Lamora

Lamora
Long Distance Marriage


__ADS_3

Dua hari Lisa resmi tinggal di rumah Mas Ray. Kemarin malam Lisa, Mas Ray, dan Arumi menengok ayah dan bunda. Melepas rindu karena seminggu belum berjumpa lagi. Bunda, paling sering bersama Lisa di rumah, mengikuti berbagai aktivitas di luar rumah untuk menghilangkan rasa sepi. Lisa merasa lega, bunda mencari cara agar tidak kesepian.


Pagi ini Mas Ray berangkat ke Jakarta. Lisa tidak bisa mengantar karena harus memimpin rapat tim Star Cafe seluruh kota di cabang Solo Baru. Lumayah jauh dari rumah dan beda arah menuju bandara. Mas Ray memaklumi. Papa dan mama mengantarnya ke bandara sekalian mengantar Arumi sekolah.


Selesai rapat Lisa membaca pesan. Baru sadar bahwa kehidupan Long Distance Marriage (LDM) dimulai. Selama tiga hari, 24 jam tidak akan bertemu Mas Ray secara fisik. Hanya bisa mendengar suara dan menatap wajahnya dari ponsel. Rindu? Pasti. 9 hari menikah, Mas Ray selalu bersamanya terus-menerus. Ada yang hilang ketika suaminya tidak ada dalam pandangannya kurang lebih selama 72 jam.


Suami❤


Mas, udah boarding sayang. Baru berangkat udah kangen kamu. Jaga diri selama nggak ada mas. Semangat kerjanya.


^^^Lisa^^^


^^^Semangat pelatihannya sayang. Lisa juga kangen mas. Nanti malem kalo ada waktu telfon aku ya?^^^


Terakhir online dua jam yang lalu. Brarti saat Mas Ray mengirimnya pesan. Otomatis suaminya sedah landing satu jam yang lalu. Kehidupan hubungan jarak jauh, hanya bisa memperkirakan dan menunggu kabar.


Sampai sore, tidak ada balasan dari Mas Ray. Lisa tahu suaminya sibuk. Apa susahnya mengirim pesan singkat yang memerlukan waktu tidak ada 1 menit. Tiap ponselnya berbunyi dia pikir, pesan atau telfon dari Mas Ray. Sungguh menyebalkan. Lisa menaruh ponselnya di kasur lalu memeluk Arumi yang sedang menonton televisi.


"Arumi sayang. Ayo mandi," ucap Lisa.


"Nggak mau bunda. Kartunnya belum selesai," ucap Arumi merengek.


"Kalo nunggu selesai nanti keburu malem nak. Kan nanti bisa nonton di youtube. Bunda kasih waktu 15 menit ya," ucap Lisa sembari memasang alarm di ponselnya. Anaknya belum paham tentang jam. "Kalo ponsel bunda berbunyi, kita pergi mandi," sambungnya.


Arumi tersenyum, "iya bunda."


Lisa menyiapkan baju Arumi. Setelah itu, memindahkan pakaiannya dari koper ke lemari sembari menunggu alarm berbunyi. Semalam, Lisa sekalian mengambil barang-barang yang akan dia bawa ke rumah Mas Ray.


Alarm ponselnya berbunyi. Lisa menghentikan aktivitasnya.


"Ayo mandi sayang," ucap Lisa mematikan televisi.


"Iya bunda," ujar Arumi turun dari kasur.


Saat memandikan Arumi ponsel Lisa berdering beberapa kali. Dia memandikan Arumi dengan buru-buru. Saking penasaran apakah suaminya yang menelfon.


"Bunda, kenapa pegang hp? Arumi kedinginan pengin cepet pakai baju," ucap Arumi saat Lisa memegang ponselnya.


Lisa menaruh ponselnya. Belum sempat melihat siapa yang menelfonnya. Dengan sigap dia memakaikan Arumi baju. Setelah selesai, Lisa langsung mengecek ponselnya. 5 panggilan tidak terjawab dari Mas Ray dan sebuah pesan.


Suami❤


Sayang, kalo udah pegang hp telfon balik mas.


Lisa langsung memencet tombol video call sembari membuatkan Arumi susu.


"Halo sayang," ucap Mas Ray dengan wajah tersenyum.

__ADS_1


"Tadi aku mandiin Arumi jadi nggak bisa angkat telfon."


"Iya tau rutinitasmu sekarang kok," ucap Mas Ray tertawa, "Kok gambarnya cuma atap kamar sih. Mas kan kangen," sambungnya.


"Bentar mas. Lagi bikin susu. Asal taruh hp tadi," ucap Lisa tertawa.


"Makasih ya sayang udah ngurus Arumi."


"Jadi gini rasanya kalo Mas Rudi ngomong terima kasih ke Kak Citra," ucap Lisa tertawa sembari mengambil ponselnya. Wajahnya sudah tampak di layar.


Mas Ray tertawa, "lelahnya terobati kan?"


"Nih susunya sayang," ucap Lisa kepada Arumi sembari memberikan botol.


