Lamora

Lamora
Makan Malam Bersama


__ADS_3

"Lisa, nanti malam ada acara? Ikut ayah sama bunda makan malam di luar yuk," ujar Ayah Sam, orang tua sambung Lisa.


Ya, orang tua sambung. Papa dan Mama Lisa meninggal secara bersamaan karena kecelakaan mobil saat usianya 5 tahun. Untungnya, Ayah Sam yang merupakan adik mama satu-satunya begitu baik. Beliau mau merawat Lisa. Kebetulan istri Ayah Sam yaitu Bunda Lala belum memiliki anak. Bersyukur sekali mereka mendapatkan hadiah dari Tuhan berupa Lisa.


"Siap, yah. Mau makan malam di mana? Cafe Lisa atau tempat lain?"


"Cafemu aja, nak. Nanti ada teman dekat mamamu yang udah kayak keluarga juga. Mereka penasaran dengan bisnismu karena selama ini hanya dengar cerita ayah dan bunda," ujar bunda.


"Iya, hari ini teman dekat mamamu ingin tau kabarmu. Dulu mereka pindah ke Batam. Beberapa hari lalu menghubungi ayah, mereka sudah pindah ke Solo lagi. Ayah minta tolong reservasi satu meja kira-kira muat untuk 6 orang ya, Lis?"


"Oke, ayah. Semoga belum penuh."


Cafe Lisa yang bernama Star Cafe memang selalu ramai terutama pada malam hari. Lebih dari 20 cabang tersebar di Jawa Tengah dan Jogja. Semua cabang selalu ramai. Area Solo sendiri terdapat dua cabang yaitu terletak di Kartasura dan Solo Baru. Lisa bergegas menghubungi pengelola cafe cabang Kartasura. Letaknya cukup dekat dari rumahnya, hanya 10 menit saja. Beruntung sekali, masih tersisa satu tempat. Tugas Lisa membantu ayah reservasi pun usai dan bergegas siap-siap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Star Cafe mengusung tema NCT. Bagian outdoor terdapat patung 3 dimensi idol NCT yang paling banyak digandrungi para fans yaitu Na Jaemin, Lee Jeno, Jung Jaehyun, Lee Taeyong, dan Lucas. Gemerlap bintang ditambah lampu 'tumblr' berwarna kuning menghiasi outdoor. Bagian indoor berkonsep industrial serta terdapat foto semua member NCT di salah satu sudutnya.


Keluarga Lisa datang terlebih dahulu. Lisa mendapat tempat indoor. Terdapat alunan musik yang menemani pelanggan. Saat ini lagu 'Hot Sauce' sedang diputar membawa suasana malam ini menjadi lebih menyenangkan.


"Sam, La," panggil seorang wanita dan suaminya.


"Kak Ratihhh, Mas Bobbyyy," ucap ayah sambil memeluk mereka disusul oleh bunda.


Wanita tersebut ternyata bernama Ratih sedangkan suaminya Bobby. Lisa yang sedari tadi hanya berdiri dan diam, bisa memandangi empat orang yang sudah lama tidak bertemu sedang melepas kangen.


"Kangen banget ya. Udah 16 tahun kita nggak ketemu. Ini Lisa?" tanya wanita itu.


"Iya, tante," Lisa mencium tangan kedua tamu pada makan malam hari ini.


"Sudah besar sekali Lisa sekarang. Tante, sahabat mamamu waktu kecil lho."


"Iya, tante. Tadi ayah sudah cerita."

__ADS_1


"Sekarang Lisa makin cantik aja," ujar Om Bobby.


"Bisa aja om," jawab Lisa sambil tertawa.


Tidak lama setelah mereka duduk, ada pria berpostur tinggi yang beberapa hari ini sering ia lihat di kampus, sedang berjalan ke arah meja Lisa sambil tersenyum lebar. Sedangkan, Lisa langsung berubah menjadi kesal sambil bertanya-tanya dalam benak, "ada hubungan apa dia dengan Tante Ratih dan Om Bobby?"


"Wah pak dosen ganteng sekarang makin keren aja, sini duduk," panggil bunda.


"Iya. Apa kabar tante dan om?" tanyanya sambil mencium tangan ayah dan bunda.


"Baik. Kamu ngajar di Universitas Lamora kan ya? Jurusan apa? Lisa kuliah di sana lho," kata bunda.


"Di kebidanan, La. Mungkin ada satu yang bikin berbunga-bunga, sekarang auranya bahagia terus," sahut Tante Ratih.


Pak Ray hanya tersenyum mendengar perkataan mamanya. Sedangkan Lisa diam memendam kesal tanpa melihat pria itu sejak pertama kali wajahnya muncul di cafenya. Hari tersial bagi Lisa. Bagaimana bisa bisa bertemu dengan Pak Ray? Lebih parahnya, keluarga mereka saling kenal.


