Lamora

Lamora
Calon Suami Ngambek


__ADS_3

Mas Ray


Selamat pagi, sayang. Dosen kesayangan Lisa mau ingetin kalo hari ini batas terakhir pengajuan judul.


^^^Lisa^^^


^^^Selamat pagi juga, sayang. Nanti malam aku konsul lewat chat boleh?^^^


Mas Ray


Lewat chat? Kamu nggak kangen aku. Kita udah dua hari nggak ketemu. Luangkan waktu buat aku, sayang.


^^^Lisa^^^


^^^Iya iya. Aku ke ruanganmu tapi agak sore ya? Soalnya pagi ini aku mau bikin konten di cafe. Siang sampe sore ada kuliah. Kamu mau nunggu? Atau malemnya kita ketemu di luar daripada kamu nunggu aku?^^^


Mas Ray


Kamu minta anter bunda aja berangkatnya, yang. Aku tunggu kamu. Kita pulang bareng. Oke?


^^^Lisa^^^


^^^Oke sayang.^^^


Mas Ray


Love you.


^^^Lisa^^^


^^^Love you too.^^^


Sekadar bermesraan dengan calon suaminya melalui whatsapp, cukup membuat hati Lisa senang. Dulu hubungan mereka lebih monoton. Saat Mas Ray memanggil Lisa sayang, dia tidak mau. Sekarang, Lisa berani menjadikan hubungan ini timbal balik. Hari lamaran membuat rasa cintanya kepada Mas Ray semakin besar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah lamaran hari itu, saat berada di area kampus, Lisa tidak pernah menggunakan cicin. Tiap kali mau turun dari mobil, dia memasukkan cicinnya tersebut ke dalam dompetnya.


"Kenapa nggak kamu pakai, nak?" tanya bunda melihat Lisa melepas cicin.


"Nggak enak sama sahabat Lisa, bun. Mereka selama ini nggak tau kedekatan Lisa sama Mas Ray."


"Untung keluarga kita dan Ray tipikal orang yang nggak suka update status di sosial media ya, nak. Jadi temen kamu juga nggak akan tau."


"Iya bun. Kalo sampe tau bakal kacau. Serangan pedas menghantam mental Lisa. Kemarin waktu video Mas Ray tayang aja langsung heboh."


Bunda tersenyum, "Ya udah, nak. Buruan turun nanti telat."


" Lisa pamit dulu ya," ucap Lisa mencium tangan bunda.


"Bareng Ray kan pulangnya?"


"Iya," jawab Lisa tersipu.


"Nggak usah malu-malu lagi kalo mau mesra sama Ray. Dia calonmu jadi kamu juga perlu memberikan perhatian, manja, romantis, dan sejenisnya ke dia."


"Iya bunda. Lisa tau kok. Makasih ya bunda udah nganter Lisa. Aku masuk dulu," ucap Lisa sambil melambaikan tangan ke bunda.


Pelaksanaan kuliah hari ini berada di ruang laboratorium. Bu Fira, dosen Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana (KB) berhalangan hadir sehingga asistennya menggantikan. Tutor siang ini mengenai alat kontrasepsi. Belajar di laboratorium mempermudah memahammi materi karena bersentuhan langsung dengan alat. Apalagi kalau Praktek Klinik Lapangan (PKL) Lisa lebih bersemangat karena berhadapan langsung dengan pasien. Walaupun laporan PKL tebalnya bisa mencapai 1000 halaman yang penting Lisa berani terjun langsung dan semakin paham dengan materi.


Seusai kelas, Lisa berapamitan dengan sahabatnya, "Gue mau konsul. Duluan ya."


"Ikut dong," ucap Maya.


"Lu konsul mulu, can," ucap Alika ke Maya.


"Nganter Lisa doang. Udah fix judul gue kok," ucap Maya.


"Ga usah anter gue gapapa, can. Kasihan lu harus nunggu gue," ucap Lisa.

__ADS_1


"Gapapa. Gue anter."


"Iya deh. Terserah lu."


