
Lisa bangun lebih awal daripada Pak Ray. Dia berjalan menuju bangku yang semalam menjadi saksi bisu tangisannya.
"Udara pagi yang segar," batinnya.
Tak lama kemudian, seorang pria duduk di samping Lisa sambil melingkarkan selimut yang ia bawa dari kamar, ke tubuh Lisa.
"Lisa sering pergi ke daerah ini?"
"Ini emang daerah mana?"
"Lisa udah nginep semalem lho. Bapak kira udah tau lokasinya dari hp."
"Semalem kan ngobrol sama bapak terus tidur. Nggak sempet buka hp."
"Tawangmangu, Lis. Pasti udah sering ke sini ya?"
"Sering sih enggak, tapi pernah beberapa kali."
"Mau keliling sekitar vila nggak?"
"Boleh. Ini dekat pasar nggak pak?" tanya Lisa yang tiba-tiba kepikiran mau buat konten untuk youtube-nya.
"Kalau jalan kaki 15 menit. Lisa mau ke pasar?"
"Iya. Sekalian bikin konten masak dengan view bagus gini pasti bakal seru."
"Ayo. Naik mobil aja ya kalo ke pasar. Cewek cantik kayak Lisa nggak boleh terlalu capek," ujar Pak Ray sambil tersenyum ke Lisa.
"Ini nih yang bikin Lisa sebel sama bapak dari awal ketemu," akhirnya Lisa berani ngomong.
"Wah dah berani blak-blakan ya sekarang. Jadi, kenapa Lisa yang secantik ini bisa benci sama dosen yang ganteng ini?" ujar Pak Ray sambil tersenyum.
"Terlalu banyak menanggapi hal yang nggak penting. Sumpah, itu buang-buang waktu banget. Terus satu lagi, sok ramah tapi malah terkesan lagi tebar pesona sama mahasiswa."
"Lisa, itu hari pertama bapak ngajar sebagai dosen jadi perlu pendekatan dengan mahasiswa bukan soal tebar pesona. Hari itu bapak juga bilang nggak ada pelajaran, cuma nyampein kontrak dan perkenalan kan? Itu namanya nggak buang-buang waktu. Jangan-jangan dari awal kita ketemu kamu suka bapak dan cemburu nih?" Pak Ray menjelaskan ke Lisa sambil tersenyum.
"Nggak lah. Ya kali Lisa suka bapak. 21 tahun banding 30 tahun. Duh, duh, berasa lagi jalan sama om-om. Eh salah, emang lagi jalan sama bapak-bapak kan Lisa manggilnya 'pak'," ujar Lisa sembari tertawa.
"Mau nilai D ya?" ujar Pak Ray sembari mencubit pipi Lisa pelan.
"Paling juga nggak berani."
"Intinya ya Lisa. Jangan sampe sebel sama bapak lagi atau bahkan orang lain tanpa membicarakan masalah terlebih dahulu. Kalo ada yang nggak nyaman sampaikan aja daripada berpikir negatif padahal belum tentu benar."
"Iya. Maaf ya?"
"Gapapa. Yuk, kita ke pasar," ajak Pak Ray sambil menggandeng tangan Lisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Lisa tidak lagi mempermasalahkan Pak Ray yang membukakan pintu mobil dan menggandeng Lisa memasuki pasar. Setelah kenal, ia merasa nyaman dengan dosennya ini. Sampai dia menggunakan satu tangan saja untuk mencari menu yang terdapat di ponselnya karena tangan kiri Lisa sudah digenggam erat oleh Pak Ray.
"Lisa mau buat apa?" tanya Pak Ray.
"Bubur ayam Korea, pak. Ini bahannya," ucap Lisa sambil memperlihatkan ponselnya.
Pak Ray melihat ponsel Lisa dengan saksama.
"Yuk kita cari bersama," ucapnya.
Mereka berhasil menemukan semua bahan yang diperlukan. Pak Ray juga membeli banyak sekali buah stroberi. Katanya, ada anak kecil yang tinggal di rumahnya sangat menyukai buah tersebut.
