Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch 66. Bertemu Kakek misterius


__ADS_3

Kiran terus menonton pertarungan antara Nagato dengan peserta bertopeng. Kiran sebenarnya ingin sekali membantu Nagato melawan musuh tersebut. Tapi Nagato melarang dirinya untuk ikut campur.


Tentu saja Kiran tidak bodoh, jika dirinya nekat untuk membantu Nagato melawan musuh tersebut. Seandainya menang pun Nagato tidak akan senang.


* *


Waktu terus semakin berjalan pertarungan mereka berada titik di puncak. Kiran melihat Nagato dan Musuh tersebut saling beradu pukulan. Dan puncaknya adalah ketika Nagato menendang kepala musuh dengan kaki kanannya, musuh tersebut langsung ambruk.


Pertarungan mereka telah berakhir, Kiran tersenyum Nagato telah menang. Dirinya mencoba mendekat ke arah Nagato. Baru satu langkah kiran berjalan, ia tiba-tiba berhenti. Kedua mata kiran melihat Nagato telah ambruk ke tanah karena serangan dadakan dari pendekar bertopeng.


"Keparat!! Pendekar macam apa dirimu yang tega langsung menyerang seseorang sehabis dirinya bertarung." ucap Kiran marah, dengan nafas yang memburu ia berlari ke arah pendekar bertopeng. Kini hati Kiran di penuhi rasa kebencian, baru kali ini ada pendekar yang berkelakuan layaknya binatang.


Sekarang Kiran tidak peduli dirinya menang atau kalah. Yang terpenting ia harus memberi balasan ke musuh tersebut.


Kiran mengambil pedang di samping pinggangnya, ia melompat ke atas dan langsung menukik kemudian menebas ke arah badan pendekar bertopeng.


Trannkk


Sebelumnya Pendekar bertopeng sudah tahu ada seseorang yang ingin menyerangnya. Sebelum pedang Kiran menyentuh badannya ia sudah duluan mengambil pedang dan di tangkis serangan tersebut.


"Oh, jadi dia temanmu. tapi sayang, dia sudah kalah oleh serangan pertamaku."


Kiran merapatkan giginya, dia sudah menduga serangannya dapat di tangkis dengan mudah. Kiran mencoba memutar otak.


"Tidak ada pilihan lain aku harus menggunakan jurus terkuatku. Semoga saja aku tidak langsung kalah." ucap Kiran dengan senyum kepahitan.


* *


Kini kita fokus ke tokoh utama.


Matahari semakin condong ke arah barat. Terlihat Li Bai sedang berjalan sendiri di tengah kota Hakka. Sudah pasti tujuannya untuk mengisi perutnya yang keroncong.


"Fu, sehabis bertarung kini aku jadi lapar." Li Bai menyusuri kota, ia melihat restoran bertuliskan kedai makanan. Tanpa berpikir panjang ia langsung masuk ke dalam.


Terlihat pria paruh baya sekitar umur 50 tahun datang ke meja Li Bai dengan wajah tersenyum.

__ADS_1


"Pelayan berikan aku makanan yang enak serta susu hangat," ucapnya setelah dirinya duduk di meja. Matanya menangkap bangunan ini cukup sederhana dengan pengunjung tidak terlalu banyak.


"Apa ini cukup?" Li Bai menunjukkan dua keping emas ke arah pemilik restoran.


"Ah, ini malah kebanyakan tuan muda." Wajahnya tersenyum ramah setelah melihat Li Bai dengan mudah mengeluarkan koin emas. Di umur yang masih anak-anak, hanya dari keluarga bangsawan saja yang bisa melakukan itu dan pemilik restoran bepikir Li Bai adalah salah satunya.


"Oh, ambil aja senior. Anggap ini rezeki untuk senior." Li Bai masih menyimpan koin emas yang banyak. Sewaktu pagi Lin Yuan memberikan sekantong penuh buat dirinya berjaga-jaga.


"Terimakasih tuan muda. Tunggu sebentar aku akan memberikan makanan yang paling terbaik di restoran ini."


Li Bai mengangguk, kepalanya kembali menyusuri seluruh ruangan. Mata Li Bai berhenti ketika melihat seorang kakek tua buta berpenampilan lusuh sedang makan di paling ujung.


Entah apa yang di pikirkan oleh Li Bai, dirinya lalu pindah dan bergabung di mejanya.


"Hormat kepada senior." Li Bai membungkuk memberi tanda hormat, "Apa aku boleh bergabung di meja sini dengan senior."


