
Kota Hebi adalah ibukota dari Kekaisaran Weng, kota ini adalah kota paling terbesar di Kekaisaran tersebut, di sana terdapat Istana yang terletak terpisah dari kota itu sendiri. Dan penduduk di kota tersebut rata-rata kalangan menengah sampai kalangan atas seperti bangsawan, tapi ada juga kalangan bawah yang tinggal di sana untuk sekedar bekerja.
Sekarang di jalan kota Hebi terdapat para Pengemis yang berjalan beriringan berkisar 100 Pengemis. Di depan mereka ada Kaisar Yin Zi yang sedang duduk di kereta. Baru kali ini di kota Hebi terdapat para pengemis yang bisa masuk leluasa ke dalam ibukota, tapi sebagian warga langsung menghindar saat Kaisar Yin Zi terlihat di depan mereka. Sebagian orang langsung paham, cuma ada satu kemungkinan yang bisa begitu, mereka adalah Partai Pengemis, aliran netral terkuat di Kekaisaran Weng.
"Senior Lung apakah yakin kita akan membantu mereka." Gui Tong berbisik ke Dewa Mabuk saat setelah mereka berada di Kota Hebi.
"Sebenarnya aku malas membantu para bangsawan tersebut, tapi seandainya Yin Zuang menjadi Kaisar dan aliran hitam berkuasa. Orang bawah yang seperti kita akan berdampak setelah itu..."
Gui Tong menganggukkan kepalanya, merasa benar apa yang di katakan sama Seniornya. Tidak mungkin setelah Yin Zuang menjadi kaisar, aliran hitam tidak hanya diam setelah itu, pasti ada maksud terselubung yang mereka rencanakan.
"Terus rencana kita selanjutnya bagaimana senior, apa kita harus tinggal di kota ini sampai Kekaisaran aman kembali?"
Dewa Mabuk menggelengkan kepala, "Entahlah aku masih belum ada rencana, tapi instingku mengatakan mereka aliran hitam akan menyerang ke istana ini dalam waktu dekat."
Gui Tong sejenak memandang para warga yang mencoba menjauh dari rombongan mereka kemudian menghela nafas panjang, "Tak ku sangka kita sendiri yang membantu mereka, Bagaimana dengan Aliran Putih sendiri? Apakah mereka tidak mau membantu sang Kaisar?"
Dewa Mabuk hanya menaikan kedua pundaknya ke atas, "Entahlah... Semoga saja sebagian aliran putih ada yang mau membantu."
Gui Tong tak lagi berbicara kemudian memfokuskan pada pandangan matanya yang sebentar lagi akan masuk ke dalam istana.
"Beri hormat... Yang mulia telah kembali..." ucap para prajurit dan tanpa jawaban mereka berbaris dan setengah berlutut.
__ADS_1
"Selamat datang kembali Yang Mulia..." Salah satu pelayan setianya datang menghampiri Kaisar Yin Zi.
Yin Zi hanya mengangguk, "Ya, siapkan kamar untuk para tamu ini, mereka yang akan membantu masalah kita."
Sejenak pelayan tersebut melihat mereka kemudian melebarkan matanya menatap tak percaya. Ternyata Yang Mulia meminta bantuan pada para pengemis.
"Kau jangan bertindak bodoh pada mereka atau aku sendiri tak kan bisa membantumu." Yin Zi mengingatkan pada pelayan tersebut dan pelayan tadi hanya mengangguk serta langsung menyiapkan kamar buat mereka masing-masing.
* * * *
Di saat malam hari terlihat beberapa orang yang sedang makan di ruang perjamuan di istana Kekaisaran.
Di sisi lain Dewa Mabuk hanya mengangguk sambil menikmati secangkir penuh dengan arak.
Di sisi sampingnya lagi Penasehat Shu Qhiancheng hanya melihat mereka tanpa berbicara satupun. Karena sudah cukup baginya melihat Dewa Mabuk marah dan tak ingin mengulang lagi.
Tak lama kemudian terdengar suara orang yang berteriak dari arah ruangan, "Serangan! serangan! Istana sedang di serang!"
Dewa Mabuk diam tak lagi meminum, otot-ototnya sesaat mengeras, matanya melotot seakan marah. Sesaat meja yang di depannya bergetar hebat, "Siapa yang berani menyerang di saat aku lagi minum arak!" Dewa Mabuk berteriak di sertai tenaga dalam yang begitu hebat, seisi istana bergetar seakan bumi sedang memarah.
Dewa Mabuk berdiri, "Gui Tong lindungi Kaisar segera! aku akan menendang bokong orang itu yang berani menyerang di saat aku lagi minum!" ucapnya yang segera berlalu meninggalkan ruangan.
__ADS_1
* * * *
Flashback 3 jam sebelum penyerangan.
Kini di kota Hebi berkumpul Lebih dari 300 orang. Mereka adalah gabungan dari beberapa pendekar aliran hitam dan beberapa prajurit dari Yin Zuang sendiri. Rata-rata tingkat praktek mereka adalah dari pendekar tingkat ahli sampai pendekar tingkat langit.
"Hei pendekar Gila, Kau hanya membawa beberapa pendekar yang tak lebih dari 30 orang. Apakah sektemu sudah tidak sehebat dulu? atau jangan-jangan kau sudah tidak punya para pendekar yang berada di sektemu?" Iblis Racun berucap sambil tersenyum mengejek.
"Cui, kita buktikan saja jangan banyak bacot kau, Siapa yang paling banyak membunuh entar, sektemu apa sekteku?"
"Baik kalau kau yang kalah, kau harus duduk dan menggonggong layaknya anjing, Apa kau takut?"
"Baik kita bertaruh?"
Mereka bergerak ke istana dengan bergerombol, walaupun ada warga yang melihat mereka, tapi tak satupun yang mau berurusan dengan mereka dan memilih pura-pura tak melihat.
"Siapa kalian? ini istana di larang ma...." Sebelum menyelesaikan kata, prajurit yang menjaga gerbang tersebut kepalanya bergelinding.
Salah satu prajurit yang di samping nya masih diam di tempat, sebelum dia sadar kepala temannya sudah bergelinding di tanah, "Serangan! Serangan! Serangan! Cepat! katakan ke dalam istana! Istana sekarang di serang!" Prajurit tersebut berteriak ke temannya untuk dia segera memberi peringatan ke dalam istana.
Tak lama kemudian muncul suara yang menggelegar di udara, "Siapa yang berani menyerang di saat aku lagi minum arak..."
__ADS_1