
Mendekati tanggal perkiraan persalinan, Lisa semangat melakukan senam hamil, jalan kaki tiap pagi, pijat perineum, bahkan sampai frekuensi berhubungan dengan suaminya rela dia tambah. Semua cara dia lakukan demi persalinannya lancar.
Walaupun dia ingin proses persalinannya lancar, Lisa takut tidak bisa hadir di pernikahan Maya dan Mas Ikal yang akan berlangsung dua minggu lagi. Seminggu setelah Hari Perkiraan Lahir (HPL). Lisa takut tidak bisa menghadiri acara tersebut karena baby lahir sehingga tidak bisa dia tinggal atau malah pas merasakan kontraksi.
"Yang, udah deh nggak usah mikirin nikahan Maya dan Ikal. Penting tuh adek lahir dengan sehat dan proses persalinanmu lancar. Mereka juga ngerti kondisi kita dan bilang yang terpenting doa dari kita," ucap Mas Ray saat Lisa bercerita keinginannya hadir di acara pernikahan tersebut.
"Coba deh waktu mas dan Lisa nikah eh sahabat kita nggak hadir. Pasti sedih kan walaupun di mulut bilang gapapa. Ngerasa ada yang kurang."
Mas Ray merangkul Lisa yang sedang bersandar di kasur sembari mengusap perut buncit istrinya, "Ayah dan bunda kan pengin ketemu adek. Kenapa bunda harus sedih kalau adik lahir sebelum Om Ikal dan Tante Maya menikah atau saat mereka menikah ya dek?"
Lisa akhirnya luluh mendengar ucapan Mas Ray. Kelahiran janin yang dikandungnya selama 9 bulan ini, sebuah penantian yang panjang. Tidak perlu mengatur ia ingin lahir kapan.
Lisa mengusap perutnya sembari tersenyum, "Bunda nggak masalah kok dedek lahir kapan aja. Bahkan saat bunda ada kuliah pun gapapa dedek kasih respons kalo pengin lahir. Maafin bunda ya sempet sedih gara-gara pernikahan Om Ikal dan Tante Maya."
Mas Ray mengecup pipi sembari mengusap kepala Lisa, "Istriku yang baik dan sholehah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari Perkiraan Lahir (HPL) sudah lewat 5 hari lalu, Lisa sibuk kuliah. Belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Tiap hari dia bertanya kepada janinnya, ingin lahir kapan karena ayah, bunda, dan kakak tidak sabar. Tidak lagi memikirkan soal kehadirannya di pernikahan sahabatnya yang akan berlangsung 2 hari lagi.
Tiap kali ayah dari bayi yang dikandungnya menerangkan dia selalu kewalahan. Gerakan janinnya menguat. Ditambah kontraksi palsu semakin sering datang.
Mas Ray melihat Lisa yang sedang mengatur nafas sembari menahan sakit, "Mbak Lisa tidak apa-apa kan?" Dia selalu khawatir dengan kondisi istrinya yang hamil besar tapi harus berangkat kuliah selama belum melahirkan. Aturan kampus boleh dosen diperkenakan memberikan tugas ketika ibu melahirkan dan dua bulan setelahnya.
Lisa tersenyum sembari mengangguk.
Dia mendekati Lisa. "Yakin gapapa?" tanyanya.
"Iya gapapa kok. Kontraksi palsu kayaknya."
"Kalo semakin intens bilang ya."
"Iya. Lanjutin ngajarnya mas," ucap Lisa tersenyum. Dia tidak enak dengan teman-teman tiap kali berkomunikasi dengan suaminya di kelas.
Mas Ray kembali menerangkan.
"Suamimu emang idaman Lis," ucap Mbak Siska. Teman S2 yang sering sebangku dengannya.
Lisa tersenyum, "Setiap suami idaman bagi istrinya masing-masing, mbak," ucap Lisa pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas," ucap Lisa tengah malam sembar menggoyangkan badan Mas Ray. Semenjak memasuki trimester tiga dia sering terbangun tengah malam. Posisi tidurnya tidak ada yang nyaman, sering sakit pinggang, dan kadang kontraksi itu datang.
Mas Ray perlahan membuka matanya, "Kontraksi?"
__ADS_1
"Iya. Pijat punggungku, yang."
Mas Ray memijat punggung Lisa yang membelakanginya. "Udah teratur?" tanyanya.
"Belum."
"Masih betah di perut bunda ya dek," ucap Mas Ray sembari mengusap perut Lisa dengan tangan kirinya. Tangan kanannya masih mengusap penggung Lisa.
"Kita udah melakukan segala cara biar adek cepet lahir tetep aja masih betah yang."
"Mau mas tengokin lagi?"
"Nggak ah. Cukup sehari sekali."
"Ya udah. Tidur yang. Mas pija punggungmu sampe kamu tidur."
"Iya," ucap Lisa lalu memejamkan mata. Sebelum tidur atau saat kontraksi palsu datang Mas Ray siap memijat punggungnya. Memberikan kenyamanan untuk istri tercinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Lisa dan Mas Ray menghadiri acara akad nikah dan resepsi Mas Ikal dan Maya. Lisa tidak menyangka bisa menghadiri hari penting sahabatnya.