Lisa pusing memikirkan rencana pulang dengan Mas Ray akan berhasil atau tidak. Maya memaksa ingin mengantarnya ke ruangan Mas Ray, otomatis sampe pulang dia akan bersama Maya. Lisa tidak ingin teman-temannya tahu mengenai hubungannya dengan Mas Ray.


"Gue masuk dulu ya," ucap Lisa sesampainya di depan ruangan Mas Ray.


"Oke. Salam ya buat Pak Ray."


"Salam apa?"


"Titip salam buat dosen pembimbing nggak boleh."


"Iya."


Lisa memasuki ruangan Mas Ray. Suasananya sunyi. Senyuman calon suami menyambut kehadiran Lisa, menularkan senyuman di pipinya.


"Udah selesai?" tanya Mas Ray.


"Iya. Aku dianter Maya nih. Pulangnya gimana?"


"Biar Maya sekalian tau aja."


"Nggak mau. Jangan ada yang tau."


"Ya udah kamu tunggu di toko depan kampus. Bilang aja mau beli sesuatu sambil nunggu jemputan bunda. Gimana sayangku?"


"Pelan-pelan. Oke nanti kalo aku udah sampe, aku telfon."


"Terus, judulmu mana? Anggota kelompokmu tinggal kamu yang belum mengajukkan judul," tanya Mas Ray tersenyum.


"Ini. Aku lebih tertarik ke penelitian senam hamil dapat mengurangi stres kalo nggak yang minuman dapat meredakan nyeri haid itu," Lisa memberikan kertas kepada Mas Ray.


"Senam hamil aja. Nanti ambil responden mas bantu di klinik. Pas kamu penelitian pasti udah buka klinik mas."


"Nggak perlu."


"Alika dan Maya pernah cerita ke aku, katanya harus detail. Aku sampe udah persiapan."


"Beda, sayang. Kamu calon istriku. Kalo kamu ada kesalahan mas pasti akan bantu langsung. Kalo mahasiswa yang lain belum tentu mereka cerita ke mas jadi harus jelas dari awal. Bahkan, kalobkamu males ngerjain skripsi, mas juga bisa ngerjain skripsimu," ucap Mas Ray tersenyum.


"Nggak. Nanti pas sidang aku nggak tau apa-apa malah nggak lulus. Bantu aku aja kalo kesusahan."


"Siap, sayangku. Udah sana keluar. Jangan lupa rencana kita."


"Oke sayang. Aku keluar ya."


Lisa meninggalkan ruangan Mas Ray. Maya masih menunggunya di depan.


"Udah?" tanya Maya.


"Udah. Kalo dari luar gitu kedengeran gak sih yang di dalem ngobrol apa?" tanya Lisa karena takut Maya mendengar obrolannya dengan Mas Ray.


"Nggak. Kenapa? Emang kalian ngobrolin apa?"


"Penasaran doang. Waktu itu Bu Vika di dalam ruangan, denger suara gue dari luar. Dia manggil gue dari dalam dan gue nggak denger. Dia akhirnya keluar dan cerita soal kejadian itu. Gue kira, gue yang budek. Aman kalo gitu," ucap Lisa berbohong.


"Salamku udah kamu sampein, can?"


"Lupa. Mau gue sampein apa lu yang masuk ke dalem?" ucap Lisa yang diam-diam curiga dengan tingkah Maya.


"Nggak usah, can. Yuk pulang."


"Can, gue nebeng sampe Toko Hamid dong."


"Lu gak bawa mobil? Sekalian gue anter?"


"Nggak usah. Bunda tadi ngabarin kalo udah perjalanan dan minta gue belanja di Hamid. Gue males jalan. Nebeng ya," Lisa berbicara sesuai skenario yang Mas Ray buat hanya memberi bumbu sedikit agar Maya lebih percaya.

__ADS_1


"Oke. Yuk pulang."


Maya menurunkan Lisa di depan Toko Hamid.


"Hati-hati ya, can," ujar Lisa.


"Iya. Duluan ya."


Lisa buru-buru menelfon Mas Ray.


