Lamora

Lamora
Kelahiran


__ADS_3

Sampai di rumah, Mas Ray ingin melakukan pemeriksaan Vaginal Toucher (VT) namun Lisa menolak. Dia tidak ingin diperiksa suaminya. Dia juga enggan buru-buru ke klinik takut pembukaan masih fase laten. Ingin menikmati gelombang cinta di rumah. Ketika benar-benar tidak tahan lagi, baru pergi ke klinik.


Lisa melakukan berbagai gerakan untuk mempercepat pembukaan. Mulai naik turun tangga, berjalan jongkok, ataupun berjalan dengan mengangkat satu kaki ke atas. Mas Ray beserta mama dan bunda ikut menemani. Mereka senantiasa memijat punggung Lisa tiap kali kontraksi datang. Mengingatkan Lisa mengatur pernapasan. Ayah dan papa mendapat tugas menjaga Arumi.


"Sayang, anterin pipis," ucap Lisa kepada Mas Ray yang baru masuk ke kamar seusai mengisi hot water bag dari dapur. Dia tidak enak meminta bantuan kepada bunda dan mama.


"Kenapa nggak ngomong ke bunda atau mama aja. Pakek nungguin Ray," ucap bunda.


Lisa tersenyum.


"Ayo mas anter," ucap Mas Ray menggandeng tangan Lisa.


Setelah menikah, Lisa selalu bersyukur bisa mendapatkan Mas Ray kembali. Dia tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Suami yang tampan, sabar, dan selalu menyayanginya dengan tulus.


"Mas," panggil Lisa dari dalam kamar mandi.


"Ada apa?"


"Masuk deh," ucap Lisa.


Mas Ray masuk ke kamar mandi.


"Gapapa kan yang?" tanya Lisa melihatkan celananya ada darah.


"Gapapa dong. Kan tanda mau melahirkan yang."


"Mas VT aja deh. Penasaran aku bukaan berapa."


Mas Ray tersenyum, "Oke."


Lisa merebahkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya hinhga paha bagian atas sudah tertutupi selimut. Tangan kanan menggenggam bunda dan tangan kiri menggenggam mama.


"Mas pelan-pelan ya," ucap Lisa kepada Mas Ray yang sedang mengenakan handscoon.


"Percaya sama suamimu nak," ucap bunda.


"Percaya sih percaya bun. Tapi, nih dokter kata orang-orang klinik kalo VT suka nyakitin pasien."


"Ayo berangkat ke klinik aja kalo nggak mau mas VT."


"Udah ada mama dan bunda nak. Nggak usah takut," ucap mama.


Lisa menggenggam erat tangan mertua dan bundanya itu, sudah dua jam pulang dari acara pernikahan. Kontraksinya semakin sering datang dan lama pergi.


"Gimana?" tanya Mas Ray saat kontraksi mereda.


"Buruan. Keburu sakit lagi," ucap Lisa.


Mas Ray memasukkan jari telunjuk dan tengahnya secara perlahan. Lisa teriak kesakitan. Suaminya menghiraukan. Tetap mencari serviks Lisa.


"Udah bukaan 3," ucapnya mengeluarkan dua jari.


"Udah sesakit ini masih tiga mas?"


"Mau sesar aja nak?" tanya mama.

__ADS_1


"Sesar aja yang? Semakin bertambah pembukaan semakin sakit lho."


"Nggak mau," ucap Lisa sela-sela kontraksi.


Pukul 16.00 WIB, wajah Lisa sembab dan semakin sulit mengontrol rasa sakit. Tiap kali kontraksi datang dia meneteskan air mata. Dia yang terbiasa tidur siang, hari ini tidak bisa tertidur. Bayinya berjuang mencari jalan lahir. Dia berjuang melawan rasa sakit gelombang cinta yang hadir.


Mas Ray terus menggenggam tangannya. Memberikan kata semangat bahwa Lisa mampu melewati ini semua. Bunda memijat kakinya. Memijat punggungnya. Arumi dan kedua kakeknya sesekali masuk kamar untuk menyangatinya.


