Lamora

Lamora
Duda Beranak Satu


__ADS_3

"Kelompok skripsi beneran milih sendiri, Sus?" tanya Alika ke Susi.


"Iya. Terserah sama siapa yang penting tiga orang.Tapi pembimbing skripsinya yang ditentuin," jawab Susi sebagai Komandan Tingkat (Komting).


"Pas, kita bertiga," jawab Alika melihat Lisa dan Maya.


"Duh, pembimbingnya gak bisa milih sendiri, Sus? Takut kalo dapet pembimbing yang susah diajak kompromi," ucap Lisa.


"Pak Ray pasti bisa diajak kompromi. Semoga ajaa kelompok kita Pak Ray," ucap Maya.


"Perang dunia kedua ntar kelompok lu woi. Ga liat si Lisa kesel banget sama tuh dosen," timpal Sari.


"Kalo Pak Ray jadi pembimbing kita, lu wajib baik ke Pak Ray. Gue gak akan mau kalo kita gak lulus bareng," ucap Alika.


"Iya, can. Awas aja lo kisruh sama Ji Chang Wook," ujar Maya.


"Iya iya, bakal baik gue ke Pak Ray. Bawel amat kalian," ucap Lisa.


Selama ini Lisa jarang cerita dengan sahabat mengenai kisah hidupnya. Dulu Alika selalu memaksa Lisa bercerita kepadanya. Alikia tau Lisa sering menyimpan semua masalah sendiri. Beranjak dewasa, Alika mulai hafal karakter Lisa yang tidak suka bercerita. Apalagi mereka sudah berteman sejak umur 4 tahun. Wajar, jika sahabatnya tidak tahu kalau dia kenal Mas Ray dan sempat ke Tawangmangu bersama.


Bu Narti, dosen mata kuliah asuhan kebidanan neonatal sudah datang. Lisa membuka ponsel untuk mengaktifkan mode senyap. Ternyata ada whatsapp dari nomor tidak dikenal.


085225XXXXXX


Lisa ini, Mas Ray. Nanti kamu nunggu di parkiran aja ya? Kejauhan kalo nunggu di halte.


^^^Lisa^^^


^^^Iya. Kamu whatsapp aja kalo udah di dalam mobil.^^^


Lisa buru-buru menyalakan mode senyap. Kondisi Lisa siang itu, sangat lelah. Hari ini jadwalnya padat. Pagi tadi Lisa meeting dengan tim pengelola cafe cabang baru di Jogja dan mengedit video "Bubur Ayam Korea". Siang ini harus kuliah sampai sore dan pulangnya harus bertemu Mas Ray. Oh ya, jika pertemuannya hari ini berakhir pedih, Lisa memutuskan akan blur wajah Mas Ray di video.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lisa keluar kelas bersama Alika dan Maya sambil mematikan mode senyap di ponsel. Ada tiga pesan whatsapp dari Mas Ray. Nomornya belum sempat Lisa simpan.


085225XXXXXX


Iya. Nanti aku whatsapp.


085225XXXXXX


Lisa, aku menuju mobil. Kamu di mana?


085225XXXXXX


Mas udah di mobil.


^^^Lisa^^^


^^^Iya, bentar.^^^


Lisa membalas pesan Mas Ray sambil berjalan menuju bawah karena perkuliahan hari ini berlangsung di lantai 4.


"Sopa dulu yuk, can," ucap Maya yang mengajak Lisa dan Alike ke mall Solo Paragon (Sopa).


"Ayoooo," ujar Alika.


"Duh, gue nggak bisa. Mas gue udah nunggu di bawah," ucap Lisa.


"Tumben lu kuliah ga naik mobil sendiri," ucap Maya.


"Mas lu siapa dah? Perasaan kita ga pernah tau lu punya mas."


Untung mereka sudah sampai di lantai bawah. Lisa buru-buru meninggalkan sahabatnya itu sembari melambaikan tangan, "dadahhh," ucapnya.


Lisa mencari mobil Mas Ray sambil memantau suasana sekitar tempat parkir dosen. Jangan sampai ada satu pun temannya yang tahu dia pergi bersama Mas Ray.


"Tinnn," suara klakson mobil berwarna putih yang ada di depan Lisa.


