Lamora

Lamora
Perkara Test Pack


__ADS_3

"Yang, kamu bikin janji ulang sama developer setelah ulang tahun Arumi aja."


Sudah dua kali ini Mas Ray membatalkan janji bertemu. Pertama karena dia harus pergi ke Jakarta. Dia membuat janji ulang hari ini tapi Lisa menolak karena ingin mengurus keperluan ulang tahun Arumi yang akan berlangsung lima hari lagi.


"Iya," ucap Mas Ray mengalah.


"Ngambek. Nggak seru," ucap Lisa kesal melihat wajah kecewa Mas Ray.


"Nggak kok," ucap Mas Ray tersenyum sambil memeluk istrinya. Kini Arumi tidurnya di pojok tembok.


Lisa hanya diam.


"Kok jadi kamu yang ngambek yang," ucap Mas Ray mencium pipi Lisa, "Mau berangkat jam berapa? Anakmu tidurnya masih pules tuh," sambungnya.


Lisa melepas pelukan Mas Ray lalu memeluk Arumi yang tidur di sampingnya, "Arumi sayang, bangun yuk. Katanya mau beli gaun princess," ucap Lisa sembari mengusap rambut Arumi.


"Yang, jangan ngambek dong. Aku nggak ngambek tadi tuh," ucap Mas Ray memeluk Lisa lagi.


Arumi cukup mudah dibangunkan. Dia bangun meminta susu. Lisa melepas pelukan Mas Ray lagi dan membuatkan anaknya itu susu. Mas Ray membuntutinya sambil terus membujuknya agar tidak ngambek lagi.


Sampai mereka pergi ke toko butik, Lisa tidak banyak menanggapi ucapan Mas Ray. Akhir-akhir ini mood-nya sering banget berubah. Kemarin saat Mas Ray kerja dan Arumi sekolah, dia menonton drama korea, bisa-bisa dia menangis hanya karena pemeran wanita terjatuh dari sepeda.


"Mau kemana lagi?" tanya Mas Ray saat keluar toko.


"Pulang."


"Gini aja? Tau gitu aku nggak batalin janji sama developer," ucap Mas Ray kesal.


"Ih ngeselin amat sih."


"Maaf ya. Mas kesel. Aku batalin janji sama orang tuh kira bakal pesen kue, ke tempat dekorasi pesta, pesen makanan, cari badut pesta, dan lain-lain," ucap Mas Ray tersenyum mengusap rambutnya.


Semua keperluan yang Mas Ray sebutkan sudah Lisa pesan lewat chat. Termasuk snack box dan souvenir acara ulang tahun Arumi.


"Arumi nanti malem temenin bunda bobok di kamar samping ya?"


"Kamar Arumi kenapa bun emangnya?"


"Biar buat ayahmu. Bunda lagi pengen tidur sama Arumi aja," ucap Lisa tersenyum mencium pipi anaknya.


"Iya bunda. Nanti malem Arumi tidur sama bunda."


"Makasih nak," ucap Lisa mengusap rambut Arumi.


"Yang, masalah kecil kenapa kamu besar-besarin," ucap Mas Ray memasang wajah memelas.


Lisa hanya diam.


"Oke. Terserah kamu. Mas nggak akan ganggu kamu sampai suasana hatimu membaik," ucap Mas Ray tersenyum sembari mengusap rambut Lisa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mama dan papa yang tahu Lisa dan Mas Ray bertengkar tidak terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Membiarkan Lisa tidur terpisah dengan Mas Ray. Mereka hanya menasehati Mas Ray untuk meminta maaf kepada Lisa saat makan malam tadi. Tahu orang tuanya khawatir, Mas Ray berusaha meyakinkan mereka bahwa hubungannya dengan Lisa akan baik-baik saja.


Arumi sudah tidur. Lisa tidak bisa tidur. Badannya terasa capek dan merasakan kram bagian perut.


"Efek mau haid gini amat. Baikan aja deh. Biar bisa Mas Ray pijiti," gumam Lisa.


Dia berjalan menuju kamar suaminya itu.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


"Mas, udah tidur?" ucap Lisa dengan suara agak keras.


"Belum yang. Masuk aja," ucap Mas Ray.


Lisa membuka pintu kamar. Suaminya yang menonton film itu tersenyum ke arahnya.


"Kenapa?" tanya suaminya.


"Arumi pindah sini aja deh. Kita tidur bareng."


"Nah gitu dong," Mas Ray beranjak dari kasur. Semangat memindahkan Arumi dan tidur bertiga.


Lisa tiduran di kasur sembari menonton film. Menunggu suaminya datang membawa Arumi. Lalu bakal dia suruh memijatinya.


"Kenapa berubah pikiran yang?" tanya Mas Ray menaruh Arumi di samping Lisa.


"Pijiti dong. Badan Lisa pegel semua rasanya," ucap Lisa tersenyum.


"Dasar," ucap Mas Ray sembari duduk di pinggiran kasur dan mulai memijat kaki Lisa.


"Sampe aku tidur ya," ucap Lisa.


"Iya. Buruan tidur."


Lisa pun terlelap dalam pijatan suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya, saat bangun untuk salah subuh, Lisa buang air kecil. Dia melihat celananya ada bercak coklat kemerahan.


