Lamora

Lamora
Bali, we're coming


__ADS_3

Mas Ray dan Lisa tidak bisa bertemu setiap hari karena kesibukan yang berbeda-beda. Namun tiap malam mereka selalu menyempatkan waktu video call setelah Arumi tidur.


"Sayang, cek kalender minggu depan deh," ujar Mas Ray.


"Kenapa?" tanya Lisa sembari membuka kalender di kamarnya.


"Weekend 2 hari, tanggal merah 2 hari. Liburan berdua yuk."


"Janji nggak bakal ngelakuin hal-hal aneh sebelum kita resmi menikah ya?"


"Apa tuh?" jawab Mas Ray tertawa.


"Oke aku nggak mau."


"Nggak, nggak. Percaya deh sama aku, yang."


"Arumi gimana?"


"Ini aja yang ngasih tau aku ada libur panjang mama dan papa. Mereka nyuruh aku ngajak kamu liburan berdua. Katanya biar kita bisa saling mengenal lebih dalam lagi. Mama pakek bilang gini lagi yang, 'Ray, mumpung anakmu masih satu dan sudah bisa ditinggal, ajak Lisa pergi.' Kalo anak kita banyak, aku sih tetep bakal usaha biar kita bisa pergi berdua yang," ucap Mas Ray tertawa.


"Emang kamu pengin anak banyak?"


"Aku serahin ke kamu kalo itu, yang."


"Kalo aku maunya Arumi aja gimana?"


"Ya udah, gapapa. Makin banyak waktu kita berdua kalo cuma Arumi aja."


"Bersyukur deh punya kamu. Nggak banyak nuntut aku."


"Aku yang lebih bersyukur punya kamu, yang. Bersyukur banget banget banget malah."


"Sama-sama bersyukur intinya. Ngomong-ngomong kamu mau ajak aku ke mana?"


"Kamu lagi pengin kemana, yang?"


"Pengin ke Bali tapi jauh."


"Kayak Solo nggak ada bandara aja. Oke kita ke Bali ya. Aku aja yang booking tiket pesawat, hotel, dan sebagainya."


"Pesen dua kamar ya mas."


"Jogja aja kita sekamar lho, yang. Gimana mau bermesraan kalo kamarnya terpisah."


"Jogja ada Arumi. Kali ini kita berdua. Cari aman aku tuh."


"Iya deh iya. Berangkat Jumat malem ya? Biar lebih lama waktunya."


"Boleh. Nanti aku izin bunda dan ayah dulu. Siapa tau nggak dibolehin."


Mas Ray tertawa, "besok aku telfon mereka. Nggak mungkin nggak dibolehin kalo kamu perginya sama aku."


"Aku ngantuk. Udahan yuk. Eh gimana kalo kita ketemu lagi minggu depan aja. Biar kangennya numpuk dulu jadi pas liburan makin lengket," ujar Lisa tertawa.


"Nggak mau. Lama banget. Dua hari sekali ketemu aja udah lama lho. Jangan nyiksa aku dong yang."


"Udah, gapapa. Katamu pengin mesra kan? Kalo lama nggak ketemu prediksiku kita bakal makin mesra. Aku mau bobok. Selamat malam sayangku."


"Prediksi macam apa...." ucap Mas Ray namun terpotong karena Lisa mematikkan telfonnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mas Ray akhirnya menuruti permintaan Lisa tidak bertemu sampai mereka liburan ke Bali. Malam ini Bandara Adi Sumarmo menjadi saksi pertemuan mereka setelah seminggu tidak bertemu.


"Sayangg," teriak Mas Ray tersenyum melihat Lisa diantar ayah dan bundanya.


Lisa menghiraukan teriakan Mas Ray dan berlari memeluk Arumi, "Arumiiii. Bunda kangen deh."

__ADS_1


"Om, tante, apa kabar?" Lisa memberi salam pada Tante Ratih dan Om Bobby.


"Baik Lisa," ucap Tante Ratih dan Om Bobby bersamaan.