Lisa yang teringat warna mobil Mas Ray putih, langsung mendekati mobil. Setelah memastikan tidak ada teman yang dia kenal, dia buru-buru masuk ke dalam mobil.


"Kamu kenapa sih pakek tengok depan, belakang, kanan, kiri," ucap Mas Ray sambil tertawa.


"Gapapa."


"Nih minum dulu," ucap Mas Ray sambil membuka botol lalu memberikannya kepada Lisa.


"Aku bawa minum," Lisa menolak.


"Habis jadi maling, enaknya minum dingin," seraya Mas Ray membuka tangan Lisa dan menaruh botol minum itu.


"Aku maling?"


"Iya. Lisa udah berhasil maling hati mas cuma buat kamu," ucap Mas Ray sambil menyalakan mobil.

__ADS_1


"Omongan Playboy," ucap Lisa yang kondisinya masih kesal.


"Mas cuma tertarik sama Lisa, nggak ada lainnya lagi, masih dikatain playboy? Wah parah."


"Hmmm."


"Oh ya, kita ngobrol di klinikku gapapa kan? Kebetulan ada yang perlu aku cek sebelum peresmian."


"Terserah."


"Lisa masih sebel sama mas? Sejujurnya mas suka liat wajah Lisa kalo lagi kesel. Jadi gak sabar liat wajah sebel Lisa setiap hari. Lisa buruan lulus kuliah ya biar bisa mas nikahi."


"Emang aku mau? Nggak," ucap Lisa tegas.


"Sekarang bilangnya nggak mau, pasti kalo udah waktunya bakal mau," ucap Mas Ray sambil memarkir mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lokasi klinik Mas Ray dekat dengan Universitas Lamora. Tempatnya luas dan startegis. Prediksi Lisa, klinik ini akan ramai, daerah sekitar sini belum ada klinik lainnya.


"Lisa, tunggu di sana sebentar ya," ucap Mas Ray menunjuk ruangan bertuliskan Ray Wiliam. "Mas mau cek barang-barang sebentar," sambungnya.


"Iya."


Lisa langsung menuju ruangan tersebut. Ruangan ini cukup besar. Terdapat ranjang pasien, lemari, meja, dan kursi. Lisa duduk di kursi sambil memainkan ponselnya, ada whatsapp masuk dari Alika.


Alika


Sejak kapan lu punya mas woi?


^^^Lisa^^^


^^^Anaknya sahabat mama, gue panggil mas, can.^^^


Alika


Oh, gue kira mas pacar.


Lisa tidak membalas pesan Alika. Memilih membaca jurnal untuk persiapan judul skripsi.


"Lisa, kenapa AC-nya nggak dinyalain?" ucap Mas Ray sembari menyalakan AC. "Aku duduk samping Lisa boleh?" sambungnya.


"Hmm," jawab Lisa sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Terus?"


Mas Ray menghela nafas, "sebelum cerita, mas boleh tau nggak kenapa Lisa berubah setelah tau mas punya anak?"


"Arumi anak mas?" Lisa malah balik bertanya.


"Iya, anakku. Jadi, kenapa Lisa berubah setelah tau mas punya anak? Gara-gara mas bilang jomblo di depan kelas, caper sama mahasiswa, atau bikin Lisa baper dan nyaman waktu di Tawangmangu?"


"Semuanya kecuali terakhir," jawab Lisa setelah cukup lama terdiam.


"Kalo mas udah nikah dan punya anak, Lisa masih mau dekat dengan mas?"


"Nggak."


"Kan orang tua kita dulu sahabatan, kalo mas dekat dengan Lisa gak masalah dong?" ucap Mas Ray sambil tersenyum.


"Ya, nggak bisa lah. Cowoknya udah punya istri tapi omongannya gombal mulu."


"Kalo mas jomblo tapi udah punya anak, Lisa mau jadi istri mas?"


"Kan emang Lisa nggak mau sama mas, baik punya anak atau nggak."


"Eh iya, udah Lisa jawab di mobil. Percuma dong mas jelasin kalo ternyata Lisa emang nggak mau deket sama mas. Terus kenapa Lisa kemarin tanya soal Arumi?" tanya Mas Ray sambil tersenyum.


