
Seminggu menjelang pernikahan persiapan mencapai 90%. Tinggal menyebar undangan yang akan dibantu oleh tim Star Cafe. Hasil foto preeweeding dengan tema vintage menghiasi undangan mereka. Semua urusan terutama dengan pihak WO hotel sudah beres. Lisa memilih konsep modern untuk akad dan resepsi. Gaun mermaid dan jas putih dari hotel yang bernuansa putih akan ia kenakan saat akad saja. Mas Ray menginginkan akad dan resepsi mengenakan pakaian berbeda. Setelah berdiskusi panjang, mereka sepakat memilih jas berwarna navy dan ball gown berwarna biru langit. Bak ratu kerajaan.
Walaupun tidak mengusung konsep adat Jawa, Lisa ingin dia melakukan tradisi pingitan selama ini. Tidak boleh bertemu dan Lisa ingin tidak komunikasi juga. Kalau tidak bertemu, Mas Ray masih bisa menahannya, mengenai tidak berkomunikasi Mas Ray sempat menolaknya. Lisa berhasil memberi pengertian kekasihnya, saat mereka bertemu kembali di hari pernikahan rasa rindu akan terbayar tuntas. Akhirnya mereka sepakat terlebih persiapan pernikahan tinggal membagikan undangan saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
CAN SQUAD
Maya
Wah diem-diem ada yang mau nikah nih. Pantes Pak Ray nggak bisa nguji skripsi gue dan Alika minggu depan.
Alika
Woi, Lisa minggu depan nikah? Undangan belum sampai rumah gue.
Maya
Yoi can. Orang paling anti sama cowok bisa-bisanya nikah duluan.
Alika
Tanggal berapa nih?
Lisa tersenyum membaca pesan sahabatnya di grup. Kedua keluarga ingin semua orang tahu, seminggu sebelum pernikahan saat persiapan sudah matang. Takut ujungnya gagal atau tertunda.
^^^Lisa^^^
^^^Maaf ya baru bisa ngasih tau kabar bahagia seminggu sebelum acara. Undangan lo pasti hari ini atau besok sampe kok Alikacan. Dateng ya akad tanggal 30 Maret jam 4 sore trus resepsi jam 7 malam. Gue harap kalian berdua ada di dua momen itu.^^^
Alika
Can, nyokap, bokap, Mas Ikal syok gue cerita lo mau nikah. Gue terharu temen gue nikah.
Mas Ikal, orang yang secara tidak langsung mencomblangi keduanya pasti lebih syok diantara yang lain. Lisa sudah menebak kabar pernikahan ini akan mengejutkan orang-orang yang mengenalnya.
Maya
Gue bakal dateng kok. Ntar gue kenalin pacar baru gue ya.
Alika
IYA IYA YANG PUNYA PACAR BARU.
^^^Lisa^^^
^^^Jadi sama temennya Mas Ray?^^^
Maya
Makanya Alikacan lo tuh cari pacar. Iya sama temennya Mas Ray can. Hehe.
Alika
Gue nunggu mas gue nikah sama pacarnya, can. Kasihan kalo gue punya pacar terus pacar gue ngajakin nikah eh ngelangkahin mas gue dong.
Maya
Gue doain mas lo sama calonnya cepet nyusul Lisa ya.
^^^Lisa^^^
^^^Mas lo udah ada calonnya, can?^^^
Alika
Udah ada. Pas nikahan lo ntar pasti dia bawa tuh calonnya.
__ADS_1
Maya
Haha gue mau tidur. Bye.
Lisa pun mematikan ponselnya. Bersiap untuk tidur. Sidang skripsi dilanjut persiapan pernikahan cukup menguras tenaga dan pikirannya. Seminggu ini dia akan melakukan aktivitas santai walaupun semakin deg-degan. Berbeda dengan Mas Ray, Lisa pernah menanyainya deg-degan atau tidak mereka akan menikah, dia menjawab biasa saja karena sudah memiliki pengalaman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sehari menjelang pernikahan bunda mengajak Lisa pergi ke Salon.
"Mbak ambil paket pra nikah ya," ucap bunda kepada pegawai salon.
Lisa melihat isi paket pra nikah langsung kaget, "Bunda, isinya kok ada perawatan bagian kewanitaan. Lisa mau facial aja pokoknya."
"Nurut aja sama bunda. Ambil paket pra nikah ya mbak."
"Baik bu. Mari mbak ikut saya."
