Lamora

Lamora
Pulang


__ADS_3

Ponsel Mas Ray terus berbunyi. Pemiliknya enggan bangun. Setelah makan malam di kapal, mereka packing hingga tengah malam. Lisa yang tidur dipelukan calon suaminya itu sudah berulang kali meminta Mas Ray untuk mengangkat telfon tapi menolak.


Lisa melepas pelukan Mas Ray. Berdiri dan membuka laci dekat kasur. Tempat Mas Ray biasa menaruh ponselnya.


"Mamamu nih, mas. Bangun buruan," ujar Lisa menyerahkan ponsel Mas Ray sembari berbaring lagi.


"Kamu aja yang angkat, yang," Mas Ray membalas dengan mata terpejam.


"Ya udah aku angkat. Loudspeaker aku nyalakan biar kamu denger tapi jangan ikutan ngomong ya."


Mas Ray mengangguk. Lisa mengangkatnya.


"Selamat pagi tante," ucap Lisa.


"Lho kok Lisa yang angkat. Ray mana Lis?"


"Masih tidur di kamarnya, te. Ponselnya ditinggal di luar kamar," ujar Lisa berbohong. Mas Ray dengan mata terpejam tersenyum mendengar ucapan Lisa ke mamanya.


"Sampein ke Ray ya, Lis. Tante minta dibelikan pia legong sama pie susu."


"Iya ma. Nanti Ray belikan," teriak Mas Ray.


Lisa langsung menepuk keras badan Mas Ray.


"Aduh. Sakit yang."


Tante Ratih tertawa, "tante minta Ray ajak kamu liburan ya biar ada momen berduaan kayak gitu. Nggak perlu malu."


"Tapi Lisa cuma tidur aja kok tante nggak lebih," ujar Lisa.


"Bohong ma. Lebih kok," ucap Mas Ray.


"Mas, kamu yang bohong."


Tante Ratih tertawa mendengar pertengkaran sepasang kekasih ini, "udah jangan berantem. Tante tau kok Lis kalo Ray bohong. Tante udah kasih nasehat, nggak boleh sentuh Lisa sampe ke dalem-dalemnya sebelum sah. Harus jadi pria yang tanggung jawab karena ayah dan bunda Lisa pasti kecewa kalo sampe Ray ngelakuin hal itu ke kamu. Tante percaya Ray pasti inget pesen mama."


"Bisa-bisanya mama nggak support anaknya buat godain Lisa. Marah sama Ray dan Lisa atau minta kita cepet nikah harusnya tuh," ucap Mas Ray.


Lisa tersenyum, "bakal aku tunda makin lama lagi kalo godain aku."


"Mama tebak Ray kalo kalian nikah bakal jadi suami-suami takut istri deh," ucap Tante Ratih ketawa.


"Itu namanya suami takut istri karena terlalu cinta ma," Mas Ray mencium wanita yang tidur di sampingnya. Lisa tersipu malu.


"Ray benar-benar cinta sama kamu, Lis. Bahkan sama mantan pacar atau istri pun nggak pernah sedalam cintanya ke kamu. Tante, cuma mau pesen nanti kalo Ray ada salah atau nyakitin Lisa, tolong bicara baik-baik sama Ray ya nak?"


"Iya tante," ucap Lisa.


"Anak tante ini kadang nggak sadar apa kesalahannya jadi harus dikasih tau dulu. Tante juga udah pesen sama Ray, nanti kalo ada masalah tetep Ray harus minta maaf walaupun nggak salah. Pas Lisa udah tenang baru diskusi biar bisa saling intropeksi. Rumah tangga itu kayak lagi main arung jeram. Bermainnya pasti seru dan bahagia tapi bakal ada batu, cipratan air di mata kalian, terjatuh, bahkan sampai terluka. Ketika kalian menikmati setiap aliran bersama ya pasti akan sampe finish. Tante jadi ceramah gini. Jangan lupa beli pia legong sama pie susu ya."


"Nanti kita belikan, te. Makasih nasehatnya."


"Iya ma, makasih nasehat yang selalu mama berikan sampe Ray bisa belajar jadi orang lebih baik lagi. Doakan Ray bahagia terus sama Lisa ya ma. Doakan rumah tangga kita nantinya tetep utuh. Makasih juga udah ada di titik hancur dan bangkitnya Ray," ucap Mas Ray air matanya menetes.


"Mama selalu mendoakanmu Ray. Setelah kamu bercerai, mama dan papa selalu berdoa Ray bisa bertemu jodoh yang terbaik dan nggak akan ada kejadian buruk lagi dalam rumah tanggamu, nak. Seneng akhirnya Ray memilih Lisa karena mama tau Lisa pilihan yang tepat."


"Love you, mom." Mas Ray kehabiskan kata-kata hanya mampu menjawab singkat namun memiliki arti mendalam.


