
"Tiket pesawat pulang udah mas ubah jadi lusa kan?" tanya Lisa yang mengemasi barang Mas Ray. Suaminya sudah berusaha packing untuk pindah ke Batam tapi berantakan. Pakaian kotornya tidak ia lipat sehingga memakan ruang. Tidak ada pemisah antara pakaian bersih dan kotor. Lisa yang kesal melihatnya, mengambil alih pekerjaan tersebut.
"Iya udah yang," jawab Mas Ray yang sibuk memainkan ponselnya, "yang, nanti malem mau nggak ketemuan sama sahabat mas di tempat kerja?" sambungnya.
"Cowok apa cewek? Kalo cewek Lisa temenin kalo cowok mas pergi sendiri aja deh. Badan Lisa capek sekali," ucap Lisa tersenyum.
"Cewek," ucap Mas Ray tersenyum.
"Oke Lisa temenin."
Mas Ray tertawa, "Gemes deh. Sahabat mas cowok yang tapi udah berkeluarga kok. Kamu bisa ngobrol sama istrinya. Mereka tahu mas ke Batam bareng istri. Nggak enak kalo dateng sendiri."
"Iya yang. Aku temenin."
"Oke. Makasih ya," ucap Mas Ray tersenyum.
Lisa mengangguk sembari tersenyum. Dia tidak boleh egois hanya karena capek. Suaminya membutuhkan dia untuk menemani.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 5 sore mereka sampai hotel. Mas Ray yang antusias bertemu sahabatnya langsung mandi. Seusai maghrib, mereka akan dijemput sahabat Mas Ray yang bernama Mas Rudi. Lisa memilih tidur sebentar sembari menunggu Mas Ray selesai mandi.
Baru tertidur 10 menit suara suaminya mengusiknya. "Yang bangun yang. Siap-siapmu lebih lama daripada mas. Nanti keburu Rudi dan keluarga jemput kita."
Lisa membuka matanya dan menuruti perkataan suaminya. Keluar kamar mandi azan berkumandang. Mereka salat jamaah lalu Lisa siap-siap dengan cepat. Hanya menggunakan bedak, alis, maskara, dan lipstik saja. Lisa kesal mendengar ocehan Mas Ray yang memintanya cepat karena Mas Rudi sudah menunggu.
"Maaf ya aku paksa kamu ikut dan minta kamu buru-buru siap-siapnya," ucap Mas Ray menggandeng tangan Lisa saat mereka keluar kamar.
"Iya. Lain kali kalo bikin janji sama temen yang mengharuskan Lisa ikut, tolong jangan pas lagi capek."
"Iya. Waktu kita di Batam kan cuma sebentar. Rudi cuma bisa malam ini. Jadi mas langsung meng-iya-kan. Maafin mas ya."
Lisa tersenyum, "Iya sayang."
Ketika mengobrol dengan pasangan ketika ada masalah tanpa menyulut api pasti sebuah hubungan akan baik-baik saja. Komunikasi dengan pasangan tanpa emosi adalah sebuah kunci dari setiap permasalahan yang terjadi. Belajar tentang kehidupan pernikahan sebulan belakangan banyak mengubah hidupnya.
"Masuk Ray," ucap Mas Rudi membuka kaca mobilnya. Istrinya yang duduk di sampingnya sembari menggendong bayi tersenyum.
__ADS_1
Lisa menyapa dengan senyuman.
"Oke rud," ucap Mas Ray lalu dia membuka pintu mobil dan mempersilahkan Lisa masuk terlebih dulu.
Mas Ray salaman sembari menanyakan kabar Mas Rudi dan istrinya. Lisa ikut menyalami mereka. Mobil melaju keluar dari area hotel. Mereka bertiga bercakap mengenai rekan-rekan kerjanya di rumah sakit dan keluarga Mas Ray. Ternyata istrinya Mas Rudi, Kak Citra, rekan kerja Mas Ray juga.
"Gimana rasanya nikah sama Ray, Lis?" tanya Kak Citra sembari memegang dot anaknya.
"Lima hari pernikahan sih terpantau berjalan seru kak," ucap Lisa tertawa.
"Masih muda mau-maunya kamu diajak nikah sama duda, Lis," ucap Mas Rudi tertawa.
"Dulu aja kalian nyuruh gue move on dan mencari istri baru. Sekarang udah ada istri lo bully gue," ucap Mas Ray tersenyum.
"Menikah sama duda bukan brarti Lisa menyia-nyiakan masa muda kok mas. Suami banyak membantu proses pendewasaan aku juga," ucap Lisa tersenyum.
"Beruntung banget Ray lo dapet Lisa. Keliatan orang baik dan ibu yang baik buat Arumi," ucap Kak Citra.
"Iya kan. Kali ini gue yakin nggak akan salah pilih lagi," ucap Mas Ray tersenyum melihat Lisa sembari merangkulnya. Lisa tersipu malu mendengarnya.