"Lho, Lisa juga kuliah di Kebidanan. Dosenmu dong, nak? Kamu kenal Ray nggak?" tanya bunda.


"Nggak," jawab Lisa singkat, jelas, namun berbohong.


"Ayo pesan makan dulu," ajak Lisa sembari mengabaikan jawaban Pak Ray.


"Oh iya, sampe lupa. Ayo pesan makan dulu. Mumpung belum ramai jadi makanannya cepat datang," ujar ayah.


Mereka membuka buku menu sembari Lisa menjelaskan menu favorit di cafenya kepada Tante Ratih dan Om Bobby. Walaupun mata Lisa sama sekali mengabaikan keberadaan Pak Ray, pria tersebut asyik mendengar penjelasan Lisa sambil memandangnya.


Lisa menulis menu yang dipesan oleh mereka. Ayah dan bunda memesan beef steak dan vanilla latte. Sedangkan, Tante Ratih tertarik dengan spagetti brulee dan strawberry mango latte yang Lisa jelaskan. Om Sam memilih nasi goreng dan jus jambu, menu paling standar karena takut lidahnya nggak suka. Lisa yang menjalani program diet, memilih pesan salad dan air putih. Setelah itu, Lisa menyodorkan kertas pesanan ke Pak Ray tanpa melihat dan bicara sepatah kata. Dia enggan menuliskan menu pria tersebut. Sudah hafal dengan sikap Lisa, Ray memilih mencatat menu yang dipilihnya dan langsung memberikan kepada pelayan.


Sembari menunggu pesanan mereka mengobrol kembali.


"Denger dari Sam, om sempet nggak percaya Lisa punya penghasilan banyak dari cafe dan vlog bahkan bisa menjalankan semua itu sambil kuliah. Melihat cafe ini om kagum banget sama Lisa."


"Tante sering nonton vlog masak Lisa lho. Udah nyalain notifikasi juga biar nggak ketinggalan video Lisa. Mamamu pasti senang anaknya mewarisi bakatnya bahkan mewujudkan impiannya mendirikan cafe."

__ADS_1


"Makasih, Om, Tante."


"Kalau pak dosen sekarang lagi sibuk apa selain ngajar?"


"Sebentar lagi mau bukan klinik, te."


Percakapan mereka terhenti karena pelayan datang membawa makanan.


"Permisi, yang pesan salad?"


"Saya," jawab Pak Ray dan Lisa bersamaan.


"Air putih?" tanya pelayan kembali


"Saya," jawab mereka bersamaan lagi.


Lisa semakin kesal melihat pesanan mereka sama. Raut wajahnya sudah penuh kebencian. Sedangkan Pak Ray bahagia sekali. Semakin sering Lisa memberikan wajah cemberut penuh emosinya itu, semakin bahagia.


Semua pesanan sudah datang. Sembari menikmati makanan Star Cafe yang sudah pasti enak, mereka melanjutkan obrolan. Ada cerita Tante Ratih dan Om Bobby yang membuat Lisa merasa terpojokan.


"Tante, om, papa, dan mamamu dulu selalu pengin menjodohkan Ray denganmu lho, Lis."


"Dulu kita sering manggil satu sama lain dengan kata besan ya, mah"


"Iya, padahal Lisa masih bayi udah jadi korban perjodohan aja."


"Gimana Ray mau deket sama Lisa nggak?" goda bunda.


"Iya, Lisa nggak punya lho, Ray. Eh, bukan nggak punya emang nggak pernah pacaran," timpal ayah sambil tertawa.


"Ayah, bunda," mata Lisa menatap ayah dan bundanya dengan tajam.


"Kalo papa, mama, tante, dan ayah merestui, Ray siap memerjuangkan Lisa nih," Ray tersenyum lebar sambil menatap Lisa.

__ADS_1


"Pakek ditanya lagi, kita udah pasti setuju lah," seru Tante Ratih yang mendapat respons anggukan dari Om Bobby, ayah, dan bunda sambil tertawa bersama.


Lisa memilih menikmati makanannya tanpa memedulikan semua perkataan mereka. Fakta terbaru keluarganya dan Pak Ray kenal dekat saja sudah membuat Lisa muak, apalagi mencoba berkenalan lebih dekat. Rasanya ia ingin cepat mengakhiri pertemuan hari ini. Sialnya, Pak Ray membuat hari ini semakin panjang. Dia meminta izin ayah dan bunda membawa Lisa jalan-jalan berdua. Semua langsung bahagia mendengarnya. Mereka kira Ray hanya bercanda ternyata bergerak sangat cepat.


__ADS_2