
"Lisaaa," bunda memanggil sambil mengetuk pintu kamar Lisa.
"Iyaa bun? Masuk aja bun nggak dikunci."
Bunda membuka pintu kamar Lisa.
"Kamu nggak siap-siap? Ray mau ke sini kok masih pakek baju rumah."
"Udah kenal aja kok bun. Terus dia nggak ngajak keluar rumah jadi nggak perlu siap-siap."
"Bunda dan ayah aja rapi masak anaknya kaya gini. Kamu harus make up dan pakai dress yang bagus."
"Nggak mau bun. Ini tuh cuma di rumah kenapa harus rapi amat. Cuma Mas Ray aja udah kayak mau nyambut presiden bunda tuh."
Bunda mulai sibuk memilih baju untuk Lisa di lemari.
"Pakai ini ya," bunda mengambil dress putih yang glamour.
"Bundaaa, Lisa nggak mau."
"Pakai cepetan. Bunda tungguin sampe kamu make up juga."
"Nggak mau."
"Cepetan. Keburu Ray datang. Bunda nggak mau tau, 30 menit selesai semuanya."
"Lisa nggak mau."
Mata bunda menatap Lisa tajam. Akhirnya Lisa menyerah, "iya iya."
Dengan berat hati, Lisa mengenakan dress tersebut. Bunda memantau gerak-gerik Lisa seakan takut Lisa tidak menjalankan perintahnya.
"Udah bun," ucap Lisa.
"Oke," jawab bunda sambil memainkan ponselnya.
"Lisa laper. Boleh makan dulu nggak sih? Ntar Mas Ray makan sama bunda dan ayah."
"Nanti aja sekalian bareng."
"Bunda nggak keluar?"
"Bentar. Ray nggak telfon atau ngirim pesan ke kamu udah berangkat atau belum?"
"Belum."
"Yuk turun," ucap Bunda sembari mematikan ponselnya.
Sesampainya di bawah Lisa kaget melihat Mas Ray datang bersama Om Bobby, Tante Ratih, dan Arumi yang sedang bermain bersama bonekanya. Semua mengenakan pakaian rapi dan bagus. Bahkan meja makan dipenuhi berbagai jenis makanan.
"Cantiknyaaa," ucap Mas Ray, Tante Ratih, dan Om Bobby bersamaan.
"Bunda, cantik banget," ujar Arumi berlari memeluk Lisa.
Lisa tersipu malu. "Makasih mas, tante, om, dan Arumi sayang," ucap Lisa mengusap rambut Arumi yang sedang memeluknya.
"Sini duduk, nak," ujar ayah.
Lisa mencium tangan tante dan om Robby sebelum duduk. Arumi meminta Lisa memangkunya.
"Semakin akrab aja ya Arumi sama bunda," ujar ayah.
__ADS_1
"Akrab banget om. Kalo udah ada bunda, nggak peduli dia sama ayahnya," ucap Mas Ray.
"Seneng akhirnya bisa ketemu bunda yang selama ini dia cari, Sam," ujar Om Bobby.
Lisa hanya tersenyum mendengar obrolan mereka. Lisa masih bingung melihat semua orang berpakaian rapi dan Mas Ray tidak datang sendiri. Kalau dia tidak menuruti kata bunda untuk mengenakan dress dan make up, pasti tampak kumal diantara yang lain.
"Lisa dan Ray saling kenal udah hampir sebulan ya?" tanya Om Bobby.
"Iya om," ucap Lisa.
"Selama kenal, Ray orangnya gimana Lis?" tanya Tante Ratih.
"Baik tante."
"Udah?" tanya Mas Ray.
"Baik dan cara ngajarnya mudah dipahammi," ucap Lisa tersenyum melihat Mas Ray.
Ayah, bunda, Om Bobby, dan Tante Ratih tertawa. Arumi yang tidak paham percakapan orang dewasa ini sibuk bermain.
Semua terdiam sebentar. Mas Ray memberi isyarat kepada papanya dengan mencolek tangan.
"Lisa bingung nggak kenapa om dan tante ikut ke sini?" tanya Om Bobby.
"Iya, om."
"Sebelum Ray ngomong. Makasih ya Sam, La, udah menyambut kita. Bahkan Ray cerita tadi di mobil katanya Lala sampe maksa Lisa pakai dress karena taunya Ray sekadar main aja," ucap Om Bobby.
"Sama-sama, mas. Aku dan istri juga seneng bisa membantu Ray," ucap ayah.
"Lisa, om dan tante seneng banget kamu dan Ray bisa akrab. Padahal kata Lala dan Sam kamu tipikal orang yang nggak mau akrab dengan cowok. Semoga hubungan keluarga kita bukan lagi soal persahabatan tapi benar-benar akan menjadi keluarga. Silahkan Ray," ucap Om Bobby.
