
Sampai di kamar hotel, baterai ponsel Lisa 1%. Dia segera mengirim pesan kepada ayah dan bundanya agar tidak khawatir. Lisa izin tidak bisa pulang karena pergi ke cabang Jogja ditemani salah satu pegawainya. Setelah mengabari orang tua sambungnya itu, ponselnya mati.
Lisa menaruh ponsel di meja. Mengganti pakaiannya dengan jubah mandi karena ia sadar tidak membawa pakaian ganti. Lalu, dia masuk ke kamar mandi. Lisa menyalakan shower. Tidak mengatur pemanas lagi. Air dingin lebih bisa menghilangkan stresnya daripada air panas. Dia mulai bermonolog sembari menangis.
"Aku harus gimana?"
"Apa aku harus memutus lamaran agar sahabatku tidak lagi membenciku?"
"Kenapa dari awal Mas Ray tidak pernah bicara padaku kalo Maya menyukainya?"
"Dan kenapa Maya juga tidak bercerita kalo dia menyukai Mas Ray? Padahal dia biasanya cerita."
"Kalau dari awal aku tahu, pasti akan kuhindari pria itu."
"Ya, aku juga salah. Seharusnya aku bercerita kepada Maya ataupun Alika kalau Mas Ray mendekatiku. Kabar lamaranku pasti tidak mengejutkan mereka."
"Kenapa aku selalu enggan bercerita?"
"Kenapa aku terus-terusan hidup dengan trauma masa kecilku yang membawa dampak seperti ini?"
"Mama, Lisa menyakiti orang terdekatku. Lisa harus gimana ma?"
Pukul 21.00, Lisa menyudahi monolognya tanpa tahu keputusan apa yang akan dia ambil. Sudah tiga jam dia bermonolog di bawah aliran air dengan pertanyaan yang sama. Dari yang awalnya masih kuat berdiri lama-kelamaan terduduk di lantai. Kali ini, dia mencoba bangun walau tak berdaya. Tubuhnya menggigil. Keluar dari kamar mandi, Lisa berusaha mengganti jubah mandi yang basah dengan jubah yang baru untuk mengurangi rasa dingin pada tubuhnya.
Setelah itu, Ia rebahkan tubunnya ke kasur. Ia kembali bermonolog dibalut selimut tebal.
"Lisa, kalo malam ini kamu sakit parah dan menjadi hari terakhirmu, kamu senang atau sedih? 12 tahun lalu, kamu pikir mandi berjam-jam di bawah shower bisa membuatmu mati. Setelah kejadian itu, kamu masih ingin mengakhiri hidupmu lagi? Bagaimana jika tubuhmu masih ingin di dunia ini, Lisa? Kamu telah menyiksa tubuhmu bertahun-tahun. Apa kamu tidak kasihan dengan tubuhmu?"
Lisa mengubah posisinya dari terlentang menjadi berbaring ke samping, "Tubuh Lisa, maaf aku udah sering menyakitimu. Makasih ya udah..."
Ting tong... Ting tong...
Tok... Tok... Tok...
Bel kamar Lisa berbunyi disertai dengan ketukan pintu.Dia mengabaikannya. Takut itu hantu karena ia merasa tidak memesan dan tidak ada satupun orang terdekatnya yang tahu ia menginap di sini. Atau mungkin salah kamar. Dia melanjutkan monolognya kembali, "tubuh Lisa, makasih ya udah sabar menghadapi sifat dan tingkah Lisa."
Ting tong... Ting tong... Ting tong... Ting Tong...
__ADS_1
Tok... Tok... Tok....
Bel berbunyi berkali-kali. Ketukan kali ini lebih keras.
"Ih siapa sih," gerutu Lisa.
Tak lama kemudian bel kembali berbunyi lagi tanpa ketukan pintu.
Ting tong... Ting tong... Ting tong.... Ting tong... Ting tong....
Dengan tubuh menggigilnya, Lisa terpaksa bangun dibalut selimut agar tidak kedinginan dan tidak malu tubuhnya hanya memakai jubah mandi saja. Dia mengintip lewat door viewer.
Lisa kaget ternyata Mas Ray yang menekan bel dan mengetuk pintu kamarnya. "Dia tahu dari mana aku menginap di sini?" Lisa mulai bertanya-tanya.
Ting tong... Ting tong.... Ting tong... Ting tong.... Ting tong....
Tok... Tok... Tok....
"Bukain nggak ya?" Lisa bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Lisa memutuskan kembali ke kasur. Biarkan saja Mas Ray memencet bel dan mengetuk pintu kamarnya sampai capai.
