
Tidak jauh dari kota Hebi atau sekitar 30 Kilometer dari tempat kota tersebut, terlihat segerombolan manusia dengan berpakaian seperti biksu sedang berlari dengan kecepatan tinggi menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka.
Tidak ada satupun yang terdengar dari pembicaraan mereka, yang terdengar hanya suara angin yang bergesekan dengan tubuh dan suara ranting yang di injak oleh kedua kaki mereka.
Mereka adalah sekte Kuil Matahari, sekte terkuat aliran putih yang berada di Kekaisaran Weng. Mereka sedang menuju ke istana Kekaisaran dengan di pimpin oleh senior Xiao Fu atau si Biksu Sakti.
Perjalanan mereka dari sekte Kuil Matahari menuju istana Kekaisaran berlangsung selama hampir seminggu lebih, karena sekte mereka bertempat sekitar 800 kilometer jauhnya dari istana Kekaisaran. Tidak hanya jauh, mereka juga sering mendapat gangguan dari para siluman hewan saat menuju ke istana tersebut.
15 menit telah berlalu mereka telah tiba di gerbang Kota Hebi, ketika melihat penjaga kota tersebut sudah jatuh ke tanah merenggang nyawa, jantung mereka berdegup kencang.
"Kita terlambat datang, semoga di istana Yang Mulia tidak kenapa-kenapa!" Biksu Sakti kini berucap, terlihat dia sedang membawa tongkat besi berwarna kuning emas. Sekilas tongkat itulah yang membuat namanya melingtang keras di dunia persilatan.
Tongkat itu adalah Pusaka Langit yang turun menurun di wariskan kepada ketua sekte Kuil Matahari. Dengan kehebatan jurus Tongkat Peremuk Tulang dan pusaka langit yang dia punya, kehebatan Xiao Fu sudah tidak di ragukan lagi. Hanya dengan sentuhan lembut Tongkat ke badan pendekar, remuk sudah tulang pendekar tersebut.
"Sebaiknya kita segera ke istana Kekaisaran," ucapnya lagi.
"Baik senior Xiao.."
* * * *
Kembali ke pertarungan.
Bledarr...
Tanah yang awalnya datar kini menjadi men cekung. Terlihat kaki Dewa Mabuk kini terpendam ke tanah dengan kedalaman hampir menyentuh lututnya. Terlihat juga tangan Pendekar Gila dan tongkat Iblis Racun menyentuh kepala Dewa Mabuk, sesaat kemudian darah merembes keluar dari kepalanya.
Di sisi lain Dewa Mabuk tidak seperti merasa kesakitan tapi malah tersenyum dengan muka menakutkan. Lalu di pegangnya tangan mereka berdua dan di lemparkan dengan posisi memutarkan tubuhnya.
__ADS_1
Wushh..
Mereka berdua terlempar saling berlainan arah dan mendarat ke tanah dengan kepala yang turun duluan.
Happ..
Iblis Racun langsung siap di posisi siaga dan Pendekar Gila siap di posisi tengkurap seperti kodok. Terlihat kini pendekar Gila melesat ke atas dengan lompatan yang sangat tinggi dan langsung menukik ke bawah dengan kaki kanan yang di arahkan ke depan, "Jurus Kodok: Kaki Kodok Mengguncang Bumi." Sejenak kaki kanannya berubah warna menjadi merah dan udara di sekitar kakinya terbelah ke semua sisi.
Bledarr..
Kakinya tepat mengenai bagian vital jantung Dewa Mabuk dan membuat badannya terpendam setengah meter ke tanah. Tidak sampai di situ, dari arah kiri terlihat Iblis Racun sedang di atas udara dan langsung melesat ke bawah dengan ujung tongkatnya yang di arahkan ke bawah, "Tongkat Iblis Menusuk Jantung Dewa."
Duarr..
Tongkat nya menusuk tepat di bagian jantung dari Dewa Mabuk, sesaat matanya langsung melotot dan badannya mengerang kesakitan.
"Tapak Penghancur Gunung."
Sesaat dari arah depan melesat seseorang yang ingin menyerang Iblis Racun dengan Tongkat yang Berwarna emas, tapi serangan itu di tahan oleh Tapak Setan.
Di sisi samping Iblis Racun terlukis jelas dengan wajah yang seperti kaget akan sesuatu.
"Kau seharusnya waspada akan serangan dadakan dari luar Iblis Racun..." Tapak Setan berucap sambil telapak tangannya menangkis tongkat tersebut, "Tidak ku sangka si Biksu yang terkenal akan kebijaksanaannya repot-repot akan datang ke mari," ucapnya lagi yang kini menarik tubuh Iblis Racun agar menghindar dari si Biksu tersebut.
Tidak lama kemudian datang lagi 30 biksu, mereka datang lebih telat dari si Biksu yang di depannya. Terlihat mereka semua memakai pakaian serba merah dengan kepala botaknya masing-masing.
"Amitabha pandangan macam apa ini? Sungguh sangat menyakitkan mata," ucap Jiang su yang kini melihat mayat pada berjatuhan di tanah dengan jumlahnya lebih dari 500. Kebanyakan mereka dari mayat prajurit dan sebagian mayat dari para pendekar. Sejenak bau anyir darah langsung menusuk hidung dia dan membuat isi di dalam perut sempat bergejolak.
__ADS_1
"Ternyata aliran hitam sudah melakukan serangan mereka ke istana Kekaisaran, dan kita telah telat..." ucap Biksu Sakti yang kini terlihat wajahnya agak bersedih, karena rombongan mereka datang dengan terlambat. Seandainya tidak datang terlambat mungkin nyawa manusia yang mati masih bisa di kurangi dengan jumlah yang banyak.
"Lama tak jumpa Biksu Sakti, kau terlihat semakin tua," ucap Pendekar Gila yang kini langsung muncul di samping Iblis Racun dan Tapak Setan, dia sekarang kembali ke seperti manusia lagi bukan seperti kodok. Sejenak matanya melirik ke arah rombongan para Biksu yang terlihat sudah di dalam mode siaga masing-masing.
"Amitabha, kau sendiri juga Pendekar Gila, kau semakin cocok dengan luka di wajahmu itu, aku jadi ingat pas pertama kali membuat wajahmu menjadi seperti itu."
"Kurang ajar!" Pendekar Gila langsung siap di posisi ingin menyerang, tapi sesaat kemudian terdengar suara dari arah Tapak Setan.
"Hentikan Pendekar Gila! kita aliran hitam sebaiknya mundur! Kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan!"
Sekilas mata Pendekar Gila melirik ke arah Tapak Setan kemudian di kepalnya tangan kanannya dengan erat-erat, "Hari ini kau lolos Biksu Tua, lain kali aku akan datang sendiri untuk mengambil kepalamu dan ku pajang di gerbang sekteku."
"Aku akan selalu menunggumu Pendekar Gila..." Biksu Sakti tersenyum, kini senyumannya seperti sedang mengejek Pendekar Gila.
"Semuanya dengar! Kita aliran hitam semuanya mundur!"
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian, jika merasa novel ini menarik. Dan jangan lupa tekan 5 rate bintang untuk selalu mendukung karyaku di Mangatoon.
__ADS_1