
Lisa tak mungkin menolak ajakan Pak Ray karena nggak enak sama Tante Ratih, Om Bobby, ayah, dan bunda. Rasa kesal dan ingin segera pulang berakhir menjadi malam yang panjang bersama orang paling Lisa benci. Tanpa memberitahu Lisa tujuan yang pasti, entah mau pergi ke mana malam ini.
"Kalau bapak boleh tau, kenapa Lisa benci dengan bapak?" Tanya Ray sehalus mungkin karena takut membuat Lisa bersikap semakin buruk terhadapnya.
"Emang Lisa benci? Biasa aja."
" Kalau biasa aja kenapa selalu ketus tiap kali ngobrol dengan bapak?"
"Perasaan bapak aja kali."
"Kalo perasaan bapak aja, malam ini bapak ingin kita ngobrol banyak hal. Kan bapak diminta deketin Lisa nih. Udah disetujui kedua belah pihak lagi," ujar Pak Ray sambil tertawa.
"Kalo Lisa nggak pengin ngomong harus ngomong?"
"Lisa hanya perlu menjawab kalo bapak tanya saja."
"Kebetulan Lisa nggak suka ditanya dan ngomong."
"Kalo ada orang tanya ke Lisa, 'apa cafe paling enak di Solo?' Terus Lisa bakal diam aja gitu? Kalo bapak jadi Lisa bakal langsung jawab, 'Star Cafe.' Biar makin ramai cafe Lisa."
"Kalo menguntungkan, pasti gue jawab lah," ujar Lisa menggunakan kata 'gue' karena merasa nggak perlu sopan lagi ke orang yang udah bikin Lisa kesal terus-menerus.
"Udah ah, bapak capek debat sama Lisa. Intinya bapak mau bawa Lisa ke tempat yang indah banget."
"Kalo bapak capek debat, mending anter gue pulang."
"Nggak. Mending Lisa tidur aja. Nanti kalo udah sampe bapak bangunkan."
"Anter pulang aja pak," pertama kalinya Lisa menggunakan nada memohon.
"Nggak akan."
Akhirnya Lisa memilih diam, menghadap ke kaca sambil mendengarkan musik yang sudah terputar. Musik tersebut membius Lisa dalam sekejap. Ia tertidur pulas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil Pak Ray memasuki sebuah vila milik orang tuanya di kawasan Tawangmangu. Walaupun lama tinggal di Batam, orang tuanya memiliki orang kepercayaan membantu merenovasi rumah peninggalan nenek Ray menjadi vila yang sangat estetik dengan view perkebunan. Vila tersebut menjadi tempat penginapan yang dituju wisatawan saat berkunjung ke Tawangmangu.
__ADS_1
Pak Ray membangunkan Lisa dengan menepuk pelan pundaknya, "Lisa, ayo bangun, kita sudah sampai."
Lisa yang setengah sadar, mencoba bangun dengan mengucek matanya sambil menerawang posisinya sedang di mana. Namun ia tidak menemukan jawaban. Tempat ini terlalu asing.
"Kita sudah sampai di vila mama papaku," ujar Pak Ray sembari membukakan Lisa pintu dari dalam, "ayok kita keluar."
Bukan syok dengan kelakuan Pak Ray membukakan pintu, justru Lisa kesal karena dosen yang ramah ke semua mahasiswa ini, tindakannya semakin gila. Tanpa menjawab Lisa mengikuti aba-aba Pak Ray. Dia memilih manut terlebih jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB namun masih berkeliaran di luar bersama orang yang sangat ia benci dan belum lama kenal.
Pak Ray melangkahkan kakinya ke dalam vila tersebut untuk bertemu penjaga vila. Lisa melihat Pak Ray mendapatkan sebuah kunci dari penjaga vila itu. Pikiran Lisa mulai muncul hal-hal buruk yang mengancam dirinya.
"Pak, ngapain pake minta kunci?"
"Jangan berpikir jorok. Saya mau bawa kamu ke kamar atas yang ada rooftopnya, biar pemandangannya lebih bagus. Kamar tersebut memang butuh akses kunci."
"Disini aja yang ramai, nggak usah ke atas. Disini udah bagus," ujar Lisa sambil melihat situasi yang kebetulan sedang ramai pengunjung yang menginap di kamar bawah.
"Bawah area tamu Lisa, terlalu ramai. Di atas aja, area khusus untuk pemilik. Ayo, naik. Saya kenal ayah dan bundamu, nggak mungkin ngelakuin hal-hal buruk ke kamu. Jangan mikir yang aneh-aneh."
"Siapa juga yang mikir aneh-aneh," jawab Lisa sewot.
Pak Ray membuka pintu yang terletak di pojok. Ternyata pintu tersebut hanya berisi satu tangga yang cukup lebar dengan penerangan memadai. Pak Ray menaiki tangga tersebut disusul oleh Lisa di belakangnya. Sesampainya di atas, Lisa dibuat takjub oleh pemandangan kebun teh dan bintang yang terlihat jelas.
"Iya," jawab Lisa singkat sambil tersenyum lebar untuk pertama kalinya.
"Ayo kita duduk di luar," ajak Pak Ray sambil menunjuk bangku lebar dari kayu.
Mereka berdua duduk di bangku itu sambil melihat ke arah hamparan perkebunan yang luas milik warga setempat. Ray menyalakan musik favoritnya "Melukis Senja" yang dipopulerkan Budi Doremi dengan volume pelan namun masih bisa didengar oleh mereka.
