
"Mas, bangun yuk. Temenin aku liat sunrise di Pantai Melasti," Lisa mencium pipi Mas Ray.
Mas Ray mengucek mata lalu memeluk Lisa, "itu belakang juga pantai, yang."
"Katamu mau nurutin aku hari ini."
"Jangan pagi-pagi dong, yang. Serius ngantuk. Kamu nonton di belakang aja."
"Belakang lagi belakang terus. Kamu tuh ya. Nonton sunset cuma mau di vila karena gak suka rame. Sekarang aku ajak nonton sunrise, pastinya nggak akan rame pas sunset, malah dijawab ngantuk. Udah deh, aku berangkat sendiri aja," Lisa menyingkirkan tangan Mas Ray yang memeluknya dengan kasar.
Mas Ray terbeliak, memeluk Lisa erat, "mas minta maaf ya. Yuk, aku anter."
"Aku bisa sendiri. Kamu tidur aja," Lisa mencoba menerobos pelukan Mas Ray.
"Emang kamu tau kuncinya di mana?"
"Mana kuncinya," ucap Lisa dengan nada tinggi.
Mas Ray melepas pelukan Lisa lalu menggendongnya.
"Mas, turunin nggak."
"Makanya nggak usah ngambek," dia mengambil kunci, dompet, dan ponsel di laci.
"Turunin. Aku berangkat sendiri. Kamu tidur aja."
Mas Ray mengecup kening wanita yang digendongnya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas gak bisa bayangin kalo kamu beneran bawa mobil sendiri. Yang, inget pesenku ini ya? Kalo suatu hari mas sibuk dan nggak bisa anter kamu pergi. Terus medannya serem mending puter balik aja. Usahain search dulu lokasinya kaya gimana juga kalo ke tempat baru sendirian," ucap Mas Ray ketika tau jalan menuju pantai berkelok curam.
"Salah siapa nggak mau nganter," ucap Lisa dengan nada merajuk.
"Udah dong ngambeknya."
"Hmmm."
"Napa sih gemesin banget kalo wajah ngambek gini. Nih pantai nih. Yuk turun," ucap Mas Ray mencium pipi lalu membukakan Lisa pintu.
Saat turun dari mobil Mas Ray izin ke toilet. Lisa berjalan menuju tepi pantai. Terpantau sepi. Hanya ada tiga orang turis asing yang sedang menunggu sunrise. Lisa memilih duduk jauh dari turis tersebut. Perkiraan matahari terbit masih 25 menit lagi.
Duduk di tepi pantai selalu membuat Lisa merasa tenang. Burung-burung berkicau menemani. Lisa emegang pasir lalu melempar ke depan. Tertiup kembali ke arahnya. Dia tetap menyukainya. Teringat masa-masa mama mengajaknya pergi ke Wonogiri dan Jogja untuk bermain pasir pantai. Beberapa kisah manis yang hampir terlupakan namun berkat foto, tulisan lokasi, dan tanggal yang mamanya abadikan dia mengingatnya. Anehnya, kisah pahit yang tidak satu pun terekam dalam foto, membekas sangat tajam dalam ingatannya.
Lisa menghapus air matanya. Sudah 30 menit dia duduk sendiri sambil berbincang kepada mamanya namun Mas Ray tak kunjung datang. Melupakan rasa gengsi, dia menelfon Mas Ray.
"Halo, yang. Ada apa?" tanya Mas Ray
"Di mana?"
__ADS_1
"Aku udah izin kan tadi. Masih di toilet, yang. Tunggu bentar ya."
Lisa mematikan telfonnya tanpa menjawab.
Tak lama kemudian, terdengar lagu "Hard To Say I'm Sorry" yang dipopulerkan oleh Chicago dari kejauhan. Semakin lama semakin terdengar jelas. Lisa menengok ke belakang. Mas Ray sedang berjalan ke arahnya. Lisa buru-buru melihat ke depan karena masih kesal. Lagu itu terdengar semakin jelas.
Couldn't stand to be kept away. Just for the day. From your body. Wouldn't want to be swept away. Far away from the one that I love.
Mas Ray duduk di samping Lisa lalu menyodorkan bunga gardenia berwarna putih. "Maaf ya. Hold me now. I'm sorry," ucapnya sembari membentangkan kedua tangannya.
Lisa terenyuh. Dia menerima bunga pemberian Mas Ray lalu memeluknya, "kenapa romantis sekali sih. Bisa ngasih bunga pagi-pagi gini."
Mas Ray mengelus punggung Lisa, "apapun aku usahain biar kamu nggak marah lagi, yang. Untung di Bali banyak toko bunga yang buka 24 jam dan ada yang mau ngirim ke sini. Maaf mas udah keterlaluan sama kamu. Mas ngaku salah tadi nggak mau nganterin kamu. Love you, sayang," mas Ray mencium kening Lisa.
"Makasih banyak bunga dan usahanya ya, sayang. Love you too," Lisa mencium pipi Mas Ray.
"Sunrise tuh, yang. Aku foto ya, yang? Kamu cium bunganya," ucap Mas Ray mengeluarkan ponselnya.
Lisa menuruti keinginan Mas Ray.
