Lamora

Lamora
Keputusan Lisa


__ADS_3

"Lisa, anakku sayang," ucap wanita cantik berbaju putih memanggil Lisa.


"Mamaaaa," teriak Lisa.


"Kamu udah besar nak. Mama kangen."


"Lisa kangen banget sama mama. Lisa pengin ikut mama. Nggak mau mama tinggal lagi," ujar Lisa meneteskan air mata.


"Jika mama bisa memohon kepada Tuhan, nak. Mama ingin terus menemani Lisa. Tapi Tuhan lebih ingin mama bahagia di surga, nak."


"Tapi, kenapa Tuhan membiarkan Lisa sendiri ma? Apa Tuhan tidak ingin Lisa ikut bahagia di surga bersama mama?"


"Tuhan tahu Lisa kuat. Tuhan tahu Lisa harus bertahan di dunia karena ada orang yang memerlukan Lisa dalam hidupnya."


"Tapi, hidup di dunia penuh kekejaman ma. Lisa tidak kuat. Lisa ingin ikut mama. Lisa ingin bahagia di surga bersama mama."


"Mama tau itu. Kamu pun melihatnya bagaimana kekejaman menyerang mama di dunia. Tapi, saat dunia sudah tidak kejam lagi, tidak akan ada manusia yang peduli satu sama lain. Dunia akan hancur dan kamu menyelamatkan dirimu sendiri. Tuhan memintamu bertahan hidup untuk membantu orang kain dari kekejaman di dunia, nak. Begitupun orang lain, mama yakin akan ada yang membantu Lisa."


"Pokoknya Lisa cuma mau ikut mama!" bentak Lisa ke mamanya.


"Bukankah sudah cukup malam ini kamu bisa melihat mama lagi, nak? 16 tahun rasa rindumu sudah terbayarkan. Jangan ikut mama. Tuhan masih memberimu kesempatan untuk bermanfaat untuk orang lain. Jangan coba-coba membunuh dirimu sendiri jika ragamu belum ingin pergi. Sayangi diri dan kehidupanmu nak."


"Mama jahat. Kalau mama sayang Lisa seharusnya mama mengizinkan Lisa ikut dengan mama. Kita sama-sama bahagia di surga."


"Tidak nak, jangan pernah sia-siakan hidup. Mama memang bahagia di sini namun sampai sekarang mama belum bertemu papa. Andai mama dan papa masih hidup di dunia, kita tidak akan membuang waktu untuk saling memaafkan nak, walaupun mama sangat tersakiti atas kelakuan papa. Jadi, mama mohon Lisa jalani kehidupan dengan baik. Mama selalu ingin Lisa lupa atas kejadian itu. Mama minta maaf ya nak, Lisa harus tumbuh dewasa tanpa mama."


Mamanya menjauh dari pandangan Lisa. "Mamaaaa, Lisa mau ikut," teriak Lisa sembari menangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Spontan Lisa terbangun. Tersentak. Dia masih tidak menyangka setelah bertahun-tahun menunggu mamanya hadir di mimpinya, kali ini Tuhan wujudkan.


Mas Ray yang masih bangun langsung menuju ke kasur. "Kenapa sayang? Masih jam 12 malam, tidur lagi aja," ucap Mas Ray mengusap rambut Lisa.

__ADS_1


Lisa meneteskan air matanya. Dia rindu sekali. Ingin rasanya tidur dan mamanya hadir kembali.


Mas Ray memeluk Lisa, "mimpi buruk ya? Jangan takut, ada mas di sini," ucapnya.


"Lisa pengin sama mama," ucapnya menangis sesenggukan.


Mas Ray melepas pelukan. Menghapus air mata Lisa,"Lisa kangen ya. Gapapa kangen. Tapi jangan terus-terusan ya. Mama pasti ingin Lisa bahagia. Kalo Lisa kangen sambil menangis terus, mama sedih melihatnya," ucapnya tersenyum.


"Kapan Tuhan pengin Lisa nyusul mama, mas? Lisa capek."


"Jangan gitu sayang. Setiap manusia sudah ada garis hidup masing-masing. Bahkan mas selalu berdoa kamu terus ada di samping mas sampe kita tua. Melihat anak, cucu, kalo perlu sampe cicit kita sukses dan bahagia," Mas Ray menghapus air mata Lisa lalu mencium pipinya.


Lisa terdiam sambil mengusap air matanya yang terus menetes.


"Sayang," Mas Ray mengusap air mata Lisa, "berbaring di sofa yuk? Pemandangannya bagus. Siapa tau bisa bikin Lisa tenang," sambungnya.


Lisa belum merespons, Mas Ray menggendong tubuh Lisa yang masih terbalut selimut. Dia baringkan Lisa ke pojok sofa dekat jendela. Lalu, dia bersandar di sofa.


"Sempit mas," ucap Lisa menghapus air matanya yang berhasil dihentikan oleh kelakuan Mas Ray.


"Nggak mau."


Mas Ray yang masih bersandar membuang selimut di tubuh Lisa.


"Mau ngapain?" ucap Lisa berdiri sembari mengepalkan tangannya bersiap-siap jika terjadi sesuatu.


"Jangan khawatir. Mas cuma pengin mindahin Lisa ke pangkuan mas. Selimutnya berat," sambungnya sembari memasukkan tangannya ke leher Lisa bagian belakang.


"Jangan sentuh. Aku nurut," ucap Lisa langsung duduk di pangkuan Mas Ray.


"Taruh sini kepalamu yang," Mas Ray memaksa kepala Lisa tidur di bahunya lalu tangannya melingkar di perut Lisa.