Lisa menghapus air mata Mas Ray, "love you, tan.Makasih banyak tante udah melahirkan pria baik seperti Mas Ray.


"Love you too anak-anakku. Oh ya, kalian balik nanti siang kan?"

__ADS_1


"Iya ma. Nanti jemput jam 2 siang ya?" ucap Mas Ray.


"Iya, Ray. Lisa ada yang jemput nggak kalo siang, nak?"


"Nanti bunda bisa jemput kok, tan."


"Ya sudah, kalo udah dijemput Lala. Mau tante ajak bareng kalo belum ada. Udah dulu ya. Sampai ketemu nanti siang."


"Bentar ma. Arumi mana? Nggak kangen Ray ya? Kok nggak pernah telfon."


"Lagi pergi sama papa ke taman. Mama dan papa selalu bilang ke dia, 'sabar bentar lagi ketemu kok. Biarkan ayah dan bunda liburan dulu karena di sana pasti sibuk dan jarang megang HP'. Kami nggak pengin ganggu waktu kalian berdua, Ray," ucap Tanter Ratih tertawa.


Mas Ray dan Lisa ikut tertawa. "Mama paling bisa buat Ray serasa bukan duda," ucap Mas Ray.


"Ya dong. Duda tetep butuh cinta, nak. Udah ya, mama tutup telfonnya. Jangan lupa oleh-olehnya."


"Iya ma," ucap Mas Ray.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekitar pukul 08.30 mereka check out dari vila menuju toko mainan. Mas Ray sudah menyuruh Lisa membelikan boneka untuk Arumi di Solo saja. Namun dia tidak enak dengan Arumi kalau ikut menjemput nanti tapi tidak ada oleh-oleh untuknya.


"Mas, ini gimana?" Lisa menunjuk boneka kucing yang bisa bergerak dan menirukan suara.


"Bagus kok."


"Sama yang anjing juga deh," Lisa mengambil kedua boneka itu lalu memasukkannya ke dalam keranjang.


"Udah kan? Yuk bayar."


"Kali ini kasih aku kesempatan buat bayar lho, yang. Jangan kamu terus. Apalagi ini oleh-oleh permintaan Arumi ke aku."


"Uangku juga uangmu, yang. Jangan pernah malu kalo aku bayarin kamu. Itu bentuk tanggung jawabku meminta kamu dari keluargamu untuk menjadi pendamping hidupku. Nggak akan kukecewakan mereka yang mempercayakan kamu ke aku."


"Iya deh iya. Penting kamu bahagia."


"Makasih sayangku," Lisa tersenyum dan berlari menuju kasir. Mas Ray ikut tersenyum saat menyusulnya.


Setelah membayar mereka langsung menuju ke pusat oleh-oleh. Mereka hanya membeli oleh-oleh dalam bentuk makanan saja. Mereka memborong pie susu karena terkenal enak dan oleh-oleh favorite kebanyakan orang saat mengunjungi Bali.


"Yang, masih jam 10.00 nih. Mau nongki nggak?" ujar Mas Ray saat mereka kembali ke parkiran.


"Aku coba cari cafe atau resto yang dekat daei bandara aja ya?" Lisa membuka ponselnya.


"Oke. Aku sambil nyetir," Mas Ray menghidupkan mobil.


Beberapa menit kemudian, "Ada nih yang, Beach Cafe. 5 menit dari bandara," ucap Lisa sambil memperlihatkan ponselnya ke Mas Ray.


"Oke. Itu aja. Jadi navigator ya yang."


Lisa mengangguk lalu membuka maps. 10 menit perjalanan mereka sampai di Beach Cafe. Kafe ini cukup besar menyediakan area outdoor dan indoor dengan pemandangan pantai. Mereka memesan hazelnut latte, americano, dan kentang goreng. Setelah memesan, mereka duduk di bean bag yang terletak di pinggir pantai.


"Masih pengin bangun tidur lihat kamu. Terus kamu peluk-peluk dan cium aku. Kamu masakin aku yang. Kita nggak bisa nikah dulu sebelum kamu lulus ya?" ucap Mas Ray tersenyum.


"Sabar ya, mas. Aku usahain bisa cepet ya. Banyak yang perlu kita persiapkan juga kan kalo mau nikah terutama Lisa yang nggak punya pengalaman," Lisa tersenyum sembari mengusap punggung Mas Ray.


"Belum cari rumah juga, yang. Kalo kamu nemu yang cocok langsung hubungin mas ya? Paling penting kamu nyaman, mas bakal nyaman kalo rumah tuh. Ngomong-ngomong, proposalmu udah sampe mana yang?"


"Tinggal di rumah orang tua dulu gapapa kok, yang. Nggak perlu nikah harus punya rumah dan sebagainya. Sampe latar belakang tapi hampir selesai. Peresmian klinikmu seminggu lagi kan yang? Aku beneran ambil kasus di klinikmu?"