Mereka duduk di restoran seafood yang letaknya di tepi pantai. Angin mengubrak-abrik rambut Lisa yang terurai. Sekar yang baru berusia 3 bulan, tidur di stroller yang ada di sampingnya dengan selimut tebal. Lisa memandangi bayi itu dengan senyuman. Wajah bayi itu sangatlah cantik seperti boneka.
"Pengin punya baby Lis?" tanya Kak Citra tertawa. Ternyata dia memperhatikan tingkah Lisa.
Lisa tersenyum, "Sekar terlalu cantik kak. Ngeliatin dia bikin aku senyum."
"Kalian nggak nunda kan?" tanya Mas Rudi.
"Dulu pas udah lamaran, Lisa sempet nggak mau punya anak. Udah ada Arumi. Tapi pas udah nikah kita nggak nunda kok."
"Aku sama Rudi dari awal nikah nggak pernah nunda dan selalu pengin punya baby, 3 tahun pernikahan baru lahir Sekar akhir tahun kemarin. Walaupun udah ada Arumi, pasti bakal beda rasanya punya anak dari lahir udah ada di tangan kamu Lis," ucap Kak Citra tersenyum.
"Susah nggak kak ngurus bayi?" tanya Lisa penasaran.
"Jangan mikirin susahnya. Pikirin aja rasa bahagia bisa merawat seorang anak. Kalo papinya mau bantu aku ngerawat Sekar terus selalu ngomong, 'makasih ya udah jadi ibu yang baik buat Sekar,' serius rasa capeknya ilang," ucap Kak Citra melihat Mas Rudi.
"Gue belajar dari Ray soal itu mi," ucap Mas Rudi tertawa.
__ADS_1
Kak Sekar, Lisa, dan Mas Ray pun tertawa.
Lisa jadi penasaran, seperti apa pria selingkuhan mantan istri Mas Ray sampai tega mencampakkan suaminya itu. Apakah lebih tampan, perhatian, romantis, atau lebih kaya daripada Mas Ray? Seperti halnya kasus papanya yang berselingkuh. Dia tidak ingat wajah selingkuhan papanya, tapi Lisa tahu mamanya orang baik dan mau mengurus keluarga kecilnya. Mungkin orang-orang yang berselingkuh memang kurang rasa syukur terhadap pasangannya.
Mas Ray sempat pergi sebentar saat menunggu pesanan mereka datang. Lisa mencoba akrab dengan kedua teman kerja Mas Ray yang ternyata mereka berteman saat kuliah kedokteran juga. Lisa bertanya bagaimana kehidupan Mas Ray dulu. Mas Rudi bercerita Mas Ray saat bekerja tiap kali ada waktu kosong menyempatkan menelfon mamanya yang saat itu menjaga Arumi. Pas Arumi tumbuh besar selalu menyebut kata bunda karena teman bermainnya punya ayah dan bunda. Sungguh menyedihkan bertanggung jawab sebagai orang tua tunggal. Mas Ray kembali bersamaan dengan makanan yang mereka pesan datang.
"Yang," ucap Mas Ray sembari duduk.
"Iya?" tanya Lisa.
Mas Ray mengucir rambut Lisa yang terurai. "Biar makanmu nyaman," ucapnya.
"Makasih ya yang," ucap Lisa.
"Yuk makan," ucap Kak Citra.
Terdapat beberapa macam seafood. Ada udang, sotong, dan ikan gurami. Mereka mengambil sesuai keingan lalu makan bersama.
"Lo pergi cuma beli kucir?" tanya Mas Rudi sembari makan.
"Yoi. Istri nyaman suami senang Rud," ucap Mas Ray tertawa.
"Eh iya Ray, kenapa lo nggak mau kami dateng pas kalian nikah?" tanya Kak Ratih.
"Kalian punya bayi. Ya emang boleh sih naik pesawat tapi bakal repot. Pas Sekar udah agak gede aja kalian main ke Solo," ucap Mas Ray.
"Gimana pi? Seru nih momen Arumi ketemu Sekar. Terakhir ketemu Arumi masih cium Sekar di perutku," ucap Kak Citra ke arah Mas Rudi.
"Gemes ya kak. Krucil-krucil bertemu," ucap Lisa tersenyum.
"Iya bener banget," jawab Kak Citra.
"Oke, kita atur waktu mi," ucap Mas Rudi tersenyum ke istrinya. "Pengin ke Jogja juga nih Ray," ujarnya diiringi tertawa ke Mas Ray.
"Siap nganter bos," ucap Mas Ray tersenyum.
Setelah makan malam Mas Rudi dan Kak Citra mengantar Lisa dan Mas Ray balik ke hotel. Pertemuan singkat yang mengobati rindu dua sahabat yang beberapa bulan tidak bertemu. Mas Ray dan Mas Rudi saling berpelukan saat berpamitan. Perpisahan sementara. Mas Rudi dan Kak Citra janji akan mengunjunginya di Solo.
__ADS_1