
Karangan bunga yang Lisa pesan sepulang dari Bali sudah mendarat di klinik Mas Ray. Dia paham kekasihnya itu pasti sedih karena orang-orang terdekatnya tidak bisa hadir. Padahal Lisa akan menghadiri pembukaan. Dia berbohong soal jadwal perkuliahan untuk kejutan ini. Sedangkan, ayah, bunda, Tante Ratih, dan Om Bobby memang tidak bisa hadir. Begitu pun Arumi harus sekolah di playgroup. Nanti malam akan ada kejutan spesial dari keluarga.
Lisa mengenakan dress batik sabrina berwarna hitam dan gold. Rambut panjangnya ia biarkan terurai. Hanya saja pada bagian bawah, ia curly. Dia mengambil sepatu sling back heels di lemari sepatu dan tas gucci marmont mini berwarna hitam yang selalu ia pakai.
"Bawa buket apa cukup kirim karangan aja ya," Lisa bergumam.
Merasa aneh jika datang tanpa apapun, Lisa mampir ke toko bunga. Dia memilih mawar merah dibungkus dengan kertas cellophane berwarna hitam. "Cantik sekali," ucapnya dalam hati. Dia langsung menuju klinik calon suaminya itu.
Situasi dari parkiran terlihat ramai. Tamu undangan memenuhi tenda. Saking luasnya parkiran di klinik ini, tenda yang didirikan pun besar. Pita peresmian belum teepotong. Karangan bunga yang banyak berjejer rapi di depan. Terlihat beberapa dosen yang tidak mengajar sedang berjalan memasuki area tenda.
Lisa memilih duduk di belakang karena malu jika menemui Mas Ray di depan yang sedang duduk diantara tamu undangan. Tak lama dia duduk, ada sosok yang menepuk pundaknya. Lisa membalikan tubuhnya.
"Lisaaa, kenapa nggak duduk di depan?" tanya pria itu.
"Mas Ikal, kenapa ada di sini?" tanya Lisa kaget karena masnya Alika ada di sini.
"Gue tim klinik ini, Lis. Ayo gue temenin ketemu Ray," ucapnya.
Mas Ikal memang seorang dokter. Tapi Lisa tidak pernah tahu jika Mas Ray mengenalnya.
Lisa langsung menerima tawaran Mas Ikal. Diikutinya langkah Mas Ikal.
"Calonmu dateng nih Ray," bisik Mas Ikal. "Duduk sini Lis," ucap Mas Ikal menunjuk kursi di belakang Mas Ray persis. Dia duduk di samping kanan Lisa.
Mas Ray menengok ke belakang, "aku kira ikal cuma bercanda." Dia izin ke beberapa tamu penting yang duduk di sampingnya. Lalu duduk di kursi sebelah kiri Lisa yang masih kosong.
"Gue temuin calon lo ini duduk di belakang sana," ucap Mas Ikal menunjuk ke arah belakang.
"Kan gue cerita ke lo, calon gue gak bisa dateng. Ya gue gak tau kalo akhirnya dia dateng," ucap Mas Ray lalu memeluk Lisa, "makasih ya sayang udah dateng. Mas seneng banget."
Lisa yang sadar sebagian orang pandangannya tertuju kepada mereka, langsung melepas pelukan dan memberikan buket yang dia bawa, "nih mas. Sukses terus ya."
Mas Ray tersenyum, "Malu ya kamu. Ya udah, mas duduk di situ ya yang," Mas Ray menunjuk kursinya.
Lisa mengangguk.
Bupati Sukoharjo sebagai tamu kehormatan sudah datang. Acara pun dimulai. Mas Ray sebagai pemilik klinik memberikan sambutan yang pertama.
"Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua tamu undangan yang berkenan hadir. Semua tim yang terlibat dalam susunan Klinik Sara terutama Dokter Ikal yang bersedia membantu saya membentuk tim yang mau bekerja sama dan kompak. Keluarga saya dan keluarga calon istri saya yang tidak bisa hadir tapi saya yakin mereka bangga klinik Sara hari ini diresmikan. Terakhir dan paling spesial," mata Mas Ray tertuju pada Lisa sambil tersenyum, "terima kasih untuk calon istri saya yang selalu mendukung dan salah satu alasan saya ingin klinik ini berjalan sukses. Terima kasih juga sayang sudah memberikan kejutan bisa hadir dalam acara ini. Semoga klinik ini bisa bermanfaat bagi semua orang. Sekian dan terima kasih."
