
Seminggu melakukan pencarian rumah, sebuah rumah tiga lantai yang terletak di jantung Kota Solo lebih menarik hati Mas Ray dan Lisa. Lokasi strategis dan fasilitas rumah yang memadai menjadi alasan mereka memilih rumah tersebut.
Rumah yang sebentar lagi bisa mereka tempati, sedang masuk ke tahap penataan ruangan oleh desain interior. Semua konsep interior sesuai keinginan Lisa. Mas Ray hanya memberikan saran dan masukkan. Istri nyaman dia pun ikut nyaman.
"Ikut liat rumah yang," ucap Lisa di depan mobil. Mas Ray akan pergi ke rumah baru mereka namun melarang Lisa ikut. Mengingat kehamilannya masih rentan dan mereka baru sampai rumah karena habis menginap di vila Tawangmangu.
"Kamu istirahat dama Arumi aja yang. Mas bentar kok. Diminta datang pihak interior cuma buat ngecek. Siapa tau ada yang nggak sesuai. "
"Konsep rumah kan sesuai kemauan Lisa. Mas bisa baca pikiranku kalo nggak ikut?"
"Iya deh iya, buruan masuk tapi awas aja nanti malem ngeluh capek dan minta dipijiti."
Lisa langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Rumah baru mereka hanya perlu menempuh waktu 10 menit dari rumah. Ini kali kedua Lisa datang kemari. Pertama kali saat Mas Ray mengajaknya survei rumah. Sedangkan suaminya sering sekali mampir untuk mengecek perkembangan rumah.
"Gimana?" tanya Mas Ray setelah mereka berkelilingi seisi rumah.
"Udah puas semuanya mbak?" tanya Mas Tio, pihak desai interior.
"Udah kok."
"Pengin kita menyelesaikansemua cepat emangnya pengin segera di tempatin mas?" tanya Mas Tio.
"Iya mas. Makasih ya, dua minggu ini mau saya repoti," jawab Mas Ray tersenyum.
"Kami yang berterima kasih mas sudah diberikan kepercayaan."
"Iya. Lain waktu kalau ingin mengubah suasana rumah, saya pakai lagi."
"Oke. Saya pamit ya mas, mbak," ucap Mas Tio menjabat tangan Mas Ray dan Lisa.
Lisa dan Mas Ray duduk di sofa ruang keluarga rumah mereka. Tiap malam mereka selalu mengobrol sebelum tidur, merasa tidak percaya sudah menjadi sepasang suami istri, rezeki lancar, Arumi sehat, diberikan kepercayaan memiliki anak lagi, dan bisa membeli rumah.
"Sayang, kamu pengin cepet-cepet pindah?" tanya Lisa.
"Iya. Tapi mas baru cari pembantu. Bi Tinnah biar di rumah mama aja."
__ADS_1
"Aku bisa kok yang ngurus rumah dan anak," ucap Lisa.
"Aku yang nggak ngebiarin kamu ngurus rumah dan anak sekaligus. Cukup ngurus anak dan suami aja."
"Aku tuh nggak nyaman ada orang baru di rumah yang.Aku mau pindah ke rumah itu tapi aku nggak mau pakek pembantu. Toh kamu bilang mau bantu pekerjaan rumah tanga kan."
"Iya udah. Kita coba nggak pakek pembantu, kalo nggak mampu kita diskusikan lagi."
"Oke. Pasti bunda mampu kan ya dek. Ayah aja yang pesimis," ucap Lisa mengusap perutnya yang sudah terlihat membesar.
Mas Ray hanya tersenyum. Dia tahu Lisa mampu tapi selama hamil dia sering sekali merasa lelah. Malam ini, berujung Mas Ray menjadi tukang pijit sang istri lagi. Hidup tanpa pembantu? Mas Ray hanya ingin menyenangkan hati istrinya saja. Semua pekerjaan rumah ingin dia ambil alih nanti saat mereka pindah. Tidak tega melihat Lisa yang membawa dua tubuh harus kelelahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara syukuran rumah baru usai digelar. Mama, papa, ayah, dan bunda khawatir karena usia kandungan Lisa masih 8 minggu tapi pasangan suami istri tersebut memutuskan tinggal bertiga di rumah sendiri tanpa seorang pembantu. Apalagi Mas Ray pulang kerja selalu sore ataupun malam hari dan Arumi pergi ke sekolah saat pagi hari.
