Lamora

Lamora
Bintang Penyelamat


__ADS_3

Tepat dua hari sebelum UAS, skripsi Lisa sudah kelar. Mas Ray menyarankan sidang skripsi dilakukan setelah UAS saja. Ide yang bagus. Pikiran Lisa tidak terpecah belah antara skripsi dan UAS. Lisa masih tidak percaya mampu mengerjakan skripsi dalam waktu singkat. Jika sidang skripsi yang akan dilaksanakan minggu depan berjalan lancar, dia lulus dalam waktu 3,5 tahun.


Menjelang sidang, banyak sekali yang harus dilakukan Lisa. Mulai dari membuat undangan sidang untuk para penguji, meng-upload file skripsi, dan menyiapkan file presentasi. Mengirim undangan dan meng-upload skripsi sudah ia lakukan. Tinggal membuat file presentasi saja yang belum selesai.


"Bundaaaa, ini Arumi." Terdengar suara Arumi berteriak dari luar kamar.


"Arumi ngapain ke sini," ucap Lisa sembari berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


Mas Ray dan Arumi tertawa. Mereka membawa tas yang Lisa yakini mereka akan menginap di kamarnya malam ini.


"Arumi kangen, seminggu kamu nggak nginep di rumah kami. Hari ini gantian ya, kami yang tidur di kamar bunda," ucap Mas Ray.


"Mas, tidur di kamar tamu ya? Kasur Lisa cuma muat sama Arumi aja," ucap Lisa.


"Nanti kita gak bisa ngobrolin skripsi dong."


"Alesan. Ngomong aja pengin mandangin aku pas tidur sama bangun tidur. Yuk Arumi masuk," ucap Lisa menggendong Arumi ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu.


"Lisaaaa, aku bilangin ke Tante Lala ya kalo gak boleh tidur kamarmu."


Lisa tak menggubris omongan Mas Ray. Tidur di sofa Mas Ray tidak akan nyaman. Kakinya yang panjang akan tertekuk. Toh mengobrol tentang skripsi bisa dilakukan di luar kamar.


"Bunda kasihan ayah," ucap Arumi.


"Kasur bunda nggak sebesar kasur Arumi nak. Kasihan ayah kan kalo tidur di sofa," ucap Lisa menunjuk sofanya.


"Ya udah. Bunda sama ayah tidur berdua. Arumi tidur di sofa."


Lisa tersenyum, "bunda kan janjinya tidur sama Arumi. Jadi, bunda cuma mau tidur sama Ar..."


Perkataan Lisa terputus oleh ketukan pintu kamarnya.


Tok... Tok... Tok...


"Lisaa, buka pintunya," ucap Bunda.


"Iya bun, bentar." Lisa meninggalkan Arumi di kasur dan membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Terlihat Mas Ray sedang menggotong kasur. "Bawa masuk Ray," ucap bunda.


"Bunda nggak mau. Sempit bunda kamar Lisa nanti," ucap Lisa sembari menghalangi langkah Mas Ray agar tidak masuk ke kamarnya.


"Kamar segede itu kamu bilang sempit? Lagian, Kak Ratih pernah cerita sama bunda, kalian bertiga biasanya tidur satu kamar. Nggak usah malu sama bunda," ucap bunda sembari menyingkirkan tubuh Lisa yang menghalangi Mas Ray.


Mas Ray masuk membawa kasur diikuti dengan bunda dan Lisa.


"Puas-puasin tidur sekamar sama Lisa ya mas. Setelah aku lulus bakal cabut dari kota ini," ucap Lisa tersenyum.


Mas Ray menaruh kasur yang dia bawa di dekat ranjang Lisa. "Lisa lulus mau pindah kemana tan?" tanya Mas Ray.


"Ngancem kamu doang Ray. Mana berani dia ninggalin tante sama om," ucap bunda.


"Minggu depan Lisa sidang. Habis itu, Lisa beneran bakal pindah kota bun. Wisuda pulang sehari terus bakal menetap di kota itu."


"Nggak usah dipikirin Ray. Udah tidur aja," ucap bunda ke Mas Ray.


Mas Ray mengangguk walaupun raut wajahnya terlihat panik. Bunda menutup pintu kamar.


"Bunda mau ninggalin Arumi ya?" ucap Arumi dengan kondisi air matanya merembes.


Arumi mengangguk, "iya bunda."


"Yuk tidur," ucap Lisa menidurkan Arumi.


"Lisa, Arumi tidur kita bicara berdua ya," ucap Mas Ray.


Lisa tidak merespons. Dia menyesal keceplosan bicara perihal kepergian yang ia rencanakan. Namun, mau tidak mau Lisa harus jujur dia akan pindah dari Solo daripada semua orang kaget jika dia tiba-tiba pergi. Bunda pasti sedang membicarakan hal ini di kamar dengan ayah. Mas Ray pasti memikirkan hal ini di kepalanya tanpa henti.


"Arumi udah tidur. Mau bicara?" tanya Lisa duduk di kasur.


Mas Ray menangis di kasurnya. Lisa turun dan mendekati pria itu.


"Maafin aku ya. Kali ini Lisa harus pergi. Lisa kan selalu bilang, mas harus cari istri yang lebih baik daripada Lisa. Bunda yang sayang dan tulus sama Arumi melebihi rasa sayangnya Lisa ke Arumi," ucap Lisa mengusap punggung Mas Ray.


"Jangan pergi. Asal kamu tau, mas pindah ke Solo demi kamu Lis," ucap Mas Ray sembari menangis.

__ADS_1


"Maksud mas?"


Mas Ray bangun dan memeluk Lisa, "Mas udah suka kamu sebelum pertemuan kita di kampus. Mas udah tau namamu Lisa sebelum hari pertama mas masuk ke kelasmu. Please, jangan tinggalin mas."


"Mas, Lisa nggak paham."


"Waktu hidup mas hancur gara-gara perceraian itu yang bisa bikin mas bangkit cuma kamu, Lis. Mas tau kamu dari kecil Lisa. Kamu inget cerita mas waktu putus cinta pertama kali ada anak kecil yang ngomong ke mas soal bintang? Itu kamu. Pas mas cerai yang bisa bikin mas tersenyum ya melihat bintang sambil teringat omonganmu, Lisa. Mas ke Solo demi ketemu kamu."


Lisa melepas pelukan dan menghapus air mata Mas Ray, "Mas, kenapa nggak pernah cerita kalau itu aku. Lisa nggak inget memori itu. Ayah, bunda, Tante Ratih, dan Om Ray brarti bantuin mas buat deket sama Lisa?"


Mas Ray mengangguk, "Ikal juga."


Lisa yang selama ini kepedean, dia kira Mas Ikal menyukainya tertawa pelan.


"Kenapa?"


"Gapapa. Pengin ketawa aja. Ngomong-ngomong, kenapa bisa Mas Ikal yang ngebantu mas deket sama Lisa?"


Mas Ray menyudahi tangisnya dan antusias menyeritakan kisahnya mendekati Lisa, "kejadian bintang itu kan di rumahnya, pas kamu main sama Alika. Nah, waktu cerai aku hubungin Ikal tanya soal anak kecil yang sering main sama Alika. Mas tuh tiap kali ke rumah Ikal selalu ketemu kamu. Eh Ikal cerita kalo adiknya masih bersahabat sama kamu sampe sekarang. Terus aku dikasih tau lah akun instagram-mu sama dia. Kesan pertama mas liat fotomu, cantik sekali. Senyum mas langsung mengembang. Duda ini terpesona melihatmu walaupun sekadar lewat aplikasi. Aku scroll nemu foto mamamu, Tante Karin. Disitu mas kaget. Mas kenal sama mama Lisa karena beberapa kali beliau main ke rumah mas bertemu mama. Pas meninggal pun mama cerita kalau Tante Karin sahabatnya kecelakaan dan anaknya kasihan masih kecil. Tapi, mama kan nggak bisa datang karena kami baru pindah dan tiket pesawat Batam-Solo terlalu mahal. Betapa kagetnya mas pas tau dari instagram kalau kamu anaknya sahabat mamaku. Disitu mas makin penasaran tentangmu."


"Terus?"


"Mas haus. Pengin minum sayang," ucap Mas Ray mencium pipi Lisa.


"Mas suka Lisa udah dari lama bukan brarti Lisa terima kembali ya," ucap Lisa mengancam lalu mengambil air putih botolan yang dia beli satu kardus untuk persediaan kalau tengah malam haus dan malas ke bawah. Dia menyerahkan botol tersebut ke Mas Ray.


Mas Ray membuka segel dan meminumnya. "Ceritanya mas lanjut kalau Lisa udah mau nerima mas kembali. Kalau habis sidang, Lisa mau pergi? Nggak lagi mas tahan. Mas udah tenang karena Lisa tau kalau rasa cinta ini udah lama. Toh, paling Lisa pergi juga gara-gara pengin ngelupain mas kan? Buruan pergi, paling ujung-ujungnya keinget rasa cinta mas yang besar bakal balik lagi," ucap Mas Ray tersenyum.


"Dih pede banget," ucap Lisa. Padahal alasan utama Lisa meninggalkan Solo memang ingin melupakan Mas Ray.


"Kalo kamu udah lupain mas, nggak bakal tuh kita sering tidur bareng walaupun ada Arumi. Pas mas cium kamu tapi ternyata kamu masih sadar, nggak bakal gugup. Nggak bakal kamu terima tawaran mas anter beli kado buat responden. Nggak bakal kamu mau kita ngobrol soal skripsi berduaan di balkon kamar. Lisa, cinta kita bukan menghadirkan kenangan buruk. Bahkan, kita selalu menjalani dengan berbagai cerita indah bersama. Sekeras apapun melupakan kalo memang ikatan kita kuat pasti kamu tetap susah lupa. Kita ditakdirkan sama-sama saling mencintai dengan tulus. Jangan kamu lawan. Ayo kita saling bekerja sama buat cinta ini utuh selamanya, Lisa. Kalo ada yang kamu takutan, mas nggak pernah berhenti minta kamu buat cerita biar kita bisa hadapi semua bersama."


"Mas, kita bahas ini setelah sidang skripsi lagi ya. Kalau keputusan Lisa adalah hidup mandiri di kota lain, Lisa minta maaf selalu membuat mas kecewa dengan keputusan Lisa. Mas nggak boleh sedih lagi karena Lisa. Mas nggak boleh bertahan lagi dengan cinta mas ke Lisa kalau Lisa pergi nanti," ucap Lisa tersenyum.


"Ratusan kali mas ngomong kalau mas tetap menunggu Lisa kembali. Mau kemanapun Lisa pergi, mas tetap menunggu Lisa kembali di sisi mas."


Lisa mengalihkan pembicaraan, "Lisa mau bikin powerpoint ya mas," ucapnya sembari beranjak dari kasur.

__ADS_1


Mas Ray membiarkan Lisa mengerjakan bahan presentasinya. Dia sabar menunggu keputusan final Lisa. Dia ikhlas mendengar apapun jawaban Lisa. Terpenting dia tetap menunggu Lisa kembali. Kapan pun itu.


__ADS_2