Lamora

Lamora
Terungkap


__ADS_3

BIMBINGAN SKRIPSI PAK RAY


Mas Ray


Kalian bertiga besok pagi ada kuliah?


Maya


Tidak ada, pak.


Mas Ray


Temui saya ya besok jam 8 pagi. Saya mau liat progres kalian sampai mana.


Alika


Baik pak.


^^^Lisa^^^


^^^Baik pak.^^^


Maya


Iya pak.


CAN SQUAD


Alika


Proposal kalian udah sampai mana, can?


^^^Lisa^^^


^^^Malam ini mau gue kebut bab III, can.^^^


Alika


Ngajuin judul akhir udah main kebut proposal semangat amat. Jangan ngebut-ngebut, can. Gue aja masih BAB I.


^^^Lisa^^^


^^^Ayo kita ngebut bareng. Biar wisuda bareng.^^^


Alika


Lo duluan gapapa deh yang kebelet nikah. Skripsi itu berat. Kalo terlalu ngebut bisa stres gue ntar. Mending santai tapi selesai.


Lisa tidak membalas pesan Alika tetapi ia mengecek fitur read. Ternyata Maya sudah membaca pesan di grup. Kejanggalan itu menguatkan Lisa sahabatnya itu menyimpan perasaan kepada Mas Ray. Jika besok Maya masih menghindarinya, Lisa akan mencari waktu untuk mengobrol berdua mengenai hal ini.

__ADS_1


Empat jam terpaku dengan Metode Penelitian, bab tersebut akhirnya selesai juga tepat pukul 12 malam. Aktivitas telfonan tiap malam dengan Mas Ray sempat ia lakukan sebentar. Mas Ray menawari ingin menemaninya lewat video call namun Lisa menolak. Bukan membuatnya tambah semangat malah mengganggu konsentrasinya.


Lisa pun bersiap untuk tidur. Besok dia harus bangun pagi. Sebenarnya dia kesal karena Mas Ray membuat jadwal konsultasi jam 8 pagi. Demi membahagiakan kekasihnya yang ingin dia lulus cepat itu, dia mengubur rasa kesalnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alika dan Lisa berangkat bersama. Keluar dari lift lantai 3, terlihat Maya duduk di depan ruangan Pak Ray.


"Kenapa lo nggak masuk, can?" tanya Alika ke Maya.


"Pak Ray belum selesai rapat. Udah gue chat, kita disuruh nunggu."


Lisa duduk di dekat Maya. Perempuan itu menggeser tubuhnya. Lisa membiarkannya.


"Malesi deh calon lo itu. Udah bangun pagi-pagi eh suruh nunggu," ucap Alika kesal.


"Pak Ray pasti ngira rapatnya bakal selesai sebelum jam 8, can," ucap Maya membela.


Lisa hanya diam. Enggan menanggapi kekesalan Alika. Pikirannya berkutat tentang perasaan Maya kepada Mas Ray.


Menunggu setengah jam, rapat dosen belum selesai juga. Bukan hanya Maya yang kesal, Lisa yang mengubur rasa kesalnya semalam, rasa kesal itu tumbuh lagi. Dia melewatkan sarapan agar tidak terlambat. Maya yang tampak santai menunggu ditemani earphone-nya.


Sejam kemudian yang mereka tunggu datang. "Maaf ya, kalian lama menunggu saya," ucapnya membuka pintu ruangan, "Mari masuk."


Lisa, Maya, dan Alika mengikuti Pak Ray. Mereka duduk di sofa. Lisa mengeluarkan laptopnya. Begitupun Maya dan Alika.


"Kalian sudah sampai bab berapa?" tanya Mas Ray.


"Masih bab 1 pak," jawab Alika tersenyum.


Mas Ray mengoreksi proposal Alika yang lebih sedikit dulu, baru proposal Maya dan Lisa. Mas Ray mengoreksi sembari menjelaskan kepada kami letak kesalahan. Wajah serius Mas Ray saat mengoreksi membuat ketampanannya meningkat. Lisa terpana. Maya beberapa kali melirik Lisa saat melihat Mas Ray. Kali ini, Lisa sudah tidak bisa lagi diam. Dia harus berbicara dengan Maya. Jika tidak bisa langsung bisa lewat telfon atau chat. Terpenting hubungan persahabatan mereka kembali lagi.


"Lisa sama Maya, revisi sesuai dengan yang saya mau. Kalo sudah sesuai, saya acc. Alika, semangat menyusul teman-temannya ya. Semoga kalian bertiga bisa seminar proposal di minggu yang sama," ucap Mas Ray.


"Amin," ucap Alika dan Lisa bersamaan.


"Terima kasih atas bimbingannya hari ini pak," ucap Maya.


"Iya sama-sama."


"Kami pamit ya pak," ucap Alika. Alika dan Lisa sudah berdiri dari sofa.