"Bagus nih, siluet. Bisa aku jadiin wallpaper," ucap Mas Ray menunjukkan hasil jepretannya.
"Nanti kirim semua foto kita selama di Bali yang," ucap Lisa.
"Oke. Yuk kita foto berdua."
Selama di Bali mereka mengabadikan banyak momen melalui ponsel Mas Ray. Sejak awal, dia selalu semangat mengabadikan semua momen kebersamaannya dengan Lisa. Saat kemarin dia cemburu, Lisa tahu kalau diam-diam Mas Ray memotretnya. Berbeda dengan Lisa yang tidak tertarik dengan jepretan tapi lebih menyukai merekam video untuk konten youtube-nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nanti mau ke mana lagi, yang?" tanya Mas Ray yang sedang bermain ponsel saat Lisa memeluknya.
"Siang ini kita istirahat di vila aja. Aku capek dan ngantuk. Nanti sore kalo nggak malem kita beli oleh-oleh."
"Beli oleh-oleh besok aja, yang. Kita kan flight siang. Pasti cukup mampir ke tempat oleh-oleh. Ntar sore aku pengin ajak kamu pergi mau nggak?"
"Ke mana?"
"Nyenengin kamu."
"Kasih tau dulu mau ke mana."
"Liat nanti aja deh."
"Ini hariku atau harimu sih?" ucap Lisa tertawa.
"Hari terakhir jangan cuma beli oleh-oleh. Kita buat istimewa hari ini. Nggak perlu ada hariku atau harimu. Hari kita berdua," Mas Ray tersenyum.
"Iya. Nurut calon suami. Awas aja nanti aku nggak seneng."
__ADS_1
"Nah, calon istri yang baik. Tenang. Kali ini, pasti bakal seneng banget. Kamu masih ada dres lagi kan, yang?"
"Masih lah. Bawa banyak banget. Demi kamu biar nggak kecantol sama bule."
"Cuma buat kamu hatiku tuh. Nggak akan buat cewek lain."
Mas Ray sangat suka melihat Lisa memakai dress. Katanya, siapapun pasti akan terpikat dengan Lisa saat memakai dress, sekalipun itu kakek-kakek. Tidak ada bedanya antara pujian dan mengobral kekasihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mas Ray menutup mata Lisa mengenakan blindfold miliknya. Saat turun dari mobil, perlahan menuntun Lisa menuju sebuah tempat. Memastikan setiap langkah perempuan yang dicintainya itu aman.
"Yang, duduk."
Lisa duduk. "Udah boleh aku lepas?" tanyanya.
"Jangan dulu," ucap Mas Ray sembari duduk di depan Lisa.
Lisa mengikuti perintah Mas Ray. Suara ombak dan angin semilir bisa Lisa rasakan.
"Buka yang."
Private cruise dengan taburan bunga dan beberapa lilin menyala di meja yang beralaskan kain putih. Langit jingga menambah indah suasana. "Endless Love" menjadi lagu pembuka penyanyi saat Lisa membuka mata.
Lisa masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Air matanya menetes dengan senyuman bahagia. Senja paling indah di hidupnya.
"Gimana sayang? Are you happy? Ini sudah cukup mengobati keinginanmu nonton sunset di luar vila kan?"
Lisa berjalan menuju Mas Ray, lalu memeluknya, "Lebih dari cukup, sayang. Aku cuma minta nonton sunset di cafe dan kamu buat semua lebih indah dari itu. I'm very happy. Love you more, baby."
Mas Ray membalas pelukan Lisa, "kamu bahagia aku ikut bahagia. Kamu terluka aku akan terluka lebih dalam. Love you more and more, baby. Yuk makan."
Lisa menganggukan kepala. Makanan pun datang silih berganti. Fine dining di kapal. Mas Ray selalu bisa membuatnya merasa bahagia berkali lipat.
"*D*inner di kapal ini, pasti reservasi dulu kan?" tanya Lisa.
"Sebelum berangkat ke Bali aku tuh udah reservasi yang lukis waktu itu sama ini. Misal hari ini kamu pengin belanja ya aku cancel."
"Pasti ini udah bayar duluan kan? Terus kalo batal, uangmu nggak balik dong, yang."
"Nggak masalah. Kan aku udah setuju hari ini harimu dan kemarin hariku. Balik lagi aku bahagia kalo kamu bahagia. Kayak tadi, aku sempet nggak mau ikut ke pantai sampe bikin kamu sedih, ya aku cari cara biar kamu bisa bahagia lagi. Aku harap ini juga mengobati rasa sedihmu pas aku nggak mau kamu ajak nongkrong di cafe sambil liat sunset."
"Sangat terobati, yang. Nanti kalo kita nikah, kalo ada rencana kasih tau aku dulu daripada main cancel aja. Jangan buang-buang duit, yang. Mending kamu kasih mentahnya aja itu lebih bikin aku bahagia."
"Kenapa sifat semua istri kayak gitu," ucap Mas Ray tertawa.
"Semua istri? Kamu udah nikah berapa kali sih?"
"Sharing sama temen-temen dong yang. Aku terus belajar jadi pria yang baik buat kamu dan mencoba belajar karakter perempuan demi kamu."
__ADS_1
"Uluh-uluh gombal tapi bikin makin sayang sama kamu."