"Iya. Tempat lain kamu bisa aja dipersulit kalo di klinikku kan aku bisa sekalian turun tangan bantuin kamu."

__ADS_1


"Yang, makasih banyak udah baik banget sama aku dan selalu berusaha bikin..." ucapan Lisa terpotong karena pelayan datang.


"Permisi kak. Ini makanan dan minumannya. Silahkan menikmati," ucap pelayanan itu sembari meletakan pesanan di meja.


"Iya kak, terima kasih," ucap Mas Ray.


"Sama-sama kak," pelayanan tersebut meninggalkan meja mereka.


"Kamu mau ngomong apa tadi yang?" tanya Mas Ray sambil minum.


"Makasih udah baik sama aku dan selalu berusaha bikin aku seneng yang. Mama kalo masih ada pasti seneng lihat kita bersama. Apalagi kalo mama tau aku berani jatuh cinta," Lisa tersenyum menahan air matanya. Tiap kali berbicara tentang mama dia mencoba mengontrol air matanya sebisa mungkin.


Mas Ray yang sadar Lisa menahan air matanya, "kalo mau nangis nggak usah di tahan," ucapnya sembari memegang tangan Lisa.


Lisa tersenyum, "nggak kok. Kalo kita ada waktu, aku ajak kamu main ke tempat mama ya."


"Ke tempat papa juga dong."


"Deketan kok," Lisa tersenyum lebar.


Mereka asyik mengobrol sembari menghabiskan kentang dan minuman. Pukul 12.00 WITA mereka meninggalkan Beach Cafe karena pemilik mobil yang mereka sewa sudah menunggu di bandara.


Saatnya mereka pulang. Menjalani hari sibuk masing-masing. Bali yang indah dan penuh kenangan. Ada kisah cemburu, ngambek, kisah hantu, dan banyak kisah indah nan romantis tercipta. Lisa memang meninggalkan bunga rayuan ngambek Mas Ray di pulau dewata namun kenangan selama 4 hari bersama calon suaminya, tak akan dia tinggalkan begitu saja. Selalu terbawa kemanapun langkah kakinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terlihat bunda, Tante Ratih, Om Bobby, dan Arumi setelah mereka keluar dari dalam bandara. Ayah tidak bisa menjemput Lisa karena kerja.


"Bundaaa," teriak Arumi memeluk Lisa.


Lisa melepas tangan Mas Ray dari genggamannya, "kangen ya Arumi sama bunda?" tanya Lisa sembari membalas pelukan Arumi.


"Arumi bisa kan tidur tanpa ayah cukup lama?" tanya Mas Ray sambil memeluk Arumi yang masih dipeluk Lisa.


"Lepasin dong ayah. Arumi mau pelukan sama bunda aja," ucap Arumi yang tidak menjawab pertanyaan Mas Ray.


"Iya, ayah lepas. Kalo udah ada bunda lupa sama ayah," ucap Mas Ray melepas pelukannya.


"Bisa tidur kok Ray," ucap Tante Ratih tersenyum.


"Arumi, ini bunda bawain boneka bisa menirukan suara kamu nak," Lisa melepas pelukan dan mengambil oleh-oleh untuk Arumi.


"Arumi punya bunda yang sayang Arumi ya nak," ucap bunda mengusap rambut Arumi.


"Bilang terima kasih ke bunda nak," ucap Om Bobby.


"Makasih bunda."


"Sama-sama, sayang. Semoga Arumi suka oleh-olehnya."


"Kak Ratih, Mas Bobby, aku dan Lisa pamit pulang sekarang ya. Ayahnya Lisa bentar lagi pulang tapi nggak bawa kunci rumah," ucap Bunda.


"Iya. Kalian pulang kita juga pulang kok," ucap Tante Ratih.


"Ini pasangan yang baru dari Bali nggak mau perpisahan dulu?" tanya Om Bobby.


Mas Ray memeluk Lisa yang berdiri di sampingnya. Bunda, Tante Ratih, dan Om Bobby tersenyum melihatnya.


"Sayang, lusa kita ketemu lagi ya. Kamu sering bimbingan skripsi di kampus dong, biar kita makin sering ketemu," ucap Mas Ray sambil mengusap punggung Lisa.


"Aku usahain ya mas. Makasih banyak buat hari-hari indahnya di Bali," bisik Lisa ke telinga Mas Ray.

__ADS_1


Mereka melepas pelukan lalu berpisah. Jadwal pertemuan mereka kembali seperti sediakala. Dua hari sekali di rumah Lisa atau Mas Ray. Aktivitas masing-masing sudah menunggu di depan mata. Terlebih Mas Ray, pembukaan kliniknya akan berlangsung minggu depan. Pasti dia akan lebih sibuk daripada Lisa.


__ADS_2