"Berangkat ke klinik sekarang ya?" ucap Mas Ray sembari mengusap kepala Lisa.


"Semua barang udah di mobil kan?" tanya Lisa.


"Udah dimasukin papa tadi nak," ucap mama.


"Mau mas gendong atau jalan sendiri?" tanya Mas Ray.


"Jalan sendiri."


Mas Ray membantunya berdiri lalu menuntun masuk ke dalam mobil. Ayah dan bunda akan ikut ke klinik walaupun ayah tidak akan masuk ke ruangan bersalin. Sedangkan papa dan mama di rumah menemani Arumi. Doa dan dukungan keluarganya yang membuat Lisa kuat. Kabar bahagia dia dan adik Arumi selamat adalah hadiah terindah di awal tahun ini.


Sampai di klinik Lisa langsung mendapatkan penanganan awal seperti pemeriksaan detak jantung janin, tekanan darah, posisi janin, dan VT. Bersyukur sudah memasuki fase aktif. Bidan mengecek Lisa sudah bukaan 6.


"Ahh," teriak Lisa merasakan kontraksi semkain kuat sembari menggenggam erat tangan suaminya.


"Yang, jangan teriak nanti kamu kehabisan tenaga pas mengejan. Tarik nafas hembuskan lewat mulut," ucap Mas Ray mengusap wajah Lisa yang penuh keringat.


"Nggak kuat mas," ucap Lisa.


"Semangat nak, bentar lagi kan ketemu adek," ucap bunda yang mengusap punggung Lisa.


Lisa kembali merasakan sakit. Mas Ray memandu istrinya mengontrol napas. Lisa menggenggam erat tangan suaminya. Tidak tega sampai menjambak dan lain sebagainya.


"Mas pengin ngeden," ucap Lisa sembari mengontrol napas.


Mas Ray mengecek pada **** *************. "Belum ada tanda kala II yang. Kendalikan dulu." Tanda kala II biasanya digunakan untuk mengetahui seorang ibu sudah waktunya melahirkan atau belum seperti dorongan meneran, tekanan pada anus, perineum menonjol, dan vulva membuka.


"Nggak kuat mas. Nggak kuat lagi," ucap Lisa meneteskan air mata. Sakitnya sangat luar biasa.


"Bunda yakin Lisa pasti kuat," ucap bunda.


"Sakit bun."


"Mas paham kamu kesakitan. Tapi kalo kamu nggak merasakan sakit, dedek nggak lahir-lahir yang. Tahan dulu ya? Kalo kamu ngejan sekarang nanti jalan lahirnya bengkak, adek semakin lama keluar dan kamu semakin lama merasakan sakit," ucap Mas Ray mengusap air mata Lisa.


Jam 18.00 Lisa benar-benar tidak tahan lagi. Dia memaksa Mas Ray memanggil bidan atau dokter untuk mengecek pembukaan. Mas Ray sempat menolak karena belum ada 4 jam dari pemeriksaan sebelumnya. Melakukan pemeriksaan dalam hanya boleh dilakukan 4 jam sekali, ketuban pecah, atau ada tanda kala II. Tapi dia memilih mengalah. Memencet bel kamar yang menyambung ke ruang jaga.


"Gimana Ray? Lengkap?" tanya Dokter Gina yang datang membawa pasukannya.


"Belum mbak. Periksa aja deh. Istri ngotot pengin diperiksa gara-gara udah pengin ngejan," ucap Mas Ray.


"Yuk Mbak Lisa terlentang," ucap Dokter Gina.


"Bentar dok. Sakit," ucap Lisa mengontrol napasnya.


Setelah kontraksinya mereda. Lisa pun berpindah posisi dari miring ke kiri menjadi terlentang. Dokter Gina melakukan pemeriksaan dalam.

