
Lisa bangun untuk sholat shubuh berjamaah dengan ayah dan bunda. Perlahan dia mulai sholat walaupun belum bisa 5 waktu. Dia berdoa demi kelancaran hari ini. Perasaan deg-degan semakin tidak terkontrol. Detik-detik menjelang statusnya berubah menjadi istri dan ibu sambung dari Arumi.
"Lis, ada yang chat bunda nih semalem. Suruh nyampein ke kamu, katanya udah ada pengalaman tetep gugup dan deg-degan. Mumpung lagi online nih. Mau bunda bales gimana?" ucap bunda yang sedang membuka ponsel.
Lisa tertawa mendengarnya, "jawab, 'Semangat ya. Makanya jangan sombong mentang-mentang udah ada pengalaman,' aja bun."
"Oke," bunda mengirim tulisan sesuai ucapannya.
Tak lama Mas Ray membalas pesan bunda, "dibales nih."
"Gimana bun?" tanya ayah yang ikutan penasaran.
"Katanya maaf karena baru berasa deg-degannya semalem. Terus minta doa buat kelancaran akad nanti."
"Ayah jadi inget gimana rasanya akad. Usaha ngehalalin wanita yang ayah cintai buat jadi milik ayah seutuhnya. Jadi wajar kalo Ray tetep deg-degan," ucap ayah.
"Wah ayah parah sih nak gugupnya pas akad. Sampe ngulang sekali lagi."
"Sampein ke Mas Ray bun, 'Kami doain dia. Nggak usah gugup. Jangan sampai ngulang sekali lagi kayak ayah," ujar Lisa tertawa.
"Dasar," ucap ayah tertawa mencubit pipi Lisa.
"Bunda jawab, 'Tante, om, dan Lisa doakan sekali saja mengucap akad. Ray jangan terlalu gugup,' aja ya?" ucap bunda.
"Iya bun," jawab Lisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Make up natural dan rambut half updo dikombinasikan dengan gaun mermaid menyulap Lisa bak seorang putri kerajaan. Cantik dan anggun.
Acara pernikahan sudah dimulai. Jantungnya berdebar tak karuan. Lisa menonton acara yang berlangsung lewat live dari youtube-nya melalui televisi ruang tunggu. Maya dan Alika menemaninya. Lusa kemarin ia minta mereka menjadi pengiring saat masuk ke ballroom.
"Mas Ray keringetan mulu. Udah ada AC juga," ucap Alika.
"Wajar gugup can. Kayak Lisacan, daritadi sok senyum mulu tapi keliatan gugup," ucap Alika.
"Mau jadi istri orang can," ucap tersenyum.
"Iya iya yang mau jadi istri," jawab Maya.
Rangkaian acara sampai di inti yaitu akad. Lisa mengenggam tangan sahabatnya itu. Mas Ray pun terlihat beberapa kali menarik napas. Gugup. Om Heri dan Mas Ray berjabat tangan.
"Ananda Ray William bin Bobby Marzuki, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Lisa Gresila binti Zunaidi dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap Om Bobby.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lisa Gresila binti Zunaidi dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai," ucap Mas Ray dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?" ujar penghulu kepada para saksi.
"Sah," ucap saksi bersamaan.
__ADS_1
Air mata Mas Ray menetes. Lisa pun terharu tapi tidak ingin menangis karena takut make up-nya luntur. Sudah resmi menyandang status istri Ray Wiliam. Dosen yang pernah ia benci dan campakan.
"Yuk ke ballroom mbak," ucap salah satu WO selesai pembacaan doa.
Maya dan Alika menggandenganya menuju ballroom. Rindu selama seminggu ini akhirnya terobati. Lisa menatap Mas Ray dengan senyuman yang dibalas oleh suaminya itu. Kebahagiaan dua insan yang baru saja dipersatukan melalui pernikahan.
Arumi turun dari kursinya dan berlari ke arah Lisa. Tante Ratih yang duduk di samping Arumi ingin mengejarnya tapi diminta Om Bobby duduk.
"Bunda, cantik banget," ucap Arumi yang memakai gaun berwarna pink. Dua keluarga termasuk Alika dan Maya mengenakan baju bernuansa pink.
Lisa sedikit berjongkok, "Arumi juga. Arumi temenin bunda jalan ke ayah yuk."
"Arumi pengin gandeng bunda juga. Kaya mbak-mbak ini," ucap Arumi sembari menunjuk Maya dan Alika.
"Can, kalian duduk aja. Biar aku sama Arumi," ucap Lisa.
"Oke," jawab Alika dan Maya tersenyum.
Lisa berjalan dengan menggandeng Arumi. Senyum Mas Ray semakin lebar melihat anak dan istrinya berjalan bersama ke arahnya.
"Arumi sayang, makasih udah menggandeng bunda sampai sini. Semalem ayah bilang hari ini ada acara yang ada banyak tamu. Ayah minta Arumi duduk manis di dekat nenek kan? Arumi kembali ke tempat duduk ya?" ucap Mas Ray mencoba memberi pengertian.
"Iya ayah," ucap Arumi kembali ke bangkunya diantar WO.
