Lamora

Lamora
Kembali


__ADS_3

Mas Ray


Kamu pilih pulang? Ajakan mas kamu tolak?


Lisa tidak tega sebenarnya. Dia tahu Mas Ray sangat mencintainya. Sudah 15 menit. Dia masih duduk di lobi hotel. "Pulang atau menemani Mas Ray tapi tetap menolaknya?" batin Lisa menimang-nimang dua pilihan.


Akhirnya dia memutuskan pergi ke kamar 710. Khawatir Mas Ray akan menangis sendirian karena ia tolak.


Tok... Tok... Tok...


Menunggu agak lama, Mas Ray membuka pintu dengan wajah sembab. Pria itu memeluk Lisa.


"Mas tau kamu masih cinta sama mas. Makasih ya udah milih kamar ini daripada pulang."


"Mas, waktu aku batalin lamaran, Lisa biarkan mas nangis dan hancur sendiri. Kali ini, Lisa nggak pengin ngeliat mas hancur. Lisa nggak bisa menikah dengan mas tapi Lisa pengin mas bahagia terus. Jangan lagi suka sama Lisa yang berengsek ini, mas."


Mas Ray melepas pelukan, "kamu datang ke kamar ini tapi menolak mas dan pengin mas bahagia? Lis, mas nggak bisa hidup tanpa kamu. Kamu yang menyelamatkan kehidupan mas. Mana bisa mas kehilangan kamu. Nggak bisa Lis," ucap Mas Ray memarai Lisa sambil menggeretnya ke dalam.


"Nih lihat. Semua memori ini kamu pengin aku lupain?" ucap Mas Ray menunjuk foto polaroid kenangan mereka yang tergantung pada balon. "Mas yakin kamu masih cinta sama mas. Kamu pasti inget kan semua momen kita. Momen kita makan malam di kapal, momen kita bikin video bareng, momen mas melamarmu, momen kita pelukan, ciuman, dan sebagainya. Kamu yakin pengin mas melupakan semua? Mas aja nggka yakin bisa melupakanmu, Lis. Kamu udah buat mas jatuh cinta sedalam ini. Dengan kalimat bintangmu, dengan sikap cuekmu, semuanya tentangmu bisa membuat mas jatuh cinta, Lis."


"Mas, jangan marah-marah. Lisa takut dengernya," ucap Lisa menunduk.


Mas Ray memeluk Lisa, "Maaf ya? Emosi mas nggak bisa kekontrol," ucap Mas Ray sembari mengusap rambut Lisa.


Lisa mengangguk.


"Mas nggak pernah berhenti bilang, kita lawan ketakutan, kegelisahan, dan sejenisnya kalau memang Lisa masih mencintai mas. Lisa bisa cerita apapun ke mas. Jangan jadikan semua yang menghantuimu sebagai penghalang kebersamaan kita. Lisa berhak bahagia. Untuk terakhir kali mas tanya, Lisa beneran nggak ada perasaan sama mas lagi? Jangan pura-pura nggak punya perasaan ke mas. Kalau ada yang mengganjal dan pengin kita diskusikan bisa ngomong daripada harus memendam perasaan. Nggak enak di mas dan Lisa."


"Kalau Lisa ternyata emang nggak punya perasaan sama mas lagi?"


"Ya gapapa. Mas terima dan tetap menunggu Lisa kembali. Intinya mas mau Lisa jujur."


"Jujur ya..." ucapan Lisa terhenti. Dia menarik nafas dalam-dalam, "Lisa belum bisa ngelupain mas. Tapi untuk menikah Lisa nggak bisa. Jadi, Lisa pengin mas lupain aja Lisa karena Lisa juga pengin pindah ke luar kota biar nggak inget mas lagi."

__ADS_1


Mas Ray melepas pelukan. Bahagia sekali mendengar jawaban Lisa yang masih mencintainya.


"Tebakan mas bener kan, masih cinta tuh ngomong. Oke kalo Lisa nggak bisa terima ajakan mas nikah. Mas bakal nunggu sampe Lisa mau dan nggak akan lupain Lisa. Tapi kenapa Lisa pengin lupain mas sampe pindah dari Solo?"


"Duduk yuk," Lisa menuju sofa disusul oleh Mas Ray.


"Jadi kenapa? Lisa nggak sendiri. Ada mas yang mau jadi teman cerita Lisa," ucap Mas Ray sembari tiduran di paha Lisa.


