Lamora

Lamora
Senyumanmu


__ADS_3

Alika


Can, udah ngusulin judul belum?


^^^Lisa^^^


^^^Belum. Lu udah?^^^


Alika


Belum. Maya yang udah.


^^^Lisa^^^


^^^Pusing gue. Udah baca banyak jurnal belum nemu yang klik.^^^


Alika


Ngeluhnya orang pinter apa cuma pas bagian skripsi doang? Perasaan dari dulu lu gak pernah ngeluh, can.


^^^Lisa^^^


^^^Cabang makin banyak, otomatis kerjaan gue makin banyak juga walaupun udah lu bantu. Belum upload konten. Belum bucin sama NCT. Andai hidup boleh mikirin idol Korea doang, pasti bahagia.^^^


Alika


Serah lu dah. Sekali-kali lu tuh buka hati sama cowok nyata jangan halu mulu.


^^^Lisa^^^


^^^Kalo yang halu lebih bisa bikin bahagia kenapa harus yang nyata? haha.^^^


Alika


Cukup. Ngomong-ngomong gue chat lu mau ngajak konsul judul besok. Lu ikut gak?


^^^Lisa^^^


^^^Iya. Kalo mimpi gue bisa menghasilkan judul yang indah gue besok ikut konsultasi, kalo nggak gue anter sampe depan ruangan.^^^


Alika


Tumben lu mau nganter gue.


^^^Lisa^^^


^^^MUMPUNG LAGI BAIK NIH. MAU GAK LU?^^^


Alika


Iya iya. Awas aja kalo ngibul.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kuliah Psikologi Perkembangan selesai, Alika langsung mengajak Lisa ke ruangan Mas Ray. Hari ini Lisa tidak konsultasi karena belum menemukan judul yang pas. Dia hanya ingin mengintip ruangan kerja Mas Ray.


"Lu yakin nggak konsul?" tanya Alika.


"Yakin. Lusa aja gue deh lewat chat."


"Mropol udah buka kan ya setengah 4? Mopol yuk ntar? Mumpung gue gak bawa motor," ajak Alika.


"Iya, buruan masuk sana," ujar Lisa sambil mencoba mengintip namun ternyata tidak terlihat wajah pria itu.


Alika pun masuk ruangan Mas Ray. Lisa duduk di bangku depan ruangan. Rata-rata dosen tidak melayani konsultasi mahasiswa saat jam pulang. Mungkin kelompoknya termasuk beruntung karena Mas Ray mau. Bahkan, kelompok lain ada yang dosen pembimbingnya tidak membalas chat di grup whatsapp sampai sekarang.


Maya keluar dari ruangan Mas Ray. "Perasaan aku sama Lisa udah buru-buru kok Maya udah sampe ruangan Mas Ray aja," batin Lisa.


"Lu bimbingan lagi? Kata Alika udah ngajuin judul kan?"


"Iya, bimbingan lagi biar cepet selesai. Gue duluan ya. Soalnya mau pergi. Sorry gak bisa nungguin," ucap Maya.


"Santai. Udah sana pulang," ucap Lisa sambil melambaikan tangan.


Sekitar 15 menit Maya di dalam akhirnya keluar juga.


"Can, lu disuruh Pak Ray masuk tuh. Gue tunggu di sini ya," ucap Alika.


"Nih orang gatau mahasiswanya mau makan apa gimana dah," Lisa menggerutu.


"Katanya temen masih aja kesel," ucap Alika tertawa.


"Bentar ya."


"Yoi, buruan sana."


Lisa masuk ke dalam ruangan Mas Ray. Pria itu tersenyum ke arah Lisa.


"Ada apa?" tanya Lisa.


"Gapapa, mau lihat kamu aja."


"Aku balik kalo nggak penting gini," ucap Lisa.


"Iya iya," Mas Ray menarik tangan Lisa. "Kamu mau pergi sama Alika ya? Mropol itu apa?"

__ADS_1


"Kamu 15 menit bimbingan sama Alika jangan-jangan interogasi dia soal mropol bukan judul," ucap Lisa tersenyum.


"Itu ada kaitannya sama kamu makanya aku tanya ke dia."


"Iya iya. Udah ya? Aku pulang?"


"Aku cuma mau bilang, besok malam aku main ke rumahmu ya. Sebenernya udah chat Tante Lala sama Om Sam juga besok aku mau ke rumah."


"Biasanya juga dateng tak diundang pulang tak diantar. Udah itu aja? Aku mau pergi nih pak."


