
Mas Ray mengajak Lisa mendata barang-barang dan bahan masakan yang mereka butuhkan selama di Bali. Rencananya mereka akan pergi berbelanja lalu makan siang di Nook. Setelah selesai mendata dan siap-siap mereka menuju supermarket yang letaknya tidak jauh dari vila mereka.
Sesampainya di sana, Mas Ray mendorong troli dan Lisa meggandeng pergelangan tangan Mas Ray. Mereka mengelilingi seluruh area untuk mencari barang dan bahan makanan yang sudah masuk ke daftar belanjaan. Selain itu, mereka juga membeli beberapa camilan dan tas belanja karena supermarket tersebut memberlakukan aturan bebas plastik.
Seusai berbelanja, mereka menuju Nook Kerobokan karena letaknya paling dekat dari supermarket. Lisa memilih tempat dekat sawah. Beberapa kali dia pergi ke Nook sawahnya belum ditanam padi, kebetulan hari ini padinya hijau memberikan kesan cantik dan tenang.Mas Ray merangkul Lisa sembari mereka memilih menu. Lisa memesan menu favoritnya tiap kali ke Nook yaitu chicken cordon blue dan pure orange. Sedangkan Mas Ray memesan chicken schnitzel dan jus alpukat.
"Sayang, makanan kesukaanmu apa?" tanya Mas Ray sembari menunggu makanan datang.
"Asal nggak pahit dan basi kayaknya aku suka-suka aja deh," ucap Lisa tertawa, "kalo kamu mas?" sambungnya.
"Kalo sekarang masakan mama. Tapi nanti kalo udah nikah, masakanmu," Mas Ray tersenyum.
"Kamu gombal mulu sih. Waktu nikah sama mantan istrimu jangan-jangan masakan mantan istrimu."
"Nggak pernah masak dia. Aku nggak nuntut istri buat bisa masak juga. Kalo aku nikah sama kamu dan kamu gak pengin masak. Ya udah gapapa. Aku bisa masakin buat kamu atau kita bisa beli."
"Terus makanan favoritmu apa dong kalo kita nikah?"
"Semua makanan yang aku makan bareng kamu."
"Raja gombal."
"Kalo minuman favoritmu apa yang? Berkaitan sama jeruk pasti kan? Selama kita kenal kamu sering banget pesen minuman rasa jeruk."
"Iya, yang. Seger soalnya. Kita kayak anak kecil lagi kasmaran tau. Bahasnya makanan dan minuman favorit."
"Kok kamu tau pacarannya anak kecil? Aku nggak cinta pertamamu ya?"
"Cinta pertamaku lah. Aku nggak pernah bisa buka hati sama cowok, yang. Cuma tau dari pengalaman orang aja."
"Mau kamu udah pernah pacaran atau janda pun tetep aku cinta kamu," Mas Ray mencium pipi Lisa.
Lisa mencubit paha Mas Ray, "janda janda. Enak aja ngomongnya."
"Ibarat sayang. Ibarat. Sensitifmu itu lho bikin makin cinta," Mas Ray mencium pipi Lisa.
"Permisi, ini pesanannya ya kak," ujar pelayanan tersebut menaruh pesanan mereka di meja.
"Iya, kak. Terima kasih ya," ucap Lisa.
"Sama-sama kak. Silahkan menikmati," ucap pelayan itu, lalu meninggalkan kursi mereka.
Lisa dan Mas Ray menikmati makanan masing-masing. Mas Ray mengambil kesempatan ini untuk menyuapi Lisa. Setelah lamaran, mereka memang bertemu tiap dua hari sekali namun tidak pernah bebas bermesraan karena selalu mengajak Arumi.
__ADS_1
"Sayang buka mulut dong," ucap Mas Ray menyodorkan sendok ke mulut Lisa dan menadahkan tangannya di bawah sendok.
Lisa mengizinkan Mas Ray menyuapinya. Setelah itu, dia memotong makanannya dan menyuapi Mas Ray, "Yang, cobain nih."
Mas Ray menerima makanan Lisa sambil tersenyum, "Makasih sayangku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selesai dari Nook mereka langsung kembali ke vila. Lisa pengin nongkrong sembari menikmati sunset di cafe pinggir pantai tapi Mas Ray menolak. Bagi pria itu, vila mereka sudah menyuguhkan pemandangan sunset dan pantai. Jadi tidak perlu mengunjungi area riuh yang tidak sepenuhnya menikmati waktu mesra berdua.
Lisa sedang duduk di daybed dekat kolam renang. Mas Ray datang membawa camilan dan minuman yang mereka beli di supermarket. Mas Ray menaruh bawaannya lalu tiduran di paha Lisa.
"Yang, tuh makan," ucap Mas Ray menunjuk snack yang dia bawa.
Lisa memakan keripik kentang kesukaannya.
"Yang, sebenernya kamu setuju aku nikahi kapan? Selama ini kan hanya aku yang pengin segera atau nunggu kamu lulus. Nah kamu sendiri pengin kapan?"
Lisa berpikir agak lama, "habis aku sidang skripsi intinya."
"Semester ini bisa tau selesai. Kan mata kuliah yang kamu tempuh tinggal dikit. Nanti aku kerjain skripsimu."
"Itu kan mau kamu."
