Lamora

Lamora
Daniyal Elvano


__ADS_3

"Udah ada nama?" tanya ayah memandang cucunya yang tidur di samping Lisa. Beliau baru bisa menemui Lisa dan bayinya setelah dipindahkan ke kamar inap. Aturan ruang bersalin di Klinik Sara hanya memperbolehkan dua orang yang masuk.


"Daniyal Elvano yah. Panggilannya Niyal kan yang?"


Lisa tersenyum, "Iya."


"Artinya apa?" tanya bunda.


"Daniyal itu cerdas, Elvano itu anak yang kuat hadiah dari Tuhan bun," ucap Lisa. Dia ingin anaknya yang merupakan anugrah terindah dari Tuhan untuknya dan Mas Ray, tumbuh menjadi manusia yang kuat dan sabar.


"Nama yang bagus untuk cucu kakek yang ganteng sekali," ucap ayah tersenyum.


"Makasih kakek," ucap Lisa sembari mengusap pipi anaknya. "Yang, udah ngabarin papa dan mama?" sambungnya.


"Oiya mas lupa," ucap Mas Ray.


"Tadi udah ayah kabarin kok nak. Paling lagi perjalanan ke sini," ucap ayah.


Tidak lama kemudian, mama, papa, dan Arumi datang. Mas Ray langsung memeluk mama. Air matanya menetes. Dia berterima kasih karena sudah berkorban nyawa melahirkannya dan meminta maaf selama ini banyak salah. Lisa terharu. Beruntung Mas Ray bisa berterima kasih kepada ibunya secara langsung.


"Bunda," ucap Lisa memanggil bunda yang melihat Mas Ray dan mama berpelukan.


"Iya sayang?"


"Lisa kangen mama," ucap Lisa pelan.


Bunda mengusap kepala, "Mau pergi ke makam mamamu kalo udah pulang?"


Lisa tersenyum sembari mengangguk, "Iya bun. Bun, terima kasih ya sudah merawat Lisa selama ini. Maaf kalo Lisa banyak salah."


"Iya sayang."


Mama dan papa menuju ranjang sembari tersenyum. Arumi yang berada di gendongan mama masih bingung dengan bayi yang ada di pelukan Lisa.


"Selamat ya Lisa," ucap bunda dan papa bergantian memeluk Lisa.


"Makasih mama, papa. Ini adek Arumi. Yang biasanya Arumi cium di perut bunda," ucap Lisa menjelaskan kepada Arumi yang terlihat kebingungan.


"Arumi boleh cium adik kayak waktu di perut?" tanya Arumi.


"Boleh sayang. Arumi kan sayang adik dan adik sayang kakak Arumi," ucap Mas Ray.


Mama langsung mendekatkan Arumi ke adiknya. Anak itu mencium pipi Niyal. Mas Ray sibuk mengabadikan momen tersebut.

__ADS_1


"Sini ayah fotoin kalian berempat," ucap ayah berinisiatif memfotokan mumpung personil lengkap.


"Yuk," ucap Mas Ray bersemangat. "Mana Arumi ma. Biar aku gendong," sambungnya meminta Arumi dari gendongan mama.


Foto pertama dengan anggota baru. Kebahagiaan Lisa super lengkap dengan hadirnya Niyal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Memiliki anak bayi nikmatnya luar biasa. Dari malam hingga fajar, sudah berkali-kali Niyal terbangun. Mas Ray lebih banyak bergadang daripada Lisa. Dia hanya menyusui anaknya lalu memberikan kepada Mas Ray untuk menggendong Niyal sampai tidur lagi. Mengganti baju tiap kali basah karena buang air besar ataupun kecil lebih banyak Mas Ray yang melakukan. Semua itu atas permintaan suaminya. Saat malam hari Lisa hanya perlu menyusui saja.


"Udah bangun yang," ucap Mas Ray saat Lisa terbangun. Dia sedang menidurkan Niyal yang berada dalam gendongannya.


"Makasih ya sayang udah bantu aku jagain Niyal," ucap Lisa tersenyum.


"Aku yang terima kasih kamu udah mau mengandung sampe susah payah melahirkan anak kita yang."


Lisa teringat keinginannya mengunjungi makam mama, "Mas, Lisa sejak umur 9 tahun belum pernah lagi ke makam mama. Merasakan hidup dan mati melahirkan Niyal, Lisa bilang ke bunda pengin ke makam mama."


"Oke, mas anter aja kalo darah nifasmu udah berhenti. Sekalian kita mendoakan papa dan mama secara langsung."


"Tapi Lisa belum siap melihat makam papa yang bersebelahan dengan mama, mas."