Lisa yang sadar Ray memasang pertanyaan menjebak, "Lisa pesen ojek online aja deh. Seharian udah capek ngurus kerjaan dan kuliah, eh sekarang ada orang buang-buang waktu," ucap Lisa sembari berdiri.


Mas Ray menarik tubuh Lisa hingga jatuh kepangkungannya. Tangan Mas Ray melingkari perut Lisa dengan kencang.


"Cowok boleh nangis nggak?" tanyanya.


"Are you okay?"


"Enggak, Lis," ucap Mas Ray sudah dalam keadaan menangis.


Lisa mencoba melepaskan pergelangan tangan Mas Ray. Dia memandang pria itu dengan perasaan sayu, "kalo nggak bisa cerita nggak usah dipaksa."


Mas Ray menghapus air matanya dengan lengan bajunya. Lisa membuka tutup air minum pemberian Mas Ray dan meminta dia minum terlebih dahulu. Tak lama kemudian, Mas Ray mulai tenang.


"Lisa, maaf ya dari awal mas nggak cerita ke kamu tapi langsung main ngedeketin aja," ucap Mas Ray sambil menggenggam tangan Lisa.


"Gapapa," ucap Lisa walaupun kesal tetapi dia tidak tega melihat kondisi Mas Ray.

__ADS_1


"Yakin mau cerita? Kalo nggak bisa, nggak perlu cerita sekarang."


"Iya. Kamu kan calon istriku, jadi harus tau masa laluku," ucapnya sambil tersenyum.


"Terserap apa kata mas aja deh," ucap Lisa yang tidak ingin berdebat.


"Jadi setuju nih kita nikah?"


"Mau cerita atau Lisa pulang aja nih?"


"Jangannnn. Mas mau cerita sambil tiduran di paha Lisa boleh nggak?"


"Iya."


Orang pertama yang dekat sama Lisa ini, membuat jantungnya kembali berdegup kencang. Sihir apa yang membuat wanita yang tidak pernah jatuh cinta bisa merasakan dag-dig-dug di jantungnya untuk pertama kali. Lisa masih bertanya-tanya, "apa benar dia sedang merasakan jatuh cinta?"


Mas Ray memposisikan diri tidur di paha Lisa lalu dia menangis kembali, "Lisa, aku pernah menikah tapi bercerai."


Lisa membantu Mas Ray menghapus air matanya dan membiarkan dia melanjutkan ceritanya.


"Saat kami menikah, aku sedang melanjutkan spesialis dan kerja di Medan. Dia aku ajak ke Medan nggak mau. Katanya, pengin ngejaga orang tua kami yang tinggal di Batam. Aku perbolehkan karena tujuannya baik tapi aku bilang bisa pulang sebulan sekali. Bulan pertama aku pulang, dia kepergok selingkuh. Dia minta maaf berkali-kali sampai akhirnya aku maafkan atas permintaan papa dan mama. Syarat kami kembali saat itu dia harus ikut aku ke Medan dan aku boleh memblokir semua akses dengan selingkuhannya. Nggak lama kemudian dia hamil anakku. Hubungan kami sepenuhnya membaik. Mendekati hari persalinan, dia ingin melahirkan di Medan karena orang tua kami tidak bisa pergi ke Medan dan kebetulan aku memasuki tahun terakhir spesialis. Setelah melahirkan, Arumi belum bisa kami bawa ke Medan otomatis dia stay di Batam," Mas Ray menghela napas sembari mengusap air matanya dibantu Lisa.


"Terus?" tanya Lisa.


"Dia ketahuan selingkuh dengan pria yang sama. Aku minta dia buat tinggalin pria itu demi Arumi yang berusia 7 bulan. Dia memilih cerai dan berusaha hak asuh Arumi aku menangkan. Selingkuhannya ingin menikahinya tapi nggak mau ada Arumi. Kabar baiknya aku bisa merawat Arumi. Kalo sampe Arumi bersamanya, sakit hatiku dua kali dalam sekejap, Mas Ray berhenti bicara sambil melihat ke arah Lisa.


"Setelah cerai, dia nggak pernah datang?" tanya Lisa yang masih menyeka air mata Mas Ray tiap kali keluar.


