Legenda 7 Bintang

Legenda 7 Bintang
Ch 67. Kehebatan Kakek Buta


__ADS_3

"Waspada!! jangan terkecoh, kakek ini seorang pendekar." Ketiga Prajurit yang berada di samping Jin Yang langsung waspada. Baru kali ini mereka melihat seorang kakek bisa melumpuhkan Prajurit tanpa bergerak sedikitpun. ketiganya saling memandang satu sama lain, terlihat keringat mereka mengucur deras.


Li Bai sendiri sama seperti Prajurit, dia juga kaget. Li Bai tidak menyangka seorang kakek yang di ajak bicara sebelumnya adalah seorang pendekar. Bahkan di pikiran Li Bai, ia masih menerka-nerka sebenarnya Jin Yang melakukan apa sehingga prajurit bisa ambruk tanpa sedikitpun dirinya bergerak dari kursi.


"Senior Jin."


"Tenang anak muda, itu adalah salah satu keahlianku memanipulasi pikiran." jawab Jin Yang enteng yang membuat Li Bai semakin bingung.


Jin Yang memandang ketiga prajurit yang masih berdiri layaknya patung, walaupun dirinya buta, tapi ia tahu persis, "Apa kalian masih ingin menyeret kakek buta ini?"


Omongan Jin Yang membuat mereka sadar, ketiganya langsung mengambil senjata yang terselip di pinggang mereka.


"Tetap waspada!!"


"Ternyata kalian masih belum kapok juga, akan ku tendang sendiri kalian dari tempat ini." Jin Yang melepaskan hawa pembunuh yang begitu hebat.


Boomm..


Hawa di ruangan restoran menjadi berat seketika.


"Apa-apaan hawa pembunuh ini." Li Bai yang tepat di samping Jin Yang merasa kesulitan untuk bernafas. "Siapa sebenarnya kakek ini." Hanya secuil orang yang bisa melakukan ini, dan kakeknya dulu pernah melakukannya saat mereka sedang berlatih di Pulau Neraka.


"Hawa pembunuh ini mirip dengan hawa pembunuhnya kakek." Li Bai menelan ludah.


"Anak muda Li, sebaiknya kau minggir dulu. Akan ku beri mereka pelajaran karena tidak berlaku sopan terhadap kakek buta seperti aku."


"Baik senior Jin." Li Bai sedikitpun tidak ingin ikut terlibat dalam pertempuran mereka. Apalagi saat melihat Jin Yang dengan mudah melepaskan hawa pembunuh yang begitu besar.


Jin Yang meletakkan sumpit di mangkok, "Walaupun kakek ini buta, tapi aku akan sedikit bermain dengan kalian." Jin Yang melompat ke meja.


Ketiga Prajurit posisinya masih sama, mereka masih diam di tempat dan tidak menyerang duluan. Sesaat teriakan komandan yang berada di belakang memecahkan kesadaran ketiga prajurit tersebut.


"Serang sekarang!! jangan diam saja."


"Bao Zeng bantu mereka!!" umpatnya komandan kesal. Dia menyuruh salah satu anak buahnya yang berada di sampingnya. Tanpa menunggu jawaban anak buahnya maju ikut membantu.


Salah satu Prajurit langsung mengayunkan pedang ke kaki kanan Jin Yang yang sedang berdiri di atas meja. Dengan gerakan lincah Jin Yang menghindar ke belakang.


"Makan ini mangkok." Setelah Jin Yang menghindar, dirinya lalu menendang mangkok yang berada di atas meja, mangkok tersebut meluncur bebas dan mengenai kepala salah satu Prajurit.


Pyarrr...


Salah satu Prajurit ambruk, kepalanya mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


"Ada lagi yang ingin merasakan tendangan mangkok ku."


Tinggal 3 prajurit yang masih berdiri di depan Jin Yang, mereka belum berani untuk langsung menyerangnya. Salah satu prajurit mencoba mengambil mangkok dan ingin melemparkan ke arah Jin Yang untuk sekedar mengecoh.


"Oh, aku tahu kau ingin melempar mangkok Kemudian kau maju dari arah kanan."


kata Jin Yang tertawa lantang.


Prajurit itu saling pandang, kemudian


serentak mengatur kuda-kuda untuk menyerang si Kakek.


"Kakek buta, jangan merasa kau hebat di sini, kali ini Kami tidak akan memberikan mu lolos," teriak salah satu dari prajurit itu.


"Kalian mau mengeroyok, apa kalian tidak malu mengeroyok si tua yang buta ini,"


teriak kakek itu lalu berdiri. Li Bai yang berada di luar Restoran menonton dengan dada berdebar.