Air mata Lisa menetes. Lisa langsung mengusap air matanya dan menahan agar tidak buyar karena malu kalau sampai Pak Ray tahu dia menangis. Selain menyukai musik NCT, Lisa selalu mendengarkan lagu "Melukis Senja" dan berakhir dengan air mata meluap. Dia membayangkan ada sosok yang Tuhan kirim menyanyikan lagu tersebut untuknya. Memang banyak raga yang ada di sekeliling Lisa selama ini seperti ayah dan bunda namun dia selalu merasa sendiri dan tidak bisa bercerita masalah apa yang membuatnya seperti ini kepada orang lain. Ternyata air mata itu semakin mengalir dan tidak bisa ditahan lagi.
"Lisa, kenapa menangis?"
"Gapapa."
"Lisa keinget apa?"
"Gapapa."
__ADS_1
"Nggak mau cerita?"
"Nggak," ujar Lisa sambil mengusap air matanya.
"Lisa lagi nggak baik-baik aja, tapi memaksakan diri buat baik-baik aja. Jangan pendam apapun itu sendiri, Lis."
"Gue gapapa."
"Lisa, mau dengar cerita saya nggak?"
"Hmmm," jawab Lisa sambil sibuk mengusap air matanya.
"Jadi, saya pernah nangis di rumah temen gara-gara putus sama pacar. Adiknya temenku yang masih TK, lagi main sama temennya. Nah salah satu dari mereka ngomong ke saya, 'mas, kata mamaku kalo nangis malu ih diliat sama bintang. Bintang aja bisa seterang itu pas gelap, kenapa kita harus nangis saat nggak boleh makan coklat yang warnanya juga gelap.' Saya langsung tersenyum mendengar perkataan anak kecil itu. Bahkan sampai sekarang saya suka melihat bintang sambil tersenyum karena teringat omongan anak kecil itu."
Melihat Lisa hanya diam Pak Ray melanjutkan obrolannya, "bapak harap, Lisa bisa seperti bintang. Bukan karena gelap seperti coklat ya," ucap Pak Ray sambil tersenyum lalu mengimbuhi, "walaupun Lisa lagi patah hati, menangis, kesepian, pokoknya dalam keadaan gelap lainnya, wajah cantik Lisa harus tetap bersinar. Bahkan bintang juga nggak cuma satu kan, ada bintang-bintang lain yang menemani. Begitu juga Lisa jangan menyimpan perasaan sedih sendiri, ada begitu banyak orang yang sayang dan mau mendengarkan cerita Lisa."
"Iya. Tapi, mereka yang sayang dan mau mendengar belum tentu bisa membuat Lisa bercerita segala yang terjadi," ucap Lisa diiringi tangisannya yang semakin pecah.
Pak Ray memeluk Lisa erat. Malam ini untuk pertama kalinya, Lisa membahas masalah yang dia pendam selama ini kepada orang lain. Selama ini ayah dan bunda hanya tau Lisa bahagia dan sedih karena perkara kecil saja. Begitu juga teman-teman terdekatnya. Padahal, setiap hari Lisa ingin melupakan semua rasa sakit yang dia simpan. Bahkan, memohon kepada Tuhan untuk mengirimkan satu orang saja yang bisa membuat dia bercerita dan lupa tentang masalahnya. Malam ini, mungkin jawaban doa Lisa. Ada Pak Ray yang ingin Lisa bercerita namun sayangnya dia belum siap bercerita.
"It's okay, Lisa. Nangis aja sepuas yang Lisa mau," ujar Pak Ray sambil mengelus kepala Lisa.
15 menit kemudian Lisa merasa tenang. Pak Ray melepas pelukannya lalu mengusap air mata Lisa di pipi. Sekarang Lisa tidak lagi berpikir tindakan Pak Ray semakin gila namun dia senang karena ada seseorang yang tahu bahwa dia tidak baik-baik saja. Lisa memutuskan mencoba bersikap baik pada dosennya tersebut.
"Lisa, mau pulang sekarang?" tanya Pak Ray.
"Ini jam be..rapa?" ucap Lisa terbata-bata, efek menangis.
"Jam 00.00 WIB. Sampe Kartasura kemungkinan jam 01.00 WIB. Tadi bapak minta mama nomor whatsapp om dan tante. Bapak juga udah bilang ke om dan tante ngajak Lisa ke sini dan kemungkinan sampe rumah malam. Om dan tante nyaranin kalo terlalu malam kita diminta menginap aja. Lisa mau pulang atau gimana?"
"Kamar terpisah kan?"
"Iya, jangan khawatir. Mau nginap?"
"Daripada besok pagi ketauan mata sembab sama ayah dan bunda, mending nginep aja."
"Oke. Ayo masuk, dingin."
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam. Lantai atas vila keluarga Pak Ray ini terdiri dari 3 kamar tidur, 3 kamar mandi, dapur, ruang tamu, kolam renang ukuran sedang, dan rooftop yang luas. Pak Ray menunjukkan kamar Lisa. Setelah memasuki kamar, Lisa memutuskan untuk tidur. Malam ini bukan malam yang panjang bersama orang yang membuatnya kesal, tapi malam yang panjang bersama orang yang mungkin merupakan jawaban Tuhan atas doanya selama ini.