Lamora

Lamora
Bunda untuk Arumi


__ADS_3

Hujan menyambut kepulangan Lisa dan Mas Ray. Gemericik airnya yang keras membuat suasana semakin sayu. Lisa ingin berlomba dengan hujan untuk menumpah ruah air. Namun dia memilih menahan air matanya karena semalam dia terhipnotis kebaikan pria itu malah berakhir kecewa.


"Lisa, kamu tidur?" tanya Mas Ray sambil perlahan memalingkan wajah Lisa yang dari tadi membelakanginya.


"Nggak," jawab Lisa sembari menyingkirkan tangan Mas Ray.


"Kenapa lagi?"


"Gapapa."


"Kalo Lisa tiap kali aku tanya cuma bilang gapapa, lain kali aku nggak mau tanya lagi."


"Udah bilang kan gapapa," jawab Lisa dengan nada ngotot.


"Mau langsung pulang?"


"Iya."


"Lisa," panggil Mas Ray sembari menepikan mobilnya.


"Ngapain berhenti di sini?"


"Mau lihat wajah Lisa," ujar Mas Ray sambil menarik paksa tubuh Lisa agar menghadap ke mukanya.


Kali ini, Lisa tidak bisa menyingkirkan tangan Mas Ray lagi. Mereka saling berhadapan dengan kedua tangan Mas Ray menggenggam lengan Lisa. Perempuan itu hanya menundukkan pandangan karena enggan melihat wajah lelaki berengsek itu yang membuatnya terluka di saat dia mau mencoba dekat dengan pria untuk pertama kalinya.


"Lisa, kalo kamu bilang 'gapapa', coba lihat aku," ujar Mas Ray.


"Nggak mau."


"Kenapa lagi Lisa? Aku nggak akan tau kalo kamu cuma diam."


"Gapapa."


"Coba lihat aku kalo emang 'gapapa'."


Lisa hanya diam. Perempuan ini tidak pernah bisa mengungkapkan semuanya. Menyimpan semua kekesalan yang dia anggap besar secara rapat-rapat tanpa satu orang pun tahu.


"Lisa," mas Ray benar-benar memaksa Lisa melihat dia. Setelah berhasil melihat wajah Lisa, dia melanjutkan ucapannya, "Lisa, apa yang salah? Aku udah bilang kan kemarin, sama siapapun biasakan obrolin dulu kalo ada masalah jangan langsung berpikir negatif."


Lisa diam sejenak dan memberanikan diri bicara, "siapa anak itu?"


"Yang tadi?"


"Yang mana lagi coba."


"Panjang Lisa ceritanya. Maaf ya buat kamu kaget dan belum sempat cerita sebelumnya. Papa dan mamaku kan mau pergi, aku juga nggak ingin kamu terus kepikiran, gimana kalo aku cerita di rumah sekalian aku kenalkan ke anak yang kamu maksud?"


"Aku capek. Mau pulang aja."


Mas Ray tanpa menjawab langsung melajukan mobilnya. Ya, masalah kali ini berakhir tanpa penyelesaian karena Lisa menolak untuk ikut ke rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini nanti lurus ya," ucap Lisa saat sampai di lampu lalu lintas dekat cafenya.


"Iya."


Cafe Star terlihat jelas di kanan jalan. Walaupun siang hari tetap ramai remaja yang nongkrong di hari weekend. Lurus terus kurang lebih 5 km, Lisa akan sampai di rumahnya. Tidak sabar ingin melepas penat di kasur kesayangannya. Berharap setelah bangun akan melupakan semua yang terjadi bersama Mas Ray.


Setelah lampu berubah menjadi warna hijau, tanpa menuruti komando Lisa, Mas Ray belok ke arah kiri.


"Rumah Lisa lurus."


"Iya udah denger tadi kok."


"Terus?" tanya Lisa.


"Lisa, aku seneng kamu mau bicara inti permasalahan yang membuat kamu cuek seperti ini. Kita selesaikan sekarang ya, Lis. Kangen tingkah Lisa yang mau ngomong sama aku dan senyum bahagia Lisa."

__ADS_1


"Aku mau pulang. Belum mandi juga."


"Pulang nanti ya. Nggak mandi gapapa, Lisa wangi kok. Mas janji nggak akan buat Lisa sedih."


Lisa memilih diam yang berarti setuju untuk ikut Mas Ray. Dari kemarin Mas Ray selalu memegang janji tidak akan melakukan hal-hal buruk ke Lisa karena kenal ayah dan bunda. Menyakiti juga berarti hal buruk, bukan? Entah, janji itu berlaku juga hari ini atau tidak, yang jelas Lisa cukup tenang mendengar kalimat terakhir yang Mas Ray ucap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sudah sampai Lisa," ucap Mas Ray sambil membukakan pintu.


Lisa turun dari mobil. Lokasi ini tidak asing. Lisa pernah tinggal di daerah ini sekitar 16 tahun lalu. Tidak jauh dari rumah Mas Ray, ada rumah Alika. Dulu Lisa nggak pernah mau lewat daerah ini. Berkat Alika dia mulai terbiasa. Alika terus membujuk Lisa untuk datang ke rumahnya. Berbekal pertemanan dari kecil sampai kuliah, Lisa memberanikan diri main ke rumah Alika.