Tepuk tangan tamu undangan riuh.
Setelah duduk Mas Ray menengok ke belakang, "love you, yang."
Lisa hanya mengangguk dan menyuruh Mas Ray mendengarkan sambutan selanjutnya. Terdapat empat sambutan setelah Mas Ray, sambutan camat Kartasura, kepala dinas kesehatan Surakarta, dan Bupati Sukoharjo. Acara peresmian diakhiri penandatanganan prasasti oleh semua orang yang memberikan sambutan. Setelah itu, acara pengguntingan pita yang dilakukan Mas Ray. Lisa memilih berdiri sedikit ke belakang saat acara pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti karena merasa tidak berhak ada di depan.
Acara peresmian klinik ini tidak seperti peresmian tokonya. Lisa tidak pernah mengundang para pejabat. Hanya dihadiri pemilik toko, tim toko, pegawai, dan masyarakat yang berburu promo. Lisa selalu memberikan promo tiap kali buka cabang baru.
Acara berakhir. Mas Ray dikerumuni banyak orang yang ingin memberinya selamat di depan klinik. Lisa menyapa beberapa dosen dan mengobrol bersama. Setelah dosen-dosen kembali ke kampus dia duduk di tenda paling belakang. Terlihat dari kejauhan Mas Ikal berjalan ke arahnya.
"Lisa, mau pamit pulang sama Ray tapi ramai ya? Mau gue temenin?" tanya Mas Ikal.
"Nggak usah, mas. Nanti aja. Mau nunggu agak sepi dulu baru Lisa pamit."
__ADS_1
Mas Ikal duduk di samping Lisa. "Dia ngomong ke gue pengin banget lo dateng. Giliran dateng dianggurin gini," Mas Ikal tertawa.
"Dia sering cerita ke mas soal Lisa? Kalian temen deket ya?"
"Lumayang sering. Dia temen baik gue. Mempercayakan semua tentang klinik ini ke gue. Kayak lo sama Alika gitu lah."
Mas Ikal melanjutkan ucapannya, "jangan kasih tau Alika ya kalo gue kenal Ray. Lo tau sendiri lah Alika nggak sepinter lo, Lis. Ntar kalo tau Ray temen gue bisa dipaksa mati-matian buat bujuk Ray ngasih nilai bagus ke dia."
"Iya, mas. Tapi Mas Ray tau Alika adiknya mas?"
"Tau kok, Lis."
"Mas Ikal juga tau waktu Mas Ray deketin Lisa?"
"Tau gue, Ray cerita kok kalo pengin deketin lo."
"Brarti udah nggak lumayan lagi itu mas, sering cerita."
"Iya juga sih. Pas kalian ke Bali, kan gue ke Lombok tuh. Tapi bukan gue ya yang ngirim foto kalian yang virak itu. Nah, dia sebelumnya udah cerita ke gue kalo mau ngajak lo liburan," ucap Mas Ikal.
Lisa teringat ucapan Alika yang bilang masnya beberapa kali pernah menanyakan Lisa sampai meminta Alika untuk memfotonya. "Apa Mas Ikal yang memfotonya? Apa penegasan itu faktanya adalah dia yang memfoto?" batinnya yang mulai curiga.
"Iya mas," Lisa tersenyum.
"Lo yakin gak mau gue anter? Gue mau ke dalem nih," ucap Mas Ikal.
"Nggak mas. Silahkan mas kalo mau ke dalam."
Mas Ikal meninggalkan Lisa.
"Bentar ya yang," ucapnya saat melihat Lisa mendekat.
Lisa duduk di kursi bagian depan tenda yang jaraknya tidak jauh dari Mas Ray. Tak lama kemudian, tamu itu pergi meninggalkan Mas Ray. Mas Ray berjalan ke arah Lisa.
"Aku pulang ya," ucap Lisa.
"Ngambek ya?"
"Nggak."
"Baru juga kita bisa ngobrol berdua. Udah main pulang aja."
