Lamora

Lamora
Sidang Skripsi


__ADS_3

Rok span dengan kemeja putih yang dilapisi jas almamater Universitas Lamora menjadi outfit sidang yang sudah ditentukan kampus. Penentuan skripsinya lulus atau tidak tinggal sebentar lagi. Mas Ray sudah membimbingnya habis-habisan semalaman.


Seminggu ini dia sering sekali tidur di rumah Lisa bersama Arumi hanya demi Lisa lancar sidang skripsi. Bahasan mengenai Lisa akan tinggal atau pindah bukan lagi menjadi topik hangat. Orang tuanya pun diminta Mas Ray stop membahas hal tersebut dan memohon agar Lisa fokus terhadap skripsinya terlebih dahulu.


"Lisacannn, Alikacannn," teriak Maya kepada Lisa dan Alika yang sampai di depan ruang sidang duluan karena berangkat bersama.


"Buket lo mana woi?" tanya Alika.


"Biasa, di mobil. Lisa kan belum selesai sidang masak udah tau bentuk buket dari gue," ucap Maya.


"Bodo amat gue mah. Penting ngasihnya nanti," ucap Alika yang memegang buket untuk Lisa.


"Nggak penting banget bahas buket. Deg-degan nih gue. Mikirin sesi tanya jawab. Kali ini audiens boleh tanya lagi. Kalian jangan tanya ya?" ucap Lisa cemas. Ya, sidang skripsi kali ini akan dihadiri oleh audiens yang berkesempatan bertanya kepada Lisa salah satunya Alika dan Maya yang mewakili kelasnya.


"Nggak akan tanya kok aku sama Alika, can. Kali ini lo pasti bisa menghabisi penguji dan audiens," ucap Maya.


"Semangat. Kita ada di dalem buat nemenin lo," ucap Alika.


Lisa mengangguk.


Lisa, Alika, dan Maya memasuki ruangan saat audiens sudah mulai berdatangan. Mas Ray sudah mengisi bangku dosen penguji. Dia sempat melirik ke arah Lisa dengan wajah datar. Ternyata hanya akting agar tidak terlihat pilih kasih saja. Dia mengirim Lisa pesan, "Lisa, mas yakin kamu bisa. Nggak perlu tegang, senyummu cantik." Lisa tersenyum membacanya. Tinggal menunggu Bu Windy dan Bu Vika yang mengabari Lisa sedang jalan menuju ruangan.


"Bu Vika dan Bu Windy tuh. Semangat ya," ucap Alika meminta Lisa maju ke depan.


Sidang kali ini tidak perlu membawa flashdisk. Sekarang kampus membuat kebijakan, operator kampus membantu jalannya sidang ataupun seminar proposal mahasiswa. File presentasi dan skripsi sudah Lisa kirimkan ke bagian IT kampus dua hari yang lalu.


Lisa berjalan ke depan mimbar memberikan salam kepada penguji.


"Silahkan Lisa," ucap Bu Vika sebagai ketua penguji.


"Selamat pagi seluruh penguji dan audiens yang berkenan hadir dalam sidang skripsi saya. Salam sejahtera untuk kita semua. Saya Lisa Gresila akan memaparkan hasil skripsi saya yang berjudul 'Efektivitas Senam Hamil Mengurangi Stres Menjelang Persalinan Pertama'......" Lisa memaparkan skripsinya mulai dari latar belakang, proses penelitian, hasil yang didapat, dan penelitian. Untungnya hipotesis dan hasilnya sama yaitu senam hamil memang bisa mengurangi stres menjelang persalinan. Setelah menutup presentasinya, detik-detik menyeramkan pun tiba. Sesi tanya jawab untuk penguji dan audiens.


"Youtuber tapi tegang ya," ucap Bu Vika tertawa.


"Beda ibu ngobrol lewat video dan langsung," ucap Lisa tersenyum.


"Oke. Silahkan Bu Windy dulu," ucap Bu Vika.


"Apa yang bisa membuktikan kalau senam hamil yang kamu lakukan selama dua minggu berturut-turut bisa menjadi alternatif menghilangkan stres selain dari hasil kuesioner yang kamu sebarkan diakhir?" tanya Bu Windy.