"Yang, ambilin pembalut dong," teriak Lisa dari kamar mandi.


"Dimana?"


"Laci bawah televisi. Cari aja di sana," ucap Lisa.


Mas Ray mengetuk pintu kamar mandi. Lisa mengambil pembalut tersebut dan segera memakainya.


"Aktivitas kita libur dong yang," ucap Mas Ray saat melihat Lisa keluar dari kamar mandi.


"Nggak ada seminggu," ucap Lisa tersenyum, "ufah salat kan?" sambungnya.


"Udah kok. Tau kamu haid langsung salat sendiri."


Lisa membaringkan tubuhnya di kasur sembari memegang ponselnya. Dia buka kalender menstruasinya. "Telat 11 hari dan hari keluar bercak aja. Jangan-jangan hamil," batinnya.


"Kamu lagi mikirin apa sih?" ucap Mas Ray melihat Lisa melamun.


"Gapapa," ucap Lisa tersenyum, "Yuk tidur lagi. Mumpung libur," sambungnya.


Sekitar jam 8 pagi, Lisa bangun bercak darah di pembalut lebih sedikit dari tadi subuh. Lisa mengganti dengan pembalut baru untuk mengecek perubahannya. Siang hari ia cek lagi, bercak tersebut sudah hilang.


Lisa penasaran memang hamil atau tidak tapi dia belum siap melakukan test pack ataupun periksa karena takut hasilnya akan mengecewakan.


"Kok kamu mandi siang-siang?" tanya Mas Ray.


Lisa memutuskan mandi besar karena masih ada waktu melaksanakan Salat Dzuhur.

__ADS_1


"Mau salat. Ternyata darahnya berhenti. Arumi kamu tinggal di bawah sendiri?" ucap Lisa.


"Ditemani papa kok. Sebelumnya pernah kayak gini?" tanya Mas Ray.


"Sial. Punya suami dokter kandungan masalah kayak gini pasti bakal kepo," batin Lisa.


"Pernah kok," ucap Lisa berbohong.


"Kapan?"


"Kenapa mas kepo banget sih. Udah aku mau salat," ucap Lisa kesal.


Selesai salat Mas Ray masih menyerangnya.


"Lama haidmu biasanya berapa hari yang?"


"6 hari."


"Kamu haid terakhir tanggal berapa mulainya? Nggak yang hari ini. Sebelumnya."


"Mas, lagi anamnesis Lisa? Detail amat," ucap Lisa. Dia tahu suaminya mulai curiga. Pasiennya di awal kehamilan pasti ada yang mengalami kondisi sama seperti Lisa.


"Jawab aja yang. Setau mas, kita menikah sebulan ini kamu belum haid sama sekali deh. Baru tadi aja," ucap Mas Ray.


"Mas kenapa sih? Mau Lisa ngambek lagi?" ucap Lisa tersenyum.


"Iya deh."


Malam harinya, Mas Ray izin keluar sebentar membeli jajan untuk Arumi. Pulang-pulang, dia membawa dua kantong plastik.


"Ini jajan buat Arumi bawa ke sekolah besok ya?" ucap Mas Ray menaruh jajan Arumi ke dalam tas.


"Makasih ayah. Ada coklat nggak?" tanya Arumi yang sedang rebahan sembari menonton kartun di televisi.


"Nggak ada," ucap Mas Ray, "Nih buat kamu yang," sambungnya memberikan plastik kepada Lisa.


Lisa mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk di kasur. Meletakkan ponselnya lalu menerima plastik pemberian Mas Ray. Dia buka isinya. Tiga buah test pack.


Mas Ray duduk disamping Lisa, "Kalo emang telat haid, besok bangun tidur kamu coba tes ya? Semisal positif kita bisa periksa. Lebih cepat tau lebih baik yang. Kita tau kondisinya dan bisa menjaganya," ucapnya.


Test pack memang lebih akurat dilakukan saat pagi hari karena hormon HCG yang merupakan salah satu hormon kehamilan yang dibuat oleh plasenta lebih meningkat.


"Kalau hasilnya negatif gimana?"


Mas Ray memeluk istrinya, "Ga masalah. Mas tuh santai soal momongan."


"Lisa tau mas ngomong gitu cuma buat menenangkan Lisa. Pasti harapan mas positif. Lisa belum siap kalo hasilnya nggak sesuai ekspektasi kita," ucap Lisa memberikan plastik itu kepada suaminya.


"Yaudah, mas simpen di laci sini," ucap Mas Ray memasukkan test pack tersebut ke laci meja dekat kasur. "Mas nggak maksa kok. Kalo kamu udah siap tes, ambil aja," ucap Mas Ray tersenyum.


Lisa tidak menjawab. Dia merebahkan dirinya di kasur. Suaminya itu ikut merebahkan diri lalu memeluknya.


"Arumi, nonton kartunnya lanjut besok pulang sekolah ya?" ucap Lisa.


"Iya bun. Mau susu," ucap Arumi.


"Aku aja yang buatin. Kamu tidur aja," ujar Mas Ray melepas pelukan lalu pergi membuatkan susu Arumi.


Lisa mematikan televisi. Memeluk anaknya yang sedang menunggu susu buatan ayahnya. Tidak ingin terlalu pusing soal test pack. Dia menenangkan pikiran sembari memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2