Barang belanjaan sudah masuk ke dalam mobil. Mereka bergegas kembali ke vila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lisa, kamu siapkan bahan dan cari wadah apa aja yang kamu perlukan. Saya pindah meja di ruang makan ini ke depan," ucap Pak Ray sembari menunjuk meja makan.
"Lisa bantu pak. Berat kalo sendiri."
"Udah kamu lakuin aja yang bapak suruh tadi."
Pak Ray terlihat bersemangat membuat konten hari ini. Mulai dari mencari bahan masakan yang segar sampe angkat junjung meja pun dia ingin melakukannya sendiri. Sedangkan Lisa menuruti perintah Pak Ray untuk mencuci dan memotong bahan sesuai takaran yang diperlukan. Setelah selesai mengangkat meja Pak Ray menyusul Lisa.
"Sini, bapak bantu masukin yang udah kamu potong ke piring," ujar Pak Ray sambil memasukan beberapa bahan yang sudah Lisa potong ke wadah.
"Iya?" jawab Pak Ray sambil menatap mata Lisa.
"Bapak kenapa mau mencoba dekat sama Lisa? Padahal, ayah, bunda, Tante Ratih, dan Om Sam cuma bercanda kan kemarin. Lisa kira bapak juga merespons mereka dengan bercanda eh jadi seperti ini."
"Yang jelas bapak selalu tertarik dengan Lisa dan ingin tau tentang Lisa. Pas keluarga kita setuju semakin yakin buat menaklukan Lisa."
"Selalu tertarik? Ketemu aja baru. Lisa mau ngobrol baik-baik dengan bapak aja baru semalem."
Pak Ray membalas dengan senyuman.
Setelah semua bahan siap. Ternyata kompor listrik di dapur lupa Pak Ray pindahkan ke depan. Lisa mulai dibuat kagum dengan tingkah Pak Ray yang sigap membantunya sehingga dalam sekejap masalah kompor listrik sudah teratasi.
"Udah siap. Bapak yang ngambil video atau bapak ikut masuk di video?" tanya Pak Ray sambil tersenyum.
"Bapak masuk aja gapapa. Nanti Lisa taruh ponsel di situ," jawab Lisa sambil menunjuk tempat yang cocok untuk menaruh ponselnya.
"Bapak tadi tuh bercanda Lisa. Kok jadi beneran Lisa ajak masuk video," ucap Pak Ray sambil tertawa.
"Lisa juga gapapa bapak masuk video. Kan emang sering tuh Lisa ajak orang buat collab bahkan bunda juga sering masuk video kok. Ayo masuk aja. Emang Lisa butuh bantuan asisten," ujar Lisa sambil tertawa.
"Oke. Gapapa sekarang statusnya asisten, bentar lagi kan Lisa lulus tuh langsung jadi suami."
"Bapakkkkk," teriak Lisa sambil mecubit tangan Pak Ray.
__ADS_1
"Sakit ih, kekerasan rumah tangga," ucap Ray sembari mengelus tangannya, lalu melanjutkan obrolan, "jangan panggil 'bapak' lagi. Mas Ray aja ya sekarang. Kalo di kampus baru 'bapak' gapapa."
"Iya mas iya, kalo inget. Ayo mulai. Ntar malah kita nggak pulang-pulang."
Mereka sibuk membuat konten berdua. Lisa bagian memasukan bahan sedangkan Mas Ray bagian mengaduk bubur. Berasa sepasang suami istri yang saling bekerja sama dalam urusan rumah. Jika semesta tidak mendukung mereka bersama, sangat disayangkan. Terlebih Mas Ray benar-benar membuat Lisa merasakan apa itu diperhatikan pria untuk pertama kalinya selain ayah dan mungkin juga papa. Eh papa? Lisa sudah lupa rasanya diperhatikan papa. Ya, hanya ayah.
Konten "Bubur Ayam Korea" sudah selesai. Mereka memakan bubur tersebut sambil mengobrol, sebelum membereskan semua bekas memasak hari ini.
"Lisa, foto berdua yuk," ajak Mas Ray sambil merangkul Lisa.