"Dia pernah ngirim pesan ke aku cuma bilang makasih udah ngerawat Arumi dan minta maaf udah berbuat jahat. Kalo suatu hari Arumi tanya kenapa bundanya ninggalin dia, sampaikan maafnya ke Arumi karena bundanya udah jahat ke Arumi juga. Dia dan selingkuhannya pamit pindah ke luar negeri. Terus dia pengin mas, Arumi, dan keluarga mas bahagia. Setelah itu, aku nggak tau lagi kabarnya."


Mendengar cerita Mas Ray, Lisa menahan air mata. Dia ikut terluka dan hanyut dalam cerita. Dia teringat seseorang yang masih belum bisa dia maafkan hingga saat ini.


"Lisaa?"


"Iya?"


"Kenapa bengong?"


"Gapapa."


"Aku bersyukur sekarang menemukan Lisa, orang yang bikin mas percaya kalo sama Lisa semua akan lebih baik nantinya," ucap Mas Ray sembari berdiri dan memeluk Lisa. "Setelah kamu tau mas duda dengan anak satu, kamu masih mau kan kita deket lagi?" sambungnya yang menyudahi tangisan sore ini.


"Emang sebelumnya kita deket?" tanya Lisa sambil tersenyum.


"Mas udah mengerahkan semua perhatian ke Lisa masak nggak ada rasa tertarik sama sekali?" ucap Mas Ray.


"Mas Ray orang pertama yang bisa buat Lisa mau mendekatkan diri dengan pria. Pas hari pertama mencoba dekat eh ada anak kecil manggil kamu 'ayah'. Kaget dan pengin marah pastinya lah."


"Terus sekarang udah tau semuanya. Lisamau mencoba lagi kan?"


"Mas Ray perhatian sama Lisa cuma cari bunda pengganti Arumi aja ya?" Rasa penasaran Lisa yang belum terjawab akhirnya keluar pertanyaan itu dari mulutnya.


"Ya enggak lah Lisa. Selama ini ada banyak yang mendekati aku lewat Arumi, bisa lho mas nikahi salah satu dari mereka kalo cuma cari bunda pengganti aja. Nyatanya, cuma Lisa yang bisa bikin mas tertarik dan pengin serius," ucap Mas Ray sambil tersenyum.


"Yakin?"


"Iya, aku cuma mau kamu Lis."


"Lisa takut patah."


"Trauma gara-gara kejadian kemarin?"


"Salah satunya."


"Mas tau ini pertama kalinya Lisa mau dekat dengan pria. Semua perasaan pasti pernah terluka. Nggak mungkin sahabat Lisa yang ada di kelas nggak pernah bikin Lisa sakit hati kan?"


"Iya, pernah."


"Cafe Lisa penuh nuansa Korea pasti kamu juga suka artis Korea kan? Pasti pernah ada yang terlibat skandal tapi tetap mendukungnya kan?


"Iya."


"Nah itu karena Lisa menaruh mereka dalam hati Lisa. Setelah terhianati di pernikahan sebelumnya, mas pasti pernah takut. Tapi semua rasa itu hilang ketika mas percaya suatu hari nanti pasti akan ada wanita yang bekerja sama dengan mas."


"Bekerja sama?"


"Iya. Setiap pasangan pasti pernah terluka dan dilukai. Pemenangnya hanya mereka yang saling bekerja sama untuk membuat hati mereka tetap menjadi satu. Jadi, Lisa mau jadi wanita itu?"


"Iya, Lisa akan coba lagi."


"Makasih banyak ya Lisa. Kalo ada masalah langsung diobrolin, jangan dipendam ya?"ucap Mas Ray sambil memeluk Lisa.


"Iya mas," ucap Lisa membalas pelukan Mas Ray.


Lisa pulang dengan perasaan lega dan bahagia. Kali ini dia mau memulai lagi untuk dekat dengan pria. Perkataan Mas Ray selalu bisa membuat Lisa tenang dan yakin dengan pria itu. Bahkan, Lisa yang jarang sekali bercerita dengan orang menjadi sosok yang bisa mengutarakan perasaan.

__ADS_1


__ADS_2