Lamora

Lamora
Perayaan


__ADS_3

Selesai perayaan sidang dan ulang tahun, Alika dan Maya langsung pulang. Lisa mengantat pulang Arumi dan Bi Tinah. Bi Tinah pengasuh Arumi itu ikut dan menunggu di ruangan Mas Ray demi menemani Arumi selama di kampus. Kasihan jika mereka harus menunggu Mas Ray sampai pulang kerja, Lisa mengusulkan diri mengantar mereka pulang.


Sampai di rumah karangan bunga ucapan selamat ulang tahun dan gelar baru dari tim Star Cafe menghiasi rumahnya. Ayah yang libur kerja dan bunda menyambut kehadiran Lisa dengan buket bunga dan kue ulang tahun. Tiga kue ulang tahun dia dapatkan hari ini. Kiriman bunga dari tim star cafe, subscriber, keluarga Mas Ray, dan beberapa partner kerjanya telah memenuhi kamar Lisa.


"Lisa, mau buat acara makan malam nggak?" tanya bunda saat masuk ke kamarnya.


"Nggak usah deh bun. Nanti malam mau tidur aja. Beberapa hari ini bunda tau sendiri Lisa kurang tidur gara-gara skripsi," ucap Lisa tersenyum.


"Oke nak," ucap Bunda lalu meninggalkan kamar Lisa.


Lisa berbaring sembari memainkan ponselnya. Ada pesan dari Mas Ray.


Mas Ray


Nanti jam 6 malam, mas jemput kamu ya? Dandan yang cantik. Kalau bisa pakai dress juga. Mas udah reservasi tempat dan udah bayar, jadi kamu nggak bisa nolak, oke?


^^^Lisa^^^


^^^Ih kenapa nggak ngomong dulu. Bunda nawarin Lisa bikin acara makan malam aja aku tolak karena pengin istirahat.^^^


Mas Ray


Yaudah mas bakal chat Tante Lala dan Om Bobby, minta izin mau ajak kamu pergi. Sekarang kamu tidur. Jam 6 malam mas jemput.


^^^Lisa^^^


^^^Bodo amat.^^^


Lisa akan berbuat sesuka hati. Toh, sekarang Mas Ray bukan kekasihnya. Mau reservasi habis milyaran pun salah dia sendiri mau mengeluarkan duit tanpa tahu orang yang dia ajak bisa atau tidak terlebih dahulu.


"Lisa," teriak ayah dari luar kamar.


"Iya yah?"


"Kamu sekarang tidur ya nak. Mas Ray nanti malam mau ngajak kamu pergi."


"Lisa capek yah. Ayah sama bunda aja yang ikut Mas Ray," ucap Lisa kesal.

__ADS_1


"Kan Lisa yang diajak. Mas Ray ngelakuin ini juga demi kamu seneng. Tidur dulu. Nanti ayah atau bunda bangunin."


Langkah kaki ayah menjauh dari kamarnya. Orang tuanya selalu mendukung Mas Ray berduaan dengannya. Mau sengaja tidur sampai malam, mengunci kamar, dan sebagainya, orang tuanya akan membantu pria itu untuk membuat Lisa ikut dengannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul setengah 5 sore bunda sudah ribut meminta Lisa yang baru tertidur sejam untuk mandi. Dengan berat hati, Lisa beranjak dari kasur. Setelah mandi, dia memilih dress hitam dengan lengan terbuka. Rambutnya ia biarkan terurai. Malas ber-make up tebal, Lisa merias wajahnya senatural mungkin.


Tepat pukul 6 malam, Mas Ray menjemputnya. Dia meminta Lisa menutup mata dengan kain. Lisa yang enggan berdebat, menuruti permintaan Mas Ray. Entah kemana pria itu akan membawanya.


"Lisa, kamu bawa baju ganti kan?"


"Ini mau ngapain sih?"


"Menginap di suatu tempat."


"Jauh dong?"


"Dua jam lagi sampai."


"Mas jangan gila. Satu, mas nyiksa Lisa kalau tutup mata sampai dua jam. Dua, Lisa nggak mau tidur pakai gaun. Tiga, Lisa udah lapar." Lisa mengomel karena kesal Mas Ray membuat rencana seenaknya sendiri.


"Aku buka," ucap Lisa sembari memegang pengikat di bagian belakang kepalanya.


Mas Ray memegang tangan Lisa sembari menyetir, "Lisa, jangan bikin konsentrasi menyetir mas buyar ya. Kita bisa kecelakaan. Mas mohon tetep tutup mata. Nggak ada 2 jam. Bentar lagi juga sampe," ucap Mas Ray tertawa.


