Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch55. Identitas Si Pencuri Roti


__ADS_3

"Yo, kalian..." ucap Li Bai dengan tersenyum ke mereka. Dirinya sudah yakin setelah ini pasti mereka akan bertanya yang tidak-tidak.


"Ah Li Bai, akhirnya kau datang juga, selamat ya.. kau juga lolos di babak pertama," ucap Hiroshi membalas senyuman itu dengan senyuman juga.


Namun di sisi samping, terlihat Li Bai langsung menggelengkan kepala, "Aku saja yang sedang beruntung karena lawan-lawan yang aku hadapi tadi tidak ada yang kuat," jawab Li Bai dengan menepis ucapan Hiroshi barusan.


"Hahaha, kau itu terlalu merendahkan diri, jelas-jelas kami melihat dengan mata kepala sendiri, kau dengan mudahnya mengalahkan beberapa peserta hanya dengan seorang diri," ucap Zedd memotong ucapan Li Bai.


"Dan satu lagi, Bagaimana bisa kau sekuat itu saudara Li?" tanya Zedd lagi, kini pertanyaannya bersifat memancing. Karena Zedd ingin tahu sebenarnya latihan apa yang telah di lakukannya hingga kuat seperti sekarang.


Belum sempat Li Bai menjawab pertanyaan dari arah Zedd, Nagato juga bertanya ke arahnya.


"Benar, dan serangan apa tadi yang barusan kau gunakan, benar-benar serangan itu sangat hebat," tanya Nagato.


"Benar apa kata Nagato, serangan macam apa itu? aku juga ingin bisa seperti itu." Kini giliran Weng Chuyin yang bertanya.


Li Bai terlihat menyengir ke mereka semua, lalu dengan segera dirinya berpura-pura untuk pergi ke belakang, "Ah, maaf, sepertinya perutku sedang sakit, aku pamit sebentar mau ke kamar kecil," ucap Li Bai dengan memegang perutnya, seolah-olah dirinya beneran sedang sakit perut.


"Hei, saudara Li, kau mau kemana?" tanya Zedd. Tapi sudah terlambat bagi dirinya untuk bertanya, karena kini Li Bai sudah tidak terlihat oleh mata mereka.


* *


Li Bai sekarang sudah tidak lagi berada di dalam Colosseum, dirinya terlihat sedang berjalan sendirian di tengah-tengah kota Hakka.


"Habis melakukan pertarungan, perutku menjadi keroncongan sekarang," gumam Li Bai, ia lalu memeriksa kantong bajunya apa ada uang yang tersisa di dalamnya.


"Hm, sukurlah, diriku masih ada uang sisa."


"Makan apa ya, yang enak sekarang?" gumamnya dengan tangan kanannya menyentuh dagu seperti sedang berfikir.

__ADS_1


Namun sebelum Li Bai selesai berfikir, terlihat anak berkisar umur 8 tahun sedang berlari sambil dirinya membawa roti. Tapi yang jadi pertanyaannya, di belakangnya terdapat seorang pria yang sedang mengejarnya sambil pria tadi membawa tongkat.


"Bocah pencuri! jangan kabur kau!" ucap Pria tersebut dengan mengacungkan tongkatnya ke arah depan.


Tapi sayang, bocah kecil itu tidak melihat Li Bai yang sedang berdiri pinggir jalan. Ia langsung menabraknya dengan sangat kencang hingga roti yang di pegangnya hancur menjadi bagian terkecil.


Brughh..


"Aduhh..." ucap Bocah kecil tadi. ia langsung terpental ke belakang, dirinya terlihat kesakitan saat menabrak tubuh Li Bai.


"****** kau, bocah pencuri..." ucap Pria tadi yang langsung mendekat ke arahnya. Ia lalu memukul tubuhnya menggunakan tongkat hingga anak tersebut merintih kesakitan.


"Rasakan ini, rasakan ini," ucapnya dengan marah.


"Aduh, sakit tuan.. sakit..." merintih bocah kecil itu sambil tubuhnya meringkuk di tanah.


"Siapa kau anak kecil? menganggu urusanku." ucapnya dengan marah, ia lalu menarik baju Li Bai hingga dirinya ikut naik ke atas.


"Maaf senior, Apa kau tidak punya perasaan hingga tega menghajar anak kecil itu?" ucap Li Bai datar, ia tidak takut sekalipun saat dirinya di angkat ke atas. Bahkan kalau mau, bisa saja dirinya langsung menghajar pria itu, tapi Li Bai tidak ingin.


"Ci, Bocah kecil itu sudah sering mengambil roti di kios ku. Apakah aku harus mengasihi bocah pencuri itu?" jawabnya masih mengangkat tubuh Li Bai ke atas.


"Berapa banyak roti yang sudah di ambilnya, akan aku bayar. Tapi kau lepaskan anak itu?" tanya Li Bai lagi.


"1 keping emas, kalau kau bisa membayarnya, akan aku lepaskan bocah kecil itu," jawabnya.


Li Bai lalu mengambil 1 keping emas dari dalam kantong bajunya, dan di tunjukkan ke arah Pria tersebut, "Ini 1 keping emas, lepaskan dia."


Pria tersebut terlihat langsung tersenyum, ia dengan segera menurunkan Li Bai ke tanah dan mengambil koin itu dari telapak tangannya.

__ADS_1


"Baik, ini impas. Jika dia masih mencuri roti lagi di kios ku, akan aku patahkan tulang tangannya," ucapnya kini dengan meninggalkan Li Bai dan bocah kecil itu.


Sebenarnya pria tadi sangat senang saat Li Bai memberikan 1 keping emas ke arahnya. Orang roti yang di ambil selama ini sama bocah itu tidak lebih dari 15 roti, dan harga roti sebiji nya hanya 5 keping perunggu. Sudah berapa banyak keuntungannya?.


Berganti ke Li Bai lagi, dirinya langsung mendekat ke arah anak kecil itu yang masih terlihat meringkuk di tanah karena masih kesakitan.


"Kau tidak apa-apa adik kecil," tanya Li Bai dengan iba, ia melihat tubuhnya banyak luka lebam.


"Tidak apa-apa tuan, terimakasih sudah menyelamatkanku," jawabnya yang masih menahan rasa sakit, ia kemudian berganti ke posisi duduk.


"Kenapa kau mencuri roti? Kenapa tidak membelinya saja?" tanya Li Bai lagi.


"Tuan, jika aku tidak mencuri, bagaimana adikku bisa makan... Sedangkan aku sendiri tidak punya uang sepeserpun," jawabnya dia dengan tersenyum pahit ke arah Li Bai.


Detik itu juga hati Li Bai langsung tersentuh atas ucapan anak kecil yang barusan, Li Bai sendiri masih bersukur ada Kakeknya yang masih merawat dirinya hingga seperti sekarang. Jika tidak, mungkin nasibnya seperti dia atau mungkin dia sudah mati dari bayi.


"Hm, Nama kamu siapa?" tanya Li Bai setelah dirinya diam termenung.


"Namaku Ichigo Tuan..."


Li Bai menganggukkan kepala, ia lalu memperkenalkan diri juga, "Namaku Li Bai, sebaiknya kau telan obat ini, ini akan mempercepat penyembuhan luka lebam yang ada di tubuhmu."


___________________________________________


Terimakasih yang masih setia membaca novel ini, sukur novel ini sudah ter kontrak oleh pihak Mangatoon.


Selanjutnya akan ada double update setiap 2 hari sekali, terimakasih...


Jangan lupa follow akunku 🙂🙂🙂🙂

__ADS_1


__ADS_2