"Hiaatttt...ketiga prajurit itu melompat maju dengan pukulan tangan kosong. Jin Yang cuma mengibaskan lengan jubahnya dan ketiga prajurit itu terpental. Tanpa sadar Li Bai dan beberapa orang yang ada di sana tertawa melihat Prajurit itu jatuh seperti buah nangka busuk.


"Bangun kalian bertiga, walaupun Aku buta, Aku tahu Kalian rubuh diatas Meja",


kata Jin Yang lagi.


Kaki Jin Yang mundur selangkah dan mengambil gelas bambu yang berada diatas Meja dan melemparkan ke Kanan.


Crakkk..


Gelas bambu itu terbelah menjadi 2. Rupanya Prajurit yang lagi satu diam-diam menyerang Jin Yang dari arah kanan menggunakan golok. Setelah melempar gelas, Jin Yang berkelit ke kiri lalu menghindar dari tendangan prajurit yang berjubah Merah.


"Mari Kita bermain-main," teriak Jin Yang


mengeluarkan jurus bidadari menari.


Kembali ketiga Prajurit itu menerjang Jin Yang dengan Golok Mereka. Pertempuran tidak seimbang, 1 berbanding 3.


Tapi jangan dianggap remeh walaupun Jin Yang buta, mata bathinnya bisa mendengar dan melihat lawan. Badannya yang kurus tapi kencang dengan lincah berkelit dan mengecoh lawan yang terus menerobos maju. Serangan mereka sedikitpun tidak ada yang bisa menyentuh badan Jin Yang bahkan pakaiannya.


Benar-benar mustahil kehebatan Jin Yang. Ini adalah kekuatan puncak dari ilmu pikiran yang dia punya yaitu mampu melihat masa depan.


"Ciiiaaaattttt....rasakan tendanganku,


kakek buta!!" seru Prajurit berbaju putih geram. Kakinya melesat ke dada Jin Yang. secara otomatis Jin Yang menjatuhkan dirinya dan menyambut tendangan lawan dari bawah.

__ADS_1


"aduuuhhhh...."


Terdengar teriakan Prajurit berbaju putih


memenuhi ruangan restoran. Dengan


berguling-guling Prajurit berbaju putih menahan sakit, selangkannya terkena tendangan telak dari Jian Yang. Dengan kejadian itu membuat Prajurit berbaju putih tambah ganas menyerang dirinya.


"Hiatt...hiiattt... cepat enyah kau ke neraka kakek busuk." Teriak si baju putih mulai menyabetkan goloknya ke punggung Jin Yang.


Salah satu temannya tidak tinggal diam. Dia juga ikut menghujamkan goloknya ke dada Jin Yang. Dengan gerakan cepat Jin Yang mengambil kursi di samping dan melemparkan ke mereka berdua.


Brakkk..


Kursi hancur berkeping-keping, prajurit menangkis kursi menggunakan golok.


"Kalian selalu bermain curang, terimalah ini dariku," teriak Jin Yang marah. Ia mengambil sumpit yang berada di mangkok lalu ia lemparkan ke tubuh lawan.


Jreettt..


Ketiga prajurit menjerit kesakitan. Sumpit menancap tepat di paha mereka.


Komandan yang melihat anak buahnya pada berjatuhan, detik itu juga dia kabur meninggalkan restoran. Dia sungguh menyesal telah berurusan dengan orang yang salah.


Setelah keadaan yang sedikit tenang, Jin Yang menghampiri pemilik restoran.


"Maafkan Aku telah mengacaukan isi Restoranmu, ini uang sedikit untuk


mengganti barang-barang yang rusak," ucap Jin Yang memberikan 5 keping emas ke arahnya.


"Tuan...Tuan...Kami sangat berterimakasih atas kebaikan Tuan, tapi 5 keping emas belum sepadan dengan keruusakan yang Tuan perbuat di Restoran Kami," kata pemilik restoran dengan wajah memelas.


Jin Yang mengernyitkan alisnya, ternyata ada orang mencari kesempatan diantara kesempitan. Jin Yang berpikir kerusakan yang dia buat tidak seberapa parah. Dengan gusar Jin Yang mengeluarkan 3 keping emas lagi dan memberikan kepada pemilik restoran.


"Ini uangnya," kata Jin liang lalu memungut 2 supit di bawah kakinya.


"Senior Jin, kenapa senior memberi terlalu banyak koin emas?," tanya Li Bai


heran setelah dirinya mendekat. Dia juga merasa kerusakan tidak seberapa parah.


"Karena Angin puyuh akan segera datang," kata Jin Yang mengibaskan lengan jubahnya dan melemparkan kedua supit ke atas.


Supit berputar kencang sehingga Restoran bambu itu runtuh. Li Bai dan Jin Yang melompat dengan ilmu meringankan tubuh. Dengan sekejap mata tubuh mereka berdua sudah lenyap dari pandangan.

__ADS_1


__ADS_2