"Yang mas bago tugas ya. Kamu nyuci baju sama masak pagi. Siang mas kirim pas jam istirahat dan makan malam mas beliin pas pulang kerja," ucap Mas Ray mengusap rambut Lisa yang sedang menyenderkan kepala di pundaknya. Mereka sedang duduk di sofa kamar. Arumi sekarang tidur sendiri. Dia sangat semangat tidur sendiri di rumah baru karena kamarnya bertemakan princess.
"Kok aku dikit."
"Kamu ngejagain Arumi dan adik itu sudah termasuk pekerjaan rumah tangga. Pokoknya kamu nggak boleh nyentuh bagian mas kayak jemur baju, setrika, nyapu, ngepel, dan cuci piring."
"Iya bisa yang," ucap Mas Ray tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari tinggal di rumah baru, Lisa tidak pernah menelfon Mas Ray. Tidak ada masalah apapun yang terjadi dengan dirinya saat di rumah sendiri.
Huek.... Huek.... Huek...
Lisa segera menuju kamar mandi yang letaknya dekat dengan dapur. Pertama kalinya dia mual selama trimester pertama. Dia tidak kuat melihat cream spagetti carbonara yang dia masak.
Setelah itu, Lisa mengambil ponselnya di dapur sembari menutup hidung dan mulutnya. Tatapan wajahnya tidak melihat spagetti yang dia masak tersebut. Lisa menghubungi suaminya.
"Ada apa sayang?" tanya Mas Ray.
__ADS_1
"Mas bisa pulang nggak. Badanku lemes banget mas," ucap Lisa.
"Mas suruh bunda atau mama ke rumah ya? Mas masih ngerekap nilai yang."
"Ngerekap nilai bisa di rumah. Cepet pulang. Aku nggak mau ngrepotin mama dan bunda. Aku udah nggak tahan mas," ucap Lisa marah. Bukan karena dia nggak mau merepotkan mama dan bunda tapi dia malu mama dan bunda datang gara-gara dia mual akibat spagetti carbonara.
Huek... Huek... Huek...
Dia mual lagi membayangkan bentuk spagetti favoritnya itu.
"Mualmu parah? Tunggu sebentar ya, mas bakal pulang," ucap Mas Ray terdengar khawatir.
"Ya," ucap Lisa menutup telfon. Dia merebahkan diri di kamar. Mual kehamilan yang begitu menyiksa. Makanan yang ingin dia makan bisa-bisanya tidak tahan melihat bau dan bentuknya.
Suara mobil Mas Ray terdengar memasuki garasi. Selama hamil Lisa cenderung manja dan agak emosi tiap kali ada permasalah. Suaminya selalu menuruti perkataan Lisa. Tak ingin berdebat, takut Lisa akan tersakiti.
"Yang," ucap Mas Ray membuka pintu.
"Hamil kenapa berat yang?" ucap Lisa menangis.
Mas Ray mendekati istrinya yang sedang tiduran sembari membelai rambutnya. "Kamu kan tau mual trimester pertama itu wajar asal nggak sampe hiperemesis. Dedek memilih kita sebagai orang tua itu sebuah kepercayaan luar biasa. Jalani kehamilan dengan cinta, yang. Mas tau lebih 9 bulan seorang ibu mengandung itu pasti berat tapi nggak semua orang bisa memiliki anak dari rahimnya yang," ucap Mas Ray mengingatkan istrinya.
"Maaf ya dek. Bunda tadi cuma merasa lelah aja. Janji, lain kali nggak akan gitu lagi kok. Bunda selalu sayang dedek. Kita kuat bersama ya," ucap Lisa mengelus perutnya.
Mas Ray menghapus air mata di wajah Lisa, "ada cairan kuning di area deket tangga itu muntahanmu?"
"Iya. Mas tolong bersihin sekalian buang makanan di atas kompor. Aku pengin makan itu tapi nggak tau kenapa jadi kayak gini," ucap Lisa tidak mau menyebut nama makanan favoritnya lagi.
"Kamu masak apa emang?"
"Nggak usah mancing mas. Bisa mual lagi nanti. Liat dan buang aja deh," ucap Lisa dengan nada agak tinggi.
"Iya. Sabar sayang, ngomongnya dikurangi volume suaranya. Mas kan cuma tanya dan kita ngobrolnya jarak dekat," ucap Mas Ray mengusap bahu Lisa.
Lisa duduk lalu mencium bibir suaminya, "Maaf ya sayang." Mas Ray membalas ciuman Lisa.
__ADS_1
"Mas bersihin muntahan dan ke dapur dulu ya," ucap Mas Ray.
"Iya sayang. Makasih," ucap Lisa mencium kembali bibir suaminya itu.