Lamora

Lamora
Resmi Batal


__ADS_3

Pengumuman : Part 31 ke atas banyak banget kesalahan penulisan dan rangkaian kata yang membingungkan pembaca, bakal aku revisi setelah cerita ini tamat ya.


Saat makan siang ayah dan bunda mengajak Lisa bicara lagi mengenai masalah ini.


"Kamu udah yakin dengan keputusanmu?" tanya ayah.


"Iya yah."


"Oke, ayah dan bunda sepakat keputusan masalah ini terserah kamu. Ray juga udah menyerahkan semua ke kamu dan nggak ngebolehin ayah dan bunda maksa kamu buat mempertahankan hubungan kalian."


"Makasih, ayah, bunda," ucap Lisa meninggalkan kursinya, memeluk ayah dan bunda yang duduk di depannya.


"Tapi, satu hal. Jangan menolak jatuh cinta lagi. Kalo ke depan emang Lisa membutuhkan cinta ya jatuh cintalah, nak. Mungkin saat ini bagi Lisa cinta hanya menyakitkan dan bikin stres, ketika Lisa lebih bijak dan dewasa soal cinta pasti Lisa bisa mengontrol semua," ucap bunda.


Lisa hanya mengangguk. Sudah tidak terpikir lagi untuknya jatuh cinta. Dia ingin berbaikan dengan Maya. Memberi kesempatan Maya berjuang mendapatkan Mas Ray dengan caranya. Lisa akan melupakan pria itu dengan caranya sendiri pula.


"Nanti malam kita ke rumah Mas Ray ya. Ayah udah bilang ke papanya kalau kita mau silaturahmi," ucap ayah.


"Iya yah," ucap Lisa antusias.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keluarga mmas Ray menyambut kedatangan Lisa sekeluarga. Terlihat kondisi Mas Ray jauh lebih baik. Seperti biasa, Arumi memeluk Lisa. Orang paling Lisa pikirkan setelah mengambil keputusan ini adalah Arumi. Baru dua bulan dia merasa senang bisa bertemu Lisa.


Lisa tidak punya pilihan lagi. Lebih baik dia mengakhiri sekarang daripada ke depan akan ada orang lain lagi yang dia sakiti. Dia ingin kembali menjalani hidup tanpa cinta. Sosok yang selama ini dia cari memang ada pada Mas Ray. Orang yang mau mendengarkannya dan membuatnya tenang tapi Lisa tidak ingin tersakiti dan menyakiti lagi. Dia tak ingin seperti papanya yang menyakiti mamanya berulang kali dengan embel-embel cinta dan mamanya hanya terima-terima saja. Dia akan berusaha menyembuhkan segala traumanya tentang masa lalu dan cinta. Lisa ingin menjalani hidup dengan baik dan bahagia. Siapa tahu mamanya akan datang ke mimpinya lagi dan berkata, "terima kasih kamu sudah menuruti perkataan mama sayang."


Mereka duduk di ruang tamu. Mas Ray meminta Arumi bermain di ruang bermainnya. Anak kecil itu sungguh manis, selalu menuruti perkataan ayahnya.


"Ray sudah cerita ko Sam," ucap Om Bobby.


"Maaf om tante, Ray selalu cerita ke mama dan papa tiap kali ada masalah besar. Jadi sepulang dari rumah om dan tante Ray langsung cerita," ucap Mas Ray.


"Lisa, udah yakin nak?" tanya Tante Ratih.


"Iya te. Maaf ya om dan tante, Lisa memilih jalan ini," ujar Lisa.

__ADS_1


"Kami sekeluarga minta maaf ya Kak Ratih, Mas Bobby. Ini pengalaman pertam Lisa dan langsung menjalin hubungan serius mungkin dia belum terbisa dengan konflik yang ada dalam hubungan," ucap ayah.


"Lisa juga udah aku anggap sebagai anak kok Sam. Gapapa kalau memang udah keputusan Lisa. Kita juga ngerti, Lisa pasti sedang mencari hal-hal yang bisa membuatnya bahagia daripada cinta," ucap Om Bobby.


"Lisa jangan sungkan main ke sini ya. Arumi pasti akan merindukan Lisa kalau jarang ke sini. Nanti tante suruh Ray pergi kalau kamu nggak pengin lihat dia," ucap Tante Ratih.


"Iya te. Makasih banyak ya om dan tante udah baik sama Lisa," ucap Lisa tersenyum.


"Ray udah baikan kan nak?" tanya bunda.


