
Mas Ray masih tertidur lelap. Lisa bangun lebih awal. Pagi ini, dia ingin memasakan sarapan untuk Mas Ray. Terlintas dalam pikirannya sekalian ingin membuat video youtube. Kebetulan dia membawa kamera sony dan tripod miliknya.
Lisa mengecek dapur barang apa yang sekiranya bisa dia buat untuk konten. Akhirnya, memutuskan membuat toats dan kopi. Toats termasuk makanan yang sering dia buat jadi tidak perlu membaca resep. Sedangkan kopi, mumpung ada mesin kopi dan kopi Kintamani gratis yang disediakan oleh pemilik vila. Tanpa berpikir lama, Lisa mengatur letak kamera dan memulai pembuatan video.
Sejam berkutat dengan toats dan kopi yang penampilannya memuaskan, akhirnya Lisa bisa me-review makanan buatannya.
Setelah selesai review makanan, Lisa menutup vlog-nya hari ini, "thank you for watching, guys...."
Lisa berhenti karena Mas Ray dengan muka bantalnya membuka pintu.
"Eh maaf, yang. Nggak tau. Terusin deh," dia kembali masuk ke dalam kamar.
"Tunggu bentar ya. Mau selesai," teriak Lisa.
"Iya, yang," teriak Mas Ray.
Lisa kembali menutup video, "Thank you for watching, guys. Jangan lupa klik tombol like, subscribe, dan tulis di kolom komentar resep masakan apa yang pengin aku buat di video selanjutnya. See you."
Lisa mematikan kamera lalu membereskannya. "Yang, keluar. Ayo kita makan," teriak Lisa.
"Iyaaa, yang."
"Yuk, makan di deket kolam," ajak Lisa saat Mas Ray keluar kamar.
"Yang, ada floating tray kenapa kita nggak sekalian makan di kolam renang," usul Mas Ray sesampainya di belakang vila.
"Kamu aja yang makan di kola. Aku males, yang. Pengin di pinggiran aja."
Mas Ray langsung melepas baju dan masuk ke dalam kolam renang.
"Yang, kamu bawa ponsel nggak?" tanya Mas Ray.
"Nggak. Kenapa?"
Mas Ray menarik tangan Lisa sampe masuk ke dalam kolam.
"Mas Rayyy!" Lisa marah sambil memukul Mas Ray.
Mas Ray menghindari pukulan sambil tertawa, "maaf yang. Soalnya lebih seru kalo makan sambil berendem berdua sama kamu," dia memindahkan makanan dan minuman botol ke dalam floating tray.
"Aku mau naik. Kamu makan semuanya aja," ujar Lisa mencoba naik ke atas
"Jangan ngambek dong cantik. Ayo kita makan di tangga kolam," Mas Ray segera memeluk Lisa.
"Yang, udah dong ngambeknya. Kita lagi liburan nih. Katamu pengin pulang dari sini semakin romantis. Berendam di tangga kolam terus makan sambil suap-suapan itu romantis," sambungnya.
Lisa membalikan badannya menghadap Mas Ray sambil tertawa, "enak kan aku kerjain balik."
"Nggak lucu tau, yang. Lagi liburan prank ngambek."
Lisa memeluknya, "maaf ya. Aku mau makan di kolam tapi suapi ya," lalu dia mencium pipi Mas Ray.
__ADS_1
"Iya mas maafin. Kalo kamu udah manja gini bikin mas nggak jadi kesel sama kamu."
"Yuk makan, yang."
Mereka pun duduk di tangga kolam. Mas Ray menepati janjinya menyuapi Lisa sembari dia makan.
"Yang, waktu kita di Bali tinggal dua malam1. Kamu nggak pengin pergi ke tempat wisata?" tanya Lisa.
"Aku pengin ajak kamu ke Ubud. Tapi nggak tempat wisata sih, aku pengin ikut kelas lukis pot," ucap Mas Ray tertawa malu.
"Seleramu emang unik, yang. Mau berangkat kapan?"
