
Ting tong... Ting tong...
"Siapa mbak?" Tanya Lisa yang sedang berdiri kepada WO. Gaunnya ada payet yang lepas pihak butik ingin memperbaikinya.
"Suaminya mbak."
"Suruh masuk aja."
WO tersebut membukakan pintu Mas Ray.
"Cantik banget istriku. Pakek mahkota berasa ratu ya yang?" ucap Mas Ray tersenyum saat masuk ke kamar. Mahkota di kepala Lisa, pihak hairstyles pasang setelah dia selesai ganti pakaian.
Lisa tersenyum dan mengalihkan pembicaraan, "Ruang ganti udah sepi mas?"
"Iya udah pada masuk ke ballroom," ucap Mas Ray duduk di sofa.
"Finish," jawab orang butik yang memperbaiki gaunnya.
Pihak WO mengabari timnya yang ada di ballroom melalui Handy Talky (HT), "Sudah selesai. Mulai acara ya."
"Ayo turun mbak Lisa, Mas Ray," sambungnya.
Lisa yang menggenggam bunga gardenia berwarna putih menggandeng Mas Ray berjalan menuju ballroom. Setelah memakai gaun, Lisa menyesal memilih gaun ball. Pakaian yang ia kenakan sangat berat sehingga membuatnya susah berjalan. Untung dia mengenakan high heels 5 cm. Kalau 20 cm pasti ia sudah ingin acara yang paling dinantinya ini segera berakhir.
MC memanggil kedua mempelai untuk memasuki ruangan. Perlahan mereka berjalan mengikuti karpet merat yang ada di ballroom. Senyuman terbaik mereka berikan untuk para tamu undangan yang memenuhi seisi ruangan. Mereka dudu di kursi mempelai yang bersebelahan dengan kursi kedua orang tua. Arumi yang duduk di pangkuan mama, Lisa minta untuk duduk disebelahnya karena masih muat.
Acara memberikan ucapan selamat sekaligus foto bersama pun dimulai. Siap-siap akan roboh dia malam ini. Berdiri menyalami tamu undangan yang jumlahnya lebih dari seribu. Ingin rasanya jadi Arumi yang duduk manis di kursi.
"Tuh Maya sama calonnya," ucap Mas Ray sembari menyalami tamu.
Terlihat Maya, Mas Ikal, Alika, dan orang tuanya sedang mengantre di deretan tamu undangan yang ingin salaman. Tangan Maya dan Mas Ikal saling bergandengan
"Iya, tadi pas mas ganti baju cerita soal Maya dan Mas Ikal dilanjutin," ucap Lisa sembari melepas gandengannya di tangan suaminya itu. Dia membalik badan, lalu minum.
"Ada tamu, bisa-bisanya yang," ucap Mas Ray tertawa.
"Maaf ya," ucap Lisa kepada tamu undangan yang menunggunya. Kemungkinan jika ada tamu yang Mas Ray ataupun dia tidak mengenal, otomatis itu undangan kedua orang tua mereka.
"Haus tau mas," sambung Lisa.
Tibalah giliran sahabatnya menaiki panggung mempelai.
"Selamatnya udah tadi ya," ucap Maya.
Alika ketawa, "Bener. Kita mau dokumentasi sama numpang ngabisin makanan aja."
"Dasar. Masukin amplopnya yang banyak kalau mau numpang makan," ucap Lisa bercanda.
"Congrats ya bro, Lis. Akhirnya temen gue nggak galau lagi," ucap Mas Ikal tersenyum sembari menjabat tangannya dan Mas Ray.
"Thank you ya udah dateng. Cepet nyusul," ucap Mas Ray sembari menepuk bahu Mas Ikal.
"Iya, cepet nyusul mas," cepet Lisa.
"Selamat ya, Ray, Lisa," ucap mama dan papa Alika dan Mas Ikal.
__ADS_1
"Terima kasih ya om tante," ucap Mas Ray dan Lisa.
Mereka pun berfoto bersama. Lisa masih tidak menyangka Mas Ikal berpacaran dengan sahabatnya itu. Apalagi dia pernah mengira Mas Ikal menyukainya dan mengira Mas Ikal lah yang memotretnya bersama Mas Ray di bandara. Tidak menyangka sekaligus malu karena salah sangka.
Acara diakhiri dengan pemotongan kue lalu mempelai melempar buket. Semua tamu undangan yang belum menikah antusias mendekati panggung demi mendapatkan bungan gardenia yang Mas Ray sukai itu.
Lisa dan Mas Ray membelakangi menghadap ke kursi pelaminan sembari kedua tangan mereka menggenggam bunga.
"Hitungan ketiga kita lempar ya yang," ucap Mas Ray.
Lisa mengangguk, "Yuk."
"Satu... Dua... Tiga...," ucap mereka bersamaan seraya melempar bunga ke belakang.
Semua bersorak. Alika yang mendapat bunga itu. Mas Ikal memarahi adiknya itu. Maya mencoba menangkan sembari tersenyum melihat tingkah kekanakan pacarnya itu. Dia tidak terima kalau sampai kejadian Alika akan menikah dalam waktu dekat.
"Wah kenapa marah-marah mas? Sini mbak yang dapat bunga ke depan," ucap MC.
"Kakaknya mas," teriak Lisa.
"Oh kakaknya. Pasti belum nikah dan takut dilangkahin adiknya," ucap MC tertawa.
Alika naik ke atas panggung. "Gimana perasaanya dapet buket mbak? Bahkan kakaknya sampe marah-marah," ucap MC sembari memberikan mic kepada Alika.