"Kok pak lagi?"


"Inget, kampus. Kamu dosen saya mahasiswa," ucap Lisa tersenyum.


"Nggak ada orang. Alika di depan gak bakal denger."


"Iya iya mas. Udah ya, aku pamit."


"Hati-hati nyetirnya. Gak usah ngebut-ngebut kamu bukan pembalap dan kalo ada apa-apa aku yang panik," ucap Mas Ray menggengam tangan Lisa.


"Iya. Mas juga hati-hati pulangnya. Salam buat Arumi, tante, dan om," ucap Lisa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Cabang deket sopa (Solo Paragon Mall) aja ya?" usul Lisa saat mereka keluar dari area kampus.


"Ayooo. Lu nggak ngajak Maya tadi pas ketemu di depan ruangan Pak Ray?" tanya Alika.


"Tadi buru-buru pergi jadi gue gak cerita kalo mau ke mropol. Dia bimbingan lagi?"


"Iya. Semangat banget dia."


"Oh. Ngomong-ngomong can, Pak Ray kok bisa tau gue ikut nganter lo?"


"Denger suara lo dari luar waktu ngobrol sama Maya. Terus tanya ke gue itu lo bukan. Nah gue jawab iya."


"Kalo mropol?"


"Ya tanya aja, mau kemana kok pulang bareng gitu. Gue jawab mropol."


"Oh. Kepo ya dia."


"Lu yang kepo pakek nanya alur cerita Pak Ray nanya ke gue."


Lisa hanya tersenyum.


"Lu di dalem agak lama ditanya apa, can?" tanya Alika.


"Kepo," ucap Lisa tertawa.


"Udah. Udah. Jangan sampe kita berantem."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gue turun dulu deh. Lu cari parkir. Mau pesen apa?" ucap Alika karena pembeli mulai terlihat berdatangan.


"Nasi bebek mropol sama es teh."


"Oke."


Seusai memarkir mobilnya, Lisa masuk ke tenda yang terletak di pinggir jalan itu. Mropol selalu ramai pembeli namun jam padat pembeli terletak pada malam hari. Wajar, kuliner murah tapi kualitas rasa tidak perlu diragukan lagi. Masnya Alika lah orang yang pertama kali memperkenalkan bebek mropol ke Lisa dan Alika.


"Mas lu nggak titip? Biasanya kan titip," tanya Lisa.


"Nggak nitip, lagi pergi katanya. Oh ya can, gue mau cerita," ucap Alika.


"Kenapa?"


"Mas gue sering banget nanyain soal lu. Jangan-jangan dia tertarik lagi sama lu," ucap Alika.


"Apaan dah. Nggak bakal gue iparan sama lu," jawab Lisa.


"Emang gue mau? Mending mas gue gak usah nikah dah. Tapi ya, gue bingung dia sampe pernah nyuruh ngefoto lu waktu kuliah juga."


"Lu ngefoto? Takut gue sama lu kalo gini caranya."


"Iyaaa lah. Dipaksa can. Kejadiannya udah lama sih."


"Kenapa dari dulu lu gak cerita. Mana dia juga pernah ngechat gue lagi."


"Nah, itu kenapa lu juga ga cerita."


"Antara lupa dan sengaja melupakan," ucap Lisa tertawa.


"Silahkan mbak," ucap pelayan memberikan makanan di meja.


"Cuci tangan yuk," ajak Alika.


Setelah mencuci tangan, melanjutkan obrolan sembari makan.


"Dia ngechat lu apa, can?" tanya Alika.


"Tanya soal size cicin gue. Katanya ukuran jari mamamu mirip kaya gue. Dia mau beliin buat mamamu."


"Emang pernah beliin sih. Ya, kalo itu mungkin basa-basi doang biar makin deket sama lu."

__ADS_1


"Gak mau punya adik ipar macam lo."


"Gak mau punya kakak ipar yang jarang cerita. Hidup gue gak berwarna. Sumpah jangan sampe mas gue suka lu beneran."


Ponsel Lisa berbunyi. Mas Ray menelfonnya. "Bentar ya. Ada telfon, can," ucap Lisa.


Alika mengangguk dan Lisa mengangkat telfon dari Mas Ray.


"Halo."


"Lisa belum pulang?"


"Belum. Ada apa?"


"Pengin tau mropol. Kata Alika kok enak. Bungkusin buat mas dong."


"Udah itu aja?"


