iya. Makasih banyak ya mas."


"Iya. Aku ngajak kamu keluar pengin cerita sebenernya."


"Kenapa?"


"Klinik heboh saat tau aku udah punya anak. Apalagi bagian pendaftaran tau nama ibunya aku kosongin."


"Terus?"


"Aku nggak pernah mengekspos Arumi karena tahu kejadian ini pasti bakal heboh. Mereka taunya kita kan lamaran, nggak mungkin aku isi data administrasi dengan namamu. Banyak spekulasi orang mulai dari aku cerai gara-gara selingkuh sama kamu lah, Arumi anak kita tapi di luar nikah, dan sebagainya. Anakku yang belum paham apapun dan kamu penyelamatku, bisa-bisanya orang lain libatkan dalam masalah hidupku," ucap Mas Ray mencoba menahan air matanya.


"Kalo pengin nangis, nangis aja. Udah penuh di pelupuk matamu."


Dia mengusap matanya, "nggak kok. Aku cuma nggak habis pikir aja gitu. Bisa-bisanya ikut campur masalah orang lain dan buat gosip tanpa tau faktanya," ucap Mas Ray tersenyum.


"Kamu denger sendiri?"


"Dari Ikal. Dia lebih banyak waktu di klinik kan. Bahkan kita jaga Arumi juga nggak 24 jam. Dia cerita ke aku soal itu. Wajar juga sih aku nggak tau, nggak mungkin kan mereka ngomongin di depan aku langsung pasti takut aku pecat."


"Siapa tau Mas Ikal salah, mas. Nggak usah dipikirin. Penting mas bahagia punya keluarga yang sayang sama mas selama ini. Bahkan Lisa selalu salut tiap kali ngeliat mas buatin susu Arumi, dulu tiap kita video call nunggu mas selesai nidurin Arumi, dan sebagainya. Jadi single parent itu nggak mudah dan mas bisa melakukan itu bagi Lisa luar biasa. Apalagi Arumi tumbuh jadi anak pintar dan pandai bersosialisasi dengan orang sekitar. Paling Lisa salut lagi mas bisa lho speak up kalau cerai gara-gara diselingkuhi berkali-kali tapi mas nggak ngelakuin itu. Mas nggak ngeumbar permasalahan rumah tangga dengan mantan istri ke publik. Tutup telinga dan mulut aja mas."


"Di Batam orang-orang sekitarku kan udah pada tahu jadi mereka malah kasihan dan pengin melihat aku menikah. Giliran di sini, kaget. Gara-gara nggak tau itu malah jadi sok tau," ucap Mas Ray emosi.


"Mau aku peluk biar tenang? Mumpung lagi baik dan ke depan mungkin nggak ada tawaran lagi?" tanya Lisa.


Mas Ray langsung mengangguk tersenyum. Lisa berdiri dan memeluk pria yang masih duduk itu.


Lisa mengusap punggung Mas Ray, "mas bagi Arumi itu ayah yang hebat. Lisa sebagai bundanya Arumi pun pengin ngomong, mas ayah yang super hebat. Dan suatu hari kalo bundanya Arumi bukan Lisa lagi, pasti dia akan mengatakan hal yang sama. Orang lain nggak tau apa yang mas lewati, tapi sekalinya mereka tau semua orang akan berkata mas manusia hebat."


Mas Ray melepas pelukan dan menatap mata Lisa sembali mengusap rambutnya, "Lisa, kalopun ada bunda lain selain kamu bagi Arumi, ya itu ibu kandungnya yang nggak mungkin aku putus ikatan seorang anak dan orang tua. Tapi perempuan yang akan menjadi istri mas nantinya, cuma kamu aja. Jadi, jangan pernah berpikir mas bakal nikah sama orang lain. Mas tetep cinta dan menunggu kamu kembali, Lisa."

__ADS_1


"Jawaban Lisa masih sama," ucap Lisa melepas usapan Mas Ray, "aku tidur ya," sambungnya berlari ke dalam.


Kamu masih ingin kembali ke pelukan pria itu kan Lisa? Jangan mengelak terus-menerus hanya karena ketakutanmu. Kembalilah kepada Mas Ray, Lisa. Siapa tau dia bisa menyembuhkanmu saat kamu ceritakan semuanya.


__ADS_2