"Pak, tadi saya sebelum ke kampus mampir beli makan sekalian beli untuk bapak. Mohon diterima pak," ucap Maya mengeluarkan plastik dari tasnya.


Mas Ray menerima plastik tersebut. "Terima kasih sebelumnya, Maya. Ini buat Lisa atau Alika aja. Saya masih kenyang," ucap Mas Ray memberikan kepada Alika dan Lisa yang masih berdiri


Alika menerimanya, "makasih ya pak. Saya memang belum makan pagi."


Maya terdiam melihat penolakan halus Mas Ray.

__ADS_1


"Lisa juga belum makan?" tanya Mas Ray.


"Sudah pak," ucap Lisa tersenyum penuh kebohongan. Dia tidak ingin Mas Ray mengajaknya makan, memberinya duit untuk makan, mengirimnya makanan, dan sejenisnya yang membuat Maya semakin kesal. Toh sepulang dari kampus dia bisa makan di rumah.


"Kami pamit ya pak," ucap Alika sekali lagi.


"Iya," jawab Mas Ray.


Mereka bertiga pun meninggalkan ruangan. Hari ini Lisa harus menyelesaikan masalahnya dengan Maya. Dia ingin berbicara secara langsung saja tapi tidak enak bicara dengan Alika yang ada diantara mereka berdua. Akhirnya, Lisa memutuskan mengirim Masya pesan bertemu dengannya di Star Cafe Sukoharjo sore ini dan Maya menyutujuinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lisa datang lebih awal daripada Maya. Selang beberapa menit, Maya datang. Lisa melambaikan tangan ke arahnya.


"Mau pesen apa, can?" tanya Lisa tersenyum


"Jus stroberi aja."


"Nggak makan?"


"Nggak. Masih kenyang gue."


Lisa langsung memesankan. Teringat Mas Ray yang mengatakan masih kenyang kepada sahabatnya. "Ini beneran masih kenyang atau menyindir Mas Ray sebagai pasangannya?" batin Lisa.


"Can, ada unek-unek yang mau lo sampein ke gue?" tanya Lisa setelah memesan.


"Lo ngerasa ada yang aneh dari gue kan?" tanya Maya dengan wajah cuek.


"Ngerasa lo ngehindari gue setelah tau hubungan gue sama Pak Ray."


"Bagus lah kalo lo ngerasa," ucap Maya sinis.


"Lo suka sama Pak Ray?"


"Kalo gue ngomong suka, lo mau apa? Mutusin lamaran lo?"


Lisa terdiam sejenak. Dia tidak bisa apa-apa untuk menyembuhkan sahabatnya kalau memang suka.


"Lo nggak bisa jawab kan?" tanya Maya.


"Gue nggak tau bisa mutusin lamaran atau nggak kalo lo suka Pak Ray karena kami saling cinta. Kalo emang lo suka, gue minta maaf tapi jangan ngejauhin gue. Kita sahabat, can."


"Nggak segampang itu lah Lis. Lo kira gue batu yang nggak punya perasaan? Seenak jidat lo kita tetep sahabatan," ucap Maya membentak Lisa. Panggilan persahabatan mereka, tidak terucap lagi dari mulut Maya.


Lisa menunduk dengan polosnya masih bertanya, "brarti, lo beneran suka sama Pak Ray?"


"Iya gue suka cowok lo. Dia jarang balas chat gue tapi gue gak pernah bosen chat dia. Gue selalu bimbingan nggak bareng lo dan Alika biar gue bisa berduaan sama dia. Eh sekarang dia nolak bimbingan individu. Dia atur bimbingan kita biar bareng terus. Gue tau pasti demi ngehargai lo sebagai pasangannya. Tiap pagi gue selalu ngirim dia makanan, nggak pernah ditolak walaupun gue tau nggak pernah dia makan. Dia kasih ke staf kampus. Hari ini demi jaga perasaan lo, dia tolak makanan gue dengan alasan kenyang. Gimana rasanya jadi gue yang tau sahabat sendiri punya hubungan serius sama cowok yang gue suka? SAKIT WOI SAKIT!" ucap Maya menggebu-gebu lalu meninggalkan Lisa.


Lisa menangis merasa bersalah karena dari awal tidak memberitahu sahabatnya jika dia dekat dengan Pak Ray. Pasti Maya merasa terkhianati. Sikap Lisa yang tertutup telah menggores luka dan menghancurkan persahabatannya dengan Maya.

__ADS_1


"Pasti mama benci kan Lisa berengsek seperti ini. Nggak ada bedanya sama papa yang nyakitin mama," ucapnya dalam hati.


Dia menghapus air matanya, lalu meminta pelayanan membungkus saja pesanannya. Lisa tak ingin pulang ke rumah. Pasti dia akan mengurung diri di kamar mandi berjam-jam kali ini. Jika orang tuanya tau akan mendobrak pintunya lagi. Lisa memutuskan akan menginap di Hotel Avila. Tak jauh dari kafenya.


__ADS_2