"Kangen sih sebenernya biar ketemu lagi nanti."


"Iya iya, aku bungkusin."


"Dah ya."


"Bentar."


"Apa?"


"Love you."


Lisa buru-buru menutup telfon Mas Ray. Sudah tidak terkontrol detak jantungnya tiap kali Mas Ray melontarkan rayuan manis kepadanya.


"Siapa? Bunda?" tanya Alika.


"Iya." ucap Lisa berbohong. "Gue pesen dulu ya," sambungnya.


Lisa memesan 4 nasi bebek mropol untuk keluarga Mas Ray. Mereka selesai makan bertepatan dengan nasi yang Lisa bungkus sudah selesai dibuat.


Lisa mengantar Alika pulang terlebih dahulu, lalu meluncur ke rumah Mas Ray.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mas Ray sudah menunggu di depan bersama Om Bobby. Mereka sedang nengobrol. Lisa turun dari mobil dan cium tangan dengan Om Bobby.


"Sama aku," tanya Mas Ray mengulurkan tangannya.


Lisa hanya tersenyum. "Arumi sama tante di mana om?" tanya Lisa kepada Om Bobby.


"Di dalem. Udah pada nunggu waktu Ray ngomong kamu mau ke sini. Ayo masuk."


Mas Ray menggandeng Lisa masuk ke dalam rumah.


"Bundaaaa," teriak Arumi memeluknya.


"Arumi sayang," Lisa melepaskan tangan Mas Ray dan memeluk Arumi.


"Udah main gandengan tangan aja nih. Bentar lagi mau punya mantu pah kita," ucap Tante Ratih kepada Om Bobby.


"Udah bermalam di Tawangmangu dan Jogja bareng ya seharusnya nggak lama lagi mah," ucap Om Bobby.


"Ray penginnya secepatnya pa, ma. Tapi nunggu Lisa lulus aja. Iya kan sayang?"


Lisa hanya tersenyum. Tidak ada respon mencubit atau pukul yang biasanya dia lakukan saat Mas Ray memanggilnya sayang di depannya. Dia memilih mengalihkan pembicaraan, "ini om tante, Lisa bawakan bebek mropol. Rasanya enak," Lisa memberikan plastik kepada Tante Ratih yang ada di depannya.


"Makasih ya Lisa. Ayo kita makan bareng."


"Bunda, mau gendong," ucap Arumi.


"Sini," ucap Lisa lalu menggendong Arumi.


"Kalo ada bunda kenapa Arumi manja terus sih," ucap Mas Ray mencubit pipi anaknya dengan halus.


"Biarkan Ray. Bunda yang selama ini dia cari udah ada," ucap Tante Ratih.


"Ayo makan. Om udah penasaran seenak apa rasanya."


Mereka mencoba bebek mropol yang Lisa bawakan. Lisa diminta untuk makan namun ia menolak karena masih kenyang. Obrolan meja makan kali ini di ketuai oleh Arumi. Dia sibuk bercerita soal liburannya. Bahkan, bunda dan ayahnya yang tidur sekasur diikut sertakan. Lisa malu dan Mas Ray seperti biasa semakin menggodanya. Tante Ratih dan Om Bobby mengompori untuk segera melakukan pernikahan. Setelah puas mengobrol lama, Lisa memutuskan segera pulang.


"Besok jangan lupa, aku main ke rumah," ucap Mas Ray yang mengantar Lisa sampai depan mobil sedangkan Tante Ratih, Om Bobby, dan Arumi berada di teras rumah.


"Malam kan?"


"Iya. Hati-hati ya. Jangan ngebut," ucap Mas Ray menutup pintu mobil Lisa.


Lisa membuka kaca mobil, "Iya, aku bukan pembalap," ucap Lisa tersenyum.


Mas Ray mencubit hidung Lisa, "gemas."


"Hati-hati ya bunda," teriak Arumi.


"Iya. Dadaaaa om, tante, Arumi," ucap Lisa melambaikan tangan sembari menyalakan mobilnya.


"Buat aku?"


"Iya iya. Aku pulang mas. Dadaaa," ucap Lisa melajukan mobilnya.

__ADS_1


Lisa melihat dari kaca spion ekspresi pria yang dicintainya itu. Tersenyum lebar. Tanpa sadar dia ikut tersenyum. "Begini rasanya jatuh cinta Lisa. Kadang sakit, kadang bahagia. Rasa bahagianya seperti sedang menonton konser NCT," gumamnya.


__ADS_2