Lamora

Lamora
Sampai Bertemu Lagi Jogja


__ADS_3

Jam 02.00 dini hari Lisa terbangun. Kepalanya terasa berat. Memegang dahinya dengan telapak tangan ternyata panas. Lisa mencoba bangun untuk mengambil obat pamol yang selalu dia bawa di tas. Namun tidak tahan dengan pusingnya.


"Mas Ray," panggilnya pelan.


Pria itu masih belum bangun.


"Mas Ray," Lisa menambah volume suaranya.


"Iya?" ujar Mas Ray setengah sadar.


"Minta tolong ambilkan obat di tasku, mas," ucap Lisa.


Mas Ray langsung membuka matanya, "sakit?"


"Iya pusing. Aku cek pakek telapak tangan juga demam."


"Kamu bawa obat apa?" tanyanya sembari mencari tas Lisa.


"Pamol mas. Tolong ambilkan. Di situ tasnya," ucap Lisa menunjuk tasnya.


Mas Ray mencari obat di tas Lisa dan membawa botol air putih.


"Ini," ucap Mas Ray memberikan 1 tablet obat.


Lisa mencoba duduk dibantu dengan Mas Ray. Lalu menelan pil tersebut. Mas Ray membuka botol dan menyerahkan kepada Lisa.


"Tidur lagi ya. Aku ambil handuk dan air hangat dulu buat kompres kamu," ucap Mas Ray membantu Lisa berbaring kembali.


Lisa hanya mengangguk dan tidur kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya, saat Lisa membuka mata ada sosok yang duduk di sampingnya sembari memegang tangannya.


"Pagi," ucap Mas Ray.


"Nggak tidur?" tanya Lisa sambil memegang dahinya.


"Nggak. Udah nggak panas. Aku kompres semalaman. Masih pusing?


"Udah sehat nih kayaknya," ucap Lisa tersenyum.


"Berkat mas rawat semalaman kan ini?" ucap Mas Ray sambil mencium kening Lisa.


"Massss," ucap Lisa mencubit tangan Mas Ray.


"Biar jadi yang pertama cium kening kamu. Aku bahagia banget dua hari ini bisa liat kamu pagi, siang, sore, dan malam. Kalo mas mel....," ucapan Mas Ray terpotong oleh Arumi.


"Ayah, kenapa bunda tidur di sana?"


"Bunda sakit sayang. Arumi bentar ya, ayah cuci tangan terus bikin susu untuk Arumi," Mas Ray melepas tangan Lisa dan menuju ke kamar mandi. Kebiasaan Arumi tiap bangun tidur adalah minum susu.


"Bunda sakit. Jangan sakit bunda," Arumi menangis berlari ke arah Lisa.


"Bunda udah sembuh kok. Arumi nggak perlu nangis lagi kan bunda udah sembuh," ucap Lisa.


Bunda nggak boleh sakit lagi ya. Katanya kalo sakit bisa sampe meninggal."


"Nggak sayang. Semua manusia bisa meninggal kapan saja. Mau sakit atau nggak."


"Arumi, lebih sayang sama bunda ya daripada ayah. Kalo ayah sakit, Arumi cuma bilang, 'cepet sembuh ayah,' udah gitu aja. Ini khawatir banget sama bunda," ucap Mas Ray sembari membuatkan Arumi susu.


"Arumi kan baru ketemu bunda. Jadi Arumi mau bunda terus menemani Arumi."

__ADS_1


Mas Ray dan Lisa mendengar ucapan Arumi langsung terenyuh. "Kenapa ada anak kecil yang memiliki ingatan buruk seperti aku Tuhan?" ucap Lisa dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang siang, mereka check out dari hotel lalu pergi ke pusat oleh-oleh. Mas Ray membelikan buah tangan untuk rekan kerja dan orang tuanya yang sudah pesan ingin dibawakan bakpia basah rasa keju. Lisa membeli untuk teman kampusnya dan keluarga Alika karena sering dia mintai tolong untuk mengecek Star Cafe di luar kota.


Sesampainya di dalam mobil Mas Ray bertanya, "Lisa, beneran udah sembuh kan?"


"Iya mas."


"Keberatan nggak kalo kita jalan-jalan dulu sebelum pulang?"


"Mas nggak capek? Semalam kan bergadang."


"Nggak kok"


"Oke. Aku juga kasihan lihat Arumi udah dua hari di Jogja tapi cuma ke cafeku aja."


"Lisa ada rekomendasi tempat nggak?"


"Mau ke Gembira Loka aja?" tanya Lisa.


"Kebun binatang ya?"


"Iya, kebun binatang. Kalo nggak taman pintar juga cocok buat Arumi."


"Taman pintar itu apa?"


"Tempat rekreasi edukasi buat anak-anak. Macem-macem sih ada planetarium, lukis kaos, gerabah, dan masih banyak lagi. Lisa nggak hafal."


"Kebun binatang aja kalo gitu. Dia belum pernah ke kebun binatang."


"Arumi mau lihat binatang nggak?" tanya Lisa ke Arumi yang sedang bermain barbienya.


"Pasti ada kalo gajah. Nanti Arumi belajar mengenal hewan lebih banyak lagi ya. Jangan cuma gajah aja yang kamu suka dan inget," timpal Mas Ray.


"Iya, Arumi. Banyak sekali hewan yang akan Arumi lihat hari ini. Nanti kalo bunda tanya Arumi bisa jawab, bunda belikan boneka ya," ucap Lisa.