"Kebetulan saya melakukan wawancara. Sudah saya rekam namun tidak saya paparkan di dalam skripsi. Hal ini bisa mrnjadi bahan evaluasi untuk menambahkan hasil wawancara tersebut. Apabila ibu berkenan saya bisa memutarkan rekaman wawancara melalui ponsel saya."


"Tidak perlu. Kenapa kamu tidak menyantumkan dala. skripsi hasil wawancara tersebut?"


"Wawancara menunjang kuesioner penelitian. Nah bagi saya hasil wawancara saya sama dengan simpulan kuesioner yang saya bagikan. Dari awal pemaparan proposal saya juga tidak menbahas wawancara sama sekali hanya kuesioner, jadi saya memaparkan kuesioner saja."


"Kamu tambahkan hasil wawancaranya. Tidak masalah kamu sisipkan walaupun sama dengan pembahasan hasil kuesioner. Kamu melakukan senam hamil dua minggu berturut-turut kan? Tidak ada bolong sama sekali?"


"Baik ibu. Saya lakukan berturut-turut ibu, tiap sore."


"Oke brarti hasilnya akurat. Pasti penguji lain setuju dengan ibu, tata penulisan skripsi kamu masih smaa saat proposal, sangat rapi. Ibu sangat mengapresiasi itu. Cukup dari saya, silahkan Bu Vika," ucap Bu Windy mengakhiri sesi tanya jawabnya.


"Terima kasih ibu," ucap Lisa.


"Benar kata Bu Windy ibu apresiasi penulisan skripsimu. Kemudian satu lagi, cara presentasimu selalu menarik sehingga pendengar tidak bosan. Ibu tidak mau tanya apapun karena hasil penelitianmu sudah kamu kupas dengan baik dan jelas. Pembimbingmu pasti bangga, kamu sidang pertama di angkatanmu Lisa," ucap Bu Vika tersenyum melirik Mas Ray, "silahkan Pak Ray," sambungnya.


"Terima kasih Bu Vika," ucap Lisa.

__ADS_1


Mas Ray tersenyum, "jelas bangga. Beberapa anak bimbingan bapak yang menjadi audiens, semoga termotivasi sehingga tanggung jawab bapak untuk membantu kalian lulus dapat segera berakhir. Lisa Gresila, selamat telah menyelesaikan skripsimu. Sama seperti Bu Vika, tidak ada yang perlu bapak komentari terkait skripsimu. Semoga hasil diskusi kami bertiga bisa menjadikanmu lulus. Saya cukup Bu Vika."


"Aamiin. Terima kasih Pak Ray," ujar Lisa.


"Oke. Saya buka sesi pertanyaan untuk audiens. Apakah ada yang ingin bertanya?" ucap Bu Vika.


Semua mahasiswa diam. Entah berarti tidak ingin bertanya atau akan ada yang bertanya sesaat sebelum Bu Vika menutup sesi pertanyaan dari audiens.


"Sekali lagi, adakah yang ingin bertanya?" Bu Vika mengulangi ucapannya.


"Yakin nggak ada yang tanya?" Bu Vika memastikan kembali.


Beberapa orang menanggapi dengan ucapan "iya bu" dan ada yang mengangguk. Tidak ada satupun audiens yang bertanya. Lisa lega sekali bisa mengakhiri sesi presentasi dan tanya jawab ini.


"Oke Lisa. Silahkan duduk kembali. Kami akan berdiskusi paling lama 10 menit untuk memutuskan kamu lulus atau tidak," ucap Bu Vika.


"Baik ibu. Saya permisi," ucap Lisa meninggalkan mimbar menuju kursi yang ia duduki tadi. Kedua sahabatnya sudah menyambutnya dengan senyuman.


Sidang ini berjalan sesuai yang Lisa inginkan. Lancar. Pertanyaan dosen pun berhasil ia jawab dengan baik. Tinggal menunggu hasil sidang lulus atau tidak. Jika tidak, dia harus mengulang sidang kembali di lain hari. Lisa berdoa semoga cukup sekali agar tenaga dan waktunya hari ini tidak terbuang sia-sia.


