
Mas Ray tidur memeluk Lisa. Suaminya sama sekali tidak membahas mengenai berhubungan badan. Pria yang amat mencintainya itu benar-benar sabar menghadapinya. Lisa yang belum tidur masih memikirkan jawaban berbohong Mas Ray kepada keluarganya tadi pagi. Ada rasa bersalah. Ada rasa kasihan. Ingin mewujudkan hak suaminya itu, tapi takut merasa kesakitan. Menjelang pernikahan dia mulai belajar banyak tentang kehidupan berumah tangga lewat internet. Salah satu informasi yang ia dapatkan sakitnya berhubungan pertama kali hingga membuatnya takut memulai hal tersebut.
Lisa mencoba memejamkan mata namun rasa bersalah itu mengusik pikirannya. Melintas ke sana-sini. "Bagaimanapun itu hak suamiku. Dan tidak mungkin seumur hidup pernikahan aku tidak memberikan hak suamiku," batin Lisa.
"Mas," ucapnya sembari menepuk bahu Mas Ray.
"Hmm apa?" jawabnya sambil memejamkan mata.
"Aku siap mas," bisiknya ke telinga Mas Ray.
"Siap apa?" tanya Mas Ray yang masih memejamkan mata.
"Ngasih hak mas atas Lisa."
"Yakin?" tanya Mas Ray membuka mata perlahan sembari tersenyum.
"Iya."
"Mas minta malam ini boleh?"
"Boleh sayang."
"Salat dulu yuk." Mereka melaksanakan shalat sebelum melakukan hubungan tersebut.
"Oke," jawab Lisa tersenyum.
Selesai salat, Lisa mengambil sesuatu dari kopernya dan izin ke kamar mandi sebentar. Gugup akan menyerahkan diri kepada suami tercinta namun mencoba memberikan yang terbaik. Lisa membuka pintu kamar mandi sambil tersenyum.
"Yang," ucap Mas Ray tersenyum kaget melihat Lisa mengenakan pakaian tipis berwarna hitam. Mas Ray yang tergoda langsung memulai permainan. Lisa mencoba mengimbangi permainan Mas Ray. Cukup lama menduda, Mas Ray menyalurkan semuanya malam ini.
"Siap inti permainan?" bisik Mas Ray.
Lisa mengangguk, "Lisa takut sakit. Pelan-pelan ya."
"Kalau sakit bilang aja. Mas bakal berhenti dulu."
__ADS_1
Lisa mengangguk. Perlahan Mas Ray memulai permainan inti.
"Sakit mas," ucap Lisa dengan wajah kesakitan.
Mas Ray berhenti sejenak.
"Lanjut aja deh," ucap Lisa. Mas Ray kembali beraksi. Lisa mencoba menahan sakitnya namun tidak berhasil. Ekspresi wajahnya semakin kesakitan.
"Yang nggak tega. Kita coba lagi besok aja," ucap Mas Ray. Merebahkan dirinya di samping Lisa.
Lisa mengatur napasnya. "Kita coba lagi aja. Biar ssekalian hari ini sakitnya."
"Kita coba sekali lagi. Kalo kamu semakin sakit, kita lanjut besok."
"Oke. Semangat ya mas," bisik Lisa lalu menghadiahi kecupan di bibir Mas Ray. Dia mengawali permainan. Pria itu membalas permainan Lisa. Perlahan-lahan Mas Ray mencoba membobol pertahanan itu kembali. Sampai akhirnya, Lisa sangat kesakitan dan berteriak keras. Dia bukan seorang gadis lagi. Dosennya berhasil merenggut hal itu. Dia resmi menjadi istri Mas Ray seutuhnya ---- bukan sekadar ucapan akad.
Mas Ray mencium Lisa, "terima kasih istriku. Love you."
Lisa membalas ciuman Mas Ray, "Love you more." lalu memeluk suaminya, "Ada darah di sprei kita. Gimana dong mas?" ucap Lisa malu.
"Besok mas cuci. Terus telfon resepsionis minta ganti sprei."
"Pasti sakit ya?"
"Iya, tapi gapapa kok," ucap Lisa tersenyum.
"Kemungkinan sakitnya bertahan beberapa hari. Semoga aja kamu cepet hilang sakitnya."
