Lamora

Lamora
Nikah Itu Tidak Bebas?


__ADS_3

CAN SQUAD


Alika


Lisacan, lo dateng kan ke sidang gue sama Maya?


Maya


Mentang-mentang dah jadi istri dan ibu, awas aja lo nggak dateng, can.


Alika


Buket untuk gue dan Maya double kalo sampe lu nggak dateng.


Maya


Jangan-jangan suaminya belum ngasih tau can kalo kita sidang.


^^^Lisa^^^


^^^Mas Ray udah ngasih tau kok. Gue bakal dateng. Tenang aja.^^^


Alika


Selesainya kan sore tuh. Gimana kalo kita nongkrong sampe malem?


^^^Lisa^^^


^^^Ntar gue coba ngomong dulu ke suami ya.^^^


Maya


Nikah emang nggak bebas ya can. Gue 2 atau 3 tahun lagi ajalah. Biarin aja masnya si Alika makin tua.


Alika


Kalo lo 2 atau 3 tahun lagi. Gue dapet jodohnya kapan woi? Mas gue nggak mau gue langkahin.


^^^Lisa^^^


^^^Permasalah keluarga. Bye. Nggak ikutan. Kalo dapet izin gue kabari.^^^


Kalimat "nikah itu tidak bebas" hanya berlaku untuk orang-orang yang belum siap menikah. Ketika memutuskan menikah, Lisa tahu, rasa egois harus dia singkirkan. Tidak bisa nongkrong seenak hati karena ada suami dan anak yang harus dia pikirkan. Toh mendapatkan izin suami adalah suatu hal yang membahagiakan. Ketika tidak mendapatkan izin, dia pasti gelisah. Tidak menjalankan aktivitas dengan bahagia.


Setelah makan malam, Lisa dan Mas Ray duduk di karpet kamar bermain puzzle dengan Arumi.


"Besok sore, setelah Alika dan Maya sidang, boleh nongkrong nggak yang?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Boleh kok. Jadi istri bukan brarti waktumu sama temen nggak ada. Mas seneng kamu main asalkan nggak setiap hari. Terus soal waktu jangan sampai kelamaan juga."


"Dua jam kelamaan nggak?"


"Nggak kok. Asal salatnya jangan ditinggal."


"Lisa salat 5 waktu terus ya selama kita menikah."


"Iya mas tau," ucap Mas Ray tertawa.


"Makasih ya suami terbaik," ucap Lisa memeluk pria yang duduk di sampingnya itu.


"Yang, Arumi gimana?" tanya Mas Ray.


Lisa melepas pelukannya, "Aku udah ngomong sama mama dan papa kok. Mereka nggak ada acara jadi bisa ngejaga Arumi dan ngebolehin Lisa pergi."


"Oke. Kalo ada apa-apa kabari mas ya."


Lisa mengangguk sembari tersenyum.


"Arumi, liat bunda sebentar nak," ucap Lisa.


Arumi melihat Lisa, "apa bunda?"


"Besok bunda mau pergi. Arumi mandi, makan, dan lainnya sama nenek dan kakek dulu gapapa kan? Bunda usahakan sebelum langit gelap sudah sampai rumah."


"Iya bunda, gapapa. Dulu kan Arumi sering sama kakek dan nenek juga."


"Iya bun."


Mas Ray tersenyum tiap kali melihat Lisa mencoba memberi pengertian anaknya. Dia pernah menyampaikan ke Lisa, rumah tangga seperti inilah yang selalu dia idam-idamkan. Arumi tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu selama ini. Wajar jika dia terharu tiap kali Lisa memperlakukan Arumi dengan baik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lisa menunggu di luar ruang sidang membawa dua buket bunga matahari. Bukan lagi mawar saja, dia ingin mengartikan bunga sesuai dengan sasaran seperti suaminya. Bunga matahari adalah salah bunga yang melambangkan persahabatan.


Para audiens keluar dari ruang sidang. Beberapa teman menyapa dan memberi selamat atas pernikahan. Lisa memang tidak mengundang semua teman yang mengenalnya. Hanya orang yang benar-benar dekat dengannya. Bu Heti, Bu Gina, Bu Vika, Bu Tantri, dan Mas Ray yang merupakan penguji Alika dan Maya keluar bersamaan.


"Lho istri Pak Ray di sini," ucap Bu Gina tertawa.


"Aura pengantin baru emang bahagia terus gini ya," ucap Bu Vika.


