
Saat asyik foto menggunakan kamera yang dibawa Alika, ponsel Lisa berbunyi. Mas Ray menelfonnya. Dia menolak panggilan tersebut dan melanjutkan foto lagi bersama sahabatnya. Seminggu tidak menghubunginya, pria itu masih sama, kembali menelfon Lisa.
"Nggak kamu angkat kenapa? Kita bisa tunda dulu kan fotonya nunggu kamu selesai telfonan," tanya Alika.
Lisa tersenyum, "iya ini gue angkat kok. Bentar ya."
Maya dan Alika mengangguk. Dia pergi ke arah kamar mandi dan mengangkat telfon Mas Ray.
"Ada apa?" ucap Lisa.
"Lisa, mamaku telfon, Arumi dirawat di klinik. Dia pengin ketemu kamu. Ini mas mau ke sana, kamu masih di kampus? Bareng sekalian aja," ucap Mas Ray terdengar panik.
Lisa ikutan panik. Betapa sayangnya dia kepada anak kecil itu yang selalu nempel dengannya. Lisa yang berangkat diantar bunda karena mobilnya masuk bengkel, menerima tawaran Mas Ray, "Masih di kampus. Iya bareng aja kebetulan aku gak bawa mobil," ucapnya.
"Oke. Aku tunggu di mobil ya. Tolong agak cepat ya Lisa," ucap Mas Ray.
"Iya aku langsung turun habis pamitan sama Alika dan Maya."
Lisa menutup telfonnya dan berlari menuju depan ruangan seminar. Biasanya dua hari sekali bertemu dengan Arumi yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Wajar jika saat sakit si kecil itu memanggilnya karena mereka sudah dekat seperti seorang anak dan ibu kandung.
"Can, aku pamit pulang ya. Keluarga gue ada yang sakit dan pengin ketemu gue," ucap Lisa.
"Mau gue anter? Lo keliatan panik gitu, nanti kalo nyetir malah nggak fokus," ucap Alika.
"Nggak usah. Gue udah di jemput kok di bawah," ucap Lisa.
"Oke deh," ucap Alika.
"Yuk turun," ucap Maya.
Untung parkiran dosen dekat pintu keluar fakultas dan tidak banyak mahasiswa yang berkeluaran di area itu. Hal inilah yang membuatnya dari dulu saat diam-diam nebeng Mas Ray tidak pernah ketahuan walaupun tetap perlu memastikan tidak ada mahasiswa yang dia kenal saat masuk mobil.
Sesampainya di mobil, wajah Mas Ray terlihat panik sekali. Dia meminta Lisa memakai sabuk lalu segera melaju ke Klinik Sara.
Mas Ray melirik ke arah buket yang Lisa pangku, "maaf ya mas, nggak bisa kasih kamu buket langsung selesai sidang tadi," ucapnya mencairkan suasana.
"Gapapa. Kalau ngasih ke Lisa otomatis ke Maya dan Alika juga harus ngasih. Kan sama-sama mahasiswa bimbinganmu harus adil," ucap Lisa.
"Iya, mas tau makanya mas kirim hadiahnya ke rumah. Tapi kamu malah harus ke rumah sakit."
__ADS_1
"Arumi sakit apa?" tanya Lisa penasaran.
"Semalem demam tinggi. Terus tadi pagi udah turun. Aku mau izin kerja buat jagain dia tapi mama dan papa bilang berangkat aja karena mereka juga tau kamu hari ini seminar proposal dan itu gara-gara aku. Aku pikir benar juga kata mama dan papa, tiap malem kamu udah usaha mati-matian demi hari ini sampe aku cuma berani chat bunda buat kontrol kamu. Akhirnya aku berangkat. Tadi setelah kamu sidang baru ditelfon mama, kalau Arumi demam tinggi dan muntah terus setelah aku berangkat kerja. Mereka bawa ke klinik karena khawatir. Ternyata DBD."
Lisa luluh dengan perasaan sedih pria ini. Ia menepuk pundaknya, "maaf ya gara-gara seminarku kamu sedikit terlambat tahu Arumi tumbang. Arumi anak kuat, ayahnya juga harus kuat."
Mas Ray tersenyum, "kangen sikapmu yang seperti ini. Setidaknya selama Arumi sakit kuatin aku terus ya? Aku butuh kamu."
