
Dari hotel Mas Ray dan Lisa langsung menuju bandara diantar oleh kedua orang tuanya. Arumi yang pernah mereka tinggal di Bali, tidak masalah jika harus berpisah beberapa hari. Apalagi Mas Ray memberitahu anak kecil itu, kalau setelah mereka pulang dari Bintan bundanya akan tinggal bersamanya. Belum berangkat, Arumi sudah antusias menunggu kepulangan mereka.
"Kita semua cuma pengin oleh-oleh adik buat Arumi ya Ray," ucap ayah.
"Iya bener," jawab mama.
"Doakan saja ya," ucap Mas Ray tersenyum.
Tadi pagi mereka diserang habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Bertanya bagaimana malam pertama mereka. Lisa cuma tersenyum. Mas Ray berbohong. Dia menjawab asyik sembari tertawa. Lisa sebagai istri merasa bersalah. Suaminya selalu sabar menunggunya dalam ucapan namun dalam dirinya Lisa yakin tidak ada rasa sabar itu. Selama ini, saat mereka sedang berdua, Mas Ray selalu menggodanya. Mas Ray sepakat tidak akan melakukan **** sampai mereka menikah. Sekarang mereka sudah resmi dan Lisa tahu tidak ada Penyakit Menular Seksual (PMS) sama sekali di diri suaminya itu, ia malah belum siap menepati ucapannya.
"Kita pamit dulu ya," ucap Mas Ray mencium tangan ayah, bunda, papa, dan mama disusul oleh Lisa.
"Arumi yang baik sama nenek dan kakek ya. Bunda sama ayah pergi dulu," ucap Lisa mencium pipi Arumi.
"Bunda sama ayah cepet pulang ya," ucap Arumi.
"Iya nak," ucap Mas Ray mengusap rambut Arumi.
Perjalan kali ini akan memakan waktu banyak. Mereka harus transit terlebih dahulu ke Jakarta dan mendarat di Batam. Pesawat menuju Tanjung Pinang jam terbangnya lebih sedikit daripada ke Batam. Mas Ray bahagia sekali bisa menginjakkan kaki lagi di Batam walaupun cuma sebentar. Mereka harus menuju Pelabuhan Punggur dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit dari bandara. Jadwal penyebrangan Pelabuhan Pungur ke Pelabuhan Tanjung Uban Bintan terakhir pukul 6 malam. Setelah sampai dipelabuhan mereka akan menginap di Lagoi dengan waktu tempuh 45 menit dari pelabuhan.
Makanya, Mas Ray memesan tiket jam 8 pagi. Dia ingin sampai hotel langit masih dalam kondisi cerah. Mereka sepakat menjalani perjalanan panjang tersebut tanpa berkeluh kesah. Menikmati rasa lelah yang masih tersisa. Bahkan, rasa lelahnya akan bertambah dengan perjalanan yang panjang.
Pukul 11.45 mereka mendarat di Bandara Hang Nadim Batam.
"Yang pulangnya kita nginep di Batam yuk. Sehari atau dua hari. Mas ngajuin cuti kan seminggu, weekend nggak dihitung jadi kan ada sisa 3 hari buat kita istirahat di rumah," ucap Mas Ray.
"Nggak kasihan Arumi kita pergi hampir seminggu?"
"Sekali-kali yang. Ntar kita sampai rumah nggak bisa berduaan terus."
__ADS_1
"Iya udah deh."
"Toh, pasti papa dan mama berusaha buat Arumi lupa kalo aku lagi pergi kayak di Bali dulu."
"Iya. Ayo naik taxi. Perjalanan kita tinggal sedikit lagi," ucap Lisa.
Mereka sampai di Pelabuhan Punggur pukul 12.15. Lisa buru-buru memesan tiket karena kapal 12.30. Mas Ray mengurusi koper mereka. Tertinggal kapal yang mereka incar dari awal, bisa membuat mereka menunggu 1 jam lagi untuk menyebrang. Semua yang berjalan sesuai rencana mereka. Lisa berhasil memesan tiket kapal. Mereka langsung menaiki kapal karena sebentar lagi berangkat.
Lisa menyenderkan kepalanya di bahu Mas Ray. Angin semilir menyejukkan tubuh mereka yang penuh keringat. Mas Ray mencium rambut lepek Lisa tanpa rasa risi. 30 menit kapan berlayar, mereka sampai di Bintan.