Mas Ray mengusap rambut Lisa, "bunda sayang sekali sama Arumi ya."


"Kan semua bunda sayang anaknya, ayah. Siap bunda, Arumi nggak sabar."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka sampai di kebun binatang Gembira Loka yang jaraknya tidak jauh dari hotel. Lisa menggendong Arumi. Mas Ray mengantre tiket. Mereka datang saat weekend sehingga banyak sekali wisatawan yang sedang berlibur.


"Udah dapet tiketnya. Arumi ayah gendong yuk?" ujar Mas Ray.


"Arumi pengin digendong bunda," jawab Arumi.


"Gapapa, mas. Ayo masuk."


Kebun binatang dengan luas kurang lebih 22 hektar ini memiliki banyak sekali koleksi satwa. Fasilitasnya lengkap bahkan terdapat museum dan permainan seperti ATV dan skuter air.


Saat memasuki area binatang Lisa menjelaskan kepada Arumi, "Arumi, ini namanya kuda nil. Dia termasuk hewan berbahaya Arumi. Nah itu ada yang di air nah sebetulnya dia bukan berenang tapi suka berendam karena tubuhnya butuh kehangatan."


"Kaya ayah yang butuh kehangatan dari bunda," ujar Mas Ray melirik ke arah Lisa sambil tersenyum.


"Lagi kelas hewan bukan kelas gombal,"


"Kalo itu namanya apa? Kok orang-orang bisa menaikinya," Arumi menunjuk unta.


"Itu unta namanya, nak," jawab Mas Ray.

__ADS_1


"Emang bisa dinaiki sama seperti gajah. Arumi mau naik?" tanya Lisa.


"Nggak mau bunda. Arumi takut."


"Arumi, gantian ayah yang gendong ya? Kasihan bunda nak," ucap Mas Ray meminta Arumi dari gendongan Lisa.


"Arumi takut ya? Gapapa. Nanti kalo Arumi ke kebun binatang lagi, pasti berani. Kan udah kenal unta sebelumnya dan bukan hewan berbahaya," ucap Lisa.


"Kamu sering ngomong takut padahal udah sering ketemu mas, brarti selama ini kamu anggap mas berbahaya?" tanya Mas Ray.


"Bawel," Lisa menepuk pundak Mas Ray agak keras.


"Iya iya. Maaf," ucapnya menggandeng tangan Lisa.


Setelah berjalan cukup jauh, mereka sampai pada satwa gajah. Hewan kesukaan Arumi.


"Nah Arumi suka gajah kan? Bunda mau tanya boleh?"


"Ini dapet hadiah ya bunda?"


"Iya. Tapi bukan soal hadiahnya tapi soal bagaimana Arumi mencoba menjawab walaupun itu salah."


"Mas terharu melihat tingkahmu ke Arumi," ucap Mas Ray berbisik ke telinga Lisa.


"Iya bunda boleh," ucap Arumi.


Lisa tak menggubris ucapan Mas Ray. Dia bertanya pada Arumi, "Arumi tau kan itu namanya belalai?"


"Iya bunda."


"Kenapa gajah belalainya panjang?" tanya Lisa.


"Kasih tau Arumi dong, yah."


"Tadi kan bunda udah bilang nggak masalah bener atau salah. Arumi berani menjawab pasti bunda belikan boneka buat kamu," ucap Mas Ray.


"Bunda dan ayah tunggu Arumi berpikir. Diamati dulu kira-kira kenapa," ucap Lisa.


"Gajah badannya besar jadi belalainya panjang," ucap Arumi nggak lama kemudian.


"Pinter Arumi sudah mau menjawab," ucap Lisa mengelus rambut Arumi, "lebih tepatnya, Arumi lihat itu namanya tanduk. Nah semakin gajah tumbuh besar, tanduk juga akan besar sayang. Coba kalo belalainya pendek dan tanduknya besar pasti gajah akan kesulitan makan. Jadi belalai gajah panjang. Arumi mengerti maksud bunda, nak?"


"Paham bunda."


"Nah sekarang Arumi jadi tau kan. Berani menjawab belum tentu salah nak. Walaupun salah pasti bakal belajar dari kesalahan dan akan tau yang benar itu mana. Ayo kita beli boneka," ajak Lisa.


"Iya bunda. Nanti kalo di sekolah tiap kali bu guru tanya, Arumi akan menjawab."


Mas Ray tersenyum melihat tingkah Lisa. Mereka mampir ke toko souvenir membelikan Arumi boneka. Arumi memilih boneka gajah dan unta. Ya, unta berhasil menyamakan kedudukan gajah di dunia hewan Arumi.


"Arumi seneng kan?" tanya Mas Ray.


"Iya ayah. Kapan-kapan kita liburan lagi ya."


"Bunda mau?" tanya Mas Ray ke Lisa.


"Iya. Nanti kalo bunda ada waktu kosong, jalan-jalan lagi ya," ucap Lisa tersenyum ke Arumi.


"Horeee," teriak Arumi.


Seusai dari kebun binatang mereka langsung kembali ke Solo. 2 jam perjalanan berjalan lancar. Tidak terpotong macet sama sekali. Jalanan mendukung mereka untuk pulang.


Jogja membuat Lisa menyadari bahwa dia benar-benar jatuh cinta walaupun rasa takut masih menghinggapinya. Jogja membuat Lisa belajar memahammi anak kecil yang tidak bersalah atas perceraian orang tuanya agar selalu bahagia.

__ADS_1


__ADS_2