Tok... Tok... Tok...
Suara bel dan ketukan pintu terakhir. Setelah itu, tidak terdengar lagi.
Suara berisik tidak lagi ia dengar. Lisa memejamkan matanya. Baru terlelap sebentar, bel kamarnya kembali berbunyi diiringi pintu kamarnya terbuka.
Lisa menutup wajahnya dengan selimut. "Sial. Udah tau lokasiku, pakek dapet kartu akses lagi," batin Lisa.
"Lisaaa," ucap Mas Ray yang sedang berjalan ke arah kasur.
Dia duduk di pinggir kasur, "mau mas buka atau kamu buka sendiri? Mas tau, kamu pura-pura tidur. Kamu nggak akan tidur dengan wajah tertutup selimut."
"Mas pergi," ucap Lisa menendang tubuh pria itu dengan kakinya. Tanpa sadar, Lisa menendang bagian perutnya.
"Aw..." Mas Ray merintih keras karena kesakitan.
__ADS_1
Lisa masih keukuh menutup wajahnya dengan selimut. Walaupun merasa kasihan melihat Mas Ray merintih.
"Aw... Lis, telfon ambulan, mas nggak kuat lagi."
Lisa mengintip bagian perut Mas Ray, pria itu benar-benar memegang perutnya erat. Lisa membuka selimutnya sampai ke leher. Mas Ray tertawa keras.
Lisa menutup kembali wajahnya dengan selimut. "Nggak lucu! Bisa pergi sekarang nggak!" teriak Lisa.
Mas Ray masuk ke dalam selimut. Dipeluknya wanita yang sangat ia cintai itu, "Tubuhmu kok menggigil. Kamu kedinginan yang?"
Lisa melawan pelukan Mas Ray tapi gagal.
"Kamu habis mandi berjam-jam lagi ya sampe kedinginan gini? Kali ini ada apa lagi?"
"Lisa pengin sendiri. Tolong keluar," ujar Lisa bersikap halus kepada Mas Ray dengan harapan pria itu akan meninggalkannya sendiri.
"Gimana bisa mas ninggalin kamu. Gimana bisa mas nggak khawatir tiap kali nomormu nggak aktif pasti ada masalah yang kamu pendam," Mas Ray menangis, "Mas jadi cowok paling cengeng sedunia semenjak dekat dengan Lisa. Jangan buat mas khawatir lagi yang. Mas mohon," sambungnya menghapus air mata.
Mas Ray, menangis itu wajar bukan cengeng. Manangis itu emosi. Ketika manusia mampu meluapkannya pasti akan tenang. Asalkan tidak tiap 60 hari saja kamu menangisi Lisa. Itu sudah tergolong gila.
Lisa terdiam mendengar ucapan Mas Ray. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ada apa lagi kali ini yang? Mas yang salah atau orang lain? Kalo mas yang salah kasih tau biar mas perbaiki," ucap Mas Ray.
"Mas, Lisa capai. Pengin tidur." Lisa tidak ingin menangis lagi malam ini. Sudah cukup monolog panjang yang dia utarakan. Dia hanya ingin tidur.
"Ya udah gapapa kalo Lisa belum bisa cerita. Tapi mas tidur di sini ya? Mas takut kalo Lisa sakit kayak di Jogja dulu."
"Terserah. Tapi tidur di sofa." Hati Lisa menerima kebaikan Mas Ray yang ingin menjaganya.
Mas Ray melepas pelukan lalu membuka selimut hingga leher agar tubuh Lisa tidak kedinginan. Kemudian Mas Ray menyadari sesuatu, "yang kamu cuma pake jubah ya?"
"Tidur di sofa atau keluar!" teriak Lisa.
Lisa akui pelukan Mas Ray mampu menghangatkannya. Dia malas berganti pakaian. Jika pria itu tidur di sampingnya dengan kondisi Lisa menggunakan jubah yang talinya rawan lepas, dia takut terjadi hal yang paling dia tidak inginkan sebelum resmi menikah. Terlebih Lisa masih kesal dengan kekasihnya yang tidak mau bicara dari awal kalau sahabat Lisa menyukainya.
Mas Ray senyum-senyum turun dari kasur, "Nyesel tanya ke kamu, tau gitu langsung terkam," godanya.
__ADS_1
Lisa tidak menanggapi candaan Mas Ray. Dia memilih memejamkan matanya. Berharap esok pagi masalah pertengkarannya dengan Maya akan menemukan jalan keluar.