"Gue yakin lo bakal lulus can," ucap Maya tersenyum.


"Iya. Pak Ray sama Bu Vika nggak komentar ke lo. Bu Windy juga nggak ribet kan komentarnya. Pasti lo lulus sih," ucap Alika.


"Semoga aja ya. Doain gue biar bunga kalian nggak sia-sia," ucap Lisa tersenyum.


"Bener juga. Demi buket yang Alika dan Maya beli tidak sia-sia berdoa dimulai," ucap Alika.


Mereka bertiga sibuk melantunkan doa. Semoga semesta baik dengan Lisa hari ini.


"Berdoa selesai," ucap Alika. Mereka mengakhiri doa tersebut. Maya dan Alika meyakinkan Lisa saat beranjak dari kursi, apapun hasilnya semangat.


"Kami sudah ada keputusan final atas sidangmu hari ini. Sebelumnya, ibu mau tanya, kalau Lisa tidak lulus apa yang bakal Lisa lakukan?" tanya Bu Vika.


"Duh kayaknya nggak lulus nih," batin Lisa sembari berpikir menjawab pertanyaan Bu Vika.


"Lisa akan membuat jadwal ujian ulang dan mencoba memberikan yang terbaik lagi," ucap Lisa.


"Maaf Lisa....," ucap Bu Vika dengan raut wajah sedih. Mas Ray dan Bu Windy pun menampilkan wajah sedihnya.


"Maaf Lisa, kami terpaksa...," ucapan Bu Vika terhenti lagi. "Pak Ray aja deh yang ngomong. Bapak kan pria sendiri di sini. Nggak tega saya sebagai sesama perempuan," ucap Bu Vika.


Mata Lisa berkaca-kaca. Dari kalimat Bu Vika kemungkinan besar dia tidak akan lulus.


"Lisa pengin nangis ya?" tanya Bu Windy.


"Nggak ibu," suara serak Lisa mulai terdengar.


"Buruan Pak Ray. Saya tidak tega," ucap Bu Vika.


Mas Ray menarik nafas, "Lisa maaf sekali, kami tidak bisa meluluskanmu."


Air mata Lisa pecah. Tangannya menutup wajahnya yang penuh air mata. Malu sekali menangis di depan penguji dan audiens.


Seseorang bertubuh pendek memeluknya. Lisa spontan membuka tangannya. Arumi sedang memeluknya. Mas Ray membawa kue bertuliskan "Selamat Ulang Tahun Lisa" dengan lilin angka 22 yang tidak menyala karena sensor kebakaran bisa berbunyi jika lilin tersebut menyala. Lisa menghapus air matanya dan tersenyum.


Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happay birthday happy birthday, happy birthday to you...

__ADS_1


Seluruh ruangan menyanyikannya. Lisa sangat bahagia. Namun terlintas di pikirannya bagaimana nasib Arumi setelah terekspos di depan mahasiswa. Dosen sudah tahu jika Mas Ray pernah menikah dan memiliki Arumi. Salah satu perawat yang bekerja di Klinik Sara merupakan anak Bu Runi, salah satu dosen jurusannya. Berita tersebut akhirnya sampai ke telinga dosen-dosen dan salut dengan perjuangan Mas Ray menjadi single parent.


"Hadiah ulang tahun dari kami, kamu lulus Lisa. Selamat ya," ucap Bu Vika tersenyum.


"Serius ibu?" tanya Lisa.


"Iya," jawab Bu Vika.


"Jangan lupa revisi skripsimu sesuai yang ibu inginkan lalu kirim ke situs resmi skripsi kampus ya Lisa," ucap Bu Windy.


"Iya ibu,"ujar Lisa tersenyum.


"Bunda, brarti nggak jadi tinggal bareng ayah dan Arumi walaupun udah lulus kuliah?" tanya Arumi kepada Lisa.


Mas Ray dan Lisa langsung panik. Anaknya salah tempat menanyakan hal tersebut di depan orang banyak.


"Can, itu anakmu? Ayahnya anak itu siapa?" tanya Alika si rusuh yang mulai penasaran.


Bu Windy dan Bu Vika tertawa.


"Tanya ke Lisacannya nanti aja pas udah keluar dari ruangan," ucap Maya.