Mas Ray membuka pintu rumah langsung disambut pelukan oleh anak kecil yang telfon tadi pagi.


"Ayahhh," teriak anak kecil itu.


"Arumi kesayangan, ayah kangen," ujar Mas Ray sambil memposisikan badannya sejajar dengan anak kecil itu lalu memeluknya.


"Arumi denger suara mobil ayah langsung keluar."


"Arumi udah hafal suara mobil ayah yang baru ya?"


"Iya. Arumi kan pinter jadi cepet inget."


"Anak ayah emang pintar."


Lisa sebenarnya gemas mendengar suara dan tingkah laku anak kecil itu ketika mengobrol. Tapi dia takut jika faktanya memang Mas Ray telah menikah dan anak tersebut adalah anaknya.


"Ini siapa, ayah?"


"Oh iya, Arumi kan selalu tanya ke ayah, 'kenapa bunda Arumi nggak ada di samping Arumi?' Gimana kalau ini jadi bunda Arumi?" ujar Mas Ray sambil menunjuk ke arah Lisa.


"Mauuuu. Kenapa nggak dari dulu ayah kasih Arumi bunda?" ucap Arumi sambil memeluk Lisa.


"Ayah, baru berhasil menemukan bunda terbaik buat Arumi," ujar Ray.


"Akhirnya, Arumi punya bunda. Apa kita harus pindah dari Batam dulu biar ayah bisa menemukan bunda?


"Bahagiaaa. Arumi punya temen banyak."


Belum selesai masalah 'siapa anak kecil ini?', tiba-tiba Lisa harus menjadi bunda bagi Arumi. Penuh pertanyaan di kepalanya, "Apakah Mas Ray sudah menikah dan Arumi anak dia? Lalu, di mana ibu kandung Arumi? Apakah Mas Ray mendekati Lisa hanya untuk mencari bunda pengganti?" Lisa yang selalu ingin dicintai sepenuh hati tidak akan mau jika hanya didekati untuk menjadi ibu pengganti. Apalagi ini kali pertama Lisa mau mencoba dekat dengan pria. Mas Ray berhasil mengobrak-abrik pikiran Lisa.


"Bunda mau kan jadi bundanya Arumi?" tanya Arumi kepada Lisa.


Lisa hanya tersenyum. Dia tak ingin memberikan janji palsu kepada anak kecil. Jika itu menyakitkan, Arumi akan merekam ingatannya. Bagi Lisa, cukup dia saja yang memiliki cerita pahit saat kecil, anak kecil di luar sana harus bahagia hingga dewasa nanti.


"Bunda ayo ke sana. Arumi punya banyak mainan. Tadi ada banyak teman Arumi main ke sini tapi udah pulang. Seneng deh sekarang ada bunda yang nemenin Arumi main," ucap Arumi sambil menarik tangan Lisa.


"Arumi jagain bunda kesayangan ayah ya? Ayah ke kamar nenek dulu," ucap Mas Ray.


Lisa melotot ke arah Mas Ray tapi hanya dibalas dengan senyuman.


"Iya ayah, tenang aja. Ini kan juga bunda kesayangan Arumi."


Ruang mainan Arumi cukup luas dan rapi. Terdapat banyak buku dan mainan, pantas saja teman Arumi betah di rumah ini. Arumi sibuk menunjukan mainannya kepada Lisa. Antusiasnya tampak kentara dengan hadirnya Lisa. Hal ini membuat Lisa luluh. Mereka mulai mengobrol dan bermain bersama bahkan Lisa sudah tidak asing saat Arumi memanggilnya dengam sebutan 'bunda'.


"Lisa, ayo makan. Udah ditunggu sama Ray di ruang makan," ucap Tante Ratih yang datang dengan dress satinnya yang elegan.


"Iya tante," jawab Lisa sambil tersenyum.


"Bunda, Arumi boleh minta gendong?" tanya Arumi ke Lisa.


"Wah, Arumi udah deket aja sama kamu Lis," ujar Tante Ratih.


"Iya, tante. Arumi sini, bunda gendong."


Arumi berlari ke arahnya. Lisa langsung menggendongnya.


Lisa mengikuti langkah Tante Ratih yang sedang berjalan menuju ruang makan. Mas Ray terlihat sedang sibuk menyiapkan makanan di atas meja.

__ADS_1


"Lisa, duduk dulu. Arumi duduk di samping bunda ya," ucap Mas Ray sambil mengambil alih Arumi dan mendudukannya di samping Lisa.


"Makan seadanya ya, Lisa. Ray nggak bilang dari awal kalo kamu mau datang jadi Tante nggak ada persiapan masak banyak," ucap Tante Ratih.


"Iya, tante. Ini udah banyak kok," jawab Lisa sambil tersenyum.


"Lis, tante sama om kondangan dulu ya," ujar Om Bobby keluar dari kamarnya yang berada di dekat meja makan.