Lisa kaget mendengar ucapan Om Bobby. Mencoba tarik nafas dan buang untuk mengendalikan debaran jantungnya. Mas Ray mendekati Lisa.
"Sama nenek."
Mas Ray menggendong Arumi dan memberikannya kepada Tante Ratih. Setelah itu menggandeng tangan Lisa.
"Keliatan semua kan?" tanya Mas Ray ke ayah, bunda, Tante Ratih, dan Om Bobby.
"Keliatan Ray," jawab mereka bersamaan.
Mas Ray menggenggam erat kedua tangan Lisa sambil menatap wajah Lisa, "Lisa, kamu inget kan waktu pertama kali mas ngajar dan kamu sebel banget sama mas. Hari itu mas bahagia banget karena bertemu denganmu. Sikapmu yang cuek bikin mas makin ingin mendapatkanmu. Kedua kali, kita bertemu di cafemu bersama kedua orang tua kita. Hari itu, mas datang dengan senyuman lebar karena melihatmu. Kamu selalu istimewa bagi mas hingga aku berani mengajakmu kencan pertama hari itu. Tawangmangu yang membuat Lisa mau berteman dengan mas sampe kita bikin konten bareng. Kamu yang sempat ngambek karena tau aku sudah punya anak. Semua suka dan duka yang udah kita lewati bersama hampir sebulan ini," Mas Ray mengambil nafas dan menghembuskannya, "mas bukan orang yang sempurna dan masih berusaha untuk tidak menyakiti perempuan baik ini. Selalu berusaha menggenggamnya saat dia takut dan ragu," Mas Ray mengusap air matanya, "Lisa, kamu ingin menjalin kedekatan kita perlahan tapi mas mengerahkan sekuat tenaga untuk membuatmu benar-benar jadi milik mas selamanya. Mas udah nggak ada waktu buat pacaran yang nggak jelas arahnya ke mana. Di depan ayah, bunda, tante Lala, Om Sam, dan anakku tercinta Arumi yang nurut sama ayah malam ini karena mau diam dan bermain dengan bonekanya," Mas Ray berlutut di depan Lisa sambil mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya, "Lisa, malam ini di depan mereka semua, mas ingin kamu menjadi istri mas. Mas nggak buru-buru soal pernikahan karena mas paham kamu masih kuliah. Setidaknya, ada kepastian hubungan kita akan dibawa ke mana nantinya. Lisa, kamu mau kan jadi istri mas dan ibu dari anak-anakku?" ucap Mas Ray mengusap air matanya yang mengalir.
Lisa terharu melihat ungkapan hati pria yang dicintainya itu sekaligus gugup. Pertama kali memutuskan dekat dengan pria dan nggak lama kemudian pria tersebut melamarnya. Tidak pernah terlintas dalam benak Lisa ingin menikah karena trauma masa lalunya. Tapi, lelaki yang dia cintai ini, berani melamarnya.
Lisa menarik nafas dan menghembuskannya. Dia melihat wajah pria itu yang masih berjongkok.
"Kalo Lisa belum ada jawaban, nggak perlu dijawab sekarang Lisa," ucap Tante Ratih.
"Iya sayang," ucap bunda.
"Lisa udah ada jawaban kok tante, bunda," ucap Lisa tersenyum.
Kedua insan yang dimabuk asmara itu saling memandang.
"Ayah bunda, tante, dan om yang Lisa tau pasti bahagia melihat Lisa dekat dengan Mas Ray. Mama pasti juga bahagia melihat anaknya dekat dengan pria yang dia jodohkan. Tapi mas, Lisa minta maaf ya," ucap Lisa sambil menarik tangan Mas Ray untuk berdiri.
Mas Ray menghapus air matanya, "Gapapa. Mas tau kok kamu belum siap. Mas yang terlalu cepat memintamu menjadi istri padahal ini pengalaman pertamamu mau dekat dengan pria," ucap Mas Ray.
"Iya, gapapa Lisa," ucap ayah, bunda, Tante Ratih, dan Om Robby bersamaan.
__ADS_1
"Kalian masih bisa berteman dan keluarga kita juga tidak akan ada masalah hanya karena kamu menolak Ray," ucap Tante Ratih.
Lisa tersenyum, "maaf ya Lisa menerima lamaran Mas Ray," ucapnya sembari memberikan tangannya kepada Mas Ray.
Semua langsung bahagia. Ayah dan bunda berpelukan. Tante Ratih dan Om Bobby saling memandang dan tersenyum. Arumi melihat semua orang bahagia tidak paham maksud acara ini. Baginya, Lisa memang bundanya.
"Serius?" ucap Mas Ray air matanya mengalir bahagia, tidak percaya Lisa akan menerimanya.