"Aku kan udah reservasi sebelum berangkat ke Bali, jadwalnya jam 11.00 nanti. Kalo kamu nggak mau atau pengin ke mana ya gapapa."
"Udah bayar kan?"
"Iya. Tapi gak masalah. Kamu pengin kemana aku turuti kok," ucap Mas Ray sembari menyuapi toats terakhir Lisa.
"Hari ini harimu. Besok hariku."
"Siap sayang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terletak di Kabupaten Gianyar, Desa Ubud terkenal dengan pepohonan yang hijau dan sawah-sawah yang mengelilinginya. Selain itu, kekentalan seni dan budaya membuat daerah ini salah satu destinasi favorit wisatawan. Tak heran Mas Ray memilih berkunjung ke Ubud untuk mempelajari seni lukis pot.
"Selamat datang di House of Art. Perkenalkan, saya Bayu yang akan memandu kakak selama proses melukis gerabah."
"Hai Mas Bayu," ucap Lisa kepada pria blasteran yang kemungkinan masih berusia 25 tahun.
"Saya denger lho, kak," ucap Mas Bayu tertawa.
"Abaikan aja Mas Bayu. Yuk kita mulai," ucap Lisa tersenyum.
"Jangan senyum, yang. Senyumnya simpen dulu," ucap Mas Ray.
Lisa tidak mendengarkan kata calon suaminya itu. Dia asik menebar senyum. Melihat tingkah cemburu Mas Ray sangatlah lucu. Membuat dia merasa pria itu benar-benar menyayanginya.
"Oke kita mulai ya. Langkah awalnya, kita rendam dulu pot dalam air hangat untuk menghilangkan debu. Bisa juga disikat biar kotorannya hilang. Lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah itu, disemprot pakai cairan pernis sebanyak tiga kali dan disemprot cat akrilik primer. Hal ini bertujuan cat lukis tidak terserap ke permukaan pot. Nah, ini sudah saya lakukan proses tersebut sebelum kakak sampai di sini biar tidak nunggu lama karena pengeringan matahari dan pengeringan penyemprotan cat akrilik membutuhkan waktu lama. Jadi tinggal menggambar. Kakak ada yang sudah punya ide belum ingin gambar apa?"
"Gambar orang di pot bisa mas?" tanya Lisa tersenyum. Dia ingin menggambar Jaemin dalam bentuk kartun.
"Bisa. Apa saja bisa kak. Nanti saya bantu. Kakak mau gambar orang?"
"Wajah orang dalam bentuk kartun mas," jawab Lisa tersenyum.
"Oke. Kalo kakak mau gambar apa?" tanya Bayu ke Mas Ray.
"Gambar pinguin tersenyum."
"Oke. Mari kita mulai."
__ADS_1
Waktu Mas Ray memberitahunya ingin pergi ke kelas melukis pot, Lisa bergumam pria yang dicintainya itu aneh. Liburan bukan mengunjungi tempat wisata ternama di Bali malah ingin bergabung kursus lukis sehari. Setelah menghabiskan waktu berkutat yang menghasilkan ilmu baru mengenai lukis ternyata seru. Bahkan awalnya dia tidak ada niat menggoda Mas Ray tapi melihat Mas Ray cemburu jadi semakin semangat menggodanya. Beberapa kali Lisa sengaja meminta bantuan Bayu hingga wajah mereka berdekatan. Mas Ray melihat semua karena dia duduk di depannya. Lisa menahan tawa melihat tingkah cemburu Mas Ray.
Setelah dua jam melukis akhirnya selesai juga. Tahap terakhir dari lukis pot adalah pernis. Hasil lukis pot ini selama 4 hari tidak boleh diisi dengan tanaman karena bisa menyebabkan hasil lukisan retak akibat pengaruh kelembaban tanah.
"Terima kasih sudah mau berkunjung di House Of Art. Semoga ilmu yang saya sampaikan bermanfaat," ucap Mas Bayu tersenyum.
"Sama-sama, mas," ucap Lisa tersenyum.
Mas Ray dengan wajah sebalnya tetap memperlakukan Lisa romantis. Pria itu tetap menggandeng, membukakan pintu mobil, dan membawakan pot lukis. Tapi, sesampainya di dalam mobil dia meluapkan semua perasaannya.