"Arumi anakku juga. Kita saling menguatkan ya," Lisa tersenyum.
"Love you more," ucap Mas Ray sembari mengusap kepala Lisa.
Lisa tak ingin menjawab. Rasa cinta itu masih ada tapi keinginannya untuk tidak lagi terjebak dalam kisah cinta masih ia pegang. Saat ini hanya sekadar kesembuhan Arumi mereka saling menguatkan dan bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka memasuki kamar Arumi dirawat. Anak itu tersenyum walau terkulai lemas. Infus sudah terpasang di tangan mungilnya. Si kecil yang selalu memeluk Lisa tiap kali datang, terbaring lemah di kasur.
"Arumi kangen ya sama bunda?" tanya Lisa mengusap rambutnya.
"Bunda, temenin Arumi di sini ya."
Lisa duduk di kursi yang Mas Ray berikan, "bunda janji bakal nemenin Arumi tapi Arumi juga harus janji ke bunda kalau Arumi harus makan yang banyak dan minum obat ya," ucapnya tersenyum.
"Janji," ucap Arumi tersenyum.
"Kakek, nenek, sama ayah nggak perlu nemenin Arumi?" tanya Mas Ray yang berdiri di samping Lisa.
"Penting ada bunda," ucap Arumi.
Lisa terharu. Anak itu benar-benar menganggapnya sebagai ibunya. Jika Arumi sudah paham dia bukan bundanya dan Lisa tidak akan menikah dengan Mas Ray pasti dia sangat kecewa dengan Lisa.
"Kalah kita Ray kalo udah ada bunda," ucap Om Bobby.
"Penting Arumi nurut apa kata bunda ya sayang," ucap Mas Ray memijat kaki Arumi.
Arumi mengangguk.
"Tadi udah mama suapi pelan-pelan. Lumayan banyak yang masuk dan nggak muntah lagi," ucap Tante Ratih.
__ADS_1
"Nanti malem bunda suapi harus lebih banyak ya sayang," ucap Lisa.
"Iya bunda."
"Tadi panasnya berapa ma, pa?" tanya Mas Ray ke mama dan papanya
"Pagi 41 derajat makanya mama panik banget. Kalau ini tadi berapa pa? 39.5 derajat ya?"
"Iya 39.5 derajat," ucap Om Bobby.
"Oke. Trombositnya kata Dokter Gina masih aman?"
"Turung tapi masih aman," ucap bunda.
"Oke deh. Mama dan papa istirahat di rumah dulu aja. Seharian udah di sini."
"Iya, Lisa juga bantu jaga Arumi kok. Om dan tante pulang aja gapapa," timpal Lisa yang merasa kasihan karena orang tua Mas Ray pasti panik seharian ini.
"Mencium bau-bau balikan nih ma makanya kita diusir," ucap Om Bobby tertawa.
Lisa hanya diam mendengar Om Bobby yang sedang menggodanya dan Mas Ray. Sedangkan reaksi Mas Ray tersenyum lebar.
"Jangan gitu pa. Nanti Lisa cuekin anak kita lagi. Yakin nih papa dan mamam tinggal Ray?" ujar bunda.
"Iya pa, ma. Kalian pulang aja gapapa. Makasih banyak ya udah bawa Ray ke klinik dengan cepat," ucap Mas Ray.
"Iya nak. Baju ganti kalian gimana?"
"Minta tolong mama dan papa mampir ke rumah Lisa buat ambil baju terus pulang ke rumah. Baju Lisa dan baju Ray kirim lewat aplikasi online aja," ujar Mas Ray.
"Nggak usah mas. Lisa tadi sudah chat bunda kalau nggak bisa pulang karena Arumi sakit di klinik. Bunda mau ngirim baju kok tan sekalian nengokin Arumi," ucap Lisa.
"Oke. Kami pulang dulu ya. Nenek pulang dulu ya Arumi," ujar Tante Ratih.
"Arumi besok kakek dan nenek ke sini lagi ya," ucap Om Bobby.
"Iya nenek, kakek," ucap Arumi.
Kepergian Tante Ratih dan Om Bobby meninggalkan Lisa dan Mas Ray menjaga Arumi bersama. Saling bekerja sama demi kesembuhan perempuan kecil kesayangan mereka.
__ADS_1