"Perasaannya biasa aja. Kebetulan saya jomblo jadi nggak mungkin aja ada yang ngajak nikah dalam waktu dekat. Mas mc jomblo nggak?"
"Waduh. Mau sama saya mbak?"
"Nggak. Mau aku cariin pasangan. Kebetulan banyak temen-temenku yang jomblo," ucap Alika tertawa.
"Wah down mbak."
"Maaf ya mas. Bercanda."
"Coba tanya perasaan kakaknya kalo adiknya beneran nikah dong mas," ucap Mas Ray.
"Ada permintaan dari mempelai pria nih. Kakak dari yang dapat buket, gimana perasaannya semisal adiknya bakal ngelangkahi?"
"Nggak setuju mas," teriak Mas Ikal.
Alika menuju ke arah Mas Ikal, "Nih buat masku tersayang. Cepet nikah ya," ucapnya.
Mas Ikal menerima bunga tersebut dengan senyuman.
"Akhirnya ending perselisihan keluarga ini bahagia," ucap MC tersenyum.
Resepsi pun resmi berakhir. Tamu undangan dan keluarga meninggalkan ballroom. WO meminta kedua mempelai mengabadikan momen resepsi. Arumi menolak ajakan neneknya kembali ke kamar. Memilih menunggu ayah dan bundanya berfoto.
"Mas, satu lagi anak saya ikut ya?" ucap Lisa.
"Boleh mbak," ucap fotografer tersebut.
"Arumi, sini. Ayo kita foto," ucap Lisa kepada Arumi yang minum susu di botol sembari tiduran di bangku pengantin.
Mas Ray menjemput Arumi. Meminta anaknya melepas dotnya. Mereka bertiga berfoto sebagai keluarga kecil baru.
__ADS_1
Mas Ray memberikan kartu kamar ke Lisa, "Kamu langsung ke kamar aja. Mas anter Arumi ke kamar papa dan mama dulu," ucap Mas Ray yang sedang menggendong Arumi. Anaknya itu dalam kondisi mengantuk.
"Besok kita tinggal Arumi 4 hari mas. Dia malam ini tidur sama kita aja gimana?" tanya Lisa tersenyum.
"Kamu takut ya?"
Lisa menyangkal ketakutannya, "Aku cuma pengin tidur sama Arumi kok."
"Mama dan papa udah pesen ke mas, malam ini Arumi tidur sama mereka."
"Ya udah. Kalo gitu aku ke kamar dulu," ucap Lisa meninggalkan Mas Ray.
Padahal mereka pernah tidur sekamar tapi setelah menikah Lisa sangat khawatir tidur sekamar dengan suaminya itu.
Masuk kamar nuansa malam pertama menghiasi seluruh ruangan. Bunga mawar dan angsa berbentuk love berada di kasur. Taburan bunga mawar memenuhi lantai ruangan.
Lisa membuka kopernya yang berjejer dengan koper milik Mas Ray. Dia melepas mahkota dan segera mengganti gaunnya dengan baju tidur.
Ting tong... Ting tong...
Bel kamar berbunyi saat Lisa menghapus make up-nya. Lisa beranjak dari sofa, membuka pintu kamar.
"Kok udah ganti aja," ucap Mas Ray tersenyum sembari melangkah ke dalam kamar.
"Daripada kesusahan kan ganti di kamar mandi gara-gara ada mas," ucap Lisa seraya menutup pintu.
Mas Ray tertawa, "Udah suami istri juga," lalu duduk di samping Lisa yang sedang membersihkan make up kembali. Dia pandangi wajah istrinya itu sembari tersenyum.
Lisa melihat tingkah suaminya dari kaca langsung menghela nafas, "Mas nggak tahan?"
"Jangan mancing yang," ucap Mas Ray.
Lisa berdiri membuang kapas bekas make up. "Malam ini Lisa belum siap mas," ucapnya.
"Sini yang. Mas mau ngomong," ucap Mas Ray.
Lisa memilih duduk di kasur. Dia khawatir jika Mas Ray sangat menginginkannya malam ini. Otomatis dia harus melaksanakan kewajibannya sebagai istri.
Mas Ray berjongkok sambil memegang tangan Lisa. Dia memandang wajah Lisa yang ketakutan. "Tatap mas coba. Mas mau ngomong," ucapnya.
"Apa? Lisa nggak siap malam ini pokoknya," ucap Lisa sembari menatap mata suaminya itu.
Mas Ray tersenyum, "Nggak usah takut. Mas tunggu kamu sampe siap. Malam ini kita tidur pelukan aja udah cukup. Kita sama-sama capek yang malam ini."
Lisa tersenyum, "makasih ya yang."
Mas Ray berdiri. Tangannya masih memegang Lisa. "Yuk salat berjamaah. Kita jamak sama maghrib sekalian. Entah diterima Allah atau nggak penting kita berusaha melaksanakan salat 5 waktu."
"Brarti hari ini Lisa salat 5 waktu," ucap Lisa tersenyum.
"Hebat istri mas. Besok dan seterusnya mulai dibiasakan 5 waktu ya."
"Ingetin ya mas suami," ucap Lisa berdiri lalu mencium pipi Mas Ray.
Mas Ray membalas ciuman Lisa, "Iya, keharusan bagi mas ingetin kamu tentang ibadah. Yuk wudu dulu yang."
__ADS_1
Mereka pun menutup hari bahagia dengan salat berjamaah dan tidur berpelukan seperti biasanya. Lisa lega Mas Ray mau menunggu kesiapannya memenuhi kewajiban sebagai istri.