"Mau aku berubah pikiran?"
Mas Ray memeluk Lisa sembari berbisik, "makasih Lisa udah mau nerima lamaran mas padahal aku tahu pasti ketakutan itu masih ada dalam diri Lisa. Mas selalu berusaha nggak bikin Lisa sakit hati. Kita saling bekerja sama biar tetap utuh ya."
"Iya," jawab Lisa sambil memeluk erat pria yang dicintainya itu.
"Ayo pasang. Calon pengantin perempuannya udah lapar katanya," ucap bunda.
"Bunda, malu tauu," ucap Lisa tersenyum.
"Kita bukan patung lho Ray, mesra-mesrannya lain waktu. Pasang dulu tuh cicin. Keburu Lisa berubah pikiran," ucap Om Bobby tertawa.
"Iya," ucap Mas Ray tersenyum.
Mas Ray mengambil cicin yang ia beli di The Park Mall bersama Lisa. Sejoli yang tengah kasmaran ini saling memandang bahagia.
"Sekali lagi makasih ya sayang," ucap Mas Ray memasang cicin tersebut di jari manis tangan kiri Lisa.
"Iya sayang," ucap Lisa tersenyum.
"Mau denger lagi," ucap Mas Ray yang kaget Lisa memanggilnya sayang.
"Malu diliatin semuanya," ucap Lisa.
Semua tertawa melihat gadis ini sudah mulai memerlakukan Mas Ray layaknya sepasang kekasih.
"Pasang ke tangan aku, yang," ucap Mas Ray memberikan kotak cicin ke Lisa.
Lisa mengambil cicin tersebut dari kotak dan memasang di jari manis tangan kiri Mas Ray. Ayah, bunda, Om Bobby, dan Tante Ratih tepuk tangan dan senyuman melekat di pipi mereka.
"Foto dulu," ucap ayah mengeluarkan ponselnya lalu memotret Lisa dan Mas Ray.
Mereka semua mengabadikan momen lamaran yang sederhana tapi bermakna itu. Setelah puas foto-foto, mereka mengakhiri dengan makan bersama dan mengobrol sebagai calon keluarga baru.
"Ayah dan bunda brarti udah tau ya?" tanya Lisa.
"Iya. Waktu kalian di Jogja, Ray minta izin ke ayah dan bunda mau melamar Lisa. Tapi katanya gagal karena takut Lisa tolak dan malah menjauh. Terus kita bikin grup berlima meyakinkan Ray buat lamar apapun jawaban Lisa. Nah, Ray yakin dan pengin lamarannya di rumah aja biar lebih resmi disaksikan dua keluarga. Tapi dia tetep pengin Lisa nggak tau acara ini. Udah deh, terciptalah acara lamaran malam ini," ucap bunda.
"Maaf ya sayang. Nggak bisa lamar kamu di tempat romantis," ucap Mas Ray tersenyum sambil menggenggam tangan Lisa yang duduk di samping kirinya.
"Gapapa. Penting tempat nikah kita romantis kan?" ucap Lisa tertawa.
"Udah ngomongin nikah aja. Nggak usah nunggu lulus yuk. Persiapan sekarang, bulan depan acara," ucap ayah.
"Gak sabar tambah cucu," ujar Tante Ratih.
"Nunggu lulus dulu ya mas. Biar aku nggak pusing ngurus kerjaan, rumah tangga, dan masih harus kuliah."
"Iya. Aku bisa sabar nunggu kamu lulus kok, sayang," ucap Mas Ray mengelus rambut Lisa.
"Bunda, Arumi nggak paham. Bunda dan ayah emang belum menikah?" tanya Arumi yang duduk di sebelah kanan Lisa.
"Arumi sayang, nanti ayah dan bunda jelaskan kalau Arumi sudah besar ya. Intinya, bunda kan bundanya Arumi. Arumi seneng kan ada bunda?" tanya Lisa mencium pipi anak kecil itu.
__ADS_1
"Seneng banget bunda."
Malam itu, Lisa bahagia sekali karena hubungannya dengan pria yang dia cintai menuju tahap yang lebih serius. Ketakutan dalam diri dia coba hempaskan karena ingin bersama pria dambaannya. Dia yakin Mas Ray akan berusaha untuk tidak menyakitinya dan mau bersamanya melawan ketakutan itu. Selama kenak Mas Ray selalu bisa membuat Lisa menjadi tenang tiap kali ketakutan itu datang. "Mama, anakmu hari ini dilamar pria yang pernah mama jodohkan. Pasti mama bahagia kan? Walaupun Lisa belum tau kisah ini akan berakhir tragis atau bahagia tapi Lisa berhasil melawan ketakutan itu malam ini dan menerima lamaran pria yang Lisa cintai," ucap Lisa seolah-olah mamanya mendengar.