"Makanya nggak usah ngeselin. Bilang aja deket."


"Iya iya. Maaf."


Mereka sampai di area parkir. Mas Ray menuntun jalan Lisa. Mereka menaiki lift untuk sampai ke tempat surprise Mas Ray. Tiba di tempat tersebut, Mas Ray meminta Lisa membuka kain penutup mata.


"Buka Lis," ujarnya.


Lisa membuka penutup matanya. Mas Ray berdiri di depannya membawa bunga dan tersenyum ke arahnya.


"Kamu sewa ini rooftop ini khusus buat kita berdua?" tanya Lisa sambila celingak-celinguk.

__ADS_1


"Iya. Selamat ulang tahun dan selamat atas gelar barumu. Nggak perlu ada kue, kita makan romantis berdua aja ya," ucap Mas Ray tertawa.


"Nggak ada kue gak masalah. Itu pegang bunga buat kamu bawa aja?" tanya Lisa tertawa.


Mas Ray salah tingkah sembari tertawa, "Love you more. Mas bukan pria sempurna tapi mas selalu berusaha buat mencintai dan menjadikan Lisa salah satu perempuan paling bahagia di dunia ini," ucapnya memberikan bunga gardenia berwarna putih tersebut kepada Lisa. Mas Ray sangat suka memberikan bunga gardenia berwarna putih. Bagi Lisa apapun jenis bunganya, semua bunga itu indah.


"Makasih ya mas," ucap Lisa menerima bunga pemberian Mas Ray.


Mereka pun duduk untuk menikmati santapan yang disajikan pelayan. Pemadangan dari atas Hotel Alil gemerlap lampu Kota Solo. Hotel ini termasuk salah satu hotel mewah. Bagian rooftop tempat mereka berada terdapat kolam renang yang cukup luas. Kedua kalinya Mas Ray mengajaknya makan dengan dana yang banyak.


"Ko ada plastik." Lisa terheran-heran saat memotong kue menemukan plastik berisikan kertas.


Mas Ray tersenyum, "mas bukain kalau takut kotor."


"Apa ini?"


"Buka aja. Nanti juga tau," ucap Mas Ray senyumnya semakin melebar.


Lisa membuka plastik tersebut. Membaca kertas yang dilipat.


Hei Lisa sayang, **m**alam ini malam yang indah. Mas mau bilang, "Lisa mau nggak menikah dengan mas?" Kalau mau tolong habis makan malam kamu datang ke kamar 710 ya? Tenang. Mas nggak akan ngapa-ngapain kamu kok. Kalau nggak mau bisa ambil kunci mobil mas di resepsionis. Mas bakal tunggu di sini selama 15 menit buat ngasih kamu waktu mau pilih yang mana.


"Aku habisin dulu ya kuenya. Masih ada makanan lagi juga kan?" tanya Lisa sambil makan kuenya.


"Iya makan dulu aja. Aku jadi tegang nih," ucap Mas Ray yang gugup.


Lisa mengabaikan Mas Ray yang gugup dan menikmati makanannya sampai habis. Makanan terakhir, suasana dingin bisa membuat pria itu keluar keringat. Dia benar-benar gugup menunggu sebuah kepastian dari Lisa.


"Kamar 710 atau pulang kan?" tanya Lisa memastikan.


"Iya. Kalau malam ini kamu tolak mas dan beneran pindah ke luar kota, tolong tetep kabari mas ya."


"Kan kalo Lisa tolak mas juga harus ngambil mobil ke rumah Lisa. Nah kalo Lisa pengin pulang naik ojol, tenang aja. keluarga mas udah kayak keluarga Lisa sendiri. Pasti Lisa bakal pamitan," ucap Lisa tersenyum.


"Yaudah. Mas siap apapun jawabanmu."


"Aku pergi dulu ya."

__ADS_1


Mas Ray mengangguk. Lisa pergi dengan membawa bunga pemberian Mas Ray. Lisa memutuskan akan pulang saja. Dia mencintai Mas Ray namun untuk menikah dengan pria itu tidak bisa dia lakukan. Ia takut bayang-bayang masa lalu, takut menyakiti orang lain, ataupun mengurung diri tiap kali sedih mengganggu kehidupan Mas Ray. Dia tak ingin membawa beban untuk pria itu lagi. Keputusannya untuk pindah dari Solo sudah bulat.


__ADS_2