"Iya. Lisa tau kok kalo bakal sakit. Makanya kemarin nggak mau karena takut sakit. Akhirnya nggak tega kalo sampe ngebuat mas menunggu lama. Tapi setelah ngelakuin, sakitnya terobati, ngeliat mas bahagia dan Lisa bisa menuhin hak mas," ucap Lisa tersenyum.
Mas Ray membelai rambut Lisa, "Yang, kalo di Solo kan pagi sampe sore bahkan kadang malem mas kerja. Terus kita tidur sama Arumi. Kalo di rumah kapan dong kita bisa ngelakuinnya?"
"Tunggu Arumi tidur," ucap Lisa tersenyum.
"Yah nanti ganggu dia dong, yang. Terus nggak bebas juga."
__ADS_1
"Yaudah kan ada kamar sebelah. Mas harus ngertiin Arumi. Dia baru bahagia bisa tinggal sama bundanya. Biarin aja tidur sekasur sama kita. Perlahan-lahan kita kasih pengertian dia buat tidur sendiri?" ucap Lisa tersenyum.
"Oke. Oh ya yang, ngomong-ngomong, mas nemu rumah bagus. Areanya di tengah kota Solo. Masih deket lah sama area Kartasura. Bangunan baru. Fasilitasnya oke. Udah ada kolam renang, luas tanah 400 meter, terus udah ada lift juga. Kamu tertarik buat liat nggak?"
"Pasti mahal ya yang?"
"Nggak masalah. Yang penting tuh kamu, Arumi, dan anak-anak mas nantinya nyaman."
"Sebenernya Lisa nggak masalah tinggal bareng mertua. Tapi mas dari dulu pengin banget kita tinggal pisah dari orang tua. Kita setengahan aja gimana bayar rumahnya? Lisa kerja juga buat keluarga kecil kita," ucap Lisa mengusap pipi suaminya itu.
"Oke. Nanti mas janjian sama developer-nya pas kita pulang."
"Iya. Mas coba cari rumah baru lainnya juga. Biar ada referensi."
"Oke yang."
"Mas, aku penasaran, kenapa kamu suka banget ngasih aku bunga gardenia?"
"Jadi selama ini, mas kasih kamu bunga itu sampe nikah request buket gardenia putih, kamu nggak pernah cari tau maknanya?" tanya Mas Ray tersenyum.
"Bagi Lisa semua bunga sama maknanya, indah dan romantis."
"Setiap bunga memiliki makna tersendiri. Warna bunga pun udah beda maknanya yang. Gardenia putih itu melambangkan cantik dan kemurnian. Mas taunya juga baru sih," Mas Ray tertawa kemudian melanjutkan ucapannya, "Waktu beli bunga di Bali, kan mas mau beli bunga mawar eh stoknya nggak ada. Pegawai tokonya tanya buat siapa, nah aku jawab buat pasangan kan. Dia rekomendasiin beberapa bunga dan ngasih tau artinya. Mas pilih deh bunga gardenia putih karena Lisa cantik dan perasaan mas ke kamu itu murni," Mas Ray mencium bibir Lisa.
"Sekarang mainnya cium bibir terus ya," ucap Lisa tertawa.
"Udah halal mah bebas. Mumpung lagi berdua, nanti sampe rumah pasti kamu malu kan bermesraan di depan mama dan papa. Mas ngotot pengin kita tinggal sendiri ya gara-gara itu."
"Kan Lisa juga malu bermesraan di depan Arumi. Jadi nggak ada bedanya pindah atau nggak dong yang."
"Rasa malu mencium, gandengan, dan pelukan sama mas di depan anak perlahan-lahan harus kamu ilangin. Mas rasa hubungan kita akan datar kalo nggak ngelakuin itu yang. Penting jangan sampe ketauan berhubungan badan depan anak aja deh."
Lisa menyederkan kepalanya di bahu Mas Ray, "Oke, Lisa usahakan ya. Yuk tidur mas. Lisa ngantuk."
Mas Ray mengusap kepala Lisa, "selamat tidur istriku. Makasih untuk malam ini ya. Love you."
__ADS_1
"Sama-sama sayang. Love you too."
Malam yang indah di Kota Bintan. Saksi bisu atas hubungan pernikahan mereka yang akhirnya resmi seutuhnya. Perempuan yang tidak pernah berpikir akan menikah itu mengakhiri masa gadisnya. Mama pasti bahagia melihat Lisa yang sekarang. Mau menjalani hari selayaknya kehidupan manusia lainnya. Menjalin sebuah cinta dan ikatan pernikahan.