"Iya om, silahkan."


"Kami pergi dulu ya, Arumi, Lisa, Ray," ucap Tante Ratih sambil melambaikan tangan.


Lisa, Ray, dan Arumi melambaikan tangan ke arah Tante Ratih dan Om Bobby.


Kepergian Tante Ratih dan Om Bobby, membuat Lisa seperti memiliki keluarga kecil. Sembaru makan. mas Ray dan Lisa secara bergantian menyuapi Arumi. Ini terjadi atas permintaan Arumi. Piring Lisa sudah penuh makanan yang Mas Ray ambilkan.


"Arumi nanti boleh tidur sama bunda, yah?" Tanya Arumi hingga membuat Lisa tersedak.


Mas Ray buru-buru mengambilkan air untuk Lisa, "lain waktu ya, Arumi. Bunda belum bisa tidur di rumah kita. Besok Hari Senin, bunda ada kuliah jadi harus pulang."


"Tapi, teman-teman Arumi, ayah dan bundanya tinggal bersama. Kenapa Arumi harus terpisah?" ujarnya polos.


Walaupun Lisa kesal karena tersakiti dengan tingkah Mas Ray, namun dia tidak tega menghancurkan harapan Arumi yang sedang dilanda rasa bahagia dengan kehadiran bunda, "Arumi, enam hari lagi bunda janji mau tidur bareng tapi hanya bunda dan Arumi. Sama nenek juga boleh kan sesama perempuan," ucap Lisa sambil menatap mata Arumi dan mengelus rambutnya.


"Yeay, Arumi ga sabar. Bantu Arumi hitung hari ya ayah," ujar Arumi bersemangat.


"Iya, nona kecil. Ayo makan lagi," ucap Mas Ray sembari tersenyum melihat perjanjian antara dua wanita yang berharga baginya itu.


Selesai makan, Lisa dan Mas Ray menemani Arumi bermain. Arumi meminta Mas Ray memakai bando bahkan mencoret wajahnya menggunakan krayon. Lisa sejenak melupakan pertanyaan dan kekesalannya kepada Mas Ray berkat Arumi.


"Lis, besok selesai kuliah jam berapa?" tanya Mas Ray saat Arumi sedang memilih mainan sedangkan Lisa dan Mas Ray hanya diam.


"Jam 4."


"Kita ngobrol besok aja gimana? Kamu tungguin aku. Hari ini nggak memungkinkan ternyata."


"Iya. Aku tunggu di halte depan."


"Nomor whatsapp-mu?" ujar Mas Ray sambil mengeluarkan ponsel dari celananya.


Lisa mengambil ponsel Mas Ray dan menulis nomornya, "nih udah."


Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Lisa sudah cukup lama bermain dengan Arumi. Si kecil ini melewatkan jam tidur siangnya demi bermain dengan Lisa. Om Bobby dan Tante Ratih sudah kembali ke rumah dan bergabung di ruang bermain.


"Anter aku pulang," ujar Lisa pelan sambil mendekati Mas Ray.


"Lisa mau pulang, nak?" tanya Om Bobby yang mendengar suara Lisa.


"Sudah sore, om. Tadi mau pulang diminta Mas Ray main dulu padahal belum mandi," ujar Lisa sambil tersenyum.


"Lisa ketemu calon metua kayak mau ketemu pejabat aja harus mandi," ucap Tante Ratih sambil tertawa.


"Padahal sama sekali nggak keliatan kalo belum mandi ya mah? Mau Lisa nggak mandi pun aku tetep suka sama kamu," Mas Ray ikutan menggoda Lisa.


Lisa hanya tersenyum. Dia tak tahu harus merespons apa, ketika semua pertanyaan yang hampir membuatnya gila itu masih melekat di otaknya.


"Ayo, aku anter pulang," ajak Mas Ray.


"Yuk."


"Arumi ikut nggak anter bunda pulang?" tanya Mas Ray ke Arumi.


"Ikutttt."


"Lisa, salam buat ayah dan bunda ya," ucap Tante Ratih.


"Iya Tante. Nanti Lisa sampaikan."


"Makasih juga udah nemenin Arumi, Lis. Sering-sering ke sini ya."

__ADS_1


"Iya om."


Lisa pulang diantar Mas Ray dan Arumi. Mas Ray bertemu ayah dan bunda sekaligus minta maaf karena Lisa mampir ke rumahnya juga. Ayah dan bunda tidak masalah karena selama memiliki bisnis dan menjadi vlogger mereka membebaskan Lisa pergi ke mana saja asalkan jelas "pergi dengan siapa?" atau "ada acara apa?". Arumi juga terlihat bahagia saat berpisah dengan Lisa hari ini. Sedangkan Lisa yang tidak terlalu memperlihatkan kekesalannya terhadap Mas Ray semenjak menginjakkan kaki di rumah pria itu, kembali dirundung rasa kesal, "kenapa pria yang pertama kali dia mau coba membuka hati, malah menambah daftar trauma dalam hidupnya?" Lisa hanya perlu menunggu satu hari lagi untuk tahu jawaban yang pasti.


__ADS_2