Mas Ray mengajak Lisa mengobrol, "yang, jangan pernah berpikir untuk menyusul mama lagi ya. Tiap kali ada masalah, Lisa tahan buat nggak masuk ke kamar mandi lagi dan langsung telfon mas."

__ADS_1


"Kalo mas penyebabnya?" tanya Lisa.


"Lisa bisa ngomong dan marahi mas. Mas udah sering bilang kan, kalo ada apa-apa diobrolin dulu jangan langsung berpikir atau bertindak negatif. Untung hari ini Lisa nggak tumbang cuma kedinginan aja. Mas paling terpuruk kalo tau Lisa menyimpan stres sendiri dan pelariannya ngurung diri di kamar mandi. Tahan ya yang? Telfon mas. Kita lawan bersama ketakutan, trauma, dan apapun masalahmu."


"Nggak janji tapi Lisa usahakan. Lisa udah terbiasa dari umur 9 tahun pasti susah.


"Mas kasih alternatif tambahan, Lisa bisa pergi ke tempat gym, bikin video, atau nulis diari buat luapin kekesalanmu. Nah, pas udah tenang dan butuh solusi, bisa cerita ke ayah, bunda, mas, atau orang yang Lisa percaya bisa nenangin Lisa. Intinya, pas kondisimu masih syok dan kesal, mencari ketenangan nggak perlu di kamar mandi."


"Iya tau. Masih sama jawaban Lisa. Nggak janji tapi Lisa usahakan," ucap Lisa.


"Makasih sayang," Mas Ray mencium rambut wanita yang ada di pelukannya itu.


Lisa mulai tenang atas kekesalannya terhadap Mas Ray, akhirnya berani bertanya, "Kenapa nggak cerita kalo Maya suka sama mas? Kalo dari awal cerita, mungkin persahabatan Lisa dan Maya nggak akan hancur," ucapnya sembari melihat pemandangan dari kaca.


"Kali ini soal mas lagi? Maaf ya mas sering banget bikin Lisa sedih. Mas nggak cerita karena mas tahu Maya sahabat Lisa dan Lisa akan menjauhi mas demi Maya. Kalo kamu tahu, pasti lamaran mas bakal kamu tolak juga. Masak mas ngehancurin kisah cinta mas sendiri."


"Persahabatan Lisa hancur nggak kamu pikirin?" ucap Lisa mencubit paha Mas Ray hingga membuatnya melepas pelukan dan mengusap pahanya. Lisa langsung turun dari kursi tapi Mas Ray menangkap tangannya dan menggenggam erat.


"Pikirin sayang. Mas udah cariin Maya jodoh. Kebetulan temen mas ada yang tertarik dan udah mulai gencar mendekatinya. Kalo hati Maya udah luluh sama temen mas, hubungan kalian mas jamin akan baik lagi."


"Konyol. Lu kira hal kayak gitu nyelesaiin masalah woi. Gimana kalo temen lu nyakitin sahabat gue. Lepasin tangan gue nggak," ucap Lisa kasar sembari tangan satunya yang tidak digenggam Mas Ray, mencubit pria itu keras. Amarahnya sudah tidak tahan. Bisa-bisanya dia menjadikan temannya sebagai umpan untuk menyelesaikan masalah ini.


Mas Raih masih bertahan. Genggamannya semakin kuat.


"Lepasin," teriak Lisa yang berusaha melepaskan tanggannya.


"Inget yang kerikil dalam hubungan pasti ada. Mas tahu mas salah, tapi itu jalan keluar karena teman mas tertarik sama Maya. Cinta kita harus sama-sama kuat yang. Mas cuma pengin kamu."


Lisa terus mencoba melepas genggaman tangan Mas Ray. "Semalem, Lisa sempat berpikir mengakhiri hubungan kita. Setelah tahu alasanmu hanya egois buat dapetin aku, aku, dan aku tanpa mikir gimana hubunganku dan sahabatku eh sekarang comblangin sahabatku, aku udah nggak taha. Aku bakal ngobrol sama ayah dan bunda buat batalin lamaran kita," ucap Lisa kali ini berjongkok lalu menggigit tangan Mas Ray. Akhirnya Mas Ray melepaskannya dengan kondisi syok bahwa Lisa akan membatalkan lamaran mereka.


Lisa mengambil pakaiannya lalu berganti pakaian di kamar mandi. Mas Ray menangis sambil menggedor pintu kamar mandi sembari memohon agar tidak membatalkan lamaran mereka. Sedangkan tangisan Lisa, sudah tak mampu lagi keluar. Perasaan marah kepada Mas Ray bahkan kepada dirinya sendiri karena telah menghancurkan persahabatannya hanya karena cinta. Selama ini dia berhasil hidup tanpa cinta, menyesal dia bisa luluh dengan pria itu.


Keluar dari kamar mandi, Mas Ray mencoba memeluk Lisa namun tak bisa. Lisa sudah brutal. Segala tangan dan kakinya main untuk menghindari sentuhan pria itu. Lisa buru-buru mengambil ponsel, kunci mobil, dan dompetnya. Mas Ray mencoba menahan kakinya dengan kedua tangannya sambil memohon-mohon. Lisa tetap brutal. Dia jambak rambut Mas Ray sampai kesakitan dan melepaskannya.

__ADS_1


Dia pergi meninggalkan Mas Ray. Untung kamar Lisa ada di lantai satu, tidak perlu menunggu lift yang bisa membuatnya ditahan pria itu. Dia buru-buru masuk mobil. Terlihat Mas Ray sedang keluar dari hotel. Jam 1 dini hari, entah Lisa akan kemana.


__ADS_2