Bunda tersenyum melihat anaknya yang pasrah.
"Bunda tinggal ya. Kamu bakal lama. Kalo selesai telfon aja," ucap bunda.
Lisa tidak merespon. Kesal. Permintaan bunda terlalu menyiksa. Perawatan tergila yang pernah Lisa lakukan.Berada di dalam ruangan perawatan selama 5 jam sunggu membosankan dan malu. Bagaimana tidak malu? Tubuhnya terlihat oleh pegawai perempuan yang memberikan perawatan kepadanya. Hasilnya memang tubuhnya terasa lebih rileks dan segar.
"Halo bunda, Lisa sudah selesai," ucap Lisa saat bunda mengangkat telfonnya.
"Bunda di kafe samping salon. Tunggu aja di depan."
"Oke," ucap Lisa mematikan telfon.
Lisa menuju resepsionis untuk membayar.
"Sudah dibayar mbak sama ibu tadi," ucap pegawai tersebut tersenyum kepada Lisa.
"Oke. Terima kasih mbak," ujar Lisa.
"Iya mbak. Mari," ucap Lisa tersenyum lalu meninggalkan klinik tersebut.
Bunda terlihat sedang membayar di kasir kafe. Dia tersenyum melihat Lisa. Anaknya tersiksa, bisa-bisanya bunda bahagia.
"Gimana? Lima jamnya enak?" tanya bunda tersenyum saat keluar dari kafe.
"Nggak akan coba lagi trearment konyol kayak gini."
"Merawat diri demi suami itu perlu dilakukan, nak. Walaupun bunda yakin suami kayak Ray nggak bakal tertarik sama cewek lain. Dia tipe orang yang terima pasangan apa adanya."
"Udah tau Mas Ray tipe orang yang nerima Lisa apa adanya. Masih aja bunda minta Lisa ngelakuin treatment pra nikah sampe 5 jam."
Bunda tertawa, "Udah selesai aja kok. Yuk pulang."
Sampai di rumah, Lisa mengemasi barang yang akan dia bawa menginap di Hotel Alan dan pergi bulan madu lusa. Tentang bulan madu, Mas Ray menawarinya pergi ke Bali namun ia tolak. Dia ingin tempat berbeda karena sudah ada cerita indah di pulau itu bersama calon suaminya. Akhirnya, mereka memilih Bintan sebagai tempat yang akan mengukir cerita indah selanjutnya. Pulau emas lainnya yang ada di Indonesia.
Semua barang sudah tertata rapi. Lisa merebahkan diri sejenak sembari menonton televisi.
Pintu kamarnya terketuk. "Lisa," bunda memanggilnya.
"Masuk bun."
"Kamar pesen berapa kamar malam ini?"
"Dua bun. Lisa pengin sekamar sama ayah dan bunda malam ini. Om seluarga cukup kan satu kamar? Atau mau Lisa tambah?"
"Cukup kok. Om Heri cuma datang sama Tante Hana."
"Mas Ray dan keluarganya nggak ada yang menginap di hotel malam ini?"
"Seminggu lalu, Lisa tanya katanya nggak nginep malam ini jadi Lisa cuma pesen dua kamar."
__ADS_1
"Oh iya, lupa, kalian lagi dipingit. Yaudah bunda balik kamar dulu, mau ngabari Tante Hana urusan kamar hotel udah beres."
Lisa mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lisa udah gede sekarang ya," ucap Om Heri di lobi Hotel.
"Iya ya, pa. Dulu kita ketemu masih kecil," sahut Tante Hana.
Sudah 17 tahun dia tidak bertemu keluarga papanya. Padahal beliau tinggal di Senarang yang jaraknya dekat dari Solo. Ayah membujuk Om Heri menghadari acara pernikahan. Hanya beliau yang bisa menjadi wali nikah Lisa. Andai ayah bisa, pasti Lisa memilih orang tua sambungnya itu yang menjadi walinya. Keluarga papa selama ini tidak ada yang peduli dengannya. Dia beruntung ada ayah dan bunda yang mau menerimanya.
"Iya om. Terima kasih sudah mau hadir ya om tante," ucap Lisa tersenyum.
"Lisa check-in dulu ya bun, yah," ucap Lisa kepada ayah dan bunda.
"Iya," ucap bunda dan ayah bersamaan.