Awalnya, Maya memintai tolong Lisa menjadi pengiring pengantin. Tapi Mas Ray, meminta Lisa digantikan saja karena takut tidak bisa hadir. Akhirnya, tidak ada persiapan mengenai kebaya. Sebagian besar kebayanya sudah tidak muat. Hanya tersisa kebaya berwarna biru dongker. Ia padukan dengan jarik berbentuk rok. Lisa menggerutu. Merasa dirinya sangat jelek seperti bakso yang berbentuk bulat.
"Kamu pakek apapun keliatan cantik kok yang. Udah, ayo berangkat."
"Yang," Mas Ray memeluk Lisa dari belakang, "Itu kan penglihatan dan pikiranmu yang belum tentu benar, yang. Mas aja ngeliat kamu semakin cantik pakai kebaya ini. Nanti kamu tanya ke ayah, bunda, papa, dan mama pasti sependapat sama mas. Kamu cuma nggak biasa pakai kebaya ini, jadi kamu pikir jelek. Padahal bagus kok," ucap Mas Ray tersenyum.
"Arumi, bunda bagus nggak pakai ini?" tanya Lisa kepada Arumi yang menonton televisi di kamarnya. Arumi akan ikut karena kedua orang tua mereka diundang juga.
"Bagus bun," ucap Arumi.
"Nah anak kecil sering jujur, yang. Percaya diri aja. Bagus kok kebayanya."
"Oke. Ayo berangkat," ucap Lisa.
Sampai di sana, mereka sedikit terlambat karena harus menjemput papa, mama, ayah, dan bunda terlebih dahulu. Mas Ikal bersiap mengucap janji sehidup semati dengan Maya. Mereka bergegas mencari tempat duduk yang sudah ada namanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maya Lentera binti Agus Sutrisna dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai," ucap Mas Ikal.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu kepada apra saksi.
"Sah," jawab para saksi serempak.
Lisa tersenyum melirik Mas Ray yang duduk di sampingnya. Teringat betapa bahagianya hari akad dan resepsi. "Nggak berasa ya yang. Mau setahun kita menikah, bentar lagi aku jadi bunda dua anak," bisik Lisa.
__ADS_1
"Iya. Cepet sekali karena kita sama-sama bahagia dan menikmati setiap hari," ujar Mas Ray tersenyum.
Maya yang diapit oleh Alika dan sepupunya datang menemui sang suami. Lisa tidak pernah menyangka sahabatnya dan sahabat suaminya bisa berjodoh. Misteri kehidupan.
Setelah selesai acara akad. Pengantin berganti pakaian untuk acara resepsi. Tamu undangan untuk acara resepsi mulai memenuhi gedung.
Tiba-tiba perut Lisa kontraksi. Rasanya lebih sakit dari biasanya. "Sayang pengin minum," ucap Lisa menahan sakit dan tersenyum ke Mas Ray. Dia takut Mas Ray mrngajak pulang jika tahu dia kesakitan.
"Mas ambilkan ya," ucap Mas Ray meninggalkan kursinya.
Lisa menunduk dan meringis sembari mengusap perutnya. Dia mengontrol nafas.
"Kenapa nak?" Bunda yang duduk di bangku samping Mas Ray sadar ada yang aneh dari Lisa.
Lisa menahan sakitnya, "Gapapa bun," ucapnya melihat ke arah bunda sambil tersenyum.
Sepeninggalan Mas Ray, Lisa sudah dua kali kontraksi. Dia membuka aplikasi kontraksi yang ada di ponselnya. Bersiap jika gelombang cinta itu datang lagi.
"Nih yang," ucap Mas Ray memberikan gelas.
Lisa meminumnya. "Arumi mau?" tanyanya kepada Arumi yang duduk di sampingnya.
"Nggak bun."
Maya dan Mas Ikal masuk ruangan. Kontraksi Lisa datang lagi. Dia buru-buru menghitung intensitas kontraksinya. Waktu yang tepat karena semua mata tertuju kepada pengantin.
"Bunda kenapa?" tanya Arumi yang memperhatikan Lisa tertunduk kesakitan sembari mengontrol napas.
"Yang," ucap Mas Ray mengadahkan kepala Lisa.
Lisa melampiaskan kesakitan yang dia rasa dengan menggenggam tangan sang suami. Mas Ray mengusap pinggang Lisa. Ayah, bunda, papa, dan mama mulai khawatir.
"Pulang aja yuk," ucap mama dengan wajah panik.
Kontraksinya kembali hilang. Lisa melepas genggaman tangan. "Lisa belum ucapin selamat ke Maya ma," ucapnya
"Ayah minta panitia biar kita salaman duluan ya?" ucap ayah.
Lisa mengangguk.
Ayah kembali. Meminta kami naik ke panggung pengantin. Saat berdiri kontraksinya muncul lagi. Lisa memeluk suaminya.
"Papa, mama, ayah, bunda, duluan aja. Arumi ikut kakek sama nenek ya," ucap Mas Ray yang masih mengusap punggung Lisa.
"Udah nggak sakit kok mas. Yuk, keburu kontraksi lagi," ucap Lisa melepas pelukan.
__ADS_1
Mereka memberikan selamat kepada orang tua dan pengantin beserta doa agar langgeng kepada Mas Ray dan Maya. Bahkan, Lisa pun ikut mendapatkan doa agar persalinannya lancar. Tidak banyak waktu mengobrol, mereka berfoto dengan wajah senyum Lisa yang sebenarnya sedang menahan sakitnya kontraksi. Setelah itu, Lisa berpamitan dengan Alika dam mereka bergegas pulang.