Mas Ray memegang ubun-ubun Lisa dan membaca doa setelah akad. Acara selanjutnya, penandatanganan buku nikah. Mas Ray beberapa kali menatap wajah Lisa yang membuatnya tersipu malu. Setelah itu, penyerahan mahar yang tertata rapi di dalam box mika dan menyematkan cincin berlian di jari manis tangan kanan masing-masing.
"Silahkan, Mbak Lisa bisa mencium tangan suaminya," ucap MC.
Mas Ray tersenyum, "Udah sah yang. Ayo keburu resepsi kalo nggak kamu lakuin."
Lisa mencium tangan Mas Ray.
"Mas Ray, silahkan mencium kening istrinya."
Lisa salah tingkah.
"Jangan gugup. Anggap aja kita lagi berdua," ucap Mas Ray. Dia mendekatkan ke tubuh Lisa lalu mencium keningnya.
Semua tamu undangan tepuk tangan dan tersenyum ke arah raja dan ratu sehari ini. Rangkaian acara akad nikah pun resmi selesai.
Resepsi akan digelar 1 jam lagi. Kedua keluarga berkumpul di ruang tunggu untuk persiapan acara. Maya dan Alika pun ikut bergabung karena ingin hadir di acara resepsi juga. Semua orang sedang makan kecuali Lisa yang mengubah rambutnya menjadi messy bun oleh hairstylist dan merapikan make up-nya.
"Pacar lo beneran dateng ntar?" tanya Lisa ke Maya.
"Kamu belum tau ya yang? Kamu kenal padahal," ucap Mas Ray tertawa.
"Ih yang pernah kita obrolin gara-gara gue kira suka sama lo," ucap Alika.
Maya tersipu malu.
__ADS_1
"Hah, serius? Sumpah gue kaget," ucap Lisa yang masih tidak percaya.
"Emang siapa yang? Jangan jangan salah orang," ucap Mas Ray.
"Bunda nggak makan?" tanya Arumi menyela percakapan tersebut.
"Yang aku suapin ya?" tanya Mas Ray mendekat ke arah Lisa.
Semua orang meledeki Mas Ray yang memberikan perhatian ke Lisa. "Bentar lagi selesai kok mas," ucap Lisa menahan malu.
"Te, om, anakmu malu-malu mulu nih," ucap Mas Ray ke bunda.
"Sekarang malu-malu ntar malam lebih ganas daripada kamu Ray," ucap ayah tertawa. Semua pun tertawa mendengar lelucon ayah yang tidak lucu bagi Lisa.
"Manggil tante sama om ganti ayah dan bunda, Ray. Udah resmi jadi orang tuamu juga kan kami," ucap bunda mengingatkan Mas Ray.
"Oke bun."
"Lisa manggil ke tante dan om mulai sekarang mama dan papa juga ya?" ucap Tante Ratih.
"Iya ma. Siap."
Semua mulai sibuk berganti pakaian di ruang ganti. Lisa yang baru selesai make up, mengisi perutnya sembari melanjutkan obrolannya dengan Alika dan Maya yang tidak berganti pakaian.
"Mas Ikal kan, can?" ucap Lisa tersenyum.
Maya mengangguk.
"Nggak nyangka kan lo? Gue sebagai adiknya aja kesel taunya pas mereka jadian. Eh makin kesel pas tau mas gue ternyata temenan deket sama dosen gue dan mereka dicomblangin tuh dosen," ucap Alika.
Lisa tertawa, "gue udah tau lama kalo itu. Kata Mas Ikal biar lo berusaha nggak ngandelin dia buat dapet nilai bagus."
"Tindakan Mas Ikal tuh udah bener, adik ipar," ucap Maya menepuk punggung Alika.
"Sumpah ya mereka tuh bucin banget tau can. Mas gue gak sadar umur udah tua juga masih bucin," ucap Alika.
"Alikacan, secara nggak langsung lo bilang suami gue tua," ucap Lisa tersenyum.
"Kan suami lo ganteng ya. Lha mas gue kayak abu, rambutnya udah ada yang putih lagi," ucap Alika tertawa.
Maya memukul tangan Alika tidak terima pacarnya direndahkan.
"Mbak Lisa, waktunya udah mepet. Makannya masih lama?" tanya WO.
Lisa melihat jam di dinding, "udah jam segini. Cukup mengisi perut kok mbak. Tapi, ruang ganti masih ramai kan?"
"Iya mbak. Ganti di kamar hotel aja mbak. Udah ditunggu orang butiknya juga. Nanti keburu acara mulai kalo nunggu yang di ruang ganti selesai, mbak."
"Oke mbak. Gue tinggal dulu ya can," ucap Lisa ke Alika dan Maya.
__ADS_1
"Iya," ucap Maya dan Alika bersamaan.
Lisa pun mengikuti WO mengganti pakaiannya dengan gaun terindah yang pernah ia miliki. Bukan lagi puteri kerajaan. Malam ini dia akan menjadi ratu. Ditambah setelah berganti pakaian, rambutnya akan dipasang mahkota. Benar-benak bak seorang ratu kerajaan.