Lisa meninggalkan Tante Hana, Om Bobby, ayah, dan bunda yang sedang mengobrol untuk check-in kamar. Setelah mendapatkan kartu akses kamar, mereka menuju kamar masing-masing.
Ingin menghabiskan waktu dengan ayah dan bunda sebelum menjadi istri Mas Ray, Lisa memilih sekamar dengan orang tuanya. Sebelum tidur, dia ingin memainkan kartu Truth or Dare (ToD) edisi keluarga dengan kedua orang tuanya karena selama ini dia jarang mengekspresikan perasannya kepada mereka kecuali masalah sepele seperti ada teman menyontek, nilai ulangan turun, atau pengin makan mie instan.
Lisa mengocok kartu ToD tersebut. Menaruhnya di tengah. Mereka melakukan hompimpa untuk menentukan siapa yang berbeda tangannya dialah yang harus mengambil kartu.
"Hompimpa Alaium Gambreng," ucap Lisa, ayah, dan bunda bersama.
Tangan menelungkup sendiri. "Ayah ambil," ujar Lisa tertawa.
"Yah," ucap Ayah pasrah mengambil kartu.
"Truth yang?" tanya bunda.
"Siapa yang paling menyebalkan diantara anggota keluarga? Berikan alasannya," ucap ayah.
"Siapa nih yah? Pasti bunda ya?" tanya Lisa tertawa.
"Enak aja. Udah jelas. Pasti kamu lah," ucap bunda tertawa.
"Lisa," jawab ayah tersenyum.
"Yah. Emang Lisa pernah bikin ayah sebel apa coba?" tanya Lisa.
"Pas kamu batalin lamaran disaat semua orang udah tau. Ayah sering ditanya sama orang-orang, "udah lamaran kapan nikahnya?" Disitu ayah cuma bisa tersenyum."
"Yah, maafin Lisa yang masih egois dan labil ya? Setelah yakin mau menikah dengan pria pilihanku, Lisa berusaha menjadi manusia yang lebih dewasa kok."
"Gapapa, itu udah berlalu. Akhirnya ayah bisa melepas anak ayah dengan pria yang tepat kan," ucap ayah tersenyum.
Lisa tersenyum, "yuk main lagi."
"Hompimpa Alaium Gambreng."
Giliran Lisa yang kalah. Ia mengambil kartu dan mendapatkan truth.
"Sampaikan rasa sayangmu kepada anggota keluarga," ucap Lisa. "Duh momennya kok pas gini," sambung Lisa.
"Ayo nak," ucap bunda tersenyum.
"Tanpa Lisa ucap pun, ayah dan bunda pasti tau betapa sayangnya Lisa kepada kalian. Terima kasih ya udah tulus ngerawat Lisa. Maaf selama ini Lisa belum bisa menjadi anak yang baik dan punya banyak kesalahan yang tanpa sengaja menggores luka. Lisa bersyukur bisa menjadi anak ayah dan bunda karena kalian orang tua hebat. Selalu sabar, tidak banyak nuntut, dan tidak lelah belajar menjadi orang tua terbaik Lisa. Love you," ucap Lisa mencium pipi ayah dan bundanya.
"Love you too," ucap ayah dan bunda mencium pipi Lisa bergantian.
"Bunda selalu bersyukur punya Lisa. Melihat Lisa tumbuh besar, sukses, dan sekarang mau menikah itu rasanya bahagia banget," sambung bunda.
"Iya benar kata bunda. Kami bahagia tapi sempat sedih karena Lisa tidak tinggal lagi bareng kami," ujar ayah.
"Yah, bun, rumah Mas Ray tuh nggak di Amerika kan. Deket banget dari rumah. Kita bisa ketemu tiap hari atau kalo perlu bantuan apa tinggal telfon Lisa. Pisah rumah bukan brarti rasa sayang Lisa hilang. Inget itu ya yah bun," ucap Lisa memeluk kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Malam yang indah melepas lajang. Mengobrol bersama orang tua tersayang. Kalau ada mama, pasti kebahagiaan Lisa semakin bertambah. Dia pernah bermonolog dengan mama saat berhasil melawan ketakutan dengan menerima lamaran Mas Ray. Kali ini dia lawan ketakutan lagi untuk menikah. Pernah gagal melawan ketakutan menjadikan Lisa lebih dewasa menghadapi segala rintangan dalam hubungan. Buktinya, dia berhasil mengendalikan ego saat menyiapkan acara pernikahan banyak perbedaan pendapat dengan Mas Ray.