Lisa memutuskan cerita semuanya ke Mas Ray. "Mama selalu mengajak Lisa jalan-jalan berdua terutama bermain pasir di pantai. Papa nggak pernah ikut dengan alasan sibuk bekerja. Memori masa kecil yang teringat hanya secuplik kisah bahagia bersama mama dan sisanya memori buruk tentang kedua orang tuaku," ucap Lisa sembari mengusap air matanya yang mulai mengalir.


Mas Ray melingkarkan tangannya ke perut Lisa sembari melihat wajah Lisa, "Ceritain semua ke mas ya? Sekali lagi mas ngomon, Lisa nggak sendiri. Ada mas yang mau kamu ajak berbagi semua yang buruk diingatan Lisa. Nggak usah terburu-buru. Kita masih punya banyak waktu di sini."


"Sekitar sebulan sebelum kejadian papa dan mama meninggal. Papa pulang dengan wanita dalam kondisi mabuk. Mama marah besar hari itu. Kalimat yang masih terlintas di kepala Lisa, 'Silahkan hancurkan keluargaku. Jangan sampai anakku melihat tingkah kalian berdua.' Papa menampar mama keras. Setelah hari itu, kehidupanku dan mama normal walaupun papa tidak pulang ke rumah."


"Terus kenapa papa dan mama Lisa bisa bareng di hari kecelakaan?" tanya Mas Ray duduk sembari menyenderkan kepalanya di bahunya.


"Mereka berantem lagi hari itu. Papa datang merobek kertas. Lisa nggak tau kertas apa tapi setelah tumbuh besar Lisa yakin itu surat perceraian. Soalnya papa ngomong, "Lisa tinggal sama aku.' Tidak banyak ucapan mereka yang bisa Lisa tangkap selama bertengkar. Papa minta Lisa menunggu di rumah, mereka akan pergi sebentar. Anak umur 5 tahun mas, menangis di rumah sendiri. Eh pas ketemu lagi cuma liat papa dan mama udah nggak bisa ngomong. Meninggalkan Lisa selamanya."


"Brarti nggak tau papa dan mama menuju kemana? Terus itu murni kecelakaan kan?"


Mas Ray mengusap rambut Lisa, "kamu tumbuh menjadi wanita hebat Lisa. Pasti berat melalui semua ini. Tante Lala sama Om Sam nggak tau kejadian ini ya? Cuma tau kecelakaan aja?"


"Iya. Lisa memendam semuanya sendiri."


"Sekarang kalau ada masalah cerita ke mas ya. Jangan kamu pendam sendiri. Itu bikin kamu hancur, sakit hati, dan menjalani trauma itu menjadi lebih lama lagi. Mau kamu memutuskan pindah dan melupakan mas pun tetep mas selalu bersedia menjadi tempatmu bercerita."


Lisa mengangguk, "makasih ya udah selalu ada buat Lisa."


"Sebenarnya ada satu hal yang membuat mas penasaran, kebiasaan Lisa menangis di kamar mandi saat umur 9 tahun itu awalnya kenapa? Kan ayah dan bundamu juga nggak tau masalah itu. Kalau emang Lisa nggak siap cerita ya gapapa."


"Serangkaian cerita papa dan mama mas. Umur 9 tahun pertama kali aku sadar kalau papa selingkuh. Gara-gara temanku cerita tentang perceraian orang tuanya karena perselingkuhan. Sebelumnya Lisa hanya berpikir papa dan mama berantem besar karena papa mabuk bersama teman wanitanya. Soal mama ingin bercerai sampai papa datang ke rumah, Lisa sadar saat itu juga. Lisa memilih menangis dengan aliran shower karena nggak pengin ayah dan bunda tau apa yang Lisa lihat sebenernya. Nggak pernah terpikir bakal jadi kebiasaan tiap kali ada masalah larinya ke kamar mandi. Umur 9 tahun itu Lisa janji tidak ingin dekat dengan pria manapun nantinya karena takut menyakiti atau disakiti kaya hubungan papa dan mama. Walaupun ujungnya mas berhasil membuat Lisa jatuh cinta dan Lisa telah menyakiti Maya, mas, Arumi, dan keluarga kita berdua."


