
Sejak usia kandungan 4 bulan Lisa sudah aktif melakukan perkuliahan. Sekarang tiap pagi Mas Ray mengantar Arumi yang sekolah. Pulangnya kalau Lisa tidak ada kuliah Arumi ia bawa pulang. Namun jika bentrokan dengan jadwal kuliah papa, mama, dan Bi Tinah menjemput Arumi. Baru pulang kuliah Lisa menjemputnya di rumah orang tua Mas Ray.
Mas Ray kembali mengajarnya di mata kuliah embriologi manusia. Mempelajari perkembangan manusia sebelum lahir.
"Minggu ke-8 merupakan fase penting karena embrio berubah menyerupai manusia. Kepala, tubuh, kaki, dan tangan mencapai ukuran proposional," ujar Mas Ray yang sedang menerangkan.
Lisa tersenyum dan air matanya menetes. Bukan karena suaminya namun janin yang ada di dalam kandungannya beegerak untuk pertama kalinya. Momen paling dia nanti itu datang saat usia kehamilannya menginjak 20 minggu.
"Bu Lisa, ada masalah?" tanya Mas Ray melihat istrinya tersebut. Mas Ray mencoba profesional memanggil istrinya "bu" saat di kelas.
Lisa mengusap air matanya. "Tidak apa-apa pak," ucap Lida tersenyum
"Yakin?" tanya Mas Ray memastikan.
"Iya pak. Silahkan dilanjutkan pak," ucap Lisa mengelus perutnya karena janinnya kembali bergerak.
Mas Ray melanjutkan kelas tersebut. Selesai kelas dia meminta Lisa datang ke ruanganya.
"Kenapa tadi senyum sambil nangis yang?" tanya Mas Ray.
"Dedek udah berani nendang bundanya. Terharu," ucap Lisa tersenyum.
"Sini. Mumpung sepi," ucap Mas Ray meminta Lisa duduk di pangkuannya.
Lisa menuruti permintaan suaminya setelah melihat suasana sekitar memang sepi.
"Adik udah berani nendang bunda. Coba tunjukin ke ayah dong. Kan ayah jadi penasaran sekeras apa dedek nendang bunda," ucap Mas Ray berinteraksi dengan anak mereka itu sembari mengelus perut Lisa.
"Coba tunjukin ke ayah dek. Kasihan ayah tadi lagi ngajar bunda jadi nggak tau," ucap Lisa memegang tangan suaminya yang ada di perutnya. Mereka mengusap perut tersebut bersamaan.
__ADS_1
Gerakan janinnya lebih kuat hingga membuat Lisa kesakitan.
"Ayah senang adik bergerak tapi jangan keras-keras ya? Kasihan bunda," ucap Mas Ray mengusap perut Lisa lalu mencium bibirnya hingga Lisa mengikuti permainan suaminya itu.
"Mas kita lanjut aja di rumah kalo kamu udah pulang," ucap Lisa tersenyum. Selama hamil mereka sepakat Lisa memenuhi hak suaminya itu hanya seminggu sekali saja.
"Oke. Nanti siang mau makan apa? Biar mas pesenin sebelum jam makan siangmu. Takut dedek gerak terus gara-gara lapar."
"Pengin timlo. Tapi pengin juga gado-gado."
"Mas pesenin semua asal di makan."
"Iya kabarin aja kalo pengantar makanannya mau sampai. Jangan lupa ayam kesukaan Arumi juga," ucap Lisa beranjak dari pangkuan Mas Ray.
"Oke yang. Hati-hati ya. Jangan lupa kabarin mas kalo udah sampe."
Lisa mengangguk meninggalkan ruangan Mas Ray. Dia sering lupa mengabari suaminya ketika keluar atau sampai di rumah. Dia tahu suaminya khawatir ketika tidak mendapatkan kabar namun selama hamil tingkat pelupanya memang semakin bertambah. Awal-awal Mas Ray sempat menegurnya sampe akhirnya dia capai dan memutuskan menelfon Lisa jika melebihi batas waktu perkiraan sampai tempat tujuan istrinya.
Setelah janinnya bergerak, Lisa, Mas Ray, bahkan Arumi semakin sering mengajak janin di perut Lisa mengobrol. Janin itu sangat aktif dan sering membuat bundanya kesakitan tiap kali menendang. Hasil USG 100% anak yang dikandungnya cowok karena menampakkan alat kelaminnya.