"Sayang, katanya nggak suka liat aku genit sama cewek kenapa kamu genit ke Bayu terus," ujar Mas Ray melihat ke arah Lisa.
Lisa tertawa, "maaf ya sayang. Lucu liat mukamu cemburu. Tapi inget ya Lisa nggak mau kalo sampe mas bikin cemburu."
Mas Ray luluh melihat tingkah gemas pasangannya itu, "nah kalo gak pengin dibikin cemburu jangan bikin aku cemburu."
"Iya iya. Tadi aku gak berniat bikin mas cemburu kok. Cuma pas tau reaksi mas waktu aku nyapa Bayu ternyata cemburu, ketagihan deh liat wajah cemburunya mas. Lisa berusaha nggak akan bikin mas cemburu lagi kok. Tapi inget ya, awas aja mas genit-genit sama cewek bahkan sampe mengkhianati Lisa. Sekalinya ngehianati, Lisa nggak akan kerja sama buat hubungan kita tetap utuh."
Mas Ray mengecup kening Lisa, "Nggak akan mas khianati kamu kok, sayang. Mas tau rasa sakitnya dikhianati. Kalo untuk cemburu, kita sama-sama belajar buat menghargai perasaan pasangan ya, yang."
Lisa mengecup pipi Mas Ray, "iya sayangku. Yuk mau ke mana? Kita belum makan siang."
Mas Ray melihat jam di tangannya, "udah jam 1. Mas nggak pengin ke tempat wisata tapi pengin ajak kamu ke cafe daerah Kintamani. Kamu udah lapar?"
"Kintamani berapa lama dari sini?"
"Kurang lebih sejam, yang. View-nya langsung gunung. Apa kamu pengin kita makan dulu? Nanti di sana cuma minum aja?"
"Langsung aja ke sana, yang. Perutku masih aman kok."
"Oke. Cuss berangkat."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 14.15 mereka sampai di Kafe Montana. Mas Ray yang tahu Lisa menyukai tempat makan yang memiliki view bagus langsung mengambil area outdoor. Panorama Gunung Batur, Danau Batur, dan udara segar mengepakan senyuman di pipi Lisa. Mas Ray yang memandangi wajah kekasihnya itu ikut tersenyum.
"Are you happy?" tanya Mas Ray saat makanan mereka tiba.
"Yes, I'm happy," Lisa tersenyum.
Mas Ray mengusap rambut Lisa, "kamu cantik banget sih yang kayak view-nya."
Lisa ketawa, "yang, aku jadi inget waktu temenku bilang kamu mirip Ji Chang Wook kan aku sebel banget. Miripnya secuil doang. Eh setelah kita dekat, aku perhatiin, ternyata mirip juga. Apalagi kalo kamu senyum. Beuh cakep banget sih calon gue," Lisa mencubit pipi Mas Ray.
"Makan tuh cinta. Kamu pernah bilang aku caper eh kamu sengaja caper ke Bayu buat liat wajah cemburuku. Kamu pernah bilang gak mau tidur sekasur, sekarang kamu sampe peluk-peluk aku kalo kita tidur. Cium kening atau pipi juga dulu kamu nolak, sekarang udah biasa. Apalagi habis ini?"
"Udah sih. Malu tau."
Mas Ray menggenggam tangan Lisa, "sejujurnya mas salut tau liat Lisa yang awalnya nolak semua usaha mas tapi sekarang mas bener-bener merasa dicintai sama Lisa. Makasih ya. Pokoknya mas akan selalu perjuangin Lisa walaupun nanti kita udah nikah sekalipun. Lisa tetep jadi partner yang kooperatif sama perjuangan mas."
Lisa tersenyum melihat calon suaminya yang mendadakan bikin terharu, "Iya sayangku. Kita sama-sama berusaha biar tetep utuh apapun badai yang akan terjadi."
__ADS_1
Mas Ray tersenyum lalu mengusap rambut Lisa, "*l*ove you."
"Love you too."