"Udah te. Ray nggak mau ambil pusing juga. Udah nggak waktunya Ray galau soal cinta lagi seperti waktu muda. Tidak apa-apa Lisa ingin pergi yang penting perasaan Ray ke Lisa nggak akan pergi," ucap Mas Ray tersenyum ke arah Lisa.


"Ray sesayang itu sama kamu. Yakin nggak berubah pikiran?" tanya ayah.


"Lisa nggak ingin jatuh cinta lagi yah," ucap Lisa.


"Lisaaa!" ucap ayah ingin marah tiap kali Lisa berkata hal itu.


"Mas rumah orang," ucap bunda menenangkan.


"Ayo kita makan malam dulu," ajak Tante Ratih.


"Ray ke Arumi dulu ya ma," ucap Mas Ray.


Tante Ratih mengangguk. Mas Ray menuju ruang bermain Arumi. Lisa, ayah, bunda, Tante Ratih, dan Om Bobby pergi ke ruang makan. Tidak ada rasa benci terhadap Lisa, keluarga ini justru menyiapkan berbagai macam hidangan bahkan minuman ada es jeruk, es teh, dan air putih botolan. Berasa lagi makan di warung makan yang menyediakan berbagai pilihan.


Mas Ray datang dengan menggendong Arumi. "Arumi mau duduk di dekat bunda, yah," ucap Arumi.


"Sini sayang," ucap Lisa sembari menarik kursi yang ada di sampingnya.


Kali ini Mas Ray tidak lagi bisa lagi duduk di sampingnya. Dia sengaja memilih bangku paling pojok. Kebetulan kursi di sampingnya hanya tersisa satu dan sudah di pakai Arumi.


Bukan Mas Ray kalau tidak kehabisan cara mendekati Lisa. Dia membawa kursi di belakang Lisa. Dia geser kursi Lisa dan Arumi lalu menaruh kursi yang dia bawa di samping Lisa. Orang tua mereka tertawa


"Harus banget kaya gini?"

__ADS_1


"Kan mas udah ngomong terserah Lisa mau batalin, mas maunya cuma Lisa."


Lisa tidak menanggapi Mas Ray. Dia mengambil makan untuknya dan Arumi. Kehidupannya kalau bertemu dengan Arumi masih sama makan sembari menyuapi anak kecil itu.


"Nih yang. Kamu suka es jeruk kan," Mas Ray menaruh es jeruk di depan Lisa.


"Ray jangan agresif. Anak tante nggak mau kuliah ntar gara-gara kamu," ucap bunda tertawa.


"Iya, nak. Biarkan Lisa menikmati waktu jomblonya dulu," ucap Tante Ratih tersenyum.


"Gapapa Ray. Om setuju yang kamu lakuin. Kalo emang suka ya kejar," ucap ayah


"Nah, bener kata Om Sam. Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menaklukan Lisa lagi."


Lisa tidak peduli. Rasanya ingin cepat-cepat menghabiskan makanan, selesai menyuapi Arumi, lalu pulang.


"Ray papa pesen satu, kamu masih pengin pakek cincin gapapa tapi kalo di kampus cincinmu lepas. Biar sahabatnya Lisa percaya dan mereka bisa baikan," ucap Om Bobby.


"Iya pa. Maaf ya Lisa, mas nggak nepatin omongan cincin ini bakal terus mas pakek," ucap Mas Ray melihat wajah Lisa.


Lisa diam.


"Ayah ngajak bunda bicara kok nggak dijawab. Bunda marahan ya sama ayah? Maafin ayah ya bun," ujar Arumi.


Lisa tersenyum mengusap rambut Arumi, "nggak kok Arumi. Bunda nggak tau kalo ayahmu ngajak bunda bicara."


"Ayah nggak masalah kok sayang kalau bunda nggak denger yang penting ayah dengar suara hati bunda yang masih sayang sama ayah," ucap Mas Ray.


"Lisa bisa lupa. Hiraukan semua rayuan Mas Ray, Lis," batin Lisa.


"Suara hati itu apa ayah?"


"Nanti kalo gedhe Arumi bakal paham," ucap Mas Ray.


"Jangan ganggu Lisa lagi Ray. Cepat habiskan makananmu," ucap Tante Ratih.

__ADS_1


Seusai makan malam, Lisa sekeluarga berpamitan. Mas Ray memberitahu Lisa lusa akan ada bimbingan. Dia meminta Lisa segera merevisi proposalnya. Lisa menghiraukan omongannya. Dia akan santai mengerjakan skripsi. Menikmati waktu mudanya untuk kebahagiaan diri sendiri.


__ADS_2