"Ayah nggak sabar ajak adik main bola bersama," ucap Mas Ray sembari mengusap perut Lisa. Dia sangat antusias saat tahu bayi yang dikandung Lisa laki-laki. Sudah berencana mau diajak main bola, dibelikan remote control, bermain layangan, dan sebagainya.
Janinnya merespons. Tiap kali mendengar suara Mas Ray dia lebih sering memberikan respons. Lisa terkadang kesal karena dia yang mengandung tapi bayinya selalu aktif tiap kali ayahnya yang mengajak berbicara. Bahkan saat ayahnya mengajar dia bergerak aktif.
"Anak ayah nih. Nanti kalo lahir lebih nempel sama bunda kan nak?" ucap Lisa mengusap perutnya.
"Bunda cemburu nak. Kalo lahir nempel sama bunda dan ayah ya? Kita akan selalu ada buat kamu," ucap Mas Ray mencium perut Lisa berkali-kali. Anaknya pun memberikan gerakan lincahnya.
Lisa mengusap rambut suaminya tersenyum melihat dua pria kesayangannya yang saling memberikan sapaan.
__ADS_1
Mas Ray menyudahi obrolan dengan anaknya. Tidur di bahu Lisa sembari memeluknya, "Kamu pengin lahiran sesar atau normal yang?" tanya Mas Ray.
"Normal tapi nggak mau ditolong mas," jawab Lisa tersenyum.
"Kenapa? Adek pasti seneng pas udah besar tau ayahnya yang membantu bundanya lahiran."
"Nggak mau. Aku butuh mas ada di sampingku waktu melahirkan. Tugas mas sebagai suami bukan dokter yang menangani persalinanku," rengek Lisa.
Mas Ray tersenyum mencium bibir istrinya, "Istri mas makin cantik kalo lagi merengek dan manja. Cinta mas berkali-kali lipat bertambah terus."
"Sayang, lanjutin yuk. Adek pengin ayah tengok," ucap Lisa langsung memulai permainan tanpa menunggu jawaban suaminya.
Dua ronde membuat mereka terkapar di kasur.
"Hal terindah selama hidup adalah Lisa mempunyai mas, Arumi, dan anak kita. Mama pasti bangga kan mas melihat Lisa hidup bahagia tanpa memikirkan kenangan masa lalu lagi?" ucap Lisa yang bersandar di bahu Mas Ray.
"Bangga. Bukan hanya mama, papa pasti bangga melihat anaknya tumbuh dewasa dan menjadi bunda yang baik untuk keluarga kecilnya," ucap Mas Ray membelai rambut Lisa.
Lisa terdiam.
"Tanpa papa dan mama, kita nggak akan bertemu Lis. Lisa kan sebentar lagi bukan cuma menjadi ibu untuk anak mas tapi ibu untuk anak kita. Nah, kalau suatu hari adek sakit hati dengan tindakan kita terus nggak mau memaafkan, pasti kita berdua sangat sedih kan sayang? Begitupun papa yang, almarhum pasti sayang sama Lisa dan ingin Lisa maafkan," ucap Mas Ray.
Lisa terdiam sejenak.
"Maaf ya, mas bikin kamu kepikiran. Seperti halnya kita mendidik Arumi untuk selalu meminta maaf, memaafkan, mengucap terima kasih, ataupun menggunakan kata 'tolong', pasti kita akan mengajarkan hal tersebut ke adek yang. Kalo kamu sendiri belum bisa memaafkan orang tuamu, bagaimana kita bisa mengajarkannya yang?"
"Kasih aku waktu ya," ucap Lisa tersenyum.
Mas Ray mengangguk, "Maaf ya yang? Mas nasehatin kamu tapi mas nggak pengin kamu terlalu mikirin hal itu terus. Mas khawatir kamu tumbang dan ngaruh ke adek."
__ADS_1
"Iya. Adek tahu kok bunda selalu berusaha bahagia biar adek bahagia." Lisa tersenyum sambil mengusap perutnya.
Dia memang tidak lagi mengingat masa lalu. Kisah hidupnya memang tidak seredup dulu lagi. Tapi, butuh waktu untuk memaafkan papa. Ada cerita pahit yang terlanjur hadir di hidupnya sehingga pintu maaf itu belum ada.