"Aku usahain selesai semester ini tapi jangan kamu yang kerjain skripsiku. Kamu bantu kalo ada kesulitan. Semisal selesai cepet brarti ya hadiah buat kamu. Kalo nggak ya, sabar dulu yang. Setidaknya nggak akan ada setahun kok. Oh ya yang, kalo dari kamu pribadi keberatan nggak kalo aku kerja setelah kita nikah?"
"Cafe dan vlogmu bagi mas gak masalah sih, yang. Tapi kalo urusan cafe di luar kota mas harap kamu bisa pasrahkan ke orang kepercayaanmu. Nah kalo kerja di rumah sakit, ya intinya kerja yang waktunya gak fleksibel menurut mas nggak usah."
"Oke setuju. Tapi transfer-an ke istri lancar ya?" Lisa tertawa.
"Suapi snack-mu," ucap Mas Ray, "pasti. Mas bikin klinik dan ngajar juga buat istriku nanti dan anak-anakku."
Lisa menyuapi Mas Ray lalu membaringkan tubuhnya di samping Mas Ray, "mas, makasih banyak untuk semua yang mas usahakan dan berikan untuk Lisa. Love you," Lisa memeluk tubuh cowok tinggi yang berada di sampingnya.
Mas Ray menyandarkan kepala Lisa di bahunya lalu mengusap rambutnya, "makasih juga udah mau membuka hati buat mas. Love you sampe nggak ada kalimat itu lagi di dunia ini," Mas Ray mencium rambut Lisa berkali-kali.
Langit mulai memancarkan warna jingga. Desir dan suara ombak mengiring suasana menjadi lebih romantis. Senja terindah dalam hidup Lisa bersama orang yang dia cintai.
Malam hari, mereka menonton film di kamar. Lisa menyandarkan kepalanya di bahu Mas Ray. Tiba-tiba ada telfon masuk dari Alika.
"Mas Alika telfon. Pause dulu ya filmnya. Mas juga jangan sampe bersuara," Lisa menekan tombol pause pada remote.
Mas Ray mengangguk. Lisa mengangkat telfon dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Can, lo besok ada acara nggak? Jogja yuk? Mumpung libur panjang."
"Gak bisa, can. Gue lagi di Bali."
"lho, pergi sama siapa lu, can? Mama gue tadi cerita katanya habis ketemu bunda sama ayah lo di cafe."
"Jaemin sama Taeyong, can," ucap Lisa tertawa.
"Serius nih woi tanyanya. Biasanya lo liburan ngajak orang tua atau kalo nggak gue. Tumben amat."
"Berasa gue miskin orang terdekat banget deh, can."
"Bentar, bentar. Gue baru inget. Temen lo kan akhir-akhir ini nambah satu. Udah pakek bikin video bareng lagi brarti kan deket. Lu pergi sama Pak Ray ya?" ucap Alika tertawa.
"Gila aja lu. Mana mungkin gue pergi sama dia."
"Santai dong kalo nggak. Gue juga tau gak mungkin sama Pak Ray. Dia udah ada cincin di jari manisnya."
Mas Ray berbisik, "yang." Lisa menjauhkan ponselnya. "udah dong telfonnya," Mas Ray berbisik kembali lalu memeluk Lisa.
"Udah dulu ya, can."
"Yoi. Jangan lupa oleh-oleh."
"Iya. Bakal gue beliin," Lisa mematikan telfonnya.
Mas Ray tersenyum melihat Lisa menyudahi telfon Alika. "Yuk nonton lagi," ucapnya melepas pelukan.
"Yuk," Lisa memutar kembali film tersebut.
Mas Ray memandang wajah Lisa, "Yang, kamu beneran nggak mau semua orang tau hubungan kita?"
"Belum siap kalo sekarang, yang. Respons orang pada baik sih gapapa ya. Masalahnya di kampus banyak penggemarmu. Aku bikin video aja udah ricuh apalagi ini udah lamaran.
"Nggak usah kamu pikirin respons orang, yang. Pas video kita viral kamu udah pinter tuh, tutup telinga dan mulut. Kita yang menjalankan hubungan ini. Kita juga saling cinta. Kita bahagia. Paling penting orang tua kita juga udah merestui kita."
"Iya kamu bener aku bisa tutup telinga dan mulut tapi ini hubungan yang udah masuk ke tahap cukup serius. Kalo dulu kita masih bisa cari alasan cuma temen. Sekarang kalo semua orang tau aku calonmu, mereka yang gak suka hubungan kita pasti berusaha merusak hubungan kita. Aku yakin ke depan semua orang bakal tau dan yang berusaha menghancurkan hubungan mungkin akan ada juga, tapi sekarang aku yang belum pernah menjalin hubungan cinta ini belum siap dengan semua itu, yang."
"Iya deh iya. Mas ikut kata Lisa aja. Nanti kalo ada yang merusak hubungan kita yang penting Lisa harus tau mas cinta sama Lisa dan mas nggak mau nyerah perjuangin Lisa," peluknya erat.
"Semoga mas pegang perkataan mas itu ya. Yuk nonton lagi sayang," ucap Lisa melepas pelukan Mas Ray lalu menyandarkan kepalanya di bahu Mas Ray.
Film mereka belum selesai namun pasangan romantis ini sudah tidus pulas. Lisa memeluk Mas Ray serasa sebuah guling. Bukan lagi tidur bersama karena takut dengan hantu namun Lisa sudah mulai terbiasa.
__ADS_1