Lamora

Lamora
Tanggal Pernikahan


__ADS_3

Lisa bangun lebih awal memandangi pria tampan yang tertidur dalam pelukannya. Diusap rambut Mas Ray. Senyum mengembang di wajahnya.


Mas Ray perlahan membuka matanya dan tersenyum. "Terpesona ya?" ucapnya.


"Selamat pagi ganteng," ucap Lisa tersenyum.


"Pagi sayangku," ucap Mas Ray mencium pipi Lisa, "kiss dong," sambungnya seraya menunjuk pipinya.


Lisa mencium pipi Mas Ray. "Buruan mandi mas. Biar nggak telat kerja. Lisa mau nyetrika baju mas," ucap Lisa melepas pelukan Mas Ray dan beranjak dari kasur.


"Untung kamu nggak pernah mau deket sama cowok. Kalo mau pasti udah banyak yang mau sama kamu yang. Istri idaman banget," ucap mas bangun dari tempat tidur.


"Kamu pikir istri idaman tuh yang bisa jadi pembantu. Awas aja kalo kita nikah, kamu nggak mau bantuin ngurus kerjaan rumah," ucap Lisa sembari menyalakan setrika.


Mas Ray menyusul Lisa lalu memeluknya, "Aku nggak butuh istri yang bisa masak, jemur baju, setrika, ataupun bersihin rumah. Aku bakal bantu kamu soal urusan rumah atau kita bisa cari pembantu dan pengasuh anak biar nggak kelelahan. Satu yang perlu mas tegasin, melihat kamu nyetrika baju mas ada rasa seneng karena itu bentuk cintamu, perhatianmu, dan pedulimu terhadap mas. Bukan brarti, mas cari istri yang bisa jadi pembantu."


"Iya sayang, ngerti. Buruan mandi gih. Nanti telat."


"Iya," Mas Ray melepas pelukannya terhadap Lisa. Dia bergegas mandi.


Selesai mandi pria itu berganti pakaian di kamar saat Lisa mandi. Kehidupan sekamar sebelum resmi menikah memang ribet. Masih ada aturan lawan jenis yang Lisa usahakan mereka patuhi.


Sebelum Mas Ray mengantar Lisa pulang, mereka menyempatkan diri sarapan. Tidak mau rugi. Sarapan hotel yang gratis dengan berbagai menu enak sangat menggiurkan.


"Yang, kedua keluarga kan belum tau kita mutusin buat melangkah ke jenjang pernikahan. Gimana kalo nanti malem kita makan malam bersama di kafemu?"


"Nanti aku tanya ayah dulu ya. Orang paling sibuk serumahku. Tapi Lisa yakin kalo soal keluarga mas tuh ayah pasti usahain."


"Oke. Keluargaku pasti bisa. Nanti kabari ya. Cincin lamaran kita masih kamu simpen kan?"


"Masih kok."


"Pakek ya yang cincin lamaran kita. Nanti mas pakein lagi ya gapapa," ucap Mas Ray tertawa.


"Nanti langsung Lisa pakek aja. Makasih ya mas, selama ini kalo di luar kampus mas selalu pakai cincin lamaran. Sekarang kita bisa pakai terus. Makasih juga udah jadi orang yang sabar nungguin Lisa balik lagi," ucap Lisa mencium pipi Mas Ray.


Mas Ray membalas dengan ciuman kening, "Iya, sama-sama."


"Semangat kerjanya ya? Hati-hati di jalan yang," ucap Lisa sembari memeluk Mas Ray.


"Iya yang," ucap Mas Ray membalas pelukan Lisa.

__ADS_1


Kebiasaan mereka sebelum berpisah kembali lagi. Ternyata, hubungan yang berpisah ternyata tak selalu berakhir pedih. Bisa kembali utuh asalkan keduanya masih sama-sama mencintai dan saling mengutarakan isi hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pertemuan keluarga malam ini jadi terlaksana. Ayah bisa ikut. Benar kata Lisa, ayahnya bakal mengusahakan apapun demi keluarga Mas Ray. Hubungan kedua keluarga yang sangat erat.


Ketika keluarga tanya untuk apa acara makan malam ini, Mas Ray dan Lisa sepakat berbohong. Keduanya beralasan untuk merayakan ulang tahun Lisa karena ingin memberikan kejutan atas kembalinya hubungan mereka.


"Tante, Om," ucap Mas Ray melambaikan tangan.Keluarga Mas Ray sudah sampai duluan.


"Bundaaaa," teriak Arumi memeluknya.


Lisa memeluk Arumi lalu mengajaknya duduk. Menu yang Lisa pesan lewat grup whatsapp Star Cafe sudah tersedia di meja. Ia memilih paket prasmanan yang simpel dan bisa mengambil sesuka hati.


"Lisa ulang tahun kali ini bahagia ya?" tanya Tante Ratih.