"Istriku sayang, mas yakin papa pasti bahagia waktu Lisa lahir. Papa basti bantuin mama ngurus kamu juga yang."


Lisa tersenyum, "Papa dan mama pasti banggan dan senang punya menantu yang bisa membantu anaknya memaafkan semua yang terjadi. Lisa siap memperkenalkan mas ke papa dan mama secara langsung dan bercerita Lisa sekarang sudah menjadi seorang bunda dua anak."


Mas Ray tersenyum sembari mencium bibir Lisa.


Oek... Oek... Oek...


Anaknya yang masih berada di gendongan Mas Ray menangis. Mereka berdua tertawa.


"Adik nggak mau melihat bunda dan ayah mesra," ucap Mas Ray tertawa sembari menepuk-nepuk tubuh Niyal agar tertidur lagi.


"Sini sama aku aja yang. Kamu sholat dulu," ucap Lisa. Mas Ray memberikan Niyal kepada Lisa lalu pergi sholat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alika, Mas Ikal, dan Maya baru sempat menengok Niyal saat Lisa sudah berada di rumah. Maklum, rangkaian acara pernikahan Mas Ikal dan Maya bukan hanya di Solo. Papa Maya yang berasal dari Padang ingin mereka mengadakan resepsi di sana.


"Kehidupan nggak bisa ditebak ya Ray. Aku dan kamu nikah sama sahabat adikku," ucap Mas Ikal tertawa.


"Iya ya. Kadang aku nggak percaya bisa nikah sama Lisa terus sekarang anakku udah dua. Bersyukur banget," jawab Mas Ray tertawa. Dia sedang menggendong Niyal.

__ADS_1


"Dibalik sakitnya dikhianati yang lalu ada hikmahnya," ucap Maya tertawa.


"Lo tau can?" tanya Lisa.


"Aku aja tau soal perselingkuhan mantannya Mas Ray," ucap Alika.


"Ganti topik deh. Ada si sulung di sini," ujar Lisa melirik ke arah Arumi.


Mas Ray yang duduk di samping Lisa tersenyum sembari mengusap kepala Lisa, "Love you."


"Malu mas," ucap Lisa.


"Nasib jomblo diantara pasutri gini amat ya," ujar Alika.


"Kan mas udah bilang. Sama MC nikahan mas aja," ucap Mas Ikal tertawa.


"Nggak mau," ucap Alika membentak masnya.


"Lho itu MC nikahanku juga kan?" tanya Mas Ray.


"Iya. Dia deketin adik gue. Ternyata temen kerja saudara gue. Dunia tuh sempit ya," ucap Mas Ikal tertawa.


"Saudaramu ada yang kerja jadi MC can? Siapa?" tanya Lisa.


"Kamu belum tau, kerjaan dia selain MC can? Cuma tau Alika dideketin doang ya?" ucap Maya.


"Iya. Kerjanya nggak cuma MC toh?" tanya Lisa.


"Nggak. Keluarganya punya percetakan ternama di Solo. Nah baru tiga bulan lalu, ayahnya minta dia buat ambil alih menjadi pimpinanan perusahaan itu. MC cuma buat hobi aja kata saudaraku," ucap Mas Ikal.


"Gila can. Sayang tau kalo lo tolak. Dia keliatan orang tanggung jawab juga," ucap Lisa.


"Kebanyakan cewek kalo denger cowok kaya emang gitu ya, langsung tertarik," ucap Mas Ray tertawa, "Bener langkahmu, Ka. Jangan langsung tertarik. Kenali dulu," sambungnya.


"Nggak gitu yang. Setidaknya kalo emang nggak kaya, pria mau berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Lisa juga beberapabkali nolak kan kalo mas belikan barang atau mas ajak ke tempat mahal tapi Lisa tau mas mapan dan tanggung jawab dengan kehidupan Lisa dan anak-anak Lisa."


"Iya benar. Perempuan kalo matre tuh ngabisin duit pria dengan hal-hal yang tidak perlu tapi kalo cuma liat calon suami dari pekerjaannya yang mapan sehingga dia bisa memenuhi kebutuhan inti keluarga itu bukan brarti matre. Bentuk tanggung jawab suami terhadap keluarga apalagi dia minta anak perempuan oeang lain buat jadi istrinya," ucap Maya.


"Iya iya," ucap Mas Ray mengalah.


"Makanya can, coba mengenal dulu. Jangan asal ditolak. Siapa tau emang dia pria baik dan tanggung jawab. Kayak dulu gue sebel sama Mas Ray eh pas kenal ternyata dia bisa bikin gue nyaman dan jatuh cinta," ucap Lisa tertawa


"Iya deh. Pada bawel amat," ucap Alika kesal.

__ADS_1


__ADS_2