
"Hebat.. Hebat... Siapa anak itu? Apakah dia dari sekte besar?" tanya penonton yang telah melihat pertarungan Li Bai barusan, ia mengira anak yang sedang bertarung itu dari sekte terbesar aliran putih. Walaupun dirinya tidak bisa melihat satupun tenaga dalam di tubuhnya, tapi anak tersebut dengan mudahnya mengalahkan kedua peserta yang sudah di tingkat Bumi tahap awal.
Kini 30℅ penonton yang ada di Colossus memusatkan perhatiannya ke arah Li Bai. Kehebatan Li Bai dalam memainkan sebilah pedang benar-benar sudah di tingkat sempurna. Bahkan di sekte-sekte besar sekalipun, jarang ada anak yang seumuran dia bisa memainkan pedang dengan selihai itu.
Berganti ke sisi Li Bai sendiri, kedua anak itu langsung menyerah detik itu juga. Tidak sekalipun di pikirannya ingin merasakan ketajaman dari pedang yang di pegang oleh Li Bai itu sendiri.
"Bagus! Itu pilihan yang bijak," ucap Li Bai kemereka berdua.
* *
Setelah mengalahkan kedua peserta itu, Li Bai kini memusatkan perhatiannya ke arena pertarungan. Dirinya terlihat sedang mencari peserta yang tidak melakukan pertarungan dengan kelompok lain.
"Nah, sepertinya mereka mangsa yang sangat empuk," ucap Li Bai dengan tersenyum. Ia melihat 4 kelompok laki-laki yang sedang terlihat kelelahan, mereka seperti sehabis melakukan pertarungan dengan peserta lain dan mereka yang menjadi pemenangnya.
Dengan segera Li Bai langsung melesat maju menyerang mereka semua.
Salah satu peserta yang berdiri di paling belakang sangat kaget akan kehadiran Li Bai, belum sempat dirinya menghindar darinya, Li Bai langsung menendang punggungnya hingga peserta itu terjungkal ke tanah dengan kepala turun duluan.
"Yo apa kabar kalian?" ucap Li Bai basa-basi dengan wajah bodohnya.
"Keparat! Pendekar macam apa kau ini yang langsung menyerang dari arah belakang?" tanya salah satu peserta yang marah sama Li Bai. Karena kelakuan Li Bai itu sendiri, temannya kini langsung pingsan di tanah.
"Hahaha maaf, sepertinya tendangan ku terlalu kuat," jawab Li Bai dengan sangat santainya. Ia sedikitpun tidak merasa bersalah atas kelakuan yang barusan.
__ADS_1
"Maaf, maaf, maaf nenek moyangmu!" Peserta itu semakin geram dengan Li Bai, ia lalu menyuruh kedua temannya yang masih berdiri untuk menyerangnya, "Hancurkan dia! pastikan anak ini jangan sampai lolos, kalau bisa kita patahkan juga tulang kakinya," teriaknya dengan mengacungkan senjata ke arah Li Bai.
Li Bai sendiri yang mendengarnya cuma tersenyum sinis, "Kalau bisa.. dengan senang hati silahkan patahkan tulangku." Ia lalu mencabut Pedang Pencabut Nyawa dan di acungkan ke depan, sebelumnya ia sudah memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarung putihnya.
Hiya...
Trinkk.. Trinkk.. Trinkk...
Ketiganya menyerang Li Bai secara bergantian dari peserta satu ke satunya lagi. Sedikitpun Li Bai tidak di kasih oleh mereka beristirahat walaupun hanya untuk sekedar mengambil nafas. Namun sekitar lebih dari 5 menit mereka menyerang Li Bai, ternyata ada yang aneh sama musuh yang mereka serang sekarang.
Li Bai tidak sedikitpun kelelahan akan serangan mereka, tapi di sisi lain malah mereka bertiga yang terlihat kelelahan serta nafas mereka yang semakin memberat.
Bagaimana tidak, Li Bai sudah terbiasa melakukan latihan yang sangat berat dari yang namanya lari dengan membawa beban, push up, pull up serta sering latih tanding dengan Kakeknya Lin Yuan.
"Haa... Haa.. Haa.. Apa-apaan bocah ini? Kita mundur!" teriak salah satu peserta yang sedang menyerang Li Bai, kini nafasnya semakin tidak karuan.
"Enak saja, kau mundur... Tidak akan aku biarkan," ucap Li Bai sendiri, ia lalu semakin gesit mengayunkan Pedang Pencabut Nyawa ke arahnya.
"Sial," Dirinya mendengus kesal, kini dia yang berganti tidak di beri istirahat sama Li Bai.
"Hei, kalian berdua! Cepat! Bantu aku..." Teriaknya ke arah temannya yang sedang menonton di belakang.
Mereka berdua pun sama, sudah pesimis untuk menyerang Li Bai lagi. Tidak di duga peserta yang di serangnya merupakan monster berwujud anak kecil. Walaupun dirinya tidak punya tenaga dalam sekalipun, tapi mereka tidak bisa memberikan luka ke arah Li Bai. Bagaimana jika dirinya mempunyai tenaga dalam?.
__ADS_1
Berganti ke sisi ruang tunggu peserta. Zedd, Hiroshi dan yang lainnya sedang menonton pertandingan Li Bai dari arah layar. Mereka bertiga terlihat menelan ludah saat Li Bai sedang menunjukkan kehebatannya dalam melakukan pertarungan.
"Hei, Hiroshi, Apa-apaan temanmu itu? Apa temanmu itu manusia?" tanya Zedd ke arah Hiroshi dengan muka serius. Baru pertama kali ini melihat anak seumurannya bisa selihai itu dalam memainkan sebilah pedang.
"Aku pun baru pertama kali ini melihat Li Bai bertarung, sebelumnya aku juga tidak sengaja bertemu dengannya saat sedang melakukan perjalanan ke kota ini," jawab Hiroshi juga dengan wajah serius.
"Tapi asal kalian tahu, Li Bai pernah berhadapan dengan 3 siluman hewan dan dirinya masih bisa berhadapan imbang dengan siluman tersebut," ucap Hiroshi lagi membuka jati diri Li Bai.
"Apa 3 siluman hewan?" ucap Weng Chuyin dengan kagetnya, "Berarti kekuatan Li Bai setara pendekar Bumi tahap akhir atau juga bisa mungkin lebih."
"Aku juga berfikir seperti itu, tapi yang anehnya dia sedikitpun tidak punya tenaga dalam. Bagaimana bisa Li Bai sekuat itu hanya dengan kekuatan fisik?" jawab Hiroshi dengan tersenyum getir.
"Haaa.. sepertinya mimpiku untuk menang, akan sangat sulit..." Setelah itu Hiroshi membatin dengan sedikit menggelengkan kepala.
* *
Setelah cukup puas Li Bai menyerang peserta itu hingga membuatnya kesulitan bernafas, Li Bai langsung menendang musuh itu hingga dirinya terlempar ke tanah sejauh 5 meter.
Bruughh..
Detik itu juga, dia terkapar di tanah sambil mengeluarkan isi di dalam perutnya.
"Hei kalian berdua masih ingin menonton di sana? Apa berganti menyerangku?" ucap Li Bai sambil mengacungkan pedangnya ke arah mereka.
__ADS_1
"Ampun... Ampun... kami, kami menyerah..." jawab mereka berdua dengan bersujud di depan Li Bai.