"Belum Lisa jawab setuju, udah main rangkul aja nih pak." Melihat mata Mas Ray melotot, Lisa sadar, "eh iya, mas. Lupa. Lagian udah tua masih aja minta dipanggil mas."
Ray menekan tombol foto lalu melepaskan rangkulannya ke Lisa.
"Aku SMP kelas 2 dan kamu TK. Kalo kita ketemu, kamu bakal manggil aku apa?"
Ray sudah berani menggunakan 'aku' dan 'kamu' ke Lisa tanda hubungan mereka semakin dekat dan santai. Obrolan perjodohan antar keluarga kemarin malam, tanpa disangka membawa hubungan mereka ada harapan untuk bersama.
"Iya, iya, mas. Mau dipanggil mas aja atau ikan mas?" ujar Lisa dengan wajah meledek.
"Gemes banget deh," ucap Mas Ray sambil mencubit pipi Lisa.
Tiba-tiba ponsel Mas Ray berbunyi. Dia mengangkat telfon dengan senyuman lebar.
"Hai nak, kangen ayah ya?" ujar Mas Ray.
Lisa syok dan tidak percaya. Dia bisa mendengar dan melihat semua sangat jelas karena Mas Ray video call di dekatnya.
"Ayah, Arumi kangen. Ayah kapan pulang?" ucap anak kecil itu dengan nada bicara khas anak kecil yang masih terbata-bata.
"Arumi minta telfon kamu terus Ray dari semalem. Tanya kenapa ayahnya nggak telfon dia kalo emang nggak pulang," ujar Tante Ratih.
"Maafin ayah ya Arumi sayang. Semalem ayah keasyikan ngobrol dan lupa telfon Arumi tapi hari ini ayah pulang bawa banyak stroberi. Arumi maafin ayah kan?"
"Asikk, ada stroberi. Iya ayah, Arumi maafin. Arumi main lagi ya. Dadah. Arumi sayang ayah."
"Dadah Arumi. Yang baik ya nak sama temennya. Ayah sangat sayang Arumi."
"Iya, ayah."
"Udah dulu ya, Ray. Kalo bisa cepet pulang. Nanti siang mama dan papa ada acara nikahan. Arumi pasti nggak mau ikut. Salam buat Lisa ya."
"Oh iya lupa ma, hari ini nggak ada Bi Tinah. Oke ma, bentar lagi Ray pulang."
Obrolan mereka terputus. Lisa yang mendengarkan semua obrolan itu, sangat yakin anak itu adalah anak Mas Ray. Kesal? Pasti! Lisa kira Mas Ray jomblo saat perkenalan di depan kelas. Apalagi semua perhatian dan cara dia mencoba mendekati Lisa benar-benar memperlihatkan bahwa dia jomblo. Semalam seharusnya Lisa nggak termakan rayuan manis dosennya itu. Benar prinsip Lisa selama ini, "semua pria memang sama saja kecuali ayah."
"Lisa, udah selesai makan kan? Ayo kita beres-beres," ajak Mas Ray.
Lisa enggan menjawab hanya bergerak membereskan semuanya. Dia menggerutu dalam hati, "kenapa nggak mau jelaskan siapa anak kecil tadi sih nih orang". Sedangkan Mas Ray kembali mengangkat meja sendiri. Lisa melihatnya tapi tidak menawarkan bantuan. Bahkan, dia melihat kaki pria itu hampir terinjak kaki meja tapi enggan berbicara. Rasa kesal terlanjur membuat suasana hatinya berubah. Bahkan sampai mereka meninggalkan vila, Mas Ray tidak membicarakan masalah itu ke Lisa. Sepanjang perjalanan Lisa menghadap jendela dan pura-pura tidur. Air matanya hampir menetes beberapa kali tapi dia tahan. Bukan hanya marah dengan pria yang duduk di sampingnya namun dia juga marah dengan keadaan yang membuatnya takut memulai hubungan dengan pria. Bahkan, pria pertama yang Lisa sudah mau mencoba untuk membuka hatinya, malah mematahkannya.
__ADS_1