Mas Ray yang menyadari Lisa sengaja menggodanya, langsung tidak memedulikan Lisa dan memilih menyapa ayah dan bunda.


"Lisa nggak nyapa Ray? Kalian udah seminggu nggak ketemu kan?" ujar bunda.


"Nanti juga masih ketemu, bun. Nyapa tante, om, dan Arumi aja yang ketemunya bentar," ucap Lisa tersenyum.


"Biarin aja tan. Sok cuek padahal Ray tau pasti kangen. Cuma gengsi aja buat ngomong kangen karena dia bikin peraturan nggak ketemu," ujar Mas Ray.


"Yang satu gengsi, yang satu bodo amat. Hubungan kalian mau jadi apa. Pelukan dulu sana," ucap Om Bobby.


"Gak perlu mengkhawatirkan hubungan kita, pa. Nanti kalo kalian pulang, pasti bakal mesra. Apalagi mau liburan bareng," ucap Mas Ray tertawa.


"Ngusir ceritanya. Arumi yuk pulang nak," ucap Tante Ratih meminta Arumi turun dari gendongan Lisa.


"Gak usah buru-buru, tante. Jangan dimasukkan hati omongan Mas Ray," ujar Lisa.


"Udah. Kalian nikmati waktu berdua. Kami pulang ya. Kalian jaga diri baik-baik di sana," ucap bunda.


"Jaga kesehatan," ujar Tante Ratih.


"Kalo ada masalah diomongin baik-baik. Kalian cuma berdua dan jauh dari rumah," ucap Om Bobby.


"Ray, pokoknya om titip Lisa ya. Kalo Lisa kenapa-kenapa, kamu berurusan sama om dan tante," ucap ayah tertawa.


"Banyak banget nasehatnya. Ray bakal jaga diri dan menjaga Lisa juga. Makasih ya papa, mama, om, dan tante udah nganter kami," ujar Mas Ray.


"Iya. Makasih udah nganter Lisa dan Mas Ray ya ayah, bunda, om dan tante," ucap Lisa memeluk mereka.


"Arumi ayah pergi dulu ya sayang. Ayah sayang banget sama Arumi," Mas Ray mencium Arumi.


"Iya ayah."


"Iya bunda. Arumi mau oleh-oleh boneka ya?" ucap Arumi.


"Oke. Bunda belikan boneka nanti. Mau apa lagi?"


Arumi melepas pelukan Lisa kemudian menatapnya, "mau ayah dan bunda bisa tinggal bersama-sama nggak cuma liburan aja."


Ayah, bunda, Tante Ratih, dan Om Bobby tertawa. Hanya Lisa dan Mas Ray yang terenyuh.


"Arumi sayang, sabar dulu ya nak. Nunggu bunda selesai kuliah dulu nanti kita tinggal serumah," ucap Mas Ray sembari mengusap rambut Arumi.


"Iya Arumi sayang. Sabar ya nak," ucap Lisa mengusap rambut Arumi.


"Iya ayah, iya bunda."


"Arumi yuk kita pulang. Bunda dan ayah biar pergi," ucap Tante Ratih.


Mereka saling melambaikan tangan. Perpisahan itu meninggalkan sepasang kekasih bersama.


"Sayang, kamu nggak kangen aku ya?" ucap Mas Ray saat menuju tempat check-in.


"Kangen banget. Sengaja tadi aku," ucap Lisa tertawa.


"Kamu nggak mau sekarang peluk aku? Walaupun udah telat aku masih terima nih."


"Nanti aja di vila aku tambahi bonus," ucap Lisa.


"Nah kalo ada bonus gini makin gak sabar," ucap Mas Ray tersenyum.


Menunggu 1 jam di ruang tunggu, akhirnya mereka bisa masuk ke dalam pesawat. Perjalanan menuju Bali memakan waktu kurang lebih 1 jam. Lisa memilih tidur karena aktivitasnya seharian cukup padat. Dia menyenderkan kepala di bahu Mas Ray. Sedangkan Mas Ray memilih menghabiskan waktu menonton film. Sesekali Mas Ray juga memandang perempuan yang dicintainya itu. Pukul 21.30 mereka sampai di pulau dewata. Tempat yang mampu mengundang banyak turis baik lokal ataupun mancanegara. Tempat dengan sejuta keindahan tiap sudutnya.