Lisa yang menyuapi Arumi tersenyum, "Bahagia dong te. Ulang tahun dapet kado kuliah resmi selesai."


"Tante lihat bahagianya lebih dari itu," ucap Tante Ratih sembari melirik cincin Lisa.


"Wah, bunda kok baru sadar," ucap bunda tersenyum.


Kedua keluarga tersenyum, tidak menyangka dua sejoli itu memutuskan menjalin hubungan kembali.


"Minta doanya papa, mama, om, dan tante, kami ingin serius. Sebenarnya, maksud makan malam hari ini untuk memberi kejutan kepada kedua keluarga tentang hubungan kami sekalian berdiskusi terkait pernikahan," ucap Mas Ray.


"Gimana Sam? Pengin besanan lebih cepet atau nggak? Kalau cepet ya persiapan sebulan cukup lah ya," ucap Om Bobby.


"Terlalu cepat om," ucap Lisa.


"Sebulan itu cukup nak. Nggak terlalu cepet. Daripada kamu berubah pikiran lagi," ucap ayah.


"Kali ini nggak akan bikin malu ayah dan bunda lagi. Lisa yakin kok menikah sama Mas Ray," ucap Lisa tersipu malu.


"Udah yakin ya sebulan persiapan cukup lah ya," ucap Tante Ratih.


"Gimana sayang? Keberatan nggak?" tanya Mas Ray ke Lisa.


"Yaudah deh. Gapapa mas."


"Wisudamu kapan nak? Biar bisa cari tanggal yang nggak mepet wisuda," tanya bunda.

__ADS_1


"Masih tiga bulan lagi kok bun. Aman."


"Weekend kalau menurutku. Jamnya tamu undangan pada libur kerja," usul Om Bobby.


"Boleh tuh mas. Akad Sabtu sore, resepsi Sabtu malem. Bisa juga akad Minggu pagi, resepsi Minggu siang," usul ayah.


"Kalo Ray lebih ke Sabtu. Soalnya kalau Minggu kasihan Om Sam Senin harus kerja. Pasti Capek."


"Om kira kasihan kamu malam pertamanya cuma bisa sebentar karena Senin harus kerja," jawab ayah. Om Bobby, Tante Ratih, dan bunda tertawa.


"Ray ambil cuti dong om," jawab Mas Ray tersenyum.


"Nah ide bagus. Cuti yang lama sekalian biar kita cepet dapat cucu," ucap bunda.


"Tergantung Lisa kalau itu om, tante. Kasihan kalau Lisa belum siap," ucap Mas Ray tersenyum.


Lisa tersipu malu. Tidak pernah terbayangkan akan menerima pembahasan mengenai kehidupan pernikahan. Terlebih tidak pernah ada pikiran ingin menikah dalam kamus hidupnya. Apalagi menikah di usia muda dengan seorang duda yang memiliki pengalaman lebih banyak.


"Jadinya brarti Sabtu sore akad dan Sabtu malem resepsi ya?" tanya Om Bobby.


"Sabtu siang aja pa akadnya. Nah resepsinya Sabtu mala. Setuju kan yang?" ucap Mas Ray bertanya kepada Lisa.


"Iya boleh."


Om Bobby membuka kalender di ponselnya, "Bulan depan Hari Sabtu ada di tanggal 2 Maret, 9 Maret, 16 Maret, 23 Maret, atau 30 Maret. Kalian pengin tanggal berapa?"


"30 Maret gimana yang? Persiapan bisa sebulan lebih kan," usul Lisa.


"Oke. 30 Maret aja pa," ujar Mas Ray.


"Salaman dulu calon besan. 30 Maret akad siang atau sore, resepsi malam. Sepakat ya?" ucap Om Bobby mengulurkan tangan ke ayah. Mereka pun berjabat tangan.


"Keperluan pernikahan biar Ray dan Lisa yang urus semuanya ya om, te, pa, ma," ucap Mas Ray.


"Papa dan mama dari dulu kalau soal pernikahan membebaskan kamu dan pasangan pengin seperti apa," ucap Tante Ratih.


"Pernikahan kalian ya sesuai keinginan kalian saja. Kalau kita sebagai orang tua banyak mengatur nanti kalian menjalankan acara malah nggak bahagia kan," ucap ayah.


"Asal kalau ada masalah atau perlu bantuan ngomong aja. Kedua keluarga pasti akan membantu kalian," ucap bunda.


"Nah bener kata Lala. Perlu bantuan apapun kedua keluarga pasti ada buat kalian," ucap Om Bobby.

__ADS_1


"Siap," ucap Mas Ray tersenyum.


Makan malam itu berakhir dengan kabar bahagia hubungan Mas Ray dan Lisa yang bersatu lagi. Keinginan Mas Ray memilih mengurus pernikahan tanpa melibatkan keluarga cukup berat. Dua sejoli ini harus membagi tugas dan banyak berkomunikasi demi kelancaran acara mereka nanti.


__ADS_2