"Iya terobati kok. Nih Arumi yang," ujar Lisa membaringkan tubuhnya di samping Arumi. Menghadapkan ponselnya ke arah Arumi.


"Ayah," ucap Arumi lalu meminum susunya. Lisa menepuk-nepuk paha anaknya itu.


"Arumi kayaknya ngantuk tuh. Nggak tidur siang ya?"


"Tidur kok. Aku baca laporan harian dari sekolah hari ini aktivitasnya olahraga dan ada lomba-lomba. Mungkin masih capek. Aku yang nggak tidur nungguin kabar dari mas," ucap Lisa dengan wajah kesal.


Mas Ray tertawa, "Sebelum nikah kita nggak setiap hari ketemu, telfonan cuma malam hari, terus chat-an kalo lagi perlu tuh. Kemarin yang ngomong dipingit aja bisa, kali ini pasti bisa, siapa coba?"


"Efek biasanya bareng terus tiba-tiba nggak ada yang bawel ke Lisa," ucap Lisa.


"Oke. Gini Lisa kan nggak bakal nunggu kabar selain jam-jam itu," ucap Lisa tersenyum.


"Iya gitu aja. Arumi tidur?"


"Iya," ucap Lisa menghadapkan kamera ke Arumi yang ada dipelukannya.


"Iya kan ngantuk. Mas mandi dulu boleh yang?"


"Nggak usah dimatiin aja telfonnya sampe besok pagi."


"Bucin banget sih," ucap Mas Ray tertawa.


"Mau nggak?" tanya Lisa tersenyum.


"Ya deh biar kamu nggak ngerasa kesepian jauh dari mas. Ya udah mas mandi dulu ya. Nanti kalo udah selesai kita ngobrol lagi."


"Oke yang," ucap Lisa menaruh ponselnya di meja samping kasur.


Benar saja, telefonnya bersama Mas Ray tetap menyala sampai pagi. Tidak peduli gawainya panas dan sudah berkali-kali di cas. Lisa sampai tidak punya malu lagi dengan mama dan papa, makan malam masih mengobrol dengan Mas Ray. Melihat tingkah laku suami istri yang baru menikah langsung dipisah jarak, papa dan mama hanya tersenyum. Sejatinya, mereka berdua senang anaknya menemukan pasangan yang lebih baik.


Hari kedua, mereka melakukan hal yang sama. Hari ketiga, mereka hanya telepon sampai pukul 9 malam. Besok siang, Mas Ray akan pulang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lisa berangkat menjemput Mas Ray dengan mama. Papa tidak bisa ikut. Ada acara dengan komunitas sepedanya. Arumi tidak mau ikut karena ingin bermain dengan temannya. Dia di rumah bersama Bi Tinah.


"Seharusnya udah sampai kan ma?" tanya Lisa.


"Udah. Paling masih ambil bagasi nak," ucap mama.


Lisa yang melihat Mas Ray dari pintu keluar langsung tersenyum dan berlari memeluknya.


Mas Ray membalas pelukan Lisa, "Sekarang nggak malu-malu lagi di depan siapapun yang kenal kita ya?"


"Biarin yang. Ini kan yang mas pengin. Kita bebas menjalankan hubungan tanpa rasa malu."


Mas Ray melepas pelukan lalu mencium bibir Lisa, "kayak gitu malu nggak?"


"Nggak," ucap Lisa sembari mencium bibir Mas Ray.


"Lanjutin di rumah aja melepas kangennya," ucap mama tersenyum melihat anak dan menantunya yang kian romantis itu.


"Yuk," ucap Mas Ray menggandeng tangan Lisa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Masuk kamar Lisa melihat bunga gardenia berwarna putih di atas kasur. Dia mengambilnya. Mas Ray hanya tersenyum sedari tadi.


"Dalam rangka apa nih?" tanya Lisa.


"Tuh ada suratnya."


Lisa membuka surat tersebut.


Istriku sayang, cintaku, segalanya bagiku, terima kasih sudah sabar tiga hari ini menunggu mas pulang dan terima kasih sudah merawat Arumi. Love you.


"Love you too, sayangku. Kamu kerja sama bareng siapa kali ini?" tanya Lisa tertawa.


"Siapa lagi, Bi Tinah. Nggak mungkin Arumi," ujar Mas Ray tertawa.


"Makasih ya," ucap Lisa mencium bibir Mas Ray.


"Iya sama-sama," ucap Mas Ray sembari membalas kecupan Lisa. "Jatah boleh nggak yang?" sambungnya.


"Boleh mumpung Arumi masih main. Nggak akan mengetuk pintu."


"Oke. Aku kunci pintu dulu."


Ungkapan terima kasih bisa menambah kadar cinta pasangan karena merasa dihargai. Rasa kangen bisa menambah kadar cinta pasangan saat dipertemukan kembali. Begitulah cinta, memiliki berbagai arti dan banyak cara untuk membuatnya terus tumbuh dan bertahan diantara pria dan wanita.

__ADS_1


__ADS_2