"Sewa mobil apa taksi jadinya?" tanya Mas Ray. Area pelabuhan Tanjung Uban memang banyak taksi dan orang-orang yang menyewakan mobil.
"Mobil aja deh. Lisa tungguin disini. Mas cari yang cocok dengan kantong dan nyaman," ucap Lisa tersenyum.
"Dasar jiwa ibu-ibu, kalo bisa paling murah tapi kualitas mintas bagus," ucap Mas Ray.
"Tunggu sini ya. Jangan kemana-mana sampai mas balik."
"Iya yang."
Setelah 15 menit menunggu, Mas Ray kembali membawa mobil jazz hitam. Dia meminta Lisa masuk ke dalam mobil. Cuaca Bintan sama dengan Solo, panas. Dengan senang hati, Lisa meninggalkan suaminya menaruh koper sendiri di bagasi.
"Mas, ceritamu soal mas ngejar Lisa belum selesai," ucap Lisa saat mereka perjalanan ke Lagoi.
"Sampe apa sih? Mas udah lupa."
"Soal mas habis kepoin instagram Lisa dan nemu foto mama."
"Inget banget ya."
__ADS_1
"Inget lah, kamu bikin aku penasaran cuma ya sok cuek gitu aku waktu itu yang," ucap Lisa tertawa.
Mas Ray tertawa, "gengsi tapi cinta."
"Lebih tepatnya takut dekat dengan pria tapi cinta."
"Lebih tepatnya lagi gengsi dan takut tapi cinta."
"Iya deh. Buruan cerita."
"Nah setelah stalking kan mas jadi penasaran tuh, ya udah mas tanya mama bener nggak anaknya Tante Karin namanya Lisa. Eh bener dong. Disitu mas langsung ngomong penasaran sama Lisa. Pengin tau lebih banyak lagi tentang Lisa. Mama bantu menyampaikan niat mas ke ayah dan bunda. Eh mereka support mas. Grup lamaran tuh udah ada dari lama yang. Ya buat ngasih tau kamu aktivitas apa aja dan lain-lain."
"Wah jadi malu ada mama dan papa tau tentang aku. Kamu seserius itu sih yang, kita belum ketemu lagi secara langsung. Itu berapa lama setelah mas cerai?"
"Udah setengah tahun lebih yang. Mas tuh walaupun ikhlas cerai, sempet stres banget. Kepikiran bisa nggak jadi orang tua Arumi terus sempet takut buat memulai hubungan lagi. Ya, kaya kamu yang trauma gitu yang. Tapi pas ngeliat kamu bisa-bisanya mas jadi happy, ada keyakinan buat cari tau tentang kamu lebih dalam."
Lisa menyandarkan kepalanya di bahu Mas Ray, "terus kapan mas ada pikiran pengin pindah Solo biar dekat sama Lisa?"
"Sebenernya setelah cerai mama dan papa pengin kami balik ke Solo lagi. Mikirnya kalo masih di Batam bakal kepikiran sama mantan. Kebetulan papa ada tanah di Solo dan mereka minta mas buat bangun aja jadi klinik. Mas nggak mau. Yang sakit hati mas jadi nggak perlu ngehindar dari Batam. Eh pas tau ada puteri Solo yang super menarik dan cantik, mas langsung pengin mendirikan klinik. Bahkan mas sampe lanjut S2 karena pengin jadi dosenmu dan deket sama kamu. Eh beneran terjadi. Emang jodoh nggak akan kemana," ucap Mas Ray mencium kening Lisa.
"Terbayarkan ya. Tapi mas happy kan menjalankan kerjaan yang sekarang?"
"Kan tetep aja mas dokter. Bahkan di klinik pun mas tetep pegang pasien walaupun nggak sesering dulu pas kerja di rumah sakit. Jadi dosen pun mas happy karena bisa berbagi ilmu walaupun sekarang nggak ada kamu lagi."
"Lisa seneng mas ngelakuin semua demi Lisa asalkan mas juga bahagia melakukan itu. Kalo emang suatu hari nggak nyaman jadi dosen yang resign aja. Kita bisa bikin cabang klinik atau mas bisa kerja juga di rumah sakit."
"Iya istriku. Makasih ya udah perhatian.
Jam 3 sore mereka sampai di vila. Sedikit terlambat dari perkiraan waktu. Sempat berhenti untuk makan sekalian salat. Vila dengan nuansa bulan madu. Taburan bunga di kamar dan bathub. Lisa, malam ini, apakah bunga itu sekadar penghias ruangan biasa seperti semalam?
__ADS_1