"Halo, mas. Lisa udah sampe nih. Posisi Lisa di depan Toko Hamid ya."


"Iya. Mas udah lihat kamu."


Tinnnn... Mas Ray membunyikan klakson mobilnya.


"Kok nggak kaya maling lagi?" tanya Mas Ray saat Lisa masuk ke dalam mobil.


"Temen-temenku udah pada pulang dari tadi. Nggak ada yang kenal."


"Siapa tau temenmu yang anak kos ada di sekitar sini," Mas Ray mendekatkan tubuhnya ke Lisa.


"Mas, mau ngapain?" tanya Lisa kaget.


Mas Ray mendekatkan wajahnya menuju bibir Lisa.


"Mas, gak mau ya kalo bibir. Tunggu sampe nikah. Mas itu duda, kalo ada penyakit menular lewat oral gimana? Gak mau pokonya," Lisa menepuk keras bibir Mas Ray.


"Sakit tau," ucap Mas Ray memegang bibirnya. "Nih pasang sabuk pengaman buat kamu. Kalo gak mau mas mendekat jangan lupain sabuk pengaman. Keselamatan calon istri nomor satu," Mas Ray berbicara dengan nada agak keras sambil memasangkan Lisa sabuk pengaman.


"Maaf ya. Tadi mau mukul pelan tapi kekencangan," ucap Lisa tersenyum.


Mas Ray hanya diam. Pertama kalinya Lisa melihat Mas Ray marah. Pandangannya fokus ke depan. Biasanya, sesekali dia memandang Lisa tapi kali ini tidak sama sekali.


"Jangan ngambek sayang," ucap Lisa memegang tangan Mas Ray.


Mas Ray masih belum menanggapinya.


"Aku udah minta maaf masih aja ngambek. Biasanya aku yang ngambek. Hubungan kita udah serius gini kenapa jadi kamu yang ngambek sih," Lisa menyandarkan kepalanya di bahu Mas Ray.


Mas Ray tersenyum melihat tingkah Lisa. Dia berpura-pura marah karena penasaran reaksi apa yang akan Lisa lakukan.


"Kamu senyum ya?" Lisa melihat Mas Ray tersenyum.


Mas Ray langsung mengubah mimiknya menjadi sebal lagi, "nggak. Kamu kasar banget tadi. Nggak suka aku."


"Udah ketauan, mas. Nggak lucu masih diterusin. Lisa udah lihat mas senyum. Malu ah."


"Kenapa malu?"


"Aku udah gandeng tangan kamu sambil nyandarin kepala lagi. Kan malu."


Mas Ray tertawa. "Gemes banget liat kamu," ucapnya menyubit pipi Lisa. "Mas kan calon suami Lisa. Bersikap manja, romantis, perhatian, saling mengerti, dan semua sikap yang bisa meningkatkan kadar cinta dalam sebuah hubungan itu perlu Lisa. Lakukan saja nggak usah malu ya?" sambungnya.


"Iya sayangku," ucap Lisa mencium pipi Mas Ray. "Baru tadi siang Lisa dapet nasehat dari bunda hampir sama kayak mas."


"Kalo Lisa malu terus, hubungan kita datar aja ke depannya. Mau lagi dong," ucap Mas Ray menyentuh pipinya.


Lisa mencium pipi Mas Ray berkali-kali. "Cukup ya?" tanya Lisa.


"Sini sandaran lagi di bahu mas deh."


Lisa menyenderkan kepalanya di bahu Mas Ray. Pria itu mencium kening Lisa sembari menyetir.


"Mas, makasih ya untuk semua yang udah mas lakuin buat Lisa."


"Iya sayang. Mas juga terima kasih sama kamu udah mau nerima mas," ucap Mas Ray sembari mencium kening Lisa.


Sesampainya di rumah Lisa, mereka menyepakati adat baru dalam hubungan mereka. Sebelum berpisah, mereka wajib berpelukan dan cium pipi sebagai penghangat perpisahan mereka. Sungguh romantis pasangan yang sedang dimabuk asmara ini.

__ADS_1


__ADS_2