__ADS_1


"Bukaan 8 mbak. Tahan dulu ya. Jangan ngeden," ucap Dokter Gina.


"Nggak usah balik ke ruangan aja deh kalian. Takut kalian datengnya lama padahal anak gue udah mau brojol," ucap Mas Ray.


"Kan ada bapaknya dok," ucap Bidan Septi tertawa.


"Bapaknya udah jadi tahanan emaknya. Nggak boleh bantu ngelahirin," ucap Mas Ray tersenyum sembari mengusap Lisa yang sudah pucat.


"Kita tungguin Mbak Lisa. Ayo semangat ya? Bentar lagi kok. Serviksnya udah menipis," ucap Dokter Gina.


Lisa hanya mengangguk sembari merasakan sakit yang terus berdatangan. Pertarungan hidup dan mati sedang dia lalui.


"Ketubanku pecah," ucap Lisa sejam kemudian, merasakan cairan yang keluar.


Dokter Gina buru-buru mengecek lewat pemeriksaan dalam. "Lengkap Ray. Terlentang Mbak Lisa," ucapnya sembari mendekatkan alat. Semua orang yang akan membantu persalinannya sibuk memakai Alat Pelindung Diri (APD).


"Ahhh." Rasa ingin meneran semakin kuat.


"Yang tarik napas, hembuskan lewat mulut," ucap Mas Ray. Lisa mengikuti arahan Mas Ray sembari memindahkan posisi tubuhnya menjadi terlentang.


"Ngejan mbak," ucap Dokter Gina.


Lisa mengejan menghadap ke perutnya di bantu oleh Mas Ray. Gigi atas dan bawah saling bersentuhan. Matanya membuka. Tangannya menggenggam suaminya dan bunda.


"hah hah hah," Lisa membuang napas setelah mengejan.


"Masih kenceng mbak. Sambung yuk," ucap Bidan Chika.


Lisa menggelengkan kepala.


"Berhenti dulu gapapa," ucap Mas Ray memberikan Lisa minum.


Cukup teobati rasa capek mengejan dengan minum air. Kontraksinya datang lagi. "Ahh," teriak Lisa. Dia mulai mengejan lagi.


"Nah pinter. Sambung lagi mbak," ucap Dokter Gina. Lisa terus mengejan ditambah kalimat semangat dari suami tercinta membuatnya semakin ingin mengeluarkan bayinya.


"Ayo sayang. Sebentar lagi dedek ketemu kita," Mas Ray berbisik sembari menghapus keringat Lisa.


"Kepalanya udah muncul dikit mbak. Habis ini ngejan yang kuat ya?" ucap Dokter Gina saat kontraksinya hilang.


Lisa mengangguk. Beberapa saat kemudian kontraksi itu datang lagi. Dua bidan membantu mengangkat kaki Lisa hingga menempel ke perut.


"Aaahh," ucap Lisa saat kepala bayinya berhasil keluar. Sesi mengejannya resmi berakhir.


"Huh Huh Hah," ucap Mas Ray membantu istrinya mengontrol napas. Lisa menirukan Mas Ray.


"Ahhh," teriak Lisa kencang saat bayinya berhasil keluar dari tubuhnya. Bayi berjenis kelamin laki-laki yang dikandungnya selama 40 minggu itu berhasil keluar dari perutnya pukul 19.30 WIB.


Suara tangisan anaknya berhasil membuat Lisa dan Mas Ray menangis.


Mas Ray mencium bibir Lisa, "Makasih ya sayang."


Bunda pun mengecup pipi Lisa, "Selamat ya nak."


Lisa hanya mengangguk. Nyawanya masih belum sepenuhnya kembali. Dia masih mengontrol napas sembari mengusap kepala anaknya yang terletak di perutnya. Teringat pengorbanan mama pasti sesakit ini saat melahirkannya. Sudah bertahun-tahun dia enggan mengunjungi makamnya karena bersebelahan dengan papa.

__ADS_1


__ADS_2