Mas Ray mencium kening Lisa, "ada beberapa hal yang perlu mas tanggapi. Tiap kali ada masalah, semakin Lisa memendam sendiri dan melampiaskan dengan cara negatif itu semakin membuat Lisa terluka. Kalau memang Lisa memutuskan pindah kota buat melupakan mas, jangan ragu buat cerita ke mas tiap kali ada masalah. Mas selalu ada buat Lisa dan akan tetap mencintai Lisa sampai kapan pun. Soal, papa dan mama. Tidak semua pria kamu bisa samakan dengan papa. Tidak semua pria akan menyakiti Lisa seperti mama tersakiti. Dan kamu bukan menyakiti mas, Maya, ataupun keluarga kita. Kamu hanya masih hidup di dalam bayangan masa lalu yang belum bisa Lisa maafkan. Lisa, mas yakin papa dan mama Lisa pasti bangga di surga memiliki anak kuat dan hebat. Sukses di usia muda dan sekarang udah lulus kuliah pula. Papa pasti ingin Lisa maafkan juga karena udah menggores trauma dalam diri Lisa. Mereka pasti ingin melihat Lisa bahagia. Setelah tahu semua cerita Lisa, mas semakin ingin menemani Lisa dan membuat Lisa bahagia. Tapi, semua keputusan ada di tangan Lisa. Mas nggak bisa menjanjikan apapun selain berusaha memperlakukanmu sebaik mungkin dan sebahagia mungkin."

__ADS_1


"Mas inget kejadian Lisa nangis karena lagu 'Melukis Senja' pas di Tawangmangu?" Lisa melihat Mas Ray sambil tersenyum.


"Iya inget. Kenapa?"


"Aku selalu berharap ada seseorang yang bisa menemaniku, membuatku bercerita segala yang aku pendam selama ini. Terima kasih sudah hadir di hidup Lisa mas."


Mas Ray melepas senderan Lisa. Mencium keningnya lalu menatap matanya sembari memgang kedua tangan Lisa. "Tidak semua pria seperti itu. Lisa hanya perlu memaafkan papa dan hidup bahagia. Bukan malah menjauh dari mas. Jadi, Lisa kamu mau kan menikah dengan mas? Sama-sama belajar menjadi pasangan yang lebih baik dan bekerja sama mempertahankan keluarga kecil kita nantinya. Mas akan berusaha membuat kamu menjadi wanita paling beruntung memiliki mas karena mas beruntung bisa mencintaimu."


Lisa tersenyum, "Nggak mau nolak. Bantu Lisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi pasangan dan ibu dari anak-anak mas yang lebih baik juga. Sabarnya mas selama ini menghadapi Lisa, cara mas memuliakan Lisa sebagai wanita yang mas cintai, cara mas meyakinkan Lisa bahwa hidup bersamamu semua akan baik-baik saja, Lisa pengin liat terus sampai maut memisahkan kita," Lisa mencium pipi Mas Ray.


Mas Ray terharu. Penantiannya terbayarkan. Rasa rindu kasih sayang Lisa sepenuhnya akan terobati.


Mas Ray mencium bibir calon istrinya itu, "Love you sayang."


Lisa mencubit tangan Mas Ray, "Ini ciuman bibir biasa, Lisa cubit aja. Kalo sampe ciuman ganas dan ****, sebulan pernikahan nggak bakal aku kasih jatah."


"Aku rela dapat cubitan dari calon istri super cantik," ucap Mas Ray mencium bibir Lisa.


"Cukup mas," Lisa mencubit keras lengan Mas Ray hingga dia kesakitan.


"Aduh. Ganas banget," ujar Mas Ray sembari mengusap lengannya.


"Kamu bawa baju ganti?"


"Iya. Kalo kamu terima pengin kita tidur bareng lagi kayak di Bali. Kangen pelukanmu, yang."


"Nggak cuma satu kan?"


"Iya. Ada yang bisa kamu pakai kok yang."


"Ya udah sana ambil yang," ucap Lisa agak kaku. Sudah lama dia tidak memanggil sayang kepada Mas Ray.


"Siap sayangku."

__ADS_1


Mas Ray mengambil baju yang ada di mobilnya. Malam ini mereka resmi memulai hubungan sepasang kekasih lagi. Selain Mas Ray bisa membuatnya yakin hidup bersamanya akan baik-baik saja, Maya yang memilih pria lain berhasil membuat Lisa yakin untuk kembali kepada Mas Ray. Seusai ganti baju mereka tidur berpelukan. Pulas. Kehangatan yang selalu dirindukan akhirnya kembali.


__ADS_2