"Temen-temen semua, selama ini kalian tidak tahu. Tapi kesempatan kali ini saya akan memberitahu kalian bahwa saya duda beranak satu. Anak kecil yang menggemaskan ini adalah anak saya. Lisa, satu-satunya wanita yang ingin saya nikahi ini, otomatis akan menjadi ibu sambung bagi anak saya. Wajar jika anak saya memanggilnya bunda," ucap Mas Ray gugup tapi mencoba tersenyum. Semua mahasiswa bersorak.


"Massss," ucap Lisa menatapnya.


"Jalan terbaik," ujar Mas Ray pelan.


Belum memberikan kejelasan mengenai kelanjutan hubungan percintaan, pria itu sudah membuat pernyataan konyol. Lisa juga belum bertanya kepada Maya mengenai perasaannya terhadap Mas Ray masih ataukah sudah hilang. Penasaran reaksi sahabatnya itu, Lisa memberanikan diri melihat Maya. Sahabatnya itu tersenyum melihatnya. Ada ketenangan di hati Lisa.


Bu Vika menutup acara sidang skripsi Lisa. Semua audiens meninggalkan ruangan. Maya dan Alika memberi kode kepadanya mereka akan menunggu Lisa di luar ruangan. Bu Vika dan Bu Windy meminta maaf atas prank yang mereka lakukan untuk membantu Mas Ray memberikan kejutan. Lisa lulus tepat di hari ulang tahunnya. Sebenarnya, Lisa lupa bahwa hari ini ulang tahunnya karena terlalu fokus dengan sidang. Terlebih ayah, bunda, Mas Ray, dan sahabatnya yang daritadi bersama dia tidak ada satupun mengucapkan. Di luar ekspektasi akan merayakan ulang tahun dengan kado dari diri sendiri sebuah kelulusan.


Lisa menggendong Arumi berjalan keluar ruangan bersama Mas Ray yang masih membawa kue ulang tahunnya.


"Kok Maya sama Alika nggak ada," ucap Lisa saat sampai di luar ruangan.


"Siapa tau mereka chat kamu. Kalo nggak ada coba ditelfon," ucap Mas Ray.


Lisa merogoh ponselnya yang ada di saku.


Happy birthday Lican. Happy birthday Lican. Happy birthday happy birthday, happy birthday Lican.


Alika dan Maya datang membawa buket dan kue ulang tahun. Lisa terharu. Hari ini penuh warna ceria. Banyak cerita bahagia tercipta.


"Selamat ulang tahun. Selamat atas gelar baru sahabat kecilku," ucap Alika.


"Selamat berbahagia di hari ulang tahunmu, hari sidangmu, dan selamat sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri," ucap Maya.


"Kamu udah tertarik sama cowok lain ya?" tanya Lsia tersenyum ke Maya.


Maya mengangguk. "Jangan sia-siain kesempatan buat balik sama Mas Ray. Dia begitu sayang dan tulus sama kamu can," ucap Maya tersenyum.


"Doakan yang terbaik buat kita aja," ucap Lisa.


"Mas kuenya taruh di kursi dulu," ucap Lisa ke Mas Ray, "Arumi gendong ayah ya nak," sambungnya.


Setelah Arumi berpindah gendongan ke Mas Ray, Lisa meniup lilin dan memeluk sahabatnya itu. Teman susah dan senangnya dari kecil dengan Alika dan selama kuliah dengan "Can Squad". Akhirnya, dia bisa lulus dan merayakan kelulusan ini dengan taburan kebahagiaan. Tugasnya tinggal satu, memberikan kepastian kepada pria yang dicintainya. Menuruti keinginannya tetap pindah kota atau di Solo dengan konsekuensi terus Mas Ray dekati dan dia harapkan hubungan kami akan kembali lagi. Lisa sudah mengantongi sebuah jawaban. Sela-sela mempersiapkan sidang, dia membuat sebuah keputusan. Menunggu waktu untuk membicarakan hal tersebut baik kepada Mas Ray ataupun orang tuanya yang akhir-akhir ini kesal karena tahu Lisa ingin meninggalkan Solo.

__ADS_1


__ADS_2