"Kamu kan harus balik ke kampus."
"Nggak kok. Kelas siang ini, mas pindah besok siang. Beneran mau pulang nih?"
"Ya udah ngobrol sebentar."
"Kamu sengaja mau bikin kejutan atau kuliahmu batal?"
"Sengaja. Tapi agak nyesel dateng ke sini."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Seneng sih bisa ngasih selamat langsung ke mas tapi gabut ternyata datang sendiri."
"Maaf ya sayang. Mas banyak tamu soalnya."
"Gapapa. Nggak salah kamu juga. Keadaannya emang harus gitu, mau gimana lagi."
"Sekali lagi makasih yang kamu udah dateng. Aku bahagia banget. Pengin peluk dan cium tapi aku tau kamu pasti malu."
"Iya, gak mau. Siapa tau ada yang potret kita lagi," Lisa masih curiga dengan Mas Ikal. Dia khawatir Mas Ikal diam-diam memotretnya dari kejauhan.
"Aku kira kamu nggak akan malu lagi setelah semua orang udah tau. Ternyata tetep aja."
"Kalo kencan aku nggak malu tuh. Kamu gandeng gak pernah masalah. Area yang sebagian besar kenal Lisa atau mas kenal itu yang bikin aku malu. Kayak nggak enak diliatin orang yang kenal kita. Lisa juga khwatir sih kalo ternyata orang yang kita kenal malah yang memfoto kita."
"Iya sayang, mas ngerti. Foto yuk."
"Nggak akan ketinggalan ya mas ngajak Lisa foto," ujar Lisa tertawa.
Mas Ray menjepret beberapa foto, "iya dong. Biar ada kenangan kalo kita tua."
"Mas habis ini mau ke mana?"
"Makan sama kepengurusan inti di luar."
"Sampe malem?"
"Nggak. Sore juga udah selesai."
"Terus pulang?"
"Nanti malem pengin ajak kamu dinner sih. Kamu bisa nggak?"
"Nggak bisa, mas. Aku udah janji sama Alika. Dia mau main ke rumah. Kenapa kamu nggak ajak Arumi sama mama dan papamu?" Lisa pura-pura tidak tahu Mas Ray tadi pagi ngomong ke Tante Ratih ingin makan malam bersama keluarganya dan Lisa. Tante Ratih berakting, nanti malam dia dan Om Bobby mau pergi ke reuni SMA. Arumi juga pengin ikut bersama mereka.
"Nggak bisa juga mereka," ucap Mas Ray terlihat kecewa.
"Maaf ya. Nggak enak sama Alika soalnya mas. Udah janjian."
"Gapapa. Semisal orang-orang terdekat mas semuanya gak dateng dan gak bisa dinner mas bakal sedih banget. Bersyukur kamu mengobati bisa dateng ke sini," Mas Ray tersenyum.
"Ray, mau pergi sekarang apa nanti? Udah pada laper nih?" teriak Mas Ikal.
"Yang, kamu ikut yuk."
"Nggak usah deh. Aku pulang aja. Sekali lagi selamat ya sayang. Semoga kliniknya sukses terus."
"Pengin peluk cium ih."
Lisa menatapnya tajam.
"Oke aku bisa tahan. Jangan galak-galak dong. Makasih ya yang. Love you."
"Love you, too. Aku pulang ya," Lisa berdiri sembari melambaikan tangan ke Mas Ray.
__ADS_1
Mas Ray membalas lambaian tangan Lisa, "hati-hati."
Lisa mengangguk dan menuju mobilnya. Rencana pertamanya berhasil. Tinggal realisasi kejutan nanti malam. Awalnya Lisa hanya berniat membuat kejutan saat acara tadi saja. Setelah tahu kedua keluarga tidak bisa datang saat Mas Ray menelfonnya semalam, Lisa langsung membuat grup whatsapp bersama ayah, bunda, Om Bobby, dan Tante Ratih memberitahu strateginya. Mereka pun setuju. Walaupun persiapan hanya sehari saja, Lisa berusaha membuat acara nanti malam se-perfect mungkin demi kekasihnya bahagia bisa menikmati waktu bersama keluarga di hari bahagianya.