"Sayang, udah sampe Bali," ucap Mas Ray mencium rambut Lisa sembari mengusap pipinya.

__ADS_1


Lisa mencoba membuka matanya.


"Yuk turun," aja Mas Ray.


"Cepet banget. Masih ngantuk."


"Nanti sampe vila langsung tidur. Yuk turun."


Keluar dari pesawat, mereka langsung mengambil bagasi. Sampai luar, mereka mencari orang yang mobilnya akan mereka sewa selama 4 hari. Mas Ray memilih menyewa mobil agar lebih leluasa kemana saja.


"Pak," sapa Mas Ray kepada pria tersebut yang tingginya hampir sama dengannya.


"Mas Ray Wiliam?"


"Iya, pak."


"Maaf mas, boleh liat identitasnya dulu?"


"Ini pak," Mas Ray menunjukkan KTP-nya.


"Oke. Ini kunci mobil dan STNK-nya, mas. Bisa dicek dulu kondisi mobilnya."


Mas Ray sibuk mengecek didampingi pria tersebut. Lisa hanya termenung karena dia tidak ahli dalam mengecek mobil sewaan.


"Makasih ya, pak," ucap Lisa saat urusan mobil sewa sudah beres.


"Mobilnya saya bawa ya, pak." ucap Mas Ray bersalaman dengan pria itu.


"Selamat bulan madu ya mas mbak. Semoga cepat mendapatkan momongan," ucap pria itu.


Mas Ray tertawa dan Lisa tersipu malu.


"Doakan kami segera menikah saja ya pak," ucap Mas Ray.


"Saya kira sudah," bapak itu tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mas Ray dan Lisa langsung menuju vila yang terletak tidak jauh dari bandara. Kebetulan Mas Ray mendapatkan rekomendasi dari teman kuliahnya yang pernah tinggal di Bali.


Sesampainya di vila, mereka menurunkan koper lalu menjelajahi vila. Area depan hanya ada garasi dan taman kecil. Masuk ke dalam terdapat dua kamar tidur, ruang keluarga, dan dapur. Ruang keluarga dan dapur yang didesain tanpa sekat, memberikan kesan ruangan menjadi lebih luas. Bagian belakang terdapat daybed dan kolam renang dengan pemandangan pantai.


"Gimana Lisa? Suka?" tanya Mas Ray ke Lisa saat mereka duduk di daybed.


"Iya. Makasih ya," Lisa memeluk Mas Ray.


"Bonusnya apa?" ucap Mas Ray mengecup kening Lisa.


"Nih," Lisa mengeluarkan permen dari sakunya.


Mas Ray mencubit pipi Lisa sambil tersenyum, "jahat."


"Love you sayang," Lisa mengecup pipi Mas Ray.


"Love you too," Mas Ray membalas ciuman pipi Lisa. "Liburan berdua buat pasangan gini emang perlu ya, yang. Nanti kalo kita udah nikah, kita usaha ada waktu liburan berdua ya yang. Setahun sekali atau 6 bulan sekali ya gapapa," sambung Mas Ray.


"Bisa diatur. Asalkan rezeki suami lancar dan anak nggak rewel ditinggal."


"Gemes sama calonku. Dewasa banget," ucap Mas Ray mencubit pipi Lisa.


"Tidur yuk. Ngantuk nih. Aku kamar situ ya?" ujar Lisa menunjuk kamar dengan pemandangan langsung kolam renang.


"Iya sayang. Yuk tidur," ajak Mas Ray.


"Selamat malam sayangku. Love you," Lisa memeluk lalu mencium pipi Mas Ray.


"Malam sayang. Love you too," Mas Ray membalas pelukan Lisa dan mencium keningnya.

__ADS_1


__ADS_2