"3 minggu menikah tetep pengantin baru ya bu," ucap Lisa tertawa


Mas Ray yang tersenyum mendengar ucapan teman kerjanya berkata ke Lisa, "Temenmu ada di dalem tuh. Lagi foto-foto. Masuk aja."


"Saya izin masuk ya bu," ucap Lisa menyalami semua dosennya.

__ADS_1


"Sama aku?" ucap Mas Ray tersenyum.


"Saya izin masuk ya pak," ucap Lisa menyalami Mas Ray lalu masuk ke dalam ruangan. Dosen-dosennya menertawakan tingkahnya dan Mas Ray.


Ruangan yang sama saat dia melakukan sidang dua bulan lalu. Sidang yang membawa kenangan indah bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya dan hubungannya dengan Mas Ray kembali.


"Sinii can," ucap Alika.


"Fotoin gue sama Alika dong can," ucap Maya.


"Gue cuma jadi seksi dokumentasi doang?" ucap Lisa.


"Nanti gantian," ucap Alika.


"Nih selamat ya," ucap Lisa memberikan buket bunga kepada Maya dan Alika. "Mana hp lo," sambungnya meminta ponsel Maya untuk memotret mereka berdua.


"Makasih ya," ucap Maya memberikan ponselnya.


"Mas Ikal nggak dateng can?" tanya Lisa seraya memotret Maya dan Alika.


"Udah gue paksa dateng. Setidaknya demi adik ipar gue bisa lah dateng ke sini. Tetep aja mentingin kerjaan," ucap Maya.


"Idih demi gue katanya. Bilang aja lo yang pengin dia dateng," ucap Alika.


Lisa tertawa melihat kelakuan sahabatnya.


"Yuk gantian fotonya," ucap Lisa mengalihkan pembicaraan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alika, Maya, dan Lisa memutuskan nongkrong di mall. Dia memilih toko roti yang terkenal dengan donut dan yogurt yang berbentuk seperti ice cream.


"Kehidupan pernikahan gimana can?" tanya Maya.


"Berasa lagi ada temen main di rumah. Bisa ngobrol dari yang penting sampe nggak penting. Terus ada yang perhatian, peluk cium, ya gitu lah pokoknya."


"Belum pernah berantem lo sama Pak Ray?" tanya Alika.


"Berantem besar belum pernah. Paling cuma berantem kecil yang berujung minta maaf terus lupa," ucap Lisa.


"Gue penasaran can, apa yang ngebuat lo mutusin mau menikah sama Mas Ray?" tanya Maya.


"Banyak sih kalo itu. Contohnya dia bisa ngeyakini gue menikah dengan dia bukan sebuah kesalahan, selalu sabar ngadepin gue, dan selalu ada buat gue.Sebenernya kami memutuskan menikah cukup cepat. Nggak ada sehari malah. Kayak ada keyakinan dalam diri gue aja gitu, 'aku udah tau semua tentang dia, aku cinta dia, dan gue yakin dia jodoh gue.' Itu kan konsepnya aku dan Mas Ray udah tau seluk beluk masing-masing. Nah gue cuma mau pesen ke kalian, jangan buru-buru mutusin menikah sebelum kalian tau seluk beluk pasangan kalian. Terutama perlu tau saat dia marah. Jangan sampai salah pilih partner hidup. Dampaknya nggak cuma ke kalian tapi ke anak-anak kalian," ujar Lisa teringat kisah pernikahan mama dan papanya dulu.


"Semakin dewasa aja Lisacan sekarang," ujar Alika tersenyum.


"Iya bener banget," ucap Maya.

__ADS_1


Lisa hanya tersenyum. Pengalaman hidup kedua orang tuanya, kini bisa dia ambil pelajaran hingga membuatnya menjadi manusia lebih baik lagi.


Tak terasa dua jam berlalu. Mereka harus berpisah sementara waktu. Tidak seperti dulu lagi yang bisa bertemu hampir setiap hari di kampus. Lisa selalu bilang kepada sahabatnya terutama Alika yang tiap kali bosan di rumah saat ia belum menikah selalu mengajaknya main, "Nggak ada yang berubah dari gue saat menikah. Kita bisa quality time seminggu sekali atau pun Alika bisa main ke rumah Mas Ray kalau lagi bosan. Apalagi rumah Alika sangat dekat dengan Mas Ray. Asal kabari aja dulu."


__ADS_2