"Oh, anak muda, tentu. Jika anak muda tidak risih dengan penampilan ku silakan duduk di meja ini." jawabnya dengan tersenyum, walaupun dia buta dia bisa mendengar suara Li Bai. Dia langsung bisa menebak kalau Li Bai usianya sekitar 15 tahun.


"Terimakasih senior, nama junior ini Li Bai."


"Aku cuma pendatang senior, aku ke sini datang bersama kakekku untuk mengikuti lomba beladiri."


"Oh, anak muda seorang pendekar." Jawabnya dengan tersenyum. Dia kembali melanjutkan makan.


"Kakek berasal dari kota ini," tanya Li Bai.


Tidak lama datang pelayan restoran ke meja dengan membawa makanan.


"Tuan muda, maaf buat tuan muda menunggu lama. Silahkan di nikmati masakan kami." ucapnya dengan menaruh makanan.


Li Bai mengangguk, "Terimakasih senior."


Setelah kepergian pelayan restoran, kini kakek tua kembali bersuara.


"Tidak anak muda, kakek hanya seorang pengelana." Jin Yang kembali tersenyum ke arah Li Bai, tapi kini senyumnya sungguh ada maksud tertentu. Li Bai tidak memperdulikan, ia lalu makan. Sudah menjadi kebiasaan ketika Li Bai makan, ia tidak bersuara. Dan kebiasaan itu di ajarkan oleh Lin Yuan saat berada di Pulau Neraka.

__ADS_1


Selang Lima menit datang enam rombongan prajurit kota Hakka, mereka membawa pakaian lengkap dengan senjata yang mereka pegang masing-masing. Mereka datang karena satu alasan, mencari semua kakek tua dan di bawa ke tempat kediaman Bangsawan Xin untuk di interogasi.


Menurut rumor-rumor yang beredar. Prajurit yang menjaga gerbang tahu kalau yang membunuh tuan Xin dan keluarganya adalah sosok kakek tua. Tapi mereka tidak tahu pasti wajahnya seperti apa karena pada waktu itu keadaan gelap. Tapi mereka salah memilih lawan, mereka tidak tahu kalau yang mereka kejar adalah Naga Hitam.


"Itu ada kakek tua, bawah ke kediaman tuan Xin." ucap salah satu Prajurit, sudah bisa di tebak kalau dia adalah komandannya. Sehingga dengan gampang menyuruh anak buahnya untuk melakukan itu.


Tanpa menunggu jawaban, keempat Prajurit langsung datang menghampiri meja Li Bai dan kakek tua tersebut. Dengan wajah garang salah satu Prajurit menggebrak meja.


Brakk..


"Kakek tua ikut kami. kalau anda tidak mau anda akan ku seret secara paksa."


"Tunggu anak muda, ada masalah apa ini sama kakek buta seperti aku. Perasaan kakek buta ini baru datang ke kota tadi pagi, dan sekarang aku di tangkap."


Di sisi lain Li Bai diam saja dan tidak bersuara, bukannya Li Bai tidak ingin membantu. Tapi Jin Yang sudah menyuruhnya untuk tidak membantu.


Para pengunjung restoran tidak ada yang mau membantu saat kakek itu akan mau di seret, mereka tidak mau berurusan dengan Prajurit kota ini. Bahkan pemilik restoran saat melihat Prajurit itu masuk dirinya malah masuk ke ruangannya.


"Jangan banyak omong kau kakek tua, tinggal turutin perkataan kami atau kau sendiri yang ingin di seret secara paksa." Salah satu prajurit bertubuh tinggi bersuara, dia lalu mencoba menarik tangan kakek tesebut.


Jin Yang tersenyum kecil, dia seakan tahu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya pada prajurit tersebut.


Dan benar saja belum sempat tangannya memegang badan kakek, sang prajurit sudah ambruk ke lantai tanpa sebab bahkan tanpa ada luka sedikitpun.


__________________________________________


Hallo buat para pembaca yang sudah mampir ke novelku. Pasti sebagian pembaca ada yang bertanya kenapa langsung berganti ke Li Bai dan pertarungan Kiran dan pendekar bertopeng tidak di ceritakan.


Karena aku tidak ingin memperlihatkan kekuatan dari pendekar bertopeng untuk sekarang. Dan itu aku siapkan untuk babak final.


Oh satu lagi, jika pembaca ada yang ingin mencari novel action dan ada romantisnya, aku mau rekomendasi novel


"I'M BODYGUARD" dari penulis Ayumi.


Novel ini bercerita tentang seorang agen polisi wanita dan sudah ada 120 Bab. Jika kalian tertarik dan ingin membaca novelnya